
Suatu ketika aku terbangun dari tidurku yang sangat lelap. Tampak mentari telah setinggi tombak dengan sinarnya yang sangat terang menembus jendela dan menyoroti kedua mataku. Aku yang kesilauan lantas segera beranjak lalu merenggangkan tubuhku. Di samping itu, terlihat Rein yang masih tertidur pulas dengan bantal guling dipelukannya. Wajahnya yang tampak rupawan dan senyuman dibibirnya membuatku menyeringai dengan sendirinya.
“Bahagia sekali sepertinya…” gumamku.
Aku pun berjalan menuju ruang tengah dan mengambil segelas susu dari kulkas. Dengan beberapa lembar roti, aku menikmati pagi yang cerah di balkon. Tidak lama kemudian seekor kucing yang aku temukan semalam datang menghampiriku. Ia mengeong-ngeong dan langsung hinggap di atas kakiku. Sembari memandangi panorama alam, aku menyantap sarapanku dan sesekali mengelus-elus kucing tersebut.
“Cerah sekali hari ini.”
Setelah menghabiskan semua sarapan, aku yang terdiam bosan lantas kebingungan untuk melakukan apa. Aku hanya bermain-main kecil dengan kucing tersebut. Suatu saat aku mendengar suara air yang mengalir dari bawah lereng gunung. Seketika terbesit di benakku untuk berjalan-jalan di sekitar vila. Aku pun pergi keluar dari vila dan berjalan menuruni lereng. Untung saja lereng yang aku lewati tidak terlalu terjal dan cukup landai. Tanpa sadar, ternyata kucing teresbut mengikuti dari belakang.
“Hush! Kenapa kau ikut kemari?” lontarku tak habis pikir. Aku berusaha untuk mengusir kucing itu, namun ia tetap tidak mau pergi dariku.
“Huft… Baiklah kalau kau memaksa,” hembusku pasrah kemudian mengangkan kucing tersebut. Lalu aku melanjutkan langkahku menuruni lereng gunung ke arah suara air itu berasal.
Setibanya di sana, tampak sebuah aliran sungai kecil yang mangalir dengan deras melewati bebatuan yang cukup besar. Air tersebut sangat jernih sampai-sampai aku dapat melihat dasar sungai itu dengan mudah. Aku yang penasaran lantas berjalan menuju sungai itu dengan celana yang sudah kugulung, sementara itu kucing tersebut hanya melihatku dari tepi sungai.
“Wah dingin sekali.” Tidak lama setelah membasahi kaki, aku langsung kembali ke tepi. Aku mengambil sedikit air dari telapak tanganku kemudian meminumnya.
“Segarnya…” decakku takjub. Aku pun membasuh wajahku dengan air sungai itu dan seketika diriku menjadi sangat bugar.
Selepas menikmati alam di sungai tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kembali menuruni lereng yang terlihat ada beberapa tanaman buah dari kejauhan. Bersama kucing, aku berjalan perlahan dan berhati-hati karena jalur yang aku lewati cukup licin. Hingga akhirnya aku berada di sebuah hamparan lapang yang penuh dengan pohon beri-berian. Aku yang melihat buah-buah tersebut lantas kebingungan karena mereka semua tampak mirip bagiku.
“Rasberi, murbei, beri hitam, apa bedanya?” gumamku. Aku hanya bisa membedakan stroberi dan bluberi.
“Mungkin Rein tahu, aku akan bawa semuanya,” lanjutku yang kemudian mengambil beberapa buah dari masing-masing beri tersebut. Banyaknya buah yang kupetik membuatku harus menggunakan bajuku untuk membawanya. Akhirnya aku berjalan kembali menuju vila dengan sekantung beri-berian di dalam bajuku. Aku sedikit bergegas karena hawa dingin yang menusuk tubuhku.
Setibanya di vila, Rein yang sebelumnya cemas karena tidak melihat keberadaan diriku lantas menjadi sebal karena tidak memberitahunya sama sekali.
“Kau dari mana saja?” lontarnya. Ia melihatku yang terbuka dengan baju yang berisikan buah-buahan di tanganku.
“K—Kenapa kau melepas bajumu?” lanjutnya kebingungan.
“Aku membawa beri yang ku temukan di bawah tadi,” jawabku sembari menunjukkannya. Aku meletakkan mereka di atas meja makan lalu aku mengambil baju baru untuk ku kenakan.
“Buah apa saja yang kau petik?” tanya Rein seraya melihat-lihat buah tersebut satu per satu.
“Entahlah, yang pasti aku membawa stroberi dan bluberi,” balasku.
“Itu mah aku juga tahu.”
Aku mengambil satu buah stroberi itu, lalu mencucinya dan memakannya. Buah tersebut terasa manis dengan rasa asam yang menyegarkan. Rein yang melihatku seperti itu lantas ikut tertarik untuk mencobanya. Pada saat yang bersamaan ia memikirkan sebuah cara untuk menikmatinya. Ia mengambil blender lalu memasukkan semua buah tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita buat smoothie saja?” usulnya.
“Sepertinya lezat. Tapi, apa semuanya bisa dimakan?” balasku yang kemudian merasa ragu.
“Buah-buah itu tampak tidak asing bagiku,” tandasnya sembari menyalakan blender tersebut.
“Baiklah kalau begitu.”
Minuman tersebut akhirnya disajikan di dalam dua gelas dengan susu kental manis rasa coklat di atasnya. Kami menikmati minuman tersebut sembari bersantai di balkon. Sebelumnya aku mencium aroma minuman tersebut, dan ternyata tidak merasa tanda bahaya darinya. Sementara itu, Rein sudah menghabiskan setengah gelas. Aku yang melihatnya lantas merasa tergiur untuk langsung meminumnya.
“Mm…! Enak sekali!” lontarnya.
“Wah iya, ternyata lezat juga menikmatinya dengan cara seperti ini,” sahutku yang tak percaya dengan minuman tersebut.
“Ayo kita habiskan bersama,” ajaknya, kemudian kami bersulang.
“Bersulang!”
Kami langsung meneguk minuman tersebut hingga habis. Perutku terasa kenyang meskipun hanya meminum segelas minuman tersebut. Rasa kenyang itu membuatku terasa mengantuk dan ingin rasanya untuk tidur, begitu pula dengan Rein yang sudah menguap dan langsung berjalan menuju kamar. Pada saat yang bersamaan aku merasa cemas dengan minuman yang baru saja kami minum.
“Minuman itu seharusnya aman-aman saja, kan?” benakku.
“Cassie? Kau sedang apa di sini?”
“Aku tidak tahu.”
“Oh, begitu ya…” balasku pelan. “Apa kau pernah di tempat seperti ini sebelumnya?” imbuhku bertanya.
“Entah… Ingatanku cukup samar-samar. Sepertinya aku pernah melihat sesosok laki-laki di tempat ini…”
“Ceritamu barusan hampir mirip denganku…”
“Benarkah? Aku tidak mengerti dengan semua ini…”
“Tunggu, ini hanya mimpi, kan?” tanyaku terheran-heran.
“Tapi rasanya tidak seperti mimpi.”
“Coba cubit aku,” lanjutku. Cassie pun mencubit tanganku dan aku tidak merasakan sakit sama sekali.
“Tidak sakit. Berarti kita sedang bermimpi…” ucapku.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana cara keluar dari tempat ini?” tanya Cassie khawatir.
“Aku juga tidak tahu,” jawabku. Kemudian ia memanggil-manggil namaku.
“Adelard…”
“Iya?”
“Halo, Adelard…”
“Aku di sini, kau mendengarku, kan?”
“Adelard?” tuturnya sembari melambai-lambaikan tangan di hadapanku.
“Cassie? Kau tidak bisa mendengarku? Cassie?” ujarku panik dan tiba-tiba saja pandanganku menjadi putih semua.
“Cassie? Siapa dia?” tanya seseorang dari antah-berantah.
“E—Eh? Siapa kau? Apa yang sebenarnya terjadi?” lontarku bertanya dengan nada kesal.
“Ini aku, Sadath.”
“Hah? Sadath?” Tiba-tiba saja pandanganku terbuka dan aku kembali berada di vila. Aku yang melihatnya sontak terkejut dan langsung beranjak dari dudukku.
“K—Kenapa kau ada di sini?” tanyaku gelagapan.
“Apa kau baik-baik saja?” balasnya yang juga bertanya kembali.
“I—Iya. A—Aku baik-baik saja.” Seketika aku menjadi kebingungan sendiri dan tidak mengingat apa pun yang telah terjadi sebelumnya.
“Benarkah? Tapi tadi kau memanggil nama Cassie terus,” lanjutnya.
“Cassie? Apa aku mengatakannya?”
“Ya, apa kau sungguh tak kenapa-kenapa?” Sekejap kepalaku menjadi berat dan terasa sakit. Sadath yang melihatku setengah sadar sontak langsung merangkulku. Aku yang sangat lemas lantas bertanya-tanya, sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.
“K—Kenapa… tiba-tiba jadi… seperti… ini…?”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1