Love Exchange

Love Exchange
Episode 77 : Pekan Olahraga


__ADS_3

Langit biru cerah dan sedikit awan melayang di atas langit, tanah putih nan gersang sedikit demi sedikit hilang dan tergantikan oleh hijau rerumputan. Hawa yang semakin hangat sehingga mentari menyengat cukup terik pada pagi hari. Aku berangkat awal sekali sembari menyiapkan dan mengecek kembali persiapan sebelum kegiatan di mulai nanti.


“Yes, semuanya aman,” hembusku lega. Waktu terus berputar dan orang-orang mulai datang secara beriringan.


“Pagi, Alien!” sapa Freda berlari menghampiriku.


“Hentikan panggilan seperti itu,” balasku jengkel.


“Hehehe…” Freda hanya cengar-cengir cengengesan kepadaku. Aku pun menanyakan persiapan untuk perlombaan nanti. Dengan penuh semangat ia menjawabnya dengan yakin. “Aku tidak akan terkalahkan!” lontarnya berkobar-kobar. Kami berpisah lantaran Freda ingin menemui teman-temannya dan aku harus pergi menuju ruang OSIS.


“Sampai ketemu di kemenanganku nanti.”


“Waw, optimis sekali,” batinku.


Aku berjalan mendatangi Emery yang telah berada di ruang OSIS. Ia tengah menyiapkan lampiran-lampiran untuk digunakan sebagai data perlombaan selama kegiatan nanti. Sekolah semakin bising dan teman-temanku mulai meramaikan ruangan.


“Semuanya aman, kan?” tanya Eledarn yang belum  lama tiba.


“Lagakmu sudah seperti bos saja,” sahut Hart.


“Lah, kan aku ketua,” lanjutnya merespon kembali.


“Bukankah ketua dan bos itu beda?” tanya Cassie di tengah pembicaraan mereka berdua. Dengan berlagak sombong Eledarn menanggapinya dan berkata, “Yah, mirip-miriplah…” Sontak aku menyanggah pernyataannya.


“Beda, tahu!” Lantas  terjadi perdebatan di antara aku dan Eledarn. Dengan panjang lebar aku menjelaskan perbedaan keduanya. Seisi ruangan hanya menyimak perkataanku. Tepuk tangan dan rasa takjub mereka tercurahkan tepat setelah mulutku tertutup.


“Wah, siraman ilmu dari alien,” lontar Hart ternganga.


“Alien hebat!” ucap seorang dari mereka. Aku tidak tahu harus memasang wajah kesal atau senang. “Huft… Kenapa jadi begini?” gumamku pasrah dalam hati. Sembari menunggu semuanya hadir, kami menggunakan waktu untuk mengobrol santai.


Mentari sudah mencapai setinggi tombak dan aku bersiap untuk memberi pengarahan kepada para panitia.


“Sshh! Semuanya diam! Alien kita ingin berbicara!” seru Hart.


“Bisakah kau tidak menyebutku alien terus?” sosorku geram.


Sesudah melakukan pengarahan, kami bersiap menuju tempat yang telah ditentukan sesuai dengan masing-masing pekerjaan yang sudah diberikan. Sebelum bubar kami semua berkumpul dan menyerukan yel-yel.


“Pekan Olahraga SMA Snitheria—”


“Sukses!”

__ADS_1


Kegiatan perlombaan olahraga setahun sekali pun dimulai. Terdengar sorak-sorai keramaian orang-orang bergemuruh. Pertandingan dilaksanakan antar kelas yang sudah dibentuk menjadi sebuah tim. Berbagai cabang olahraga dipertandingkan selama lima hari ke depan. Sebagai panitia aku tidak dapat berpartisipasi sebagai peserta. Aku pun mendatangi pos tim kelasku.


“Halo, Alien,” sapa Freda yang tengah mengenakan sepatu berlari. Lagi-lagi aku hanya bisa menahan emosiku. “Hehe… Bercanda…” lanjutnya dengan muka konyolnya.


“Sepertinya kau sudah siap sekali, ya,” ucapku padanya.


“Tentu saja. Aku sudah tidak sabar.” Kemudian ia beranjak bangun dan berjalan menjauhiku. “Aku ada perlu, sampai nanti di pertandingan!” Aku yang melihatnya pergi ke arah pos komentator menjadi kebingungan.


“Apa yang ingin dia lakukan?”


Tak lama kemudian rangkaian kegiatan pertama yaitu lomba lari seratus meter kategori laki-laki bermula. Satu per satu nama dipanggil menuju lapangan. Dalam tiap perlombaan juga terdapat beberapa babak, sampai akhirnya berujung pada babak final. Dengan penuh semangat sang komentator berteriak ceria.


“Perlombaan akan dipandu oleh Ketua OSIS kita…”


“Alien!” Sontak suara tepuk tangan menggelegar dari seluruh sudut bangku penonton.


“Eh? Kenapa mereka tepuk tangan kepadaku, bukan ke peserta?” Ditambah pernyataan komentator barusan aku menjadi sangat jengkel dibuatnya.


“Woi! Kenapa semuanya menyebutku alien?” lontarku keras ke seberang lapangan. Aku menggerutu kesal setelah mengingat Freda yang pergi menuju pos komentator tadi. “Pasti ini ulah Mak Lampir itu.” Sembari menarik napas pasrah aku memegang pistol aba-aba dan bersiap menghitung mundur. Terlihat tepat di hadapanku yakni Hart dan Eledarn yang ikut menjadi berbaris di lapangan.


“Apa yang kalian lakukan?” tanyaku terheran-heran.


“Ikut lomba,” jawab Hart singkat.


“Loh? Boleh, tahu,” sahut Eledarn yang sudah berposisi siap sedia.


“Kata siapa?” lanjut tanyaku. Dengan mimik cengegesannya, Hart memberitahuku. “Kepala sekolah.” Aku pun terkejut mendengarnya. “K—Kok bisa?”


“Siapa pun boleh menjadi peserta, tapi tidak bagi Sang Raja. Aku tahu betul dia pasti kewalahan,” beber Hart seraya mempergakannya. “Itulah yang dikatakannya.” Rasa gondokku memuncak terhadap kepala sekolah yang semena-mena memberi instruksi.


“Huft… Semoga cepat waras…” gumamku pasrah. Tanpa sadar aku telah menyita waktu.


“Oi, oi, Alien! Kapan mulainya?” teriak salah satu penonton.


Lantas amarahku melonjak dan aku tidak bisa menahannya lagi. Semua orang terdiam melihat diriku yang mengerikan. Tangan yang mengepal kuat tiba-tiba saja pelatuk pistol tertekan tidak sengaja. Pada saat itu juga para peserta sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berlari tanpa aba-aba. Dua komentator mengomentari pertandingan sepecah-pecahnya.


“Woah! Kita saksikan saja pertandigan dimulai tanpa hitung mundur!”


“Pasti para peserta terkejut terheran-heran.”


“Betul, Bung! Memang Alien luar biasa!”

__ADS_1


Aku menjadi jengkel mendengar perkataan mereka. Seketika aku menjadi penuh amarah selama pertandingan berlangsung. Cassie pun menghampiriku dan berusaha untuk menenangkanku. Pertandingan babak penyelisihan dimenangkan oleh Hart dan Eledarn yang lolos menuju babak selanjutnya.


“Kalian berdua menang telak!” lontar Freda.


“Aku belum mengeluarkan semua kemampuanku, lho,” balas Hart berlagak sombong. Eledarn merasa tertantang dan tidak akan menyerah begitu saja.


“Oke kalau begitu, kita lihat di final nanti.”


Pertandingan babak final akan dilaksanakan di hari terakhir. Setelah lolos beberapa babak sebelumnya, lagi-lagi mereka berdua menampakkan taringnya dan berhasil masuk ke babak final. Kemudian rangkaian perlombaan dilanjutkan dengan perlombaan yang masih sama dengan kategori perempuan. Rasa semangat menyala-nyala seiring Freda yang telah bersiap di lapangan.


“Tiga, dua, satu!” seru panitia dilanjutkan suara letusan pistol. Kami semua menyaksikannya dan memberinya semangat dari pos.


“Ayo, Freda!”


“Semangat!”


Freda berlari sangat kencang bahkan meninggalkan lawannya jauh di belakang. Semua orang tercengang bukan kepalang melihat kemampuan dahsyatnya. Aku dan teman-temanku hanya melongo tanpa kata-kata selama ia berlari. Sampai akhirnya ia berhasil melewati garis finish hanya dalam waktu beberapa detik saja.


“T—Tidak mungkin,” cakap Milard tidak percaya.


“Jangan-jangan… Dia juga alien…” lanjut Eledarn.


“Bukan… Sudah jelas dia itu mak lampir yang sedang mengamuk,” sahut Hart. Beberapa saat kemudian Freda menghampiri kami dengan tampangnya yang riang gembira. Tidak ada rasa lelah tergambar di wajahnya.


“Aku menang!”


“Ini masih babak pertama, lho,” balasku padanya.


“Tenang saja, tadi baru pemanasan.” Sontak kami semua terlompat kaget kembali dibuatnya. Milard menjadi gagap dan terpatah-patah.


“P—P—P—P—P—”


“Pe—manasan?” lanjutku tak habis pikir.


“Iya,” jawabnya tersenyum. “Dia lebih ‘alien’ daripada aku,” batinku.


Perlombaan berlanjut terus hingga usai pada kesorean harinya. Rasa senang dan gembira terlukis jelas pada wajah orang-orang. Seakan-akan kepenatan setelah pertandingan yang sengit itu luntur begitu saja. Aku merapihkan beberapa peralatan yang berantakan setelah digunakan tadi. Kami, para panitia, pulang lebih larut daripada murid lainnya. Selama pertandingan tadi kulihat para peserta yang memiliki kemampuan luar biasa. Sampai-sampai aku terus kepikiran hingga saat ini.


“Banyak manusia tidak masuk akal di sekolah ini…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2