
Suatu ketika pada tengah hari, mentari sedang memancarkan sinar teriknya. Semua orang memenuhi seluruh bagian sekolah dan saling berkumpul dengan kawan-kawan mereka. Aku yang sedang menikmati santap siang di dalam kelas lantas terdengar kabar bahwa akan ada seminar yang akan dilaksanakan besok. Lekas kami membicarakan kabar tersebut bersama-sama.
“Seminar apa ya, kira-kira?” gumam Bella penarasan. Aku yang teringat dengan perkataan ayahku waktu itu sontak terbesit kalau hal tersebut ada kaitannya dengan kabar ini.
“Kalau itu benar, apanya yang ‘tak terduga’?” ucapku pelan.
“Apa yang benar, Adelard?” tanya Rein kebingungan.
“Tidak, tiba-tiba saja aku berpikir tentang waktu itu,” jawabku.
“Oh iya, kudengar saat libur kemarin kalian menginap di hotel. Apa itu benar?” tanya Gandra. Aku yang mendengarkan sontak terkejut.
“E—Eh? Dari mana kau mengetahui itu?” balasku bertanya kembali.
“Entahlah, kalian berempat tidak ada di asrama waktu itu. Jadi kupikir kalau kalian menginap di satu tempat,” jawabnya tenang.
“Iya, kami menginap di hotel,” lanjutku berucap pelan sembari melihat ke bawah. Bella dan Gandra seketika menjadi sangat penarasan dan memohon kepada kami untuk menceritakannya.
“Baik, baik, akan ku ceritakan,” balasku menghela napas pasrah.
“Yes!” lontar Bella bersemangat.
Kemudian aku dan Rein menceritakan kejadian kala itu. Kami menceritakan awal bertemu dengan ayah kami hingga akhirnya bisa menginap di hotel tersebut. Mereka berdua lantas menyimak kami dengan saksama. Aku bercerita dengan nada pelan supaya tidak terdengar oleh murid lainnya yang juga berada di dalam kelas. Sesekali mereka berdua tampak terkejut dan tak menyangka dengan apa yang cerita yang aku paparkan.
“Kira-kira begitulah ceritanya…” ujarku mengakhiri kisah.
“Kau benar-benar tinggal satu kamar?” tanya Gandra tak percaya. Lantas aku mengiakan pertanyaannya.
“Kau tidak diperlakukan apa-apa kan, Rein?” tanya Bella. Aku yang mendengarnya mendadak jengkel dan langsung berucap padanya.
“Tentu saja tidak!” lontarku.
“Tuh, sudah dijawab,” sahut Rein tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu,” hembus Bella merasa lega.
“Syukurlah? Kau mengira kalau aku me—” tandasku namun diberhentikan oleh Gandra yang menutup mulutku.
“Sudah, sudah. Jangan dibahas terus,” ujar Gandra. Tak lama kemudian bel masuk kembali berbunyi dan kami semua melanjutkan kegiatan pembelajaran hingga pulang sekolah. Kemudian menit-menit aku jalani seperti biasa hingga terbaring di kasur.
__ADS_1
Keesokan harinya, saat langit pagi nan teduh beratapkan awan tipis di cakrawala. Kelas masih tampak bising dengan para murid yang mengobrol, bermain, bercanda, dan sebagainya. Waktu sudah terbuang setengah jam, namun guruku belum kunjung memasuki kelas. Hingga akhirnya seorang guru yang bukan waktu pelajarannya datang memasuki kelas. Lekas kami kembali menuju tempat duduk masing-masing dan mendengarkannya.
“Hari ini, akan ada seminar sampai siang nanti. Kami mengundang orang-orang sukses dari berbagai daratan. Dengan seminar ini, semoga kalian bisa menentukan langkah karir kalian ke depannya,” papar guru tersebut di depan kelas.
“Waw, kabar angin di sekolah ini selalu akurat, ya,” gumamku dalam hati. Pada saat yang bersamaan, dua orang dengan berpakaian jas datang memasuki kelas. Sontak orang-orang terperangah kagum dengan wibawa mereka. Aku hanya terkejut sedikit dan kembali tenang.
“Sudah kuduga…” benakku. Ternyata ayahku dan ayahnya Rein tengah berada di depan kelas. Kemudian mereka menyapa para murid yang berada di dalam kelas dengan penuh ceria.
“Halo semua! Selamat pagi!” lontar ayahku. Lantas kami menyahutinya bersama-sama secara kompak.
“Pagi!”
Saat seminar dimulai, mereka mengawalinya dengan berkenalan satu per satu. Sebelum menuju pembahasan inti, mereka melakukan sebuah permainan bersama para murid agar suasana menjadi cair. Sepanjang aku memperhatikan, mereka tidak pernah menyebut namaku dan Rein, seakan-akan kami hanya murid biasa seperti yang lainnya.
“Untung saja mereka semua tidak mengenal kami sebenarnya…” batinku lega. Beberapa detik berselang ayahku memberikan pertanyaan kepada kami semua. Ia menanyakan tentang cita-cita dan rencana kami selama beberapa tahun ke depan. Tiba-tiba saja Gandra yang ingin mempermainkanku langsung berteriak menyeru namaku.
“Adelard! Adelard!” Hal serupa juga dilakukan oleh beberapa teman kelasku. Aku yang mendengarnya sontak menjadi jengkel terhadap mereka.
“Adelard? Yang mana Adelard?” tanya ayahku sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Bi—Bisa juga ya aktingnya,” gumamku dalam hati. Kemudian semua orang menunjuk ke arahku.
“Silakan maju ke depan,” ucap ayahnya Rein tersenyum ke arahku. Aku pun beranjak bangun dari tempat duduk dan berjalan ke depan kelas. Saat aku telah berada di depan kemudian mereka bertanya-tanya kepadaku.
“A—Adelard Lavient,” jawabku gugup.
“Wah, nama yang bagus! Pasti orang tuamu sudah memikirkannya dengan sangat matang,” cetus ayahku cengar-cengir.
“Sempat-sempatnya memuji diri sendiri,” gumamku sebal dalam hati.
“Apa saja hobimu?” tanya ayahnya Rein penasaran, tetapi seketika orang-orang berceletuk ke arah kami yang berada di depan.
“Dia bisa melakukan apa saja!” Ayahku yang mendengarnya sontak terkejut lalu berinteraksi dengan para murid yang berada di tempat duduk.
“Eh? Bisa melakukan apa pun?”
“Iya!” lontar mereka serentak. Lalu ayahku menoleh ke arahku dan memintaku untuk melakukan sesuatu.
“Bisakah kau melakukan salto?”
__ADS_1
“Kenapa jadi begini…” benakku kesal. “Lagi pula kenapa bisa-bisanya Ayah memjahiliku seperti ini?” imbuhku. Seisi kelas hanya melontar perkataan yang sama agar aku dapat melakukannya.
“Salto! Salto! Salto!”
Aku pun menarik napas pasrah sembari berjalan menuju tempat yang cukup luas. Tatapan semua orang yang penuh serius sontak membuatku gugup dan kesulitan untuk melakukannya. Kemudian aku meminjam sebuah bangku lalu metelakkan bangku tersebut di depan kelas. Aku pergi menuju luar kelas dan mengambil ancang-ancang. Dengan penuh tenaga aku berlari lalu mengijak bangku tersebut sebagai tumpu. Akhirnya aku berhasil melakukannya meskipun terlalu tinggi bahkan hampir menyentuh langit-langit. Seketika seisi ruangan bergemuruh dengan suara tepuk tangan.
“Adelard hebat!” seru Rein, sementara itu ayahku dan ayahnya Rein hanya terperangah takjub.
“Tak kusangka akan seperti ini…”
“Wah, memang sama dengan yang kalian ucapkan, ya!” lontar ayahnya Rein.
“Baik, kembali ke pertanyaan awal. Apa yang biasa kau lakukan kalau ada waktu luang?” tanya ayahku.
“Belajar,” jawabku singkat.
“Kesibukan selain belajar?” lanjutnya bertanya lagi.
“Main gim…?” jawabku ragu.
“Lalu, apa cita-citamu?”
“Menjadi programmer.”
“Target tertinggi yang ingin dicapai?”
“Menjadi pengusaha sukses dan pastinya membahagiakan orang tua.” Sontak ayahku terdiam sejenak lalu tersenyum kepadaku.
“Semoga semua yang kau impikan menjadi kenyataan,” lanjutnya.
“Sama-sama,” balasku menyeringai.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih sudah maju ke depan,” ucap ayahnya Rein lalu aku menyalami mereka dan berjalan kembali menuju bangkuku.
Mereka memulai pembahasan inti dengan berbagai pengalaman yang baru aku ketahui, begitu pula dengan para murid lainnya. Hingga akhirnya tanpa sadar waktu telah menunjukkan siang hari dan kegiatan seminar pun berakhir. Sebelum menutup seminar, mereka kembali memanggilku ke depan lalu memberiku sebuah cendera mata untukku. Aku tidak menyangka kalau mereka memberikan sebuah benda yang selama ini aku inginkan. Aku merasa sangat senang.
“Terima kasih, Yah!” lontarku menyeringai gembira. Akan tetapi, semua orang yang mendengarnya sontak tersentak kaget dan tercengang. Gandra yang tak percaya lantas bergumam sendiri.
“Yah? Ayah?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)