
Di bawah sinar rembulan dan berhadapkan dengan cahaya api unggun nan terang kami masih berdua akrab di tepi kerumunan. Semua orang sedang bersenang-senang dengan acara yang tengah berlangsung, sementara aku dan Cassie justru membicarakan sesuatu yang cukup serius. Cassie tersentak kaget mendengar pernyataanku yang tiba-tiba.
“K—Kau yakin?” tuturnya tak percaya.
“Kau tidak mau?” tanyaku serius.
Cassie semakin gugup dan wajahnya sangat merah bagai apel. Ia mengangguk ke arahku dengan sangat perlahan. Aku yang mendengarnya lantas merasa senang dan sedikit gugup terhadapnya. Tanpa sadar wajah kami saling mendekat satu sama lain. Semakin dekat dan hampir saling menyentuh, bahkan aku dapat merasakan hembusan napasnya.
Pada saat yang bersamaan seketika saja terdengar suara yang menggelegar lalu disertai dengan sambutan yang penuh ramai. Kami yang terkejut langsung menoleh ke arah sana. Terlihat cahaya warna-warni yang berkelap-kelip serta api unggun yang semakin besar. Kemudian muncul sebuah benda terbang yang ternyata adalah kereta rusa bersama sinterklas di sana.
Di lain sisi, Freda, Hart dan kawan-kawan yang tengah berada di tengah keramaian sontak bersorak riang melihat kejutan yang menakjubkan itu. Semua orang terperangah menyaksikannya. Pandangan yang ke atas melihat pertunjukkan pria berkoustum merah dan kereta yang serba merah. Freda dan Hart sangat senang dapat berlibur ke daratan ini.
“Wah…! Keren sekali!” lontar Freda.
“Tidak akan pernah ku lupakan!” sahut Hart bahagia.
“Bukankah sinterklas justru melakukannya diam-diam?” tanya Rhean kebingugan.
“Untuk apa bersembunyi ketika semua orang sudah tahu?” lanjut Gandra.
“Oh iya, betul juga,” balas Rhean tersadar.
Aku dan Cassie memanang pertunjukkan tersebut dengan wajah terperangah. Sebuah pengalaman yang akan terus terpatri di dalam benakku.
“Indah sekali…” gumam Cassie tersenyum.
“Iya…” balasku takjub. Suasana menjadi sangat hangat dengan diriku dan Cassie yang saling merangkul.
Acara spektakuler tersebut berlangsung cukup lama. Kami semua sangat menikmati dengan pertunjukkan itu. Semua orang bersorak-sorai dan menyahuti seruan pria berkostum itu. Anak-anak yang juga menjadi pengunjung lantas merasa sangat girang. Hingga akhirnya acara sudah mencapai pada pertunjukkan penutup yakni konser malam. Hari sudah berganti semenjak kejutan itu.
Aku dan Cassie akhirnya berjalan menghampiri teman-temanku. Mereka sedang asyik mendengarkan lagu yang dinyanyikan di atas panggung. Saat lagu tersebut selesai dilantunkan, tiba-tiba saja teman-temanku berteriak untuk memanggik aku dan Rein naik ke atas panggung. Hal tersebut langsung menarik perhatian para penonton dan pembawa acara.
Sama seperti saat itu, aku dan Rein di panggil menuju panggung. Kami menyanyikan lagu yang sama seperti itu, namun dengan suasana yang berbeda. Sesudah melagukan lirik terakhir sontak seluruh penonton bertepuk tangan dan bersorak-sorai dengan sangat bergemuruh. Seketika aku tersadar dengan permasalahan yang terpikirkan di benakku.
“Bagaimana aku menjelaskan semuanya pada Rein?” gumamku dalam hati.
Saat kami kembali menghampiri teman-teman, mereka semua memujiku dengan penuh rasa gembira.
“Terima kasih,” balasku tersipu.
Tanpa sadar waktu terus berlalu dan acara akhirnya selesai. Semua satu per satu mulai meninggalkan tempat acara. Semua lampu-lampu masih berkelipan dan api unggun yang terus membara besar. Kami yang tengah berjalan pergi lantas bertemu dengan Pak Gled dan keluarganya. Kami banyak berbicara dengan mereka, tetapi aku masih penasaran dengan suatu hal.
“Apa api itu tidak di padamkan?”
“Untuk apa? Api itu dibiarkan menyala terus hingga mati dengan sendirinya,” jawabnya.
“Bisa menyala sampai berapa lama?” lanjut Bella.
“Biasanya tiga hari kalau cuaca cerah,” balasnya kembali.
__ADS_1
“Wah, cukup lama juga…” gumamku. Kami melanjutkan pembicaraan tentang acara tadi hingga akhirnya suasana mulai sepi dari sebelumnya. Kami berpisah dengan Pak Gled saat kami sudah berada di depan rumah.
“Sampai jumpa!” lontar kami senang. Mereka melanjutkan langkahnya menuju rumah mereka.
Roda waktu berputar dan tanpa sadar fajar akan segera terbit. Semua orang tertidur termasuk diriku. Aku sempat kesulitan tidur pada awalnya, untung saja diriku yang sudah sangat kelelahan lantas membuatku dapat terlelap. Padanganku yang baru sepenuhnya gelap dan tenang seketika saja mendengar suara Hart entah dari mana. Aku yang merasa terganggu akhirnya membuka kedua mataku dan benar saja, terdapat Hart di sebelahku. Ia tengah berusaha membangunkanku.
“Ada apa?” tanyaku terseret-seret dan keheranan.
“Ada yang kita bicarakan,” jawabnya.
“Apa tidak bisa nanti saja?” lanjutku.
“Kali ini sangat penting. Cepat, mereka sudah menunggu,” ucapnya lalu membuatku semakin kebingungan.
“Freda dan Cassie,” balasnya.
“Apa yang ingin dibahas?”
“Kau ini banyak tanya. Keluar dulu supaya yang lain tidak bangun,” ujar Hart.
Aku dan Hart berjalan menuruni tangga dan menghampiri Freda dan Cassie yang sudah berada di ruang tengah. Wajah kami tampak mengantuk semua, tetapi mereka tetap menahannya. Aku yang tidak tahu apa-apa kemudian langsung duduk di bangku tanpa banyak bertanya lagi. Saat semuanya terdiam lantas Freda memulai pembahasan. Semuanya tampak cukup serius. Freda berkata-kata dengan suara pelan agar tidak membangunkan yang lain.
“Baik! Sekarang kita mulai,” ucap Freda sedikit mempertegas perkataannya. Kami semua menyimaknya dengan penuh saksama.
“Ini tentang kalian berdua,” lanjut Freda seraya menghadapku dan Cassie.
“Apakah sangat penting?” tanyaku mengantuk.
“Apa kalian tidak menghargai tubuh kalian sendiri?” balasku yang juga kesal.
“Baik, baik. Kita akan mempersingkatnya,” ucapnya.
“Ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan,” imbuh Freda.
“Kenapa kalian tiba-tiba seperti itu?” sahut Hart yang belum begitu tahu detilnya. Freda yang mendengarnya sontak tersentak kaget.
“Kau belum tahu apa-apa?” tanya Freda.
“Aku tahu kalau mereka begitu, tapi aku tidak tahu cerita keseluruhannya,” jawab Hart. Pada akhirnya aku harus menceritakan kejadiannya secara lengkap kepada mereka. Aku merasa malu untuk mengatakan tiap-tiap kalimat, begitu pula Cassie yang hanya tertunduk diam.
“Oh begitu…” gumam Hart.
“Lalu, kira-kira kalian akan melakukan apa?” tanya Freda kepada diriku dan Cassie.
“Loh, kukira kalian akan memberikan kami solusi,” ucapku terkejut bingung.
“Kan sudah ku bilang kalau kita akan membahasnya,” balas Freda.
“Terus kenapa kau menanyakannya pada kami? Sama saja seperti aku membahasnya dengan Cassie berdua,” ujarku.
__ADS_1
“Kami bisa membantu, kau ini serba sendiri terus, sih,” sahut Hart.
“Baik, baik. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa ke depannya. Aku tidak ingin pertemananku hilang karena ini,” paparku pasrah.
“Kau harus mengorbankan sesuatu untuk meraih yang lain,” balas Hart.
“Tumben sekali kau berkata begitu,” lanjut Freda.
“Aku sering mendengar kutipan itu… Hehe…” ucap Hart cengengesan.
“Kita harus melakukan apa untuk meluruskannya?” tutur Cassie pelan.
“Apa kau ada jangka waktu untuk berpacaran dengannya?” tanya Freda padaku.
“Kau pikir aku ini dikontrak?” balasku kesal.
“Lalu, apa alasan kau berpacaran dengannya?” sahut Hart.
“U—Untuk mencari pengalaman…” jawabku pelan dengan kepala tertunduk.
“Pengalaman? Hmm…” celetuk Freda lalu menatapku curiga.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh!” tegasku padanya.
“Sshh! Nanti mereka bangun!” desis Hart.
“Kalau mencari ‘pengalaman’, tidak selamanya kau akan bersamanya, kan?” ujar Freda.
“Iya, aku tahu itu,” jawabku.
“Hmm… Bagaimana kita menjelaskannya?” gumam Hart.
“Apa kita benar-benar harus menjelaskan semuanya?” tanyaku kebingungan.
“Entahlah… Apa kita bisa membuat mereka tidak memiliki rasa lagi pada kalian?” sahut Freda.
“Tapi bagaimana? Aku takut malah menjadi-jadi,” balasku.
“Benar juga, cara itu cukup berisiko,” lanjut Hart.
“Bagaimana kalau kita menunggu agar waktu yang menjawab?” usul Cassie pelan.
“Seperti yang kau bilang waktu itu?” tanya Freda memastikan.
“Iya…” jawab Cassie. Semua orang pun setuju dengan usulan Cassie itu. Aku mengatakan kesimpulan dari pembahasan kali ini.
“Baik, biar waktu yang menjawab…”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)