
Hamparan padang rumput disertai warna-warni bunga-bunga yang bermekaran indah. Aku hanya seorang diri berdiri tenang di bawah atap pendopo. Tidak ada seorang pun sejauh mataku memandang. Hanya ada hewan kecil yang saling berlarian dan burung-burung yang beterbangan bersama dengan kekawanannya.
“Aku ada di mana?” tanyaku bertanya-tanya. Kemudian aku berjalan-jalan mencari tahu di tengah bentangan hijau sendirian. Angin yang berhembus halus mengayunkan rambutku dengan pelan.
Setelah beberapa waktu aku berkeliling di sekitar pendopo, tidak ada jawaban yang dapat aku temukan. Tiba-tiba saja ada seorang gadis berlekuk elok dengan gaun putih yang dikenakannya. Sontak aku menjadi penasaran sekaligus bingung siapa gerangan. Ia sedang menatap ke atas dan membelakangiku, sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya.
Sesampainya kembali di pendopo aku mendekati gadis tersebut lalu bertanya kepadanya. “Permisi, sejak kapan kau ada di sini?” tanyaku tergugup pelan, tetapi gadis itu masih saja terdiam selama beberapa saat.
“Adelard…” tuturnya lembut. Seketika aku menjadi merinding mendengarnya.
“I—Iya…” jawabku gemetaran. Aku masih sangat penasaran dengan wajahnya. “Si—Siapa kau?” lanjut tanyaku. Namun lagi-lagi tetap saja ia tidak menanggapiku.
“Kau tahu di mana dirimu berada sekarang?”
“T—Tidak… Apa kau tahu?” Aku merasa ada sesuatu yang aneh, sepertinya aku pernah mendengar suara gadis ini. Akan tetapi aku tidak mengetahui sosok misterius yang ada dihadapanku sekarang.
“Apa dirimu telah menyadari sesuatu?”
“Maksudmu?” Aku tidak mengerti sama sekali dengan percakapannya.
“Jadi, kau masih belum berubah, ya?”
“Aku masih tetap menjadi diriku,” jawabku heran bukan kepalang. Karena tidak tahan dengan kebingungan yang terus membayangiku, akhirnya aku melonjak berlari untuk melihat wajahnya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Seketika kakiku terasa berat dan tak bisa melangkah. “A—Apa yang terjadi?” batinku tercengang seraya berusaha mengangkat kakiku.
“Siapa dirimu sebenarnya?” tegasku bertanya kepadanya.
“Lihatlah ke belakangmu…” Lantas aku menuruti perkataannya dan menoleh ke belakang. Terlihat awan seketika gelap dan guntur mulai bergemuruh. Kemudian aku kembali memutar kepalaku menghadapnya, tetapi tiba-tiba ia menghilang dari pandanganku. Aku pun tersadar aku sedang berada di tengah padang rumput yang luas dan tidak ada pendopo atau pun tempat berteduh.
“L—Loh? B—Bukannya tadi aku…?” gumamku gagap tidak percaya. Tak lama kemudian hujan turun sangat deras dan seketika diriku menjadi basah kuyup.
“Ha!” lontarku terlompat kaget. Ternyata aku bermimpi lagi. Sepertinya aku mengenal suara gadis tersebut. “Cassie…?” gumamku pelan kebingungan. Aku baru tersadar bahwa diriku juga basah kuyup seperti di mimpi.
“Eh? Kok basah?” tanyaku.
“Tidur terus…!” tandas adikku sedikit jengkel dengan semprotan air di tangannya. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku kesal.
“Membangunkan abang,” jawabnya singkat dan tersenyum. Aku pun menghela napas dengan tingkahnya yang selalu seperti ini. Rasa kantuk belum kunjung pudar, aku yang ingin terbaring kembali namun tidak bisa lantaran kasurku sudah basah akibat ulah adikku.
“Wuah… Sekarang jam berapa?” tanyaku seraya menguap.
“Jam tiga,” jawabnya dan pada saat itu juga aku teringat akan tugas sekolahku yang belum ku selesaikan sama sekali.
“Oh iya! Untung saja kau membangunkanku,” ucapku tersentak.
__ADS_1
“Abang mandi dulu sana. Kalau sudah segera turun ke bawah,” pintanya kepadaku.
“Kenapa ke bawah? Aku bisa mengerjakan di sini,” balasku. Lantas adikku menarik diriku menuju kamar mandi. Lalu mendorongku masuk ke dalam dan menutup pintu itu rapat-rapat.
“Jangan lama-lama!” serunya dari luar. “Iya!” sahutku. Adikku telah menaruh pakaianku di luar pintu. Selepas membilas tubuh aku pun mengambil pakaian tersebut.
“Kenapa celana panjang? Padahal aku tidak suka pakai ini,” gumamku bingung sekaligus sedikit jengkel dengannya. Lalu aku berjalan menuju kamarku dan mengenakan pakaian rumahan yang biasa ku kenakan. Rasa penasaran masih terlintas dibenakku dengan permintaannya agar aku segera turun ke bawah.
“Apa ada acara TV baru?” batinku menebak-nebak. Akibatnya aku yang hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada pergi turun ke bawah sembari mengelap kepalaku dengan handuk.
“Entah mengapa dia selalu menyuruhku setelah membang—” gumamku sebal lantas terpotong karena diriku yang termangap melihat teman-temanku yang sudah menunggu di ruang tengah. Teman-temanku juga hanya terdiam menatap diriku.
“A—Abang?”
“A—Adelard…?” tutur Cassie syok.
Sontak adikku langsung mendorongku kembali ke atas. “Apa yang abang pikirkan?” tegasnya marah kepadaku. Begitu pula aku yang sama marahnya dengannya.
“Kenapa kau tidak bilang-bilang?”
“Aku kan sudah menyiapkan pakaian rapih tadi. Kenapa tidak Abang pakai?”
“Aku tidak suka pakai pakaian tebal, apalagi celana panjang. Kau tahu itu kan?” Kami saling berdebat seraya melangkahkan kaki menuju kamar.
“Tapi kan sedang ada tamu, Abang.”
Setelah itu aku kembali ke bawah dan menemui teman-temanku.
“Yo, Alien Erotis!” sapa Hart, namun aku tidak mau terpancing lagi olehnya. Kemudian aku bertanya kepada mereka.
“Ingin apa kalian ke mari?” tanyaku. Terlihat mereka sedang menggendong tas sekolah dipunggung mereka.
“Kami ingin mengerjakan tugas bersama,” jawab Freda bersemangat. Sementara itu Cassie hanya tersenyum ke arahku.
“Hanya kalian bertiga, kan?” tanyaku berharap.
“Iya,” jawab Hart.
“Huft… Syukurlah tidak satu kampong dibawanya,” gumamku lega dalam hati. Adikku sedang menonton televisi di ruang tengah dengan volume suara yang amat keras. Mau tidak mau kami hanya bisa mengerjakannya di kamarku.
“Ayo naik ke kamarku,” ajakku padanya. Lalu aku menuntun mereka menaiki tangga dan berjalan menuju kamarku. Sesampainya di sana aku mempersiapkan meja berkaki pendek dan kami mengerjakannya secara lesehan.
“Eh? Kau mengompol?” cetus Freda sontak membuatku kalang kabut untuk menjawabnya.
“Bukan! Itu perbuatan adikku,” jawabku gelagapan.
__ADS_1
“Hiii… Sudah besar masih ngompol…” siul Hart menyinggungku.
“Sudah ku katakan aku tidak mengompol!” tegasku padanya.
Sesudah beberapa saat kami pun mengerjakan semua tugas bersama-sama. Satu demi satu soal terpecahkan olehku dan Cassie, sedangkan dua kecoak itu hanya menyalin jawaban kami tanpa berusaha sedikit pun.
“Cobalah sesekali kalian berdua berusaha menghitung sendiri,” usulku kepada mereka.
“Aku sudah berusaha, kok. Menyalin sudah menguras tenaga. Jadi, itulah usahaku,” jawab Hart lalu Freda menggangguk membenarkannya. “Usaha macam apa itu?” gumamku sebal dalam hati seraya menepuk jidat.
“Kalau ada yang kalian tidak mengerti, tanya saja padaku,” sahut Cassie tersenyum. “Eh? Kau yakin?” celetukku. “Tentu saja,” jawabnya.
"Kenapa wajahmu menunjukkan seolah-olah kami bodoh dan bebal?” tanya Freda dongkol kepadaku. “Tapi memang itu kenyataannya,” jawabku dalam kalbu.
Beberapa saat kemudian kami mengerjakan tugas matematika. Hart dan Freda pun akhirnya bertanya kepada Cassie. Secara perlahan dan simpel Cassie menerangkannya, tetapi setelah sekian kali mereka masih saja belum mengerti.
“Paham?” tanya Cassie.
“Tidak…” jawab Hart sembari menyocokkan jawabannya. Akibatnya Cassie gregetan dengan mereka berdua. Aku pun bisa memakluminya. “Sudah kuduga…” hembusku pelan. Wajah Cassie yang gemas membuatku terus menatapnya gembira.
“Cassie lucu,” cetusku tanpa sadar dari bibirku. Sontak Cassie menjadi salah tingkah setelah mendengarkanku.
“Ett… Alien ini masih saja mencari kesempatan dalam kesempitan,” sindir Freda. “Tapi yang ku ucapkan barusan benar kan, Hart?” lanjutku mencari pembelaan. “I—Iya,” jawab Hart yang terus memandangi Cassie dengan wajah nafsunya.
“Sudah, sudah. Ayo kita lanjutkan,” ujar Cassie mengalihakan pembicaraan.
Lalu kami melanjutkan mengerjakan kembali tugas kami. Dan tanpa sadar hari sudah gelap dan larut, tetapi masih ada beberapa tugas yang belum kami selesaikan.
“Sudah larut. Kalian tidak pulang?” tanyaku pada mereka.
“Tenang saja. Kami sudah membawa seragam untuk besok, kok,” jawab Hart sembari menunjukkan isi tasnya. Seketika aku terkejut tidak percaya.
“E—Eh? Jadi kalian ingin menginap?” tanyaku memastikan.
“Iya,” jawab Freda sedikit lelah. “Kau juga?” lanjut tanyaku pada Cassie lalu ia menjawabnya dengan menggangguk.
“Kita selesaikan dulu semuanya,” ucap Freda.
Kami pun mengerjakan semua tugas yang tersisa dan kini waktu telah menunjukkan tengah malam. Hari sudah sangat sunyi dan hening. Aku yang sudah mengantuk merasa lega akhirnya semua tugas telah aku kerjakan. Sembari merapihkan buku-buku aku meminta Cassie dan Freda agar tidur di kamar adikku dan berkata, “Cassie, Freda, kalian bisa tidur di kamar adik…”
Ucapanku terhenti setelah melihat mereka semua sudah pulas menopang kepalanya di atas meja. Sementara itu Hart sudah terbaring dengan pose anehnya sambil mendengkur kuat. Lalu aku membaringkan Cassie dan Freda di alas kamarku. Untung saja alas kamarku berbentang karpet. Kemudian aku menggelarkan masing-masing mereka dengan selimut.
Aku juga hanya dapat berbaring di pembaringan yang sama, lantaran kasurku masih basah dan tidak dapat di gunakan. Sebelum menyambut hari pertama sekolahku pada semester baru pagi nanti, aku berucap lega kepada diriku sendiri.
“Aku tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Senang berteman dengan kalian…”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)