
Tiupan angin bersiul melewati celah-celah kayu di pondok penginapan ini. Pagi yang sangat sunyi menemani diri kami semua yang tengah terbaring nyenyak. Tubuh yang sulid digerakkan membuat kami seharian penuh mengurung diri dari terpaan atmosfer luar. Lemas dan tidak bersemangat, itulah yang kami rasakan saat ini. Hingga saatnya makan siang pun kami tidak banyak bergerak.
“Siapa yang masak?” tanya Hart malas seraya berbaring di atas sofa.
“Cassie dan Emery membeli…” jawab Freda lantas menguap.
“Hah?” balas Hart tidak mengerti. Kami seperti orang-orang yang kehilangan jiwa dan berlagak bagai mayat setengah hidup.
“Mereka sedang membeli… Wuah… makanan di luar,” hembusku meruap ngantuk.
Kami semua berbaring di ruang tengah sembari menunggu Emery dan Cassie kembali. Hart sedang terlelap di atas sofa, Eledarn tengah bersandar di dinding, Milard menumpu kepalanya di atas meja makan, dan Freda terguling-guling pulas beralaskan lantai. Sementara aku menikmati hembusan angin dari jendela.
“Rajin sekali mereka,” cetus Eledarn.
“Yah… Masih beruntung mereka mau membeli makanan untuk kita,” sahutku.
“Kalau tidak kita bisa mati,” lanjut dengus Hart yang suaranya terseret-seret. Tak lama kemudian ia kembali mendengkur.
“Lama sekali…” rajuk Freda bermanja-manja.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya mereka berdua kembali dengan beberapan kantung makanan dijinjingannya.
“Kami pulang.” Sontak Hart langsung terlompat bangun lekas beranjak dari sofa dan merebut sebuah kantung dari Emery. Seketika Emery terkejut dan sebal kepadanya.
“Hei! Sabar dulu!” Lantas aku menahan dirinya yang tiba-tiba berapi-api itu. “Hart, tunggu sampai semuanya disiapkan dulu,” cakapku menenangkannya.
“Ayo cepat! Aku sudah tidak tahan!” sosor Hart bagai anjing yang kelaparan. Kemudian Cassie dan Emery menyiapkan makanan-makanan tersebut di atas meja. Namun ada Milard yang sedang pulas di sana.
“Oi, Mil. Minggir dulu,” lontar Emery membangunkannya. Setelah itu mereka melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan yang lainnya masih saja berada di alam tidurnya. Aku menjadi merasa tidak enak kepada mereka berdua yang selalu mempersiapkan makanan.
“Terima kasih banyak. Maaf kami semua merepotkan kalian berdua,” ucapku gugup.
“Tidak masalah,” balas Cassie tersenyum.
Selepas segala hidangan disajikan di atas meja, arkian kami semua berkumpul di meja tersebut untuk mengisi perut kami. Yang sebelumnya lesu seketika orang-orang itu langsung bangkit dan menghabiskan makanannya dengan lahap.
“Tidak tahu diri ya, kalian. Mau enaknya saja,” celetukku kepada teman-temanku yang hanya asyik berbaring, tetapi mereka tidak menggubrisnya sama sekali, dan itu membuatku jengkel.
“Sudah, tidak apa-apa, Adelard,” tutur Cassie mendinginkanku. Lalu aku hanya bisa menghela napas melihat tingkah mereka.
__ADS_1
“Makan yang banyak dan istirahatlah. Besok kita lanjut bersenang-senang,” pesan Emery kepada kami semua.
Selama satu hari penuh kami hanya beristirahat dan mengurung diri setelah menikmati malam indah di atas gunung. Tidak tidur semalaman dan dilanjutkan dengan perjalanan menuruni ancala tersebut membuat kami kehabisan tenaga sangat banyak. Untuk mengangkat kaki saja sudah berat untuk dilakukan.
Pada pagi selanjutnya, tanggal kedua di tahun yang baru, kami melanjutkan rekreasi menuju tempat yang cocok untuk memulai kalender baru. Tanpa menumpangi kendaraan kami berjalan kaki menuju tempat tersebut sembari melihat-lihat kota selepas diadakan acara meriah kemarin dulu.
“Sepi sekali… Tidak seramai biasanya,” decakku terheran-heran.
“Iya. Kemarin justru lebih sepi dari ini. Bahkan hampir tidak ada seorang pun berjalanan,” sahut Cassie.
“Eh? Lalu bagaimana kalian membeli makanan kemarin?” lanjut tanyaku.
“Ada satu-dua toko yang buka, sih. Kami juga kesulitan kemarin,” jawab Emery menjelaskan. Lantas Hart menimpalinya seraya berkata, “Pantas saja kalian lama sekali.” Sontak aku geram dengan sikapnya.
“Tidak ada rasa berterima kasih sama sekali ya, kau ini!” bentakku sambil mengangkat kepal tanganku, namun Cassie langsung meleraikanku.
“Tahan, Adelard.” Lagi-lagi ia merekadakan amarahku dengan tangannya yang mengusap-usap bahuku, tetapi emosi tidak langsung surut begitu saja.
“Orang seperti ini harus diberi pelajaran!” lontarku kesal. Lekas Emery ikut membantu Cassie untuk menenangkanku.
“Walah ternyata ada udang dibalik bakwan,” cetus Eledarn tersenyum iri.
Sampai akhirnya kami tiba di pintu gerbang destinasi yang dituju. Terdapat jalan setapak berteraskan batu balok.
“Akhirnya sampai,” tuturku lega. Dengan rasa bingung sekaligus penarasan Freda melihat sebuah batu terdapat tulisan.
“Perbatasan langit sedih namun tak menangis,” paparnya seraya mengeja tulisan tersebut. Sontak pernyataannya membuat kami semua bertanya-tanya.
“Apa maksudnya?” tanya Emery buncah. Tanpa panjang berpikir kami pun tetap melanjutkan langkah mengikuti jalan setapak itu. Hingga beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah kuil tak beratap.
“Loh? Kuil itu tidak ada atapnya?” tandas Milard kebingungan.
“Bagaimana kalau hujan?” lanjut tanya Freda. Tepat saat itu juga terdengar suara gemuruh dari atas dan tanpa kami sadar langit sudah mendung sedari awal kami tiba di sini. Seketika kami panik tidak terkecuali dengan Emery.
“Alamak! Kita harus berteduh di mana?” Aku pun melihat sekeliling namun tidak ada satu pun atap untuk berteduh. Akan tetapi pada saat itu juga aku masih berpikir dengan kuil aneh itu.
“Apa memang sengaja dibangun seperti itu?” batinku. “Apa maksud dari tulisan di batu tadi?” Sembari mencari jawaban, aku pun mengajak mereka untuk melanjutkan bersenang-senang.
“Ayo kita berkeliling saja dulu!” ajakku lalu berjalan tenang.
__ADS_1
“Eh? Apa tidak apa-apa? Bagaimana kalau kita basah kuyup?” tanya Cassie heran. Lantas aku menenangkan mereka semua dengan berkata, “Tenang saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan.”
Kami pun berjalan-jalan mengelilingi kompleks kuil tersebut. Tak lama berselang lagi-lagi kami menemukan sebuah batu yang terukir tulisan. Lalu Eledarn membacakannya dengan lantang.
“Langit berwajah marah namun tidak melontarkannya.”
“Hah? Apa sih yang batu ini katakan?” cibir Hart kesal. Dengan petunjuk tersebut aku kembali mencocokkannya dengan pernyataan sebelumnya.
“Langitberekspresi tapi tidak berulah. Seperti itukah?” gumamku bertanya-tanya.
“Ayo kita lanjut berkeliling dulu,” lanjut Cassie mengajak kami untuk kembali melangkahkan kaki.
Selama kami berjalan terlihat ukiran-ukiran di dinding kayu itu, meskipun tidak begitu jelas akibat termakan umur. Loronglurus tanpa atap mengantarkan kami ke sebuah tempat. Tidak lain dan tidak bukan tempat ini adalah tempat permunajatan. Lalu kami meminta permohonan di depan lukisan naga merah besar dengan patung-patung berada di sampingnya.
Setelah itu kami berjalan kembali keluar kuil itu. Awan gelap tersebut lagi-lagi bergemuruh di atas kami, namun anehnya hujan tak kunjung turun. Seketika aku menyadari sesuatu.
“Sedih tak menangis, Marah tak terlontar, ukiran matahari di bawah awan, dan kuil tak beratap… Jangan-jangan…?”
“Tempat ini tidak pernah hujan!” lontarku sontak mengejutkan mereka semua.
“A—Apa maksudmu, Adelard?” tanya Cassie terheran-heran.
“Kalian masih ingat tulisan di batu tadi kan?” lanjutku dan mereka semua mengganguk. Lalu aku menjelaskannya dengan ringkas agar mudah dipahami mereka.
“Jadi tempat ini tidak akan hujan walaupun selalu mendung?” tanya Freda mengambil kesimpulan. “Tepat sekali,” balasku.
“Masuk akal…” hembus Milard tercengang. Namun Hart masih kesal karena sudah membuatnya pusing.
“Kenapa tidak dari awal tidak dituliskan begitu saja?”
“Entahlah, mungkin semacam teka-teki?” jawabku ragu. “Tapi tetap saja—” tukas Hart namun Freda langsung menyela ucapannya.
“Ayo kita pulang,” ucap Freda ketakutan. Kemudian kami berjalan meninggalkan kuil tersebut seraya mengikuti jalan setapak yang sebelumnya kami lewati saat berangkat.
Sesampainya di gerbang kami dikejutkan dengan suasana yang tiba-tiba ramai seperti biasanya, berbanding terbalik pada saat kami berangkat tadi. Langit juga sudah tak berawan gelap. Kami dibuat kebingungan lagi dengan hal seperti ini. Aku kembali bertanya-tanya di dalam benakku.
“K—Kenapa tiba-tiba jadi begini?”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)