Love Exchange

Love Exchange
Episode 153 : Jingga Langit dan Dedaunan


__ADS_3

Mentari mulai memuncak dan sinar sudah terpancar terik namun hawa yang aku rasakan hanyalah sejuk dan dingin. Aku pun memutuskan untuk kembali ke dalam dan perutku sudah mulai keroncongan. Tampak Rein yang sedang memasak di dapur. Melihatnya seperti itu lantas membuatku untuk ikut membantunya. Terlihat bahan-bahan yang digunakannya seperti daging ayam dan beberapa bumbu rempah lainnnya.


“Ingin kubantu?” tanyaku.


“Boleh, kau tolong potong-potong seperti tadi, ya,’ balasnya yang kemudian beralih mengaduk daging yang baru ia masukkan. Aku memasukkan beberapa rempah ke dalam blender lalu menghaluskannya.


“Kalau sudah aku tuang ke mana?” lanjutku kebingungan.


“Sini, tuang ke panci,” jawabnya. Aku menuang bumbu tersebut lalu Rein menumisnya hingga harum.


“Mm…! Harum!” lontarku menyeringai senang dan sudah tak sabar untuk mencobanya.


“Tolong bukakan bungkus kunyit bubuk itu,” pintanya yang tengah sibuk memasak di depan kompor.


“Oke,” balasku kemudian mengambil satu bungkus kunyit bubuk itu. Aku mencari gunting untuk membukanya, tetapi aku tidak dapat menemukannya.


“Di mana guntingnya?” tanyaku seraya menoleh ke sana kemari.


“Cari pakai mata, bukan mulut,” sahut Rein.


“Kau seperti ibu-ibu saja,” balasku.


“Kan aku calon ibu,” tandasnya.


“Oh iya, betul juga,” lanjutku tersadar. Tidak lama kemudian aku menemukan gunting lalu membuka bungkus tersebut.


“Nah ini dia!” lontarku. Aku pun berniat untuk membuka bungkus tersebut hingga terbuka lebar.


“Baiklah, akan kubuka…” gumamku.


“Hati-hati, bubuk bisa mengepu—” ucapnya sembari menoleh ke arahku, namun wajahku sudah dipenuhi oleh bubuk berwarna kuning itu. Bubuk yang mengepul itu lantas membuat hidungku merasa geli lalu aku bersin sekencang-kencangnya.


“Hacem!” Rein yang mendengarnya lantas tersentak kaget dan hampir menjatuhkan panci yang di pegangnya.


“Astaga! Bersin macam apa barusan?” lontarnya. Hidungku dipenuhi oleh lendir dan meler. Aku langsung bergegas mengambil tisu yang berada di meja makan.


“Kan sudah kubilang tadi,” ujar Rein.

__ADS_1


“Kau terlambat mengatakannya,” sahutku.


Setelah mengelap wajahku dengan tisu kemudian aku berjalan kembali menghampiri Rein. Seketika ia tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang berwarna kuning. Aku yang melihatnya lantas kebingungan dan aku langsung bergegas mencari cermin. Aku sangat terkejut setelah melihatnya. Sontak pula aku semakin panik saat menyadari bahwa wajahku tersebut sulit untuk dibersihkan.


“Waduh! Waduh! Gimana ini? Tidak bisa hilang,” seruku kalang kabut.


“Hahaha! Kau tampak mirip sekali dengan ayam ini,” sahut Rein.


Selepas menyiapkan semua santap siang, kami pun menempati kursi di meja makan dan duduk berhadap-hadapan seperti tadi pagi. Aku menyantap hidangan seperti biasa, sementara itu Rein masih tersenyum menahan tawa melihat wajahku. Aku hanya bisa menarik napas pasrah menghadapinya. Suatu ketika, tiba-tiba saja Rein tersedak dan batuk-batuk. Dengan sigap aku berlari menuju dapur dan mengambil segelas air minum.


“Ini, jangan tertawa saat makan,” ucapku dengan wajah sedikit sebal. Ia pun meminum gelas tersebut hingga habis.


“Habisnya kau lucu sekali,” balasnya cengengesan.


Sehabis kami mengisi perut, aku langsung bergegas menuju kamar mandi lalu bercemin dan mendekatkan wajahku dengan kaca tersebut. Aku merasa sangat cemas dengan wajahku yang tidak dapat dibersihkan. Hingga akhirnya Rein datang menjumpaiku dan berdiri di pintu. Ia hanya tertawa kecil melihat diriku yang panik sendiri seperti anak kecil.


“Coba kau pakai sabun wajahmu,” ucap Rein. Lantas aku tersadar setelah mendengar perkataannya.


“Oh iya. Aku akan mencobanya,” balasku.


Aku mengambil sebuah botol yang berada di rak dinding sembari melihat wajahku di cermin. Dengan cepat aku langsung membuka botol tersebut lalu mengusap-usapnya ke wajahku. Akan tetapi, sabun yang kupakai terasa aneh dan sangat licin. Tidak lama kemudian mataku terasa perih dan membuatku kesulitan melihat. Sontak Rein lagi-lagi tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkahku yang menggelitik.


Rein tertawa sangat lepas sampai-sampai ia lemas hanya dengan tertawa dan terbaring di atas lantai. Aku langsung membasuh wajahku dengan air hingga berkali-kali. Akhirnya aku dapat kembali melihat dengan jelas meskipun mataku masih terasa perih. Aku terkejut setelah mengetahui kalau aku mengambil botol yang salah, yaitu botol sampo.


“Pantas saja, ternyata sampo,” gumamku.


“Jangan terburu-buru jadi orang,” ringis Rein yang sudah kelelahan tertawa.


Setelah beberapa saat akhirnya wajahku dapat sedikit bersih namun masih meninggalkan warna kuning yang masih terlihat jelas. Aku mencuci wajahku hingga berkali-kali, tetapi tidak dapat membersihkan sepenuhnya. Di lain sisi Rein sedang bersantai di atas sofa sembari menonton televisi. Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi lantas berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Terdapat sebuah kasur besar yang tampak lembut. Aku langsung melompat ke arah kasur itu dan merebahkan diri.


“Huft… Empuknya…” hembusku lega. Aku berguling-guling ke kanan dan ke kiri. Lantas aku terlintas di benakku sebuah pertanyaan yang ingin aku pastikan.


“Apa hanya ada satu kasur?” gumamku. Aku pun beranjak dari kasur dan berjalan di sekeliling lantas atas. Aku tidak melihat kasur lainnya selain kasur yang aku gunakan barusan. Hembusan angin sejuk yang menerpa diriku sontak membuatku merasa kantuk dan ingin segera berbaring di kasur tersebut.


“Ya sudahlah,” ucapku seorang diri kemudian berbaring pulas dengan tangan membentang.


Waktu terus berjalan dan jam telah menunjukkan bahwa hari telah petang. Cahaya jingga mulai menembus terang dari balik kaca jendela. Sinarnya yang silau lantas membangunkanku perlahan. Tampak Rein yang sedang beryoga dari pandanganku yang masih buram. Hingga aku mengucek-ucek kedua mataku dan melihat Rein yang benar-benar tengah melakukan yoga. Aku beranjak duduk dari baringku. Rein yang menoleh ke arahku lalu menyapaku.

__ADS_1


“Sore, Adelard.”


“Kau bisa yoga?” tanyaku dengan suara yang masih lemas.


“Lihat saja sendiri,” jawabnya tersenyum. Ia duduk di atas alas seraya meregangkan tubuh dengan tangan yang memegang punggung kakinya.


“Lentur sekali…” sahutku.


“Kau lesu sekali. Cuci mukamu sana,” ucapnya kemudian melanjutkan aktivitasnya.


Aku berjalan menuruni tangga lalu membasuh wajahku. Perlahan rasa kantukku mulai hilang. Setelah itu, aku pergi menuju balkon dengan pemandangan matahari yang akan terbenam. Tiba-tiba saja aku teringat untuk membuat secangkir kopi. Aku melangkah balik ke dapur untuk membuat secangkir kopi kemudian duduk di bangku balkon. Aku yang teringat dengan perjalananku menuju pantai kala itu.


“Bagus juga ternyata pemandangan dari gunung,” gumamku. Beberapa waktu kemudian Rein datang menghampiriku dengan baju yoga yang masih dikenakannya.


“Hey, Anak Senja!” panggilnya dan aku langsung menoleh ke arahnya.


“Ada apa?” tanyaku keheranan.


“Mumpung langitnya bagus, bagaimana kalau kita foto-foto?” ajak Rein.


“Apa kau yakin? Dengan pakaianmu yang seperti itu?” lanjutku.


“Aku akan menggantinya dulu, tunggu sebentar,” balasnya.


Kami pun mengganti pakaian secara bergantian di lantai atas. Aku baru sadar bahwa seluruh ruangan ini tidak di sekat oleh dinding, terkecuali kamar mandi yang tersekat oleh dinding kaca. Seluruh dinding luar bangunan ini juga didominasi oleh kaca juga. Sontak aku merasa khawatir dengan kondisi seperti ini. Aku bertanya-tanya di dalam benakku sembari menuruni tangga.


“Vila ini benar-benar tidak ada ruang tertutup satu pun?”


Aku mendatangi Rein yang sudah melakukan swafoto dengan kamera ponselnya. Kami bersiap-siap untuk mengambil foto bersama, namun aku kebingungan dengan cara kami untuk memotret kami dengan sempurna. Pada saat yang bersamaan Rein pergi menuju lemari yang berada di ruang tengah dan menemukan tripod di dalamnya.


“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku.


“Saat aku merapikan pakaian aku melihatnya,” jawabnya.


Setelah semua persiapan selesai dilakukan. Aku dan Rein lantas berpose dengan latar langit violet kejinggaan dan mentari yang membias besar di belakang kami. Sebelumnya Rein telah memasang pengatur waktu pada kamera teresbut. Kami berdua saling merangkul dan membentangkan sebelah tangan.


“Senyum,” tutur Rein yang kemudian terdengar suara jepretan dari kameranya.

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2