Love Exchange

Love Exchange
Episode 148 : Pertikaian Bergejolak


__ADS_3

Hari semakin larut dan mentari telah terbenam. Langit yang berwarna ungu kejinggaan menjadi panorama kami yang masih berada di taman air. Terlihat kolam-kolam sudah sepi dari para pengunjung. Semua orang meramaikan kios-kios makanan dan meja tenda untuk makan malam dan bersiap pulang. Aku yang baru saja selesai berbilas kemudian berjalan kembali menghampiri beberapa temanku yang telah berpakaian rapi.


“Gavin dan Rhean masih di sana?” tanya Gandra.


“Iya, mereka baru saja masuk,” jawabku.


Pada saat yang bersamaan Rein dan Bella sedang asyik mengobrol satu sama lain. Rasa senang dan ceria terpancarkan dari wajah Rein. Sejak waktu itu, baru kali ini aku melihatnya tertawa seperti itu. Hingga akhirnya mereka berdua ingin pergi menuju toko es krim. Mereka bertanya kepada teman-teman yang lainnya. Aku yang masih terpikirkan perkataan Vira bermaksud untuk meminta maaf pada Rein, tetapi aku belum menemukan waktu yang tepat.


“Belikan aku es krim seperti biasa,” ucapku dengan nada datar, namun Rein tidak menanggapiku dan langsung berjalan meninggalkanku. Gandra yang melihatnya sontak tersenyum menahan tawa.


“Oke, akan ku belikan nanti,” sahut Bella yang kemudian segera menghampiri Rein. Aku merasa malu dengan kejadian barusan dan kebingungan terhadap dirinya.


“Kenapa dia?” gumamku. Gandra hanya melihatku yang terperangah tak percaya.


“Apa dia marah denganku?” lanjutku pelan.


“Ekhem. kalau boleh tahu, tadi siang kau pergi ke mana sendirian?” tanya Gandra menyeringai penasaran.


“Aku kan sudah menjawabnya tadi,” jawabku tegang.


“Setelah makan siang?”


“Aku berkeliling.” Kemudian ia menatapku dengan tatapan curiga. Aku menjadi semakin panik dan berusaha untuk menutupinya.


“Bagaimana denganmu? Kau menaiki seluncuran yang di sana, kan?” ucapku bermaksud untuk mengganti topik pembicaraan, tetapi Gandra tetap teguh pada percakapannya.


“Mau lihat-lihat sebentar?” ajak Gandra sembari melirik ke arah Cassie dan Icha yang tengah asyik mengobrol. Aku yang belum mengetahui maksudnya sontak menerimanya tanpa pikir panjang.


“Baiklah, aku juga ingin berkeliling sebentar,” balasku.


Kami pun berjalan-jalan di tepi kolam dengan beberapa orang yang juga berlalu-lalang di sekitar kami. Sampai ketika kami berada di tengah taman air, suasana tampak sangat sepi dan hanya ada suara kecil dari air yang mengalir. Aku tidak terlalu banyak bicara dengan Gandra sampai akhirnya ia memulai pembicaraan serius denganku.


“Bagaimana dengan perkembanganmu?” tanya Gandra.


“Sepertinya memburuk,” jawabku tertunduk murung.


“Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”


“Entahlah… Aku kebingungan untuk menjelaskan semuanya.”


“Kau ingin mengakhirinya?” Aku yang mendengar pertanyaan tersebut sontak tersentak kaget.


“E—Eh? M—Maksudmu putus?” lontarku.

__ADS_1


“Bukan. Kau mau menyudahi semua sandiwara itu?”


“Oh, tentu. Aku juga merasa sangat bersalah sudah membuatnya jadi seperti itu.” Seketika aku berhenti melangkah kemudian kembali merenung dan kebingungan untuk berbuat apa untuk Rein.


“Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa padanya…” gumamku.


“Tinggal minta maaf dan menjelaskannya, selesai,” balas Gandra padat.


“Aku takut dia salah paham duluan. Aku yakin pasti dia akan sangat marah saat mengetahuinya,” lanjutku. Kami berdua terdiam sejenak dan Gandra memikirkan sesuatu di benaknya.


“Bagaimana cara Rein meminta maaf padamu?”


“Yah… Dia memelukku dengan erat sambil menangis dan menyesal,” jawabku.


“Kalau kau bingung, ikuti saja caranya,” balasnya.


“Aku juga berpikir seperti itu.”


Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya kami memutuskan untuk kembali mendatangi teman-teman kami. Terlihat mereka semua sudah berkumpul di meja payung itu. Tampak pula Rein yang sangat bersenang-senang tanpa rasa sedih sedikit pun. Saat kami menemui mereka, lantas Bella memberikan es krim pesanan kami berdua.


“Ini punyamu,” ucapnya.


“Terima kasih,” balasku tersenyum. Aku pun menikmati es krim tersebut sembari menyaksikan Rein yang tengah bahagia. Pada suatu ketika, Gavin dan Cassie saling bertukar es krim dan menikmatinya bersama.


“Cepat juga kau melaju ya, Gavin,” sahut Rhean.


“Iya, tidak sepertiku,” lanjut Rein tertawa. Seketika semua orang yang mendengarnya langsung terdiam sejenak lalu ikut tertawa. Aku merasa sangat terpukul dengan perkataannya itu. Tanpa sadar kepalaku tertunduk dan tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa detik berselang aku beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan mereka.


“Aku ada urusan. Aku duluan, ya,” ucapku.


“Baiklah, sampai nanti,” balas Bella kemudian mereka semua kembali bercanda tawa.


Sepanjang jalan aku melangkahkan kaki dengan cepat dengan wajah penuh sedih. Sering pula aku menarik perhatian orang-orang yang berpas-pasan denganku. Sesekali aku berlari dan berusaha untuk menahan air mata yang keluar perlahan dari kedua mataku. Setibanya di asrama aku langsung menuju kamar lalu menelungkup di bantal dengan air mata yang terus mengalir di wajahku.


“Adelard bodoh!” teriakku penuh sesal.


Tanpa sadar aku telah menghabiskan waktu setengah jam lamanya di atas kasur. Mataku terasa perih dan kering serta bantal yang kupegang sudah basah kuyup. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka. Gavin dan teman-teman sudah tiba di sini. Gavin dibuat terkejut setelah membuka pintu kamar lalu melihatku dan mendengar suaraku yang tersedu-sedu.


“K—Kau tidak apa-apa, Adelard?” tanya Gavin cemas. Aku langsung beranjak dan berlari menghampiri Rein lalu memeluknya dengan erat. Rein yang tidak menyangkanya sontak terkejut dan terdiam.


“Maafkan aku! Selama ini aku bertingkah bodoh kepadamu agar kau lebih menyukaiku!” teriakku seraya menangis. Rein yang masih kebingungan masih belum menerima apa yang aku katakan. Ia mendorong pundakku dan menjauhkanku darinya.


“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”

__ADS_1


“Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku!”


“Tapi, kenapa kau berbohong?” lontarnya kesal, namun air mata juga menetes dari kedua matanya. Ia terus berkata dengan nada yang tinggi ke arahku.


“Be—Berbohong…?”


“Tuh kan! Aku tahu kau menyembunyikan seseuatu. Kenapa?”


“A—Aku tidak ingin kau marah.”


“Justru kau membuatku semakin marah dengan tingkahmu yang seperti itu!”


“Maafkan aku! Aku tidak tahu kalau akan menjadi seperti ini!”


“Kenapa kau tiba-tiba berubah waktu itu?” lanjutnya bertanya. Suasana dengan sendirinya menjadi ribut akibat kami berdua.


“Aku ingin mencoba sesuatu yang bisa membuatmu lebih suka padaku,” jawabku dengan nada pelan dan terisak-isak. Gavin dan Cassie yang berada di dalam asrama sontak mengendap-endap menuju pintu lalu keluar tanpa sepengetahuan kami.


“Kau pikir apa yang membuatku menyukaimu?” Aku hanya tertunduk diam dan tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun menarik napas dan kembali memegang pundakku lalu berucap pelan kepadaku.


“Aku menyukai Adelard yang kukenal selama ini…”


“Aku menyukaimu apa adanya…” Sontak aku langsung memeluknya lagi dengan erat.


“Kau tidak membenciku, kan?” tanyaku. Lantas ia memalingkan wajahnya dengan wajah kesal.


“Tentu saja tidak! Tapi aku masih kesal denganmu yang jalan dengan perempuan lain tadi siang,” lontarnya. Aku yang mendengarnya sontak terkejut dan tidak percaya.


“K—K—K—Kau melihatku?” tanyaku gelagapan. Pada saat yang bersamaan terdengar suara keramaian benda yang berjatuhan.


“Gavin! Tahan pintunya!”


“Aduh!”


Ketika kami menoleh ke sumber suara, ternyata teman-temanku terjatuh dari balik pintu yang terbuka. Kami berdua terkejut setelah menyadari mereka yang sedari tadi menyimak pembicaraan kami.


“Hai, hehe…” ucap Gavin cengar-cengir, begitu pula dengan yang lainnya.


“Kita lanjutkan nanti saja!” lontar Rein kemudian berjalan meninggalkanku menuju kamarnya. Aku yang melihat teman-temanku masih tidak habis pikir dengan mereka.


“K—Kenapa kalian semua ada di sini?”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2