Love Exchange

Love Exchange
Episode 125 : Persiapan Ujian Di Asrama


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat. Tidak terasa kami telah dihadapkan dengan pekan ujian yang akan dilaksanakan lusa. Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu untuk belajar bersama. Akan tetapi, beberapa kebiasaan buruk terus saja terjadi meskipun pada saat seperti ini. Aku yang melihat mereka lantas membuatku jengkel. Ke sana kemari aku berlarian di antara dua kamar.


“Astaga… Masih saja tidur…” gumamku. Hingga beberapa waktu kemudian, akhirnya Rein keluar dari kamarnya.


“Wuah… Pagi…” ucapnya yang masih setengah sadar.


“Pagi. Cassie masih tidur?” lanjut tanyaku. Kemudian ia menoleh ke dalam kamar melihat Cassie yang masih tertidur pulas.


“Iya…” jawabnya sembari berjalan lalu mengambil air minum. Pada saat yang bersamaan terdengar suara ketukan pintu dari luar asrama.


“Oh iya, hari ini!” lontarku teringat akan suatu janji yang telah dibicarakan hari-hari sebelumnya. Aku pun berlari dan membuka pintu tersebut. Terdapat empat temanku yang berasal dari asrama sebelah. Tanpa pikir panjang aku mempersilakan mereka untuk masuk dan menempati ruang tengah. Mereka yang melihat ruangan asrama kami lantas terkejut.


“Wah, rapi sekali asrama kalian,” cetus Bella takjub. Aku yang mendengarnya sontak kebingungan dengan perkataannya barusan.


“Menurutku biasa-biasa saja. Memangnya asrama kalian seperti apa?”


“Seperti kapal pecah karena ulahnya Rhean,” balasnya sembari menunjukkan wajah kesalnya kepada Rhean.


“Loh, kok aku? Icha juga sama,” sahut Rhean.


“Aku hanya lupa meletakkan di tempat semula. Kalau ingat aku langsung menaruhnya, kok!” pungkas Icha yang juga kesal kepada Rhean.


“Tapi kau lupa terus,” lanjut Rhean dan mereka berdua saling beradu mulut. Dengan cepat aku berusaha untuk melerai mereka.


“Sudah, sudah… Lebih baik kita duduk dan santai dulu,” ujarku, tetapi situasi yang panas itu masih terus berlanjut.


Aku pun melakukan beberapa hal untuk menenangkan mereka, namun semua usaha tersebut tidak berhasil. Rein yang masih mengantuk sontak menjadi geram terhadap mereka berdua. Ia langsung mengambil sebuah panci dari dapur dan datang menghampiri kami yang sedang berkumpul dengan wajah yang penuh kesal.


“Diam atau kalian tahu akibatnya…” gerutu Rein dan pada saat itu juga semua orang terdiam takut padanya.


“Ba—Baik…” balas Rhean dan Icha secara bersamaan dengan pelan. Akhirnya semua kembali tenang. Kami pun mengeluarkan buku kami masing-masing, namun mereka tampak keheranan dengan Cassie dan Gavin yang tak kunjung terlihat.


“Gavin masih tidur?” tanya Gandra, aku mengiakannya. Lantas ia saling bertatapan licik dengan Rhean. Aku yang melihatnya lantas tidak habis pikir dengan apa yang mereka rencanakan. Kemudian Rhean memanggilku dan meminta sesuatu.


“Adelard, bolehkah kami memasuki kamarmu?”


Mereka berdua memasuki kamar atas izinku. Terlihat Gavin yang tengah terbaring pulas di atas kasur dengan tubuhnya yang membentang. Mereka pun memikirkan sebuah cara untuk menjahilinya.


“Pasti kau terganggu tidur dengannya,” ucap Gandra kepadaku.

__ADS_1


“Setiap hari,” balasku. Kemudian Rhean mengambil sebuah kemoceng yang tergeletak di jendela. Ia mencabut sehelai bulu dari kemoceng tersebut. Sebelumnya ia telah mengibas-ngibaskan kemoceng yang penuh dengan debu itu. Gandra pun melakukan hal yang sama sepertinya.


“Aku bagian sini dan kau sebelahnya,” ujar Rhean kepada Gandra, sementara itu aku hanya menyaksikan mereka di belakang. Mereka mengelus-elus hidung Gavin dengan bulu tersebut. Gavin pun bersin dengan cukup keras akibat ulah mereka, namun setelah itu ia kembali terlelap seperti tidak terjadi apa-apa.


“Serius? Tidur lagi?” lontar Rhean tidak percaya.


“Mau tidak mau kita harus pakai cara yang paling bekerja,” ucapku pasrah.


“Baiklah kalau hanya itu satu-satunya cara,” balas Gandra. Aku pergi ke dapur untuk mengambil segelas air dari keran. Saat aku kembali, aku langsung langsung menggerakkan tanganku, namun sempat dihentikan oleh Rhean.


“Tunggu, kau yakin? Kasurmu nanti basah, loh,” cakapnya.


“Aku sudah terbiasa seperti ini,” jawabku kemudian menyiram wajahnya. Lekas Gavin berteriak kencang dengan wajahnya yang penuh ketakutan.


“Tidak! Jangan dorong aku ke kolam…!” Kemudian ia tersetak kaget dan tersadar kalau itu hanyalah mimpi, namun pada saat yang bersamaan ia juga kebingungan dengan dirinya yang kebasahan.


“Aku benar-benar di kolam renang?”


“Kau ada di atas kasur,” balas Rhean dengan wajah jengkel.


“Oh iya, ayo kita belajar,” sahutnya.


Kami pun kembali menuju ruang tengah sedangkan Gavin harus mengganti pakaiannya yang basah tersiram air. Terlihat para perempuan itu telah berkumpul lengkap termasuk Cassie yang telah terbangun dari tidurnya.


“Sudah bangun?” tanya Rein kepadaku.


“Aman!” balasku senang. Kami bertiga pun menduduki tempat saling bersebelahan dan berhadapan dengan Rein dan Cassie. Kami semua membentuk lingkaran di atas karpet. Aku yang duduk berjarak dengan Rein membuat dirinya bertanya kepadaku.


“Kau tidak mau duduk di sebelahku?” Aku yang tidak mengerti apa-apa lantas kembali bertanya kepadanya.


“Apa bedanya kalau aku di sini?”


“Aku bisa lebih mengerti kalau ada sesuatu yang ingin ku tanyakan,” jawabnya. Aku pun memenuhi permintaannya.


“Wah, kau pandai mencari alasan, ya,” celetuk Bella, sementara itu Rein hanya tertawa mendengarnya.


Beberapa saat kemudian Gavin datang menghampiri kami. Ia menduduki tempat yang berhadap-hadapan dengan Cassie. Kami pun memulai kegiatan kami bersama-sama. Kami membahas buku kimia terlebih dahulu. Beberapa soal pertama tidak ada pertanyaan kebingungan di antara kami semua. Suasana kali ini jauh berbeda dengan kegiatan yang sama dengan Hart dan Freda.


“Tidak menyebalkan seperti mereka…” benakku. Rein yang melihatku sedang melamun lantas terheran-heran kepadaku.

__ADS_1


“Kau sedang memikirkan apa?”


“T—Tidak! Bukan apa-apa…” jawabku gelagapan.


Hingga suatu ketika, terdapat sebuah soal yang tidak dapat dimengerti oleh Rein. Ia pun bertanya kepadaku yang berada di sebelahnya.


“Kenapa unsur ini ada di sini?” Kemudian aku menjelaskannya dengan perlahan. Aku berbicara seolah-seolah sedang mengajarkan Hart dan Freda.


“Iya aku mengerti itu, langsung intinya saja,” ucapnya.


“Oh, maaf…” balasku cengar-cengir. Gavin yang melihat kami berdua begitu dekat dan akrab lantas membuat dirinya iri dan ingin melakukan yang sama.


“Sudah paham, kan?” tanyaku kepada Rein.


“Sudah!” sahutnya tersenyum. Kami pun membahas soal berikutnya. Pada kesempatan kali ini, Gavin mulai melaksanakan aksinya.


“Aku tidak mengerti cara terbentuknya senyawa ini. Apa kau tahu, Cassie?” Cassie yang mendengarnya lalu mencoba untuk menjelaskannya. Kami yang melihat tingkah mereka hanya tersenyum senang.


“Wah, aku mengerti sekarang. Terima kasih!” lontar Gavin menyeringai.


“Sama-sama…” tutur Cassie tersenyum.


Kami melanjutkan pembahasan hingga waktu tak sadarkan kami. Langit telah memerah dan angin sore mulai berhembus cukup kencang, namun hal tersebut tidak menghentikan semangat belajar kami. Hingga akhirnya kami dihentikan oleh rasa kantuk yang mulai menyerang. Kami semua sudah sulit sekali untuk beranjak bangun, begitu pula dengan teman-teman asrama sebelahku.


“Huft… Bolehkah kita menginap di sini?” pinta Bella yang sudah tak bisa menahan rasa kantuknya.


“Tentu, tak masalah. Sebentar, aku akan menggelar karpet dulu,” balasku. Setelah itu, semua mulai berbaring di atas karpet yang telah digelarkan. Akan tetapi, ruangan yang tidak cukup lebar tak mampu memuat kami semua di sini.


“Kalian berempat tidur di sini tidak apa-apa?” tanyaku.


“Iya, yang penting kami bisa membaringkan diri,” jawab Rhean.


“Baiklah kalau begitu, selamat malam!” ucapku sembari berjalan menuju kamar bersama Gavin.


“Malam!”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2