Love Exchange

Love Exchange
Episode 118 : Duet Harmonis Tengah Konser


__ADS_3

Hari mulai menggelap dan langit menunjukkan penampilan terindahnya. Berbagai warna bercampur di atas sana. Kondisi di sekitar kami berada sudah tak terlalu ramai. Lampu-lampu mulai menyala dan menghiasi kehidupan malam perkotaan. Aku dan Rein masih terduduk santai di bangku taman sembari memandang panorama yang menawan. Hingga akhirnya angkasa telah berwarna hitam dan tempat festival telah diramaikan dengan pernak-pernik dari lampu yang berkilau. Kami pun memutuskan untuk beranjak bangun dan kembali berjalan di sekitar tempat festival.


“Ayo kita ke arah konser, siapa tahu kita bisa bertemu dengan yang lain,” ucapku kepada Rein.


“Cepat sekali, perasaan baru saja kita jalan berdua,” sahut Rein. Aku yang mendengarnya sontak menjadi kebingungan seakan-akan hilang akal. Akibat terlalu menikmati pemandangan, aku sampai tidak terlalu menyadari atas apa yang dibicarakan oleh Rein. Kami berdua pun sempat berhenti melangkahkan kaki.


“Hah? Gimana? Tiba-tiba saja pikiranku kosong,” lontarku sembari mendekatkan telingaku ke arahnya.


“Haduh… Ada-ada saja kau ini,” balas Rein tergelitik tawa. Aku yang tidak mengerti apa-apa hanya terdiam dengan memasang wajah kebingungan.


“Ya sudah, ayo kita lanjut jalan,” lanjut Rein kepadaku.


Kami berdua kembali berjalan menapak kaki di atas jalan setapak yang terbuat dari balok batu. Hingga akhirnya kami telah mendekati area konser itu dan suara yang menggelegar mulai terdengar jelas dari tempat kami berdiri. Setibanya di tempat penonton paling belakang, aku dan Rein tidak dapat melihat salah satu dari teman-temanku. Padatnya orang-orang yang saling menempel satu sama lain membuatku kesulitan untuk mengenali wajah mereka. Kini saatnya penampilan dari salah satu grup musik paling terkenal seantero dunia.


“Mau lihat lebih dekat?” ajakku.


“Tidak usah. Dari sini juga terdengar jelas, kok. Aku tidak mau dorong-dorongan dengan penonton berkeringat itu,” jawab Rein seraya menyaksikannya dari jarak yang cukup jauh dari panggung.


Untung saja tersedia layar lebar yang menayangkan penampilannya itu. Aku yang terlalu menikmati lagu tersebut lantas bersenandung tanpa sadar, begitu pula dengan Rein. Sampai suatu ketika, grup musik tersebut bernyanyi duet antara sang laki-laki dan perempuan. Aku yang menjiwainya juga bernyanyi bersama Rein dengan wajah yang saling bertatap-tatapan.


“Sekarang aku melihatmu…”


Kemudian terdengar suara gemuruh dengan tepuk tangan dan sorak-sorai. Aku dan Rein saling tersenyum satu sama lain. Pada saat kami berdua memalingkan wajah ke arah panggung, tiba-tiba saja kami dikejutkan dengan reaksi penonton di sekitar kami yang bertepuk tangan ke arah kami. Aku menjadi kebingungan lantaran suara kami yang menyaru dengan suara nyanyian yang berasal dari pengeras suara itu. Lantas aku dan Rein hanya tersenyum seraya menunduk dan menghadap mereka semua.


“Terima kasih… Terima kasih…”


Situasi cukup berbeda antara tempat penonton terdepan dengan pennonton yang berada di sekitar kami. Salah seorang anggota grup musik yang menyadarinya lantas memberi tahu sang penyanyi dan memintanya untuk naik ke atas panggung. Dengan rasa yang juga penarasan, penyanyi tersebut pun menunjuk ke arah kami. Mendengar dan melihatnya secara langsung sontak membuatku syok dan tak habis pikir kalau hal tersebut sungguh terjadi. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Sampai-sampai aku kehabisan kata-kata dan sulit berucap.

__ADS_1


“R—Rein… C—Cubit aku…” gumamku pelan. Rein pun mencubit pipiku dan terasa sakit. Lalu aku tersadar kalau kejadian sekarang memang nyata. Dengan wajah yang terperangah tak percaya, aku berjalan bersama Rein ke arah panggung. Setelah berada di atas panggung, kami diminta untuk mengenalkan diri kami masing-masing.


“Apa yang membuat kalian dikagumi dengan penonton yang ada di sana?” tanya penyanyi perempuan itu dengan penuh rasa penarasan. Sembari memengang mikrofon, aku menceritakan apa yang terjadi tadi. Setelah mendengarnya, sontak orang-orang bersorak-sorai ke arahku.


“Wah, tidak salah kami memanggil kalian berdua,” cetus penyanyi perempuan sambil tersenyum.


“Bagaimana kalau mereka menyanyikan lagu tadi sekali lagi? Setuju tidak, penonton?” lontar penyanyi laki-laki ke arah penonton. Seketika mereka semua orang yang hadir bersorak dengan kencang dan serempak.


“Setuju!”


Lalu kami berdua menyanyikan lagi tersebut satu kali lagi di atas panggung. Kali ini aku menyanyikannya dengan penuh penghayatan melebihi yang sebelumnya. Para penonton yang menyaksikan banyak yang terdiri dari pasangan-pasangan yang menghabiskan waktunya di konser ini. Lantas semua orang ikut bernyanyi bersama kami. Suasana hangat membuatku merasa nyaman dan bahagia.


Di sisi lain, beberapa teman-temanku masih berkeliling di sekitar tempat konser. Gandra, Rhean, Bella, dan Icha berada tidak begitu jauh dari tempat kami berada. Mereka sedang asyik menikmani makanan yang dijajakan di tepi jalan utama. Sampai akhirnya mereka mendengar suara nyanyian yang tampak tidak asing bagi mereka.


“Sepertinya aku tahu suara ini,” cetus Bella kebingungan.


“Seperti suara Adelard dan Rein,” gumam Gandra pelan. Sontak mereka yang mendengarnya langsung menyadarinya dan membenarkan ucapan Gandra barusan.


“Nah itu dia!” lontar Icha.


“Suaranya bagus sekali,”  lanjut Bella yang masih terkagum-kagum dengan suaraku. Sebelumnya ia tidak percaya dengan suaraku saat aku bernyanyi di tempat pertunjukkan kecil saat siang tadi.


“Mereka tampil di panggung?” tandas Icha bertanya-tanya.


“Ayo kita ke sana!” ajak Rhean yang semakin penasaran dengan penampilan kami berdua. Kemudian mereka berempat bergegas menuju area penonton. Lantaran padatnya para penonton yang menumpuk di bagian depan, sehingga mereka hanya menyaksikan kami dari belakang. Penampilan nan elok dan serasi membuat mereka berpikir seakan-akan tengah menyaksikan sepasang penyanyi professional.


“Mereka terlihat serasi sekali,” hembus Bella tidak percaya.

__ADS_1


“Mereka berdua harus menjadi penyanyi!” lontar Rhean terpukau. Lalu mereka berempat menyaksikan penampilan kami hingga selesai.


Sementara itu, Gavin dan Cassie yang juga berada tidak jauh dari panggung konser lantas menonton kami berdua. Sontak mereka berdua langsung terperangah tak percaya dan sulit mengeluarkan kata-kata.


“Harmonis sekali…” guman Gavin ternganga, begitu pula dengan Cassie yang hanya membuka mulutnya dan matanya dengan lebar.


“Cocok sekali mereka. Iya kan, Cassie?” lanjut tanya Gavin, tetapi Cassie masih terfokuskan dengan penampilan yang ia lihat langsung dengan kedua matanya sendiri. Lantas Gavin memanggil-manggil Cassie supaya tersadar dan menanggapinya.


“Cassie?” Gavin juga melambaikan tangannya di hadapan wajahnya. Tak lama kemudian Cassie tersadar dan menjadi salah tingkah.


“E—Eh? Ada apa?” balasnya gelagapan.


“Menurutmu, bagaimana dengan hubungan mereka berdua? Cocok, bukan?” tanya Gavin kembali kepadanya.


“Andai saja itu aku…” desis Cassie sangat pelan dan membuat Gavin kebingungan karena tidak dapat mendengarnya dengan jelas.


“Hah? Tadi kau bilang apa?” Lekas Cassie menjadi tak karuan dan pikirannya hanya memikirkan sesuatu hal.


“M—Maksudku… Eee…” gumam Cassie tersipu malu. “Yah… Mereka tampak serasi sekali,” imbuhnya sembari tersenyum tipis ke arah Gavin. Gavin menjadi terheran-heran dengan tingkah Cassie yang mendadak aneh.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Gavin sedikit khawatir padanya.


“Tidak apa-apa,” jawabnya gugup. Kemudian Gavin menghela napas seraya berharap dengan nada yang sangat pelan dan tersenyum.


“Semoga kita juga bisa seperti itu…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2