
Siang hari yang berawan teduh dengan hembusan angin lembut yang menggugurkan dedaunan kuning dan coklat. Orang-orang tengah berkeliaran dengan kesibukan mereka masing-masing. Beberapa dari mereka tampak kalang kabut dengan lembar remedial di tangan mereka, sementara itu kami sedang berkumpul di kantin seraya bersantap siang bersama.
“Bagaimana dengan hasil ujianmu?” tanya Rein kepadaku.
“Sehat,” jawabku bercanda.
“Syukurlah kalau begitu,” balasnya senang. Kemudian aku bertanya pertanyaan yang sama kepadanya.
“Sama sepertimu,” jawabnya tersenyum. Pada saat yang bersamaan Gandra teringat dengan kejadian kala itu di kelas sebelah. Ia pun bertanya kepada Gavin.
“Waktu itu kelasmu heboh-heboh sedang ada apa?” tanya Gandra penasaran. Gavin yang mendengarnya lantas kebingungan.
“Kapan? Perasaan kelasku biasa-biasa saja,” balasnya.
“Tepat habis ujian bahasa Inggris sepertinya, terdengar seperti debat,” ucap Gandra. Gavin akhirnya teringat dengan kejadian waktu itu, sedangkan Rhean yang juga mengingatnya sontak tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha! C! C!” sindir Rhean. Melihat perangainya yang sangat menyebalkan lantas membuat Gavin jengkel terhadapnya.
“Masih untung kuberi tahu! Lain kali aku tidak akan menjawabmu lagi,” gerutunya kesal.
“Hanya bercanda, kok… Damai, damai…” balas Rhean sembari menunjukkan wajah kasihannya.
“Huh! Terserah kau saja,” lontar Gavin memalingkan wajah.
“Pertanyaanku belum terjawab, lho…” lanjut Gandra.
“Oh iya, gara-gara manusia beban aku jadi lupa,” balas Gavin cengengesan seraya menyinggung Rhean. Ia pun menceritakan kejadian waktu itu. Cassie dan Icha yang melihat kejadian kala itu lantas tertawa kecil mendengar Gavin bercerita. Gavin yang menyadari itu sontak menceritakannya dengan semangat.
“Jarang sekali aku melihat Cassie tertawa senang,” gumamnya dalam hati. Selepas ia menceritakan semuanya, aku, Gandra, dan yang lainnya akhirnya mengetahui kejadian itu.
“Oh begitu…” gumamku.
“Yah… Sulit ya kalau telinganya tersumbat,” celetuk Rein tersenyum.
“Aku sedang mendengar lagu!” seru Gavin kesal. Seketika Cassie tertawa dan membuat Gavin kebingungan.
“A—Ada apa, C—Cassie?” tanya Gavin gugup.
“Kau lucu saat seperti itu,” balasnya sembari tergelitik tawa. Lalu semua orang ikut tertawa bersama. Kami melanjutkan santap siang hingga bel masuk tiba. Kegiatan pembelajaran selama satu hari ini hanya membahas soal ujian kemarin. Sesekali ada teman-temanku yang menceritakan kendala-kendala yang dihadapi mereka. Jam pelajaran silih berganti dan tak terasa bel pulang telah berbunyi.
Ketika kami berjalan pulang, satu per satu teman-temanku berpisah karena terdapat urusan mereka masing-masing. Hingga akhirnya hanya tinggal aku dan Gandra saja yang berjalan menuju asrama.
“Seketika mereka sibuk semua,” gumam Gandra.
“Gavin semakin agresif, ya. Belum lama pacaran, tapi sudah sangat dekat bahkan sudah mengajaknya jalan bersama,” cetusku bercanda.
“Memangnya kau belum pernah mengajak Rein jalan?” tanya Gandra sedikit terkejut. Aku yang mendengar pertanyaannya sontak ikut terkejut dengan pertanyaannya.
“Seingatku kami selalu berjalan bersama juga dengan kalian, lalu berpisah sehingga tinggal kami berdua,” jawabku ragu sembari melihat ke langit.
“Jadi kau sendiri belum sama sekali mengajaknya langsung?” lanjut Gandra. Aku pun mengangguk lalu tertunduk.
“Habisnya aku bingung…” ucapku pelan.
__ADS_1
“Bingung kenapa?”
“Menurutku terlalu cepat untuk seperti itu.”
“Justru kau yang terlalu lama.”
“Memangnya boleh seperti itu?” tanyaku polos.
“Loh? Pacaran itu justru ya begitu,” jawab Gandra tak habis pikir. Aku pun baru mengerti tentang hal itu. Aku tertunduk dan termenung karena tidak mengetahui apa-apa.
“Kau belum melakukan sesuatu yang romantis dengan Rein?” tanya Gandra.
“Entahlah… Apakah kalau berduaan juga termasuk romantis?” balasku bimbang.
“Yah… Subjektif, sih,” lanjut Gandra.
“Aku tidak mengerti apa pun tentang itu…” gumamku. Tiba-tiba saja Gandra menyentil jidatku. “Aduh!” lontarku kesakitan.
“Kau tidak membaca buku yang waktu itu kau beli, ya?” ujarnya.
“B—Baca. Tapi…” jawabku gugup. Gandra menghelas napas sumarah. Ia pun bergegas berjalan meninggalkanku. Lantas aku menjadi kebingungan terhadapnya.
“Kau ingin ke mana?” lontarku.
“Ke asramamu,” jawabnya. Aku pun berlari menghampirinya.
Sesampainya di asramaku, sontak Gandra langsung berjalan menuju kamarku dan mencari buku tersebut. Aku masih berada di ruang tengah dan meletakkan sepatu dan tasku. Saat aku pergi menuju kamar dan menemui Gandra, ternyata ia sudah menemukan buku tersebut dan seketika membuatku tersentak kaget melihatnya.
“E—Eh? Di mana kau menemukannya?” tanyaku tak percaya.
“Kau mengetahuinya?” lanjut tanyaku.
“Ayolah, sesama lelaki pasti mirip-mirip kalau soal beginian,” balasnya tersenyum. Aku yang tidak begitu mengerti dengannya lantas hanya terdiam. Gandra yang tengah duduk di atas kasur kemudian membuka buku tersebut dan membalik-balikkan halaman. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Aku hanya melihat dirinya yang sedang sibuk memperhatikan isi buku tersebut. Hingga akhirnya ia terhenti pada suatu halaman.
“Biasanya sikap masing-masing dari pasangan itu akan berubah. Bagaimana sikapmu kepadanya?" ucapnya.
“Aku kepada Rein? Menurutku biasa-biasa saja…” jawabku ragu.
“Kau tidak berubah? Entah lebih ceria, canggung, dan sebagainya?” lanjut tanya Gandra.
“Dia juga bilang kalau aku cukup bersikap sebagaimana diriku,” sahutku. Gandra pun terdiam kemudian tersenyum sendiri. Aku yang melihatnya lantas menjadi kebingungan terhadap dirinya.
“Kau kenapa?” tanyaku.
“Aku ada ide,” balasnya tersenyum licik. Aku tidak habis pikir dengan apa yang ia rencanakan.
“Hah?” lontarku terheran-heran.
“Ekhem, bagaimana kalau kau melakukan sebuah terobosan,” ucapnya.
“Te—Terobosan?”
“Ya, lihat halaman ini. Perempuan akan semakin suka terhadap pria yang bersikap cool,” jelas Gandra sembari menunjukkan halaman buku tersebut ke arahku.
__ADS_1
“Aduh, aku tidak bisa berlagak sok keren,” balasku.
“Bukan itu maksudnya.”
“Loh? Terus apa?”
“Dingin.”
“Dingin?”
“Kau mengerti maksudnya, kan?” tanya Gandra tak yakin. Aku membalasnya dengan menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Huft… Kau hanya tahu belajar saja, ya,” hembusnya. Kemudian ia menjelaskan maksud dari ‘dingin’ itu.
“Kau bersikap seperti orang yang tidak peduli kepadanya. Contohnya kau tidak menggubris perkataannya. Lalu kau memasang wajah datar dan tidak banyak tingkah,” paparnya.
“Tapi… Nanti kalau Rein membenciku bagaimana?” tanyaku khawatir.
“Hampir mustahil. Kau tahu kan kalau dia sangat cinta mati padamu?” balasnya dan membuatku tersipu mendengar perkataannya barusan.
“Kau berlebihan!” lontarku malu. Ia pun tergelitik tawa melihat wajahku. Sontak aku menjadi kesal terhadap dirinya. Hari sudah semakin larut dan langit sudah gelap tanpa kami sadari. Kemudian kami berdua mempersiapkan makan malam. Kami menyantap makan malam di ruang tengah sembari membahas pembicaraan sebelumnya.
“Bagaimana? Kau ingin mencobanya,” tanya Gandra.
“Aku takut melakukannya. Apa kebanyakan laki-laki seperti itu?” balasku cemas.
“Tentu. Lagi pula aku yakin Rein tidak merasakan hubungan kalian seperti ‘pacaran’,” ujarnya.
“Tenang saja, aku yakin akan baik-baik saja. Kau juga bisa ‘memanfaatkannya’, lho…” imbuhnya menghasutku.
“Maksudmu aku bisa meminta apa pun darinya?”
“Kurang lebih seperti itu,” jawabnya. “Kau juga pernah melakukannya, kan? Saat kau meminta ia untuk memijatmu.” Aku yang mendengarnya sontak terkejut dan baru tersadar.
“Loh? Jadi itu juga termasuk ‘dingin’?” tanyaku tak percaya.
“Iya, makanya tadi kukira kau sudah mengerti itu,” jawabnya.
“Oh jadi itu namanya ‘dingin’…” Setelah piring kami bersih dari makanan, Gandra pun beranjak dari kursi.
“Sepertinya sudah larut. Kalau begitu aku pulang dulu.”
“Terima kasih sudah menemaniku,” balasku tersenyum.
“Tidak masalah,” sahutnya sembari memegang kenop pintu. “Jangan lupa dipraktekkan, ya!” serunya kemudian menutup pintu.
“Huft… Baiklah, tidak ada salahnya untuk mencoba,” gumamku dalam hati. Tidak lama kemudian Rein dan yang lainnya datang.
“Selamat malam, Adelard!” lontar Rein lalu ia melihat hidangan yang sudah siap di meja makan. “Wah, makan malam! Apa kau yang membuat semuanya?” tanya Rein gembira.
“Sekarang kesempatanku!” benakku. Aku pun hanya terdiam dengan muka datar dan tidak memperhatikannya. Rein yang melihatku sontak terkejut dan merasa bersalah.
“A—Adelard?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)