Love Exchange

Love Exchange
Episode 113 : Guncangan Batin Penyesalan


__ADS_3

Siang hari yang terik dan langit yang berwarna biru cerah menjadi latar perjalanan kami menuju festival. Jalan-jalan yang lebar maupun sempit kami lalui. Hingga akhirnya kami semua menyempatkan diri untuk berhenti sejenak. Kami bersinggah di sebuah rumah makan yang tampak sederhana. Saat bersantap siang, aku mengakrabkan diri dengan Rein, dan pada yang saat bersamaan, hal tersebut membuatku malu bukan kepalang. Beberapa waktu kemudian, piring yang kami gunakan telah habis tak bersisa.


“Akhirnya selesai juga…” gumamku lega.


Perut yang telah terisi penuh membuat orang-orang hanya terdiam tanpa kata-kata. Tak lama berselang, datanglah sebuah pelayan yang menghampiri kami dengan selembar struk pembayaran untuk segera dibayar. Aku pun membaca masing-masing pesanan dan harga yang dikenakannya. Rasa kenyang yang nikmat membuatku sedikit mengantuk saat membacakan selebaran tersebut.


“Kau ini niat baca atau tidak, sih?” lontar Bella jengkel. Lantas ia mengambil kertas tersebut dari tanganku seraya berkata, “Sini, biar aku saja yang baca.”


Bella pun membacakan daftar pesanan yang kami pesan itu, tetapi rasa kenyang tersebut membuatnya sering kali bersendawa saat membacakannya. Tak jarang juga ia mengeluarkan suara tersebut dengan cukup kencang. Aku yang mendengarkannya menjadi merasa jengkel pula kepadanya. Rhean yang merasa sama sepertiku lantas berceletuk kepadanya.


“Astaga. Perutmu isinya hanya angin, ya?” Sontak Bella yang mendengarnya menjadi marah kepada Rhean.


“Masih untung sudah ku bacakan,” gerundelnya sembari memalingkan wajah. “Kalau begitu, kau saja yang baca,” lanjutnya memberikan kertas tersebut kepada Rhean.


Suasana yang campur aduk seperti itu membuat Gandra merasa tidak nyaman. Ia pun mengambil kertas itu yang berada di tangan Rhean lalu membacakannya hingga selesai. Setelah itu, akhirnya kami semua mengeluarkan uang kami masing-masing sesuai dengan pesanan yang kami pesan. Dari sekian uang yang kami keluarkan, Gavinlah yang terbanyak.


“Banyak sekali bayaranmu,” cetusku tidak percaya.


“Wajar saja, dia kan rakus,” sahut Rein menyindirnya, sementara itu Gavin yang sedikit kesal tidak menanggapi sepatah kata pun. Lalu aku membayarkannya kepada pelayan itu. Selepas itu kami semua meninggalkan rumah makan dan melanjutkan perjalanan.


“Apakah masih jauh dari sini?” tanya Cassie pelan.


“Sepertinya sudah dekat, kita cukup melewati beberapa persimpangan lagi,” jawab Gandra sembari melihat layar ponselnya.


Kami pun berjalan kembali sembari mengikuti arahan yang ditunjukkan oleh peta. Melewati permukiman padat membuatku melihat beragamnya aktivitas orang-orang. Terlihat dari kejauhan sekumpulan anak-anak yang memainkan permainan tradisional. Kami sempat berhenti untuk menyaksikan keseruan permainan tersebut. Mereka yang melihat kami lantas mengajak kami untuk bermain bersama.


“Kakak! Ayo sini, kita bermain bersama!” lontar salah seorang anak di antara mereka. Kami semua sempat terdiam untuk memikirkannya sejenak, terkecuali aku yang langsung menghampiri mereka.


“Bagaimana cara bermainnya?” tanyaku tersenyum.

__ADS_1


“Kakak tinggal melompati karet ini,” jawab anak itu dengan ceria.


Kemudian aku mencoba melakukannya. Aku mengambil ancang-ancang lalu berlari untuk melompatinya. Karet tersebut saling disambung-sambungkan sehingga berbentuk seperti tali panjang. Dua anak yang memegang tali karet tersebut mengangkat tangan mereka setinggi-tingginya. Aku pun berhasil melompatinya, Anak-anak itu tampak takjub kepadaku, berikut pula dengan teman-temanku.


“Oh iya aku hampir lupa kalau dia itu Adelard,” ucap Gavin tersenyum sembari menyaksikanku. Aku melompatinya selama beberapa kali dengan ketinggian yang berbeda-beda. Hingga suati ketika, semua tercengang saat aku melompati tali karet tersebut dengan cara yang tak biasa.


“Woaahh…” hembus mereka.


“Yah… Tidak harus jungkir balik seperti itu juga, sih,” gumam Icha. Sontak tepuk tangan bergemuruh ke arahku. Lalu mereka semua mendekatiku, termasuk terman-temanku.


“Sempat-sempatnya kau melakukannya di tempat seperti ini,” ucap Rein kepadaku. Anak-anak itu tampak senang lalu melanjutkan permainannya.


“Tidak apa-apa selagi mereka semua senang,” balasku tersenyum.


“Baiklah, mau lanjut jalan lagi?” usul Gandra kepada kami semua. Kami mengiakan perkataannya itu. Lalu aku berpamitan kepada anak-anak tersebut.


“Terima kasih, Kakak!”


“Main-main ke sini lagi, ya!”


Sepanjang perjalanan kami membicarakan perihal kejadian tadi. Aku sangat senang sekali dapat membuat orang lain tersenyum ceria.


“Kapan-kapan kita ke sana lagi, yuk!” ajak Gavin bersemangat.


“Yuk! Aku juga ingin bermain dengan mereka lagi,” balasku.


Hingga tibalah kami di sebuah jalan raya yang mengarahkan ke festival tersebut. Kami telah keluar dari wilayah permukiman padat. Jalan tersebut tampak tidak terlalu ramai, tidak seperti dengan jalan utama yang penuh sesak. Jalan tersebut menanjak ke atas. Kami berjalan tanjakan tersebut cukup lama. Aku yang mendorong kursi roda Gavin membuatku kelelahan. Setibanya di puncak tanjakan, kami berhenti sejenak sembari melihat ke arah festival tersebut yang berada tidak jauh di bawah. Kami melihat keramaian itu dari atas puncak tanjakan.


“Wah, ramai sekali,” lontar Icha tidak percaya.

__ADS_1


“Lautan orang ini mah,” lanjut Rhean.


“Sepertinya ini festival teramai yang pernah kulihat,” sahutku terperangah, sementara itu Gandra yang terus berjalan telah berada jauh di depan kami. Kami asyik mengobrol sampai-sampai membuatku tak sadar kalau kursi roda Gavin berjalan sendiri menuruni jalan tersebut.


“E—E—Eh…! A—Adelard!” teriak Gavin panik. Kami yang baru tersadar lantas tersentak kaget dan langsung mengejarnya. Gavin yang kepanikan itu tidak dapat memberhentikan kursi roda yang berjalan sendiri. Gavin pun menutupkan wajahnya dengan penuh rasa takut. Kursi roda itu meluncur dan semakin cepat.


“Gavin…!” teriak kami dari belakang, sedangkan Gavin terus berteriak minta tolong dengan matanya yang terpejam.


“Siapa pun…! Tolong aku! Tolong…!” Ia juga berucap yang melantur kemana-mana. Di atas kursi roda tersebut ia menjerit ketakutan.


“Dewa, maafkanlah semua kesalahanku. Aku masih ingin hidup…”


Kami semua menjadi ribut meneriaki Gavin dari belakang seraya mengejarnya. Orang-orang yang berada di sekitar kami hanya menyaksikan kami dengan tampang yang kebingungan. Gandra yang sedang asyik berjalan sendiri di depan lantas terheran-heran lalu menoleh ke belakang. Pada saat itu juga ia menyadari kalau ada Gavin yang meluncur kencang menghampirinya.


“Astaga naga! Kenapa jadi seperti ini?” lontar Gandra terkejut. Dari kejauhan, Gandra mengambil ancang-ancang untuk memberhentikan Gavin. Ketika Gavin mendekat, ia pun langsung memegang genggaman kursi roda itu.


“Dapat!” Kemudian ia memberhentikannya secara perlahan. Untung saja tidak ada pejalan lainnya yang menghalangi saat Gavin meluncur. Tidak ada satu pun dari kami yang terluka. Kami yang berada di belakang akhirnya mendekati Gandra dan Gavin.


“Kau tidak apa-apa, kan?” tanyaku dengan napas yang terengah-engah. Di lain sisi, Gavin masih syok dan mengalami trauma akan kejadian barusan yang menimpanya.


“Kau ini bagaimana? Jangan asal dilepas begitu saja!” lontar Bella memarahiku. Aku merasa sangat bersalah karena telah bersikap ceroboh.


“M—Maaf… Aku terlalu asyik memandang festival tadi,” ucapku tertunduk. Kemudian Cassie berjalan mendekati Gavin dan melihat kondisinya dari dekat. Sontak Gavin yang terduduk di kursi tersebut langsung memeluknya dan merengek dengan keras.


“Aku ingin cepat-cepat sembuh…!”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2