Love Exchange

Love Exchange
Episode 58 : Penyesalan


__ADS_3

Rumah-rumah mulai terlihat dari kejauhan. Kami sudah mendekati pemukiman yang berada di Gunung Vitlessia. Aku dan Cassie masih terlelap tidur. Sampai akhirnya kami memasuki kota kecil itu. Perjalanan yang jauh memangkas waktu menjadi petang. Setibanya di suatu tempat, aku pun terbangun dari tidurku.


“Kita sudah sampai mana?” tanyaku menguap dan masih setengah sadar.


“Kita sudah sampai di Stanreom,” jawab Freda bersemangat. Tapi saat itu juga mereka semua menatapku penuh curiga. Lantas aku menjadi kebingungan.


“Ada apa?” tanyaku lugu kepada mereka.


“Coba ceritakan apa yang kau alami dengan Ca—” ciut Freda menatapku tajam dan serius. Namun ucapannya barusan disela oleh Hart yang baru datang dari dalam pondok tersebut lalu menenangkannya.


“Sshh… Ayo kita masuk dulu.  Aku dan Emery sudah memesan pondok ini untuk kita tinggali selama satu minggu,” potong Hart kemudian mengajak kami masuk ke dalam. Aku masih tidak mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Freda tadi.


“Wah lama juga ya,” sahut Eledarn bersenang-senang.


“Iya. Aku dan Freda sudah menyusun jadwal tempat-tempat yang akan kita kunjungi di gunung ini. Ada banyak tempat wisata, lho,” tutur Hart menjelaskan.


“Ayo kita bersenang-senang selama satu minggu ke depan!” teriak Freda bersemangat. Kemudian kami semua menyambutnya dengan bersorak-sorai.


Namun kesenangan itu tidak begitu aku dan Cassie rasakan. Aku dan Cassie yang masih syok tidak dapat saling menatap satu sama lain. Aku berusaha untuk melupakan semua kejadian tadi pagi. Tetapi benakku tidak mengizinkannya. Selama melangkahkan kaki aku merasa ketakutan dengan tatapan tajam Freda yang sangat curiga kepada kami berdua.


Setelah kami masuk dan meletakkan barang-barang, aku pun pergi berjalan melihat sekeliling pondok penginapan yang kami sewa ini. Hawa yang cukup hangat sedikit membingungkanku. Padahal sekarang tengah musim dingin, tetapi atmosfer yang ku rasakan berbeda dengan atmosfer di tempat lain.


Matahari mulai melungsur padam dari cakrawala. Langit yang mulai menghitam gelap dan sinar-sinar lampu mulai memancar. Hawa sejuk malam hari mulai menerpa diriku. Aku pun kembali masuk ke dalam pondok tersebut. Namun aku dikejutkan dengan teman-temanku yang mengerubungi Cassie yang sedang terdiam bergemetar takut. Lantas aku menghampiri dan bertanya kepada mereka.


“Kalian sedang apa?” tanyaku polos. Seketika mereka menatap tajam kepadaku dengan wajah yang seram.

__ADS_1


“Adelard… Apa yang kalian berdua alami pagi tadi saat kami semua tertidur?” tanya Freda merendahkan suaranya. Sontak aku menjadi gelagapan dan merinding dibuatnya.


“A—Aku tidak bisa menceritakan ke kalian,” jawabku ikut gemetaran sama seperti Cassie. Tiba-tiba trauma yang telah ku usahakan untuk pergi lantas kembali lagi terpikir di benakku. Aku jadi merasa sangat bersalah telah mengalami kejadian hina tersebut.


“Oh… Jadi benar seperti dugaan kami…” bengis Hart mengelilingiku. Aku dan Cassie seperti sedang diinterogasi habis-habisan. Aku hanya bisa diam berkeringat dingin terhadap mereka.


“Adelard bejat!” lontar Emery meneteskan air mata.”


Kepalaku terpenuhi dengan tuduhan serupa dan terus menghantuiku. Rasa bersalah terus bergejolak di dalam tubuhku dan terus menyiksaku. Aku sudah tidak kuat lagi menahannya. Sontak aku berteriak mengakui kesalahanku dan menceritakan semua.


“Maafkan aku! Aku tidak sengaja masuk kamar mandi dan Cassie sedang ada di dalamnya!”


Seketika semua orang terdiam syok dan memperhatikanku.


“Aku melihat Cassie terbuka dengan jelas. Maafkan aku!  Maafkan aku!” lanjutku berteriak menyesal kepada mereka. Air mata tak luput mengucur dari mataku. Cassie yang dari tadi diam lantas menyesalinya juga.


Sementara itu semuanya terdiam mangap dan tidak berkutik apa-apa. Wajah mereka seperti menunjukkan syok yang sama dengan kami.


“J—Jadi kalian saling melihat satu sama lain?” tanya Freda gagap tidak percaya.


“Iya!” jawab aku dan Cassie serentak.


Sontak Hart dan Eledarn menarikku menuju ruangan lain. Begitu pula Cassie yang ditarik oleh Freda dan Emery. Sementara itu Milard hanya mengikuti kami dari belakang. Dengan penuh amarah Hart mendekatkan wajahnya yang seram kemudian bertanya kepadaku.


“Jujur. Kau melihat seluruh tubuhnya dengan jelas.”

__ADS_1


“I—Iya…” jawabku pelan terisak-isak.


“Kau beruntung sekali ya, Adelard,” celetuk Eledarn berusaha tenang. Hart pun menjauhkan wajahnya dan menarik napas menenangkan diri.


“Kau tidak seperti bayanganku,” cetus Milard yang masih syok dengan pelan.


“Ti—Tidak! Itu hanya kecelakaan. Aku tidak menginginkannya,” ucapku meyakinkan Milard. Tak lama kemudian suasana mulai tenang dan aramah mereka mulai luruh sedikit demi sedikit.


“Padahal kami yang baru berniat saja langsung dibabat habis oleh Freda. Sedangkan kau dengan enaknya melihat yang kami inginkan,” sindir Hart jengkel kepadaku. Aku pun bingung dengan perkataannya barusan. Lalu aku bertanya kepada Milard sembari mengelap pipiku yang basah.


“Apa maksudnya Milard?”


“Ya begitulah… Tapi asal kau tahu aku tidak ikut-ikutan seperti mereka berdua, ya,” jelas Milard membela diri.


“A—Aku juga tidak! Itu hanya pikiran mesum Hart saja,” lanjut pungkas Eledarn gelagapan.


“Eh? Aku? Tidak tidak tidak,” sosor Hart mengelak. Aku tidak mengerti apa yang mereka maksud.


“Hari sudah mulai larut, lebih baik kita tidur,” ucap Hart.


Kemudian kami pergi ke kamar tidur kami masing-masing yang telah ditetapkan. Terdapat tiga kamar lalu dibagi-bagi. Aku bersama dengan Hart, Eledarn dengan Milard, kemudian para perempuan ditempatkan satu kamar. Mataku yang kering setelah banyak terkuras dengan cepat membuatku terlelap.


“Akhirnya aku lega sekarang,” batinku tepat sebelum kesadaranku berpindah ke pulau kapuk.


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2