
Waktu terus berputar, jantung yang terus berdetak, dan dunia yang cepat bergerak, tanpa kami sadari seiring kaki melangkah, ternyata bermacam-macam kesibukan telah di depan mata. Awal pekan besok merupakan deretan tanggal yang akan kami lalui dengan ulangan-ulangan. Dalam menuju waktu tersebut, aku dan sepasang kecoak bersama-sama belajar dari nol. Cassie juga tak luput dari ajakannya.
Kami semua mempelajari satu demi satu mata pelajaran yang akan diujikan. Aku dan Cassie dengan tenang dan fokus melakukannya, namun tidak bagi mereka berdua. Ada saja gangguan-gangguan yang datang menghampiri mereka. Aku yang seharusnya dapat belajar dengan tenteram seperti dahulu, kini hanya sebatas awing-awang yang diharapkan.
“Argh! Susah sekali!” lontar Hart kesal. Sudah berkali-kali aku mengulanginya membuatku dongkol kepada dirinya.
“Makanya dengarkan penjelasanku!” tegasku.
“Ah… Capek… Mau bobo…” hembus Freda lesu. Amarah yang bergejolah di dalam diri sekuat mungkin kutahan.
“Mau sampai kapan pun kalau begini terus sama saja bohong,” gerutuku dalam hati. “Ya sudah kalau begitu semangat, ya, saat ujian nanti,” lanjutku kepada mereka berdua. Cassie juga tampak kelelahan dan tidak sanggun mengajarkan mereka.
Sekarang tiba saatnya hari yang ditakuti kebanyakan orang. Pentingnya nilai tersebut untuk kenaikan kelas menjadikannya batu besar yang harus dilalui para siswa. Tidak seperti ketika semester ganjil, kali ini tidak ada kata malas untuk meraih nilai yang diinginkan. Pengawasan yang begitu ketat dan tempat duduk yang di acak membuat murid-murid yang tidak mempersiapkan dengan matang hanya tinggal menggigit jari.
Aku mendapati ruangan yang sama dengan Hart dan Freda, meskipun tempat duduk kami saling berjauhan. Selama ujian berlangsung, terlihat rasa gelisah yang ditunjukkan oleh wajah mereka. Melihat dari kejauhan, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka, hanya mengerjakan soal dengan cermat yang dapat kuperbuat saat ini.
“Semoga yang terbaik untuk kalian…” batinku berharap.
Tiap-tiap hari berlalu, situasi yang sama terus terulang bagai rantai siklus, tidak banyak ekspetasi yang ku berikan kepada mereka. Tibalah saat-saat ujian mata pelajaran terakhir. Sesudah itu, semuanya dapat menghirup napas lega walaupun bayang-bayang yang mengerikan menghantui pikirannya. Aku berkumpul dengan mereka berdua dan membahas ujian hari ini.
“Bagaimana dengan kalian? Aman?” tanyaku gugup yang padahal aku mengetahui jawabannya.
“Lihat dengan matamu! Kau pikir kami baik-baik saja?” balas Hart pusing dan kesal kepadaku. Rasa takut yang tiba-tiba muncul beberapa saat setelah semuanya berakhir, membuat sebagian orang menjadi stress dan menyalahkan diri mereka sendiri.
__ADS_1
“Haduh… Tamat sudah riwayatku…” Freda hanya dapat meratapi nasib yang tidak dapat ia ulang kembali. Aku yang tidak tega kemudian berusaha untuk menenangkannya.
“Sudah, sudah… Masih ada remedial pekan depan.”
“Kalau begitu, ajarkan kami lagi, ya…” pinta Hart lemas seperti kehilangan separuh jiwanya. Sontak aku baru tersadar atas apa yang telah ku ucapkan barusan. Kini aku merasa amat menyesal akan hal itu.
“Astaga! Ti—Tidak seharusnya aku mengatakan itu…! Aku lupa kalau akan ada skenario seperti ini,” gerundelku dalam hati. Semakin cepat waktu berganti, semakin banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan. Hitungan mundur hari pelaksanaan program OSIS hanya tinggal hitungan jari. Sementara itu aku masih disibukkan dengan urusan mereka berdua.
Setiap hari waktuku banyak dihabiskan untuk mengajarkan mereka berdua, sedangkan Cassie yang kena imbasnya juga hanya bisa mengikuti arus dan tak bisa berbuat banyak. Ingin hati ini berkata jujur dan menolaknya, tetapi terbayang di benakku seluruh akibat yang akan menghampiriku bila aku mengucapkannya begitu saja.
“Aduh! Kepalaku ingin meledak!” keluh Freda sembari menggaruk-garuk kepalanya. Lagi-lagi aku sangat geram dengan tingkah mereka yang tidak ada niat belajar sedari awal.
“Ini camilan untuk kalian,” ucap adikku seraya meletakkan beberapa makanan ringan untuk kami. Freda dengan gesit langsung mengambil makanan itu tanpa memikirkan kami yang tengah belajar. Seakan-akan tidak ada beban yang dipikulnya. Emosiku pun semakin bergejolak dan memarahinya.
“Tenang, Freda… Kau bisa belajar kapan saja…” tutur Cassie halus. Tak lama kemudian ia kembali tenang dengan camilan di tangannya. Lalu aku berjalan untuk menghampirinya, tetapi ia masih sangat marah kepadaku. Ia pun langsung menangkisku dan menjauhiku.
“Alien jahat!”
Seketika aku menjadi syok lantaran ucapannya menusuk tajam ke dalam lubuk hatiku. Perkataannya terdengar berbeda meskipun sering kali aku dilemparkan dengan ucapan yang sama. Aku terdiam sejenak dan tidak tahu harus berbuat apa.
“M—Maafkan aku,” ucapku pelan. Akibat situasi yang memanas akhirnya kami semua tidak melanjutkan belajar bersama lagi. Freda sudah memaafkanku, namun ada saja yang mengganjal ketika aku mengajaknya untuk belajar bersama lagi.
Hari silih berganti dan esok adalah hari pelaksanaan program OSIS kami. Ada beberapa anggota yang meminta izin untuk memberikan mereka waktu untuk memperbaiki nilai, Hart salah satunya. Aku dan Cassie tengah berada di ruang OSIS untuk menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan. Banyaknya kesibukan dari masing-masing individu membuat persiapan berjalan kurang efektif dan lancar.
__ADS_1
“Adelard, kau dipanggil menuju ruang guru,” lontar seorang anggota ke arahku. Bolak-balik ke sana dan kemari, aku disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang cukup berat. Pada saat yang bersamaan dua kecoak itu datang kembali kepadaku setelah melihat hasil nilai remedial mereka.
“Ajarkan kami lagi, tolong…” pinta Freda tulus dan membuatku menjadi tak tega melihatnya.
“Adelard, ada dokumen yang belum kau tanda tangani untuk diberikan ke sekolah,” lanjut Emery berlari menghampiriku. Aku menjadi pusing dengan segudang hal-hal yang harus ku selesaikan. Ruangan OSIS mendadak ramai karena murid-murid yang memohon kepadaku untuk mengajarkan mereka.
“E—Eh? K—Kok?” lontarku terkejut dan bertanya-tanya. Kondisi menjadi kacau-balau dan semrawut. Orang-orang terus berdatangan kepadaku dan menjadikanku kewalahan bukan kepalang.
“Gawat! Klub seni dan klub sastra saling bertengkar!” teriak seseorang dari depan pintu.
Aku langsung mengambil langkah cepat untuk menyelesaikan semuanya, namun tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa pekerjaan ku limpahkan pada Cassie dan anggota-anggota lainnya. Aku berlari di sekeliling sekolah menuntaskan permasalahan satu demi satu. Kemudian di akhiri dengan mengajar mereka semua di ruang OSIS. Cassie dan Emery juga tak lepas untuk membantuku mengajar.
Akhirnya semuanya beres dan aku kelelahan setengah mati. Napasku menjadi berantakan tak karuan. Sesaat diriku terduduk tenang di kursiku, tiba-tiba saja seseorang anggota membuka pintu tergesa-gesa dan memberitahuku sesuatu.
“Adelard! Cassie! Kepala sekolah memanggil kalian untuk ke ruangannya sekarang!” Rasa penatku yang menjadi-jadi membuatku tidak bisa bergerak sama sekali. Semua tubuhku terasa berat dan sakit.
“A…da… apa… lagi…?” hembusku terseret-seret.
Seketika pandanganku menjadi gelap keseluruhan dan aku merasa seperti terjatuh dari tempat yang sangat tinggi. Seisi ruangan menjadi syok dan panik melihatku tersungkur di atas lantai. Teman-temanku dengan segera berlari menghampiriku.
“Adelard!”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)