Love Exchange

Love Exchange
Episode 95 : Rintik Syahdu Bermesraan


__ADS_3

Awan kelabu tebal disertai dengan petir yang bergemuruh, angin berhembus kencang, dan air mengguyur permukaan dengan sangat deras. Cuaca yang seketika berubah dan tidak sesuai dengan perkiraan membuat orang-orang berlarian mencari atap untuk berteduh. Aku dan Rein berlari dan terpisah dari Cassie dan Gavin. Setelah meneduh, tanpa sadar waktu telah siang dan perutku sudah keroncongan.


“Brrr… Hawa dingin membuatku lapar,” gigilku sembari mengusap-usap tanganku.


“Ayo kita cari restoran di sekitar sini,” balasnya, tetapi kami berdua tidak memiliki payung untuk berjalan.


Ternyata, kami telah berada di depan toko swalayan tanpa kami sadari. Aku dan Rein masuk kedalam dan membeli dua buah payung. Setelah itu kami berdua kembali keluar dan berjalan bersama. Angin yang kencang membuat pandangan kami menjadi tipis dan angin tersebut mendorong kuat payung kami. Aku dan Rein menjadi kewalahan dan memegang payung tersebut erat-erat. Sampai akhirnya terlihat sebuah papan restoran dari kejauhan.


“A—yo… Sedi—kit lagi ki—ta akan sam—pai,” lontar Rein yang terputus-putus. Aku pun menggenggam tangan Rein hingga kami tiba di restoran tersebut.


Sesampainya di restoran, kami berdua meletakkan payung di tempat yang telah disediakan. Setelah masuk ke dalam, aku dan Rein mencari tempat duduk yang berada dekat dengan jendela. Ruangan yang hangat membuat diriku nyaman. Tak lama kemudian seorang pelayan dan kami pun memesan makanan dan minuman.


Sembari menunggu hidangan disajikan, kami berdua saling mengobrol dan menceritakan sesuatu yang belum kami ketahui satu sama lain. Dengan pemandangan rintik hujan dan gemercik air yang menetes deras, aku membuat diriku rileks dan santai. Aku menceritakan pengalamanku selama menempuh pendidikan di sekolah yang kurang waras itu.


“Dari sekian banyak temanku yang rusuh, akhirnya aku bertemu dengan teman-teman yang baik di sini,” ucapku tersenyum.


“Apakah seburuk itukah pertemananmu? Bagaimana dengan Cassie? Tidak mungkin dia orang yang suka rusuh, kan?” tanya Rein sedikit terkejut dan penasaran.


“Yah… orang sepertinya hanya bisa dihitung dengan jari,” jawabku.


“Sepertinya sekolahku tidak jauh beda dengan sekolahmu,” lanjut Rein. Sekilas aku sempat tercengang dan membuatku penasaran. Rein pun menjelaskan bagaimana dirinya belajar di sekolahnya.


“Sebenarnya aku tidak memiliki cerita yang cukup menarik, sih. Aku hanya seorang gadis seperti murid lainnya. Berkumpul bersama teman-teman saat istirahat, bermain bersama teman laki-laki, dan membicarakan teman bersama-sama. Aku sempat di tembak beberapa kali, tapi semua itu kutolak,” paparnya.


“Wah, kau populer sekali, ya…” pujiku kepadanya.


“Hahaha…! Aku tidak sepopuler dirimu, Alien,” balasnya  dan tiba-tiba membuatku tersentak kaget dan bertanya-tanya.


“L—Loh, bagaimana kau tahu itu?”


“Aku sempat melihat lembaran buku tulismu di bagian paling belakang… Hehe…” jawabnya bercanda. Pada saat itu juga aku tersadar dan teringat bahwa Hart pernah mencoret-coret buku tulisku.


“Astaga… Aku lupa merobeknya,” gumamku dalam hati.

__ADS_1


“Tenang, tenang… Aku tidak akan memberi tahu kepada siapa pun, kok,” lontarnya tersenyum bahagia.


“Aku pegang ucapanmu,” balasku. Beberapa waktu berselang, makanan telah disajikan di meja makan kami. Kami pun menyantapnya bersama-sama. Tak jarang kami juga saling bersuap-suapan seperti sepasang kekasih yang tengah berbunga-bunga. Untung saja restoran tersebut dalam keadaan yang tidak ramai.


“Buka mulutmu… Aaaaa…” ujar Rein dengan sesendok makanan di tangannya. Aku pun memakan suapannya tersebut. Sekarang adalah giliranku untuk melakukan hal serupa kepadanya. Rein merasa sangat senang atas apa yang sedang terjadi saat ini.


“Emmm… Enaknya…” lontarnya. Aku pun tersenyum ke arahnya. Kemudian Rein menanyakan sesuatu kepadaku.


“Sepertinya kau senang sekali… Apa kau menikmatinya?”


“Iya!” jawabku gembira.


“Syukurlah… Akhirnya kau tahu kalau pacaran itu adalah hal yang menyenagnkan,” balasnya.


“Mungkin kali ini aku setuju denganmu,” sahutku, dan kami pun tertawa ceria.


Aku dan Rein menghabiskan berbagai hidangan yang tersedia di atas meja. Sesekali kami saling bergurau dan tertawa bersama. Waktu terus berputar dan kini makanan telah habis kami nikmati. Akan tetapi hujan masih turun dengan cukup deras. Kami berdua hanya bisa menikmati pemandangan tersebut. Lantas Rein mendekatkan diri kepadaku lalu bersandar di sampingku.


“Suasana hujan seperti ini membuatku mengantuk,” balasku yang menjadi lesu seakan-akan mataku ingin terpejam.


Lambat laun hujan kian mereda, meskipun masih menurunkan rintik-rintik air. Orang-orang mulai berlalu lalang dengan payung yang digunakan mereka. Hawa yang sejuk dan aroma tanah sehabis hujan membuat kalbu menjadi tenteram dan damai. Waktu telah memasuki petang dan mentari telah berada jauh dari pucuk. Terdengar suara seseorang memanggil-manggil namaku.


“Permisi… Halo…”


Aku pun terbangun dan tersadar bahwa kami masih berada di restoran. Terdapat seorang pelayan yang ternyata sedang membangunkan kami. Untung saja tidak ada orang lain yang menyaksikan kami. Sementara itu Rein masih tertidur dan bersandar di bahuku.


“M—Maaf… Kami ketiduran,” ucapku kepada pelayan tersebut.


“Iya, tidak apa-apa… Aku hanya ingin memberi tahu kalau hujan sudah reda,” balasnya tersenyum.


“Terima kasih, sekali lagi mohon maaf,” lanjutku.


Kemudian pelayan tersebut meninggalkan kami berdua. Aku pun membangunkan Rein yang tengah tertidur pulas. Sesaat aku melihat wajah cantik Rein dengan matanya yang terpejam. Rambut panjang yang menutupi bahuku membuatku semakin tersadar bahwa aku telah berpacaran dengan seorang gadis cantik nan rupawan. Tak lama waktu berselang, ia membuka matanya perlahan.

__ADS_1


“Oh iya… Kita masih ada di restoran, ya?” tanya Rein pelan dengan matanya yang masih sayu.


“Iya…” jawabku kepadanya. Terpikirkan di dalam benakku terhadap Rein yang tidak terkejut seperti orang-orang lain yang aku kenal.


“Dia tenang sekali…”


Lalu aku mengajak Rein untuk melanjutkan berjalan sekaligus mencari Cassie dan Gavin yang telah lama terpisah dengan kami. Kami memutuskan untuk kembali ke taman dan berkeliling di sana, namun mereka berdua tidak terlihat sejauh mata memandang. Terdapat kabut tipis yang membuat penglihatanku menjadi samar-samar, bahkan aku sempat memanggil kepada orang yang salah.


“Lihat dulu dengan jelas, baru kau panggil,” ujar Rein kepadaku.


“Maaf, maaf. Habisnya mereka berdua mirip sekali dengan Cassie dan Gavin,” balasku cengengesan.


Sepanjang waktu petang kami habiskan untuk mencari Cassie dan Gavin. Aku juga menelpon mereka berdua, namun tidak ada tanggapan. Mentari pun semakin bergulir dan sedang bersiap-siap untuk ditelan bumi. Langit merah terang menjadi panorama yang sangat indah, terlebih lagi peristiwa tersebut sangat langka terjadi.


“Wah… Indahnya…”


“Sayangnya tidak ada pelangi…”


Hari mulai gelap dan lampu-lampu mulai menyala. Kami yang masih berada di tengah taman melihat sebuah deretan cahaya yang berkilau sangat terang dibandingkan dengan lampu lainnya. Tampak banyak keramaian yang berjalan menuju ke sana. Dengan rasa penuh penasaran, aku dan Rein berjalan menghampiri tempat tersebut yang berada di sisi barat taman.


Sesampainya di sana, kami dikejutkan dengan sebuah tempat yaitu pasar malam yang terlintang di sepanjang jalan. Cahaya jingga dan kuning menjadi penerangan utama di tempat ini. Terlihat bermacam-macam tenda yang merupakan kios dan menjual aneka makanan dan minuman serta permainan. Terdapat pula beberapa wahana hiburan yang membuatku sekilas berpikir bahwa tempat ini tampak seperti taman hiburan dadakan.


“Aku baru tahu kalau ada pasar malam di tempat ini,” lontarku tak percaya.


“Aku juga…”


Lalu kami berdua berjalan dan melihat-lihat ke kanan dan ke kiri. Sesekali kami terhenti untuk membeli makanan. Ada banyak manusia yang berpasang-pasangan. Aku berpikir bahwa tempat ini adalah tempat yang cocok untuk orang-orang yang sedang menjalankan kisah romantis mereka.


“Sepertinya Cassie dan Gavin ada di sekitar sini,” gumamku dalam hati.


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2