
Pagi buta berkabut tebal menutupi permukaan tanah. Hawa yang sejuk menerpa diriku yang sedang tertidur di ruang tengah. Tanpa tertutupi oleh selimut, aku pun terbangun dari tidur karena menggigil kedinginan. Aku mencoba menghangatkan diri dengan mengusap-usap tanganku.
“Brrr… Dingin…” lontarku. Kemudian aku mengambil segelas air hangat dari dispenser minuman. Saat aku membuka jendela ternyata belum ada tanda-tanda kehidupan.
“Masih gelap,” gumamku.
Beberapa saat kemudian akhirrnya aku memutuskan untuk memasak mie instan sembari menonton televisi. Setelah matang aku pun menikmatinya dengan diriku yang menduduki sofa yang empuk. Tak lama berselang tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Lantas aku menoleh ke arah sumber suara.
“Cassie? Kau sudah bangun?” tanyaku kepadanya yang tengah berjalan setengah sadar dan masih mengantuk.
“Wuah… Sedang apa kau pagi-pagi begini?” balasnya bertanya seraya menguap.
Aku menceritakan kejadian semalam sebelum aku tertidur, sedangkan Cassie mendengarkanku sambil mengambil air minum lalu duduk di meja makan. Setelah membasuh muka, ia pergi ke sofa dan duduk di sebelahku. Kami berdua mengobrol sembari menyaksikan televisi.
“Menurutmu, Rein itu seperti apa?” tanya Cassie penasaran. Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba seperti itu.
“E—Eh? Kenapa mendadak kau menanyakan itu?” Dengan wajah yang malu ia menjawab pertanyaanku.
“Yah… Aku hanya ingin tahu…” tuturnya gugup.
“Menurutku dia orang yang dewasa, tenang di segala situasi, dan tahu kapan dan kapan dia bercanda. Tidak seperti… Mungkin kau tahu siapa yang kumaksud.” Seketika Cassie tertunduk murung dan membuatku
gelagapan.
“B—Bukan kau yang kumaksud… Kau tidak jauh seperti dia, kok?” jelasku menenangkannya.
“Benarkah? Kulihat kau sangat akrab sekali dengannya, padahal kan baru sehari kalian bertemu,” balasnya penuh curiga kepadaku.
“Sebenarnya aku bisa akrab dengan siapa pun sih, asalkan orang itu ramah terhadapku,” jawabku tenang tanpa memandang wajahnya. Namun Cassie masih tidak percaya dan menatapku sinis.
“Kau suka dia, ya?” celetuknya lantas membuatku syok bukan main.
“Kenapa kau bertanya yang aneh-aneh?” sahutku menaikkan nada. Cassie menampakkan wajah sebalnya dan semakin berulah.
“Jawab pertanyaanku!” Aku yang tidak menyangka akan terjadi seperti ini berusaha untuk menenangkannya, tetapi ia terus memberontak dariku. Aku tidak habis pikir dengannya yang tiba-tiba berubah tajam. “Kesamber apa dia? Kenapa jadi begini?” batinku keheranan. Ia tetap saja menanyakan soalan yang sama dan membuatku geram.
“Bisakah kau diam! Tidak ada bedanya kau dengan yang lain!” Seketika Cassie tersadar dan terdiam kemudian meneteskan air mata. Melihatnya demikian membuatku merasa bersalah dengannya. Keributan yang bising sebelumnya membuat Rein terbangun dan menghampiri kami berdua.
“Apa yang terjadi?” tanya Rein membuka pintu. Sontak ia menjadi kesal setelah melihat Cassie menangis tepat di hadapanku.
“Apa yang kau lakukan padanya?” bentak Rein penuh amarah kepadaku. Aku ingin menjelaskan semuanya, tetapi di saat yang bersamaan aku takut akan kesalahpahaman yang dapat terjadi. Aku pun hanya menunduk
dan terdiam semabari memikirkan jawaban yang tepat.
“Adelard! Jawab!” tuntutnya sambil menarik kerah bajuku dan membuatku mejadi gemetar ketakutan.
“Maafkan aku. Aku tidak menyangka kalau itu akan menyinggung perasaannya,” ucapku tulus. Akan tetapi Rein masih belum merasa terjawab akan pertanyaannya yang pertama. Terkucur deras keringat dingin di sekujur tubuhku. Aku tidak ingin menjelaskan kejadian tadi.
“Pertanyaanku belum terjawab. Apa yang telah terjadi?” lanjutnya bertanya kepadaku dengan nada yang masih tinggi. Terlintas di kepalaku sebuah jawaban.
“Tadi kami berantem,” jawabku pelan.
Kemudian Rein membawa Cassie menuju kamar, sementara itu aku yang masih berada di ruang tengah menjadi syok dan tidak harus berbuat apa. Waktu terus berjalan dan matahari pun akhirnya muncul dari balik permukaan. Langit yang berawan sehingga meneduhkan alam. Aku pun berencana untuk pergi keluar dari asrama untuk berkeliling sekaligus mencari hawa segar.
“Kau mau kemana?” tanya Gavin yang sedang berbaring di kasur.
“Mau jalan-jalan ke depan, mau ikut?”
__ADS_1
“Tidak ah, capek.” Aku yang mendengarnya menjadi jengkel karena sifatnya yang pemalas. “Tidak ada kehidupan sama sekali, ya? Hanya tidur yang kau tahu,” gumamku dalam hati.
Aku yang ingin membuka pintu dan pergi keluar, tiba-tiba saja Rein keluar dari kamarnya dan menghampiriku.
“Kau mau ke mana?” lontarnya bertanya penasaran. Lalu aku menjawabnya bahwa aku ingin berjalan-jalan di luar.
“Oh iya, bagaimana dengan Cassie? Sudah membaik?” tanyaku gugup.
“Ya, tapi ia tidak ingin keluar dulu.”
“Aku merasa bersalah dengannya, tapi aku tidak tahu caranya untuk meminta maaf.” Kemudian Rein menenangkanku dan aku membuka pintu dan keluar bersama dirinya.
“Tunggu sampai reda dulu, ya,” ucap Rein tersenyum. “Oh iya, maaf tadi aku membentakmu.” Aku menanggapinya bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan tentangku. Saat aku melihat lorong sejauh mata memandang aku tidak melihat seorang pun lalu lalang di sini.
“Ke mana orang-orang?” tanyaku sedikit ketakutan.
“Mungkin masih tidur,” jawabnya tenang. Lalu aku menutup pintu dan berjalan ke arah tangga untuk turun dan keluar dari bangunan, tetapi Rein mengikutiku dari belakang.
“Kau ikut denganku?”
“Ya.”
Sesaat kami berdua di luar gedung asrama, kami berjalan menuju gedung sekolah. Melihatnya dari kejauhan aku terkejut dengan gedung yang amat besar berkali-kali lipat dengan gedung sekolahku. Ketika melangkahkan kaki aku tidak melihat keramaian di kompleks yang sangat luas ini.
“Wah… Besar sekali…” hembusku terperangah. Sementara itu Rein melihat ke selilingnya, namun ia tidak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali. Ia melihat seluruh bangunan yang megah seperti melihat bangunan biasa. Aku yang melihatnya menjadi kebingungan pada dirinya.
“Apa sekolahmu juga sebesar dan seluas ini?”
“Tidak, sekolah ini jauh lebih besar daripada sekolahku.”
“K—Kau tidak terkejut?” tanyaku gelagapan.
Aku, Cassie, dan semua murid yang mengikuti program pertukaran pelajar tahun ini ditempatkan di sekolah terbesar sedaratan Malaerath. Dapat dikatakan luas sekolah ini lima kali lipat dari luar sekolahku dan mampu menampung hingga lima ribu pelajar, jauh sekali dengan sekolahku yang bahkan berkapasitas tidak lebih dari seribu murid. Aku mengira bahwa saat ini kompleks sekolah akan dipenuhi oleh orang-orang. Namun sepertinya dugaanku salah, tidak banyak orang yang aku lihat.
Aku dan Rein mengelilingi kompleks sekolah menuju gedung olahraga, lalu gedung kesenian, gedung perpustakaan, gedung kesehatan, gedung serbaguna, dan masih banyak lagi. Aku yang berjalan sedari tadi membuatku penat dan lapar. Aku pun mencari tempat untuk mengisi perut. Tak kusangka sekolah ini mempunyai gedung kafetaria yang terpisah dari gedung sekolah.
“Kalau saat sekolah nanti, lumayan juga berjalan kaki dari gedung sekolah ke sini,” gumamku. Rein yang mendengarku hanya tertawa kecil. Aku pun keheranan dengan responnya terhadapku. “Apa ucapanku ada yang salah?”
“Hahaha… Tidak, kok. Kau mencemaskan cara berjalan dari sekolah ke sini, padahal kan ada bus sekolah.” Sontak aku terkejut dan tersadar.
“Oh, jadi tadi ada papan pemberhentian itu untuk bus? Aku baru tahu sekarang,” sahutku. “Tapi aku tidak melihat ada bus. Apa sedang tidak beroperasi?”
“Sepertinya begitu, mungkin akan beroperasi saat hari sekolah nanti.” Perutku keroncongan dan kami pun memasuki gedung tersebut. Ternyata kafetaria masih tutup, begitu pula dengan beberapa warung makan yang tersedia. Hanya ada sedikit warung makan yang buka. Aku pun terhenti di salah satu warung makan yang menyediakan aneka makanan sop.
“Kau ingin pesan apa? Biar aku traktir,” ucap Rein sembari melihat-lihat menu makanan.
“Terima kasih atas tawaranmu, tapi aku bisa bayar sendiri,” balasku merasa tidak enak padanya. Tak lama kemudian seorang pelayan datang ke arah kami dan menulis pesanan kami.
“Jangan sungkan, jarang-jarang aku begini,” tuturnya cengengesan. Aku pun menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih.”
Sesudah perut kami terisi, kami melanjutkan untuk menuntaskan berkeliling kompleks sekolah. Aku baru mengetahui bahwa gelanggang atletik dan gedung akuarium berada terpisah dari gedung olahraga. Kami pun berjalan menuju ruang akuarium dan aku masih bertanya-tanya.
“Loh, jadi gedung olahraga fungsinya untuk apa?”
“Kan tidak semua cabang olahraga hanya renang dan atletik.”
“Oh iya betul juga.”
__ADS_1
Setibanya kami di gedung akuarium, terdapat sebuah kolam yang amat besar untuk balap renang. Telihat ada beberapa orang yang tengah berlatih di sana. Aku pun mendekati kolam tersebut sembari melihat kepandaian mereka berenang. Selama menyaksikan aku terperangah takjub dengan penampilan mereka.
“Wah cepat sekali…”
Tak jauh dari kolam balap renang, terdapat pula kolam untuk loncat indah. Aku pun penasaran dan bersemangat untuk melihatnya. Tampak beberapa perempuan yang mengenakan baju renang menaiki tangga satu per satu lalu dilanjutkan dengan pertunjukkan dari mereka. Aku hanya melongo dan terpukau dengan aksi mereka. Setelah latihan dan pertunjukan mereka usai, seorang dari mereka berjalan menghampiri kami berdua.
“Halo, apa ada sesuatu?” tanya perempuan dengan lemah lembut.
“Kami hanya ingin menyaksikan,” jawab Rein tersenyum.
“Kalian ingin mencobanya?” Aku yang melihat papan loncat yang berada cukup tinggi. Melihatnya saja sudah membuatku merinding ketakutan. Aku pun menolaknya dengan sopan, namun tidak dengan Rein yang nampak bersenang-senang.
“Boleh,” jawab Rein menerima tawarannya. Sontak aku terkejut mendengarnya.
“E—Eh? Kau yakin?” tanyaku tidak percaya.
“Tenang saja, kau akan segera melihatnya,” balasnya tersenyum sembari berjalan menuju ruang ganti. Aku masih syok dan benakku terbesit dengan sebuah pertanyaan.
“Apa dia atlet loncat indah? Padahal kan tujuan kita dari awal bukan untuk ini.” Beberapa saat kemudian Rein keluar dari ruang ganti dengan pakaian renang yang begitu cocok dengan dirinya. “Dia benar-benar atlet?” batinku syok tidak percaya dengan apa yang tengah aku lihat. Ia pun langsung pergi menaiki tangga dan bersiap untuk meloncat dari papan loncat yang berada paling tinggi.
“T—Ti—Tidak mungkin…”
Dengan teknik yang mengagumkan ia melakukan gaya dengan cantik. Aku dan orang-orang yang menyaksikannya dibungkam olehnya. Aku hanya bisa termangap tanpa kata-kata sembari melihat dirinya yang menakjubkan. Setelah itu ia melanjutkan untuk melompat bersama dengan yang lainnnya. Aku menyaksikan mereka dari kursi penonton.
Tanpa sadar ternyata waktu begitu cepat berlalu dan hari sudah mulai siang. Orang-orang mulai pergi meninggalkan gedung akuarium. Rein yang sudah berganti pakaian menghampiriku dan menanyakan tentang aksinya tadi. Seorang perempuan yang sebelumnya juga ikut bersamanya.
“Bagaimana dengan pertunjukanku tadi?”
“Hebat sekali! Kau melewati ekspetasiku,” balasku memujinya.
“Eeehh… Kau menyangka aku tidak pandai dengan hal seperti ini, ya?” lanjutnya tersenyum dan menyindirku.
“B—Bukan itu maksudku! Eee… Pokoknya kau yang terbaik!” Lalu perempuan tersebut pun juga memberi tanggapan tentang aksi Rein.
“Kau dapat melakukannya lebih baik dariku. Jika berkenan, aku akan sangat menerimamu untuk bergabung dengan klub renang.” Rein membalasnya dengan senang hati dan berseri-seri.
“Baiklah, akan ku pikirkan.” Pembicaraan yang terus berlarut-larut membuatku lupa untuk memperkenalkan diri.
“Oh iya, namaku Adelard.” Rein dan ia juga baru tersadar setelah mendengarkanku.
“Aku Rein. Maaf, sampai-sampai aku lupa untuk memperkenalkan diri lebih dulu.”
“Iyah… Tidak apa-apa. Aku juga lupa… Hehe…”
“Namaku Arisha Bellanca, panggil saja Bella.”
“Salam kenal!” ucapku.
Setelah itu kami bertiga pergi kembali menuju asrama bersama-sama. Sesampainya di gedung asrama, ternyata Bella menempati gedung yang sama dengan aku dan Rein. Lalu kami menaiki tangga, pada saat itu aku merasa ada sesuatu yang aneh terlintas di kepalaku.
“Jadi asrama kami berdekatan, ya?”
Sampai akhirnya aku dan Rein sampai di asrama, begitu pula dengan Bella yang baru kami sadari kalau asramanya terletak tepat di sebelah asrama kami. Sontak kami bertiga saling terkejut.
“Loh? Itu asramamu, toh?” tanya Rein tercengang. Aku juga berkata dengan mulut dan mata yang terbuka lebar.
“K—Kita bersebelahan?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)