Love Exchange

Love Exchange
Episode 109 : Sang Manipulator


__ADS_3

Siang hari yang berawan menjadi latar keramaian orang-orang yang berhamburan. Sekarang telah memasuki jam istirahat, sehingga banyak manusia yang berlalu-lalang di sekitaran sekolah. Seusainya dari pelajaran olahraga, banyak murid memutuskan untuk langsung pergi menuju kantin, termasuk teman-temanku. Di sisi lain, aku dan Cassie masih syok dengan kehadiran Gandra yang tidak aku sadari sebelumnya.


“G—Gandra?” lontar Cassie tak percaya. Tak lama setelah suasana yang hening, tiba-tiba saja Gandra tertawa terbahak-bahak dan membuat aku dan Cassie menjadi kebingungan.


“Wajah kalian lucu sekali,” lontarnya sembari tergelitik tawa.


“E—Eh? Kau tidak berpikir kalau…” ucapku terheran-heran. Ia tampak bahagia sekali sampai-sampai matanya berkaca-kaca akibat ketawa yang sangat lepas. Beberapa waktu berselang, akhirnya Gandra dapat kembali tenang meskipun ia masih tersenyum menahan tawa.


“Tenang saja. Tidak mungkin kalian melakukan hal semacam itu, kan?” Kami pun yang mendengarnya lantas menarik napas lega. Lalu Cassie bertanya lagi kepada Gandra untuk memastikannya kembali dengan ekspresi yang masih sedikit panik.


“B—Benarkah?” Kemudian Gandra menjawab pertanyaan Cassie tersebut seraya mengambil sebuah bola yang menggelinding ke arahnya. Ternyata bola tersebut ialah bola tenis yang membuatku terjatuh tadi. Dengan tenang ia mengatakannya kepada kami sembari tersenyum.


“Semua itu karena bola kecil ini, kan?” Cassie yang melihatnya lantas terkejut setelah mengetahuinya. “B—Bola tenis?” tuturnya tidak percaya.


“Yah… Aku tidak melihatnya tadi,” jawabku cengengesan.


“Dasar bola nakal,” lanjut Gandra sambil melemparkan bola tersebut ke arah sebuah kotak, dan bola itu masuk tepat sasaran, sementara itu aku dan Cassie masih dalam posisi yang belum berubah sama sekali. Gandra yang melihatnya lantas menyadarkan kami berdua.


“Ekhem, mau seperti itu terus?” Sontak kami berdua tersadar dan lekas beranjak berdiri kembali.


“O—Oh iya, maaf, maaf,” ucapku kepada Cassie. “Iya aku juga,” balasnya yang masih sedikit gugup. Aku pun meletakkan net ke tempat semula, begitu pula dengan Gandra yang meletakkan bola-bola yang ia bawa. Setelah itu kami semua keluar dari gudang itu. Aku menutup pintu tersebut rapat-rapat, lalu kami semua berjalan langsung menuju kantin.


Selama perjalanan di sepanjang koridor, kami melewati banyak kelas yang ramai dengan orang-orang. Banyak pula kerumunan yang terjadi di koridor tersebut, baik hanya sekedar untuk mengobrol ataupun bermain. Orang-orang yang berlalu-lalang ke sana dan kemari membuat kami bergegas menuju kantin. Kami memutuskannya supaya kami dapat tiba di kantin lebih dahulu sebelum tempat tersebut membludak.


Sesampainya di kantin, ternyata tempat tersebut sudah ramai meskipun belum seramai yang biasanya. Lekas kami bertiga berlari menuju tempat antrian untuk membeli makan siang. Setelah itu, kami pun melanjutkan untuk berjalan menuju meja makan yang tersedia. Dari kejauhan tampak teman-teman kami yang lebih dahalu tiba. Lantas kami bertiga datang menghampirinya.


“Kalian lama sekali,” ucap Rein.


“Maaf, tadi ada beberapa hal terjadi, hehe…” balasku cengar-cengir. Ucapanku barusan sontak membuat mereka semua menjadi penarasan.


“Apa yang terjadi pada kalian?” tanya Rhean. Aku menjadi kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Aku dan Cassie hanya bergumam tanpa mengeluarkan kata-kata.

__ADS_1


“Tadi kami menjatuhkan kotak bola. Jadi kami harus merapihkannya dulu,” jawab Gandra tenang sembari menduduki kursi di sebelah Bella. Lalu ia menoleh ke arahku dan mengedipkan sebelah mata ke arahku. Aku pun merasa lega dengan jawabannya itu. Kemudian aku dan Cassie duduk di tempat yang berbeda. Aku menempati kursi yang bersebelahan dengan Rein. Sontak Rein mendekatkan mulutnya ke telingaku dan kami berdua saling berbisik pelan.


“Tadi Cassie pergi menemuimu?” tanya Rein penasaran. Aku mengiakan pertanyaannya itu.


“Dia membicarakan apa?” lanjutnya bertanya kembali.


“Bukan apa-apa,” jawabku sedikit gelisah. Rein pun menampakkan wajah curiganya ke arahku. Melihatnya seperti itu membuatku semakin panik terhadapnya.


“A—Ayo kita makan dulu,” balasku gugup kepadanya, namun tampaknya ia tetap berprasangka kepadaku. Rasa yang penuh dengan tekanan membutku mau tidak mau aku harus berkata yang sebenarnya kepada Rein. Aku ingin berbohong seperti Gandra, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang terlintas di kepalaku. Di dalam hati aku hanya berharap kalau akan ada seseorang yang mengalihkan perhatiannya.


“Kumohon seseorang, tolonglah aku…” gumamku dalam hati. Rein yang menatapku terus-menerus membuatku tidak dapat terdiam terlalu lama, sementara itu teman-temanku sedang asyik dengan santapan mereka masing-masing. Pada akhirnya aku pun pasrah dan mengatakkannya kepada Rein.


“Tad—“ Namun tiba-tiba saja perkataanku terpotong oleh Gandra yang berbicara ke pada Rein. Aku sangat bersyukur dengan kejadian tersebut.


“Terima kasih, Gandra,” ucapku dalam hati seraya melihat ke arahnya.


“Rein, apakah tadi Pak Edwin menemuimu?” tanya Gandra. Rein pun langsung menoleh kepadanya.


“Oh, kalau begitu lupakan saja, sepertinya ia sudah menemukan penggantimu,” balasnya sembari mengambil suapannya.


“Baguslah kalau begitu, aku jadi tidak kerepotan,” sahut Rein pringas-pringis. Topik hanya berjalan sampai di situ saja. Tepat sebelum Rein teringat dengan permasalahan kami berdua yang belum usai, Gandra langsung membicarakan topic baru bersama-sama.


“Oh iya, tumben sekali kalian tidak membawa bekal.”


“Ah iya, kami lupa membeli bahan pokok kemarin. Untung saja masih cukup untuk sarapan pagi tadi,” jawab Cassie cengengesan.


“Kalau begitu, mau ikut dengan kami? Kebetulan kami juga kehabisan bahan makanan,” sahut Icha mengajak Cassie dan Rein.


“Bagaimana, Rein?” tambah Bella.


“Baiklah, kami ikut dengan kalian,” jawabnya tersenyum. Gavin yang masih belum pulih menyantap makanan tersebut di atas kursi rodanya.

__ADS_1


“Selalu kebetulan, ya,” cetus Gavin bercanda.


“Makanya, aku tidak mengira kalau stok makanan kalian semua sama,” sahut Rhean menambahkan.


“Habisnya, kami selalu beli dengan jumlah yang sama… Hehehe…” balas Icha cengengesan.


“Pantas saja,” lanjutku tersenyum. Kami pun menyantap makan siang hingga habis seraya mengobrol bersama.


Setelah itu, kami semua kembali menuju kelas masing-masing lantaran bel masuk telah berbunyi. Kami berjalan di sepanjang koridor bersamaan dengan para murid lainnya yang berbondong-bondong berjalan dan berlarian menuju tiap-tiap kelas mereka. Aku mendorong kursi roda yang diduduki Gavin. Sesampainya di kelas, aku sempat mengobrol dengan Gandra perihal kejadian tadi.


“Kau sangat ahli mengalihkan perhatian dan pembicaraan, ya?” ucapku pelan kepadanya. Ia pun tersenyum kepadaku seraya berkata, “Aku melakukannya karena aku ingin.”


“Kau suka melakukannya?” lanjut tanyaku penarasan.


“Tidak terlalu sering, Biasanya aku melakukan hal tersebut kalau aku memerlukannya atau jika keadaan sudah mendesak seperti tadi,” jawabnya tersenyum.


“Aku sangat berterima kasih padamu,” balasku senang.


“Tidak masalah, aku juga senang dapat membuat orang-orang melakukan sesuatu sesuai alur yang ku inginkan.”


“Wah, kau cukup berbahaya juga…” sahutku bercanda.


“Yah… Bisa dibilang begitu,” balasnya cengar-cengir.


Murid-murid pun kembali menuju tempat duduknya masing-masing karena terlihat seorang guru yang akan mengajar di kelas kami sedang berjalan menuju kemari. Sebelum aku berpisah dengan Gandra dan pergi menuju tempat duduk, aku sempat berceletuk kepadanya.


“Mungkin ke depannya aku akan banyak meminta bantuanmu.” Lalu dengan senang hati ia membalas perkataanku.


“Selagi bisa, akan ku usahakan yang terbaik.”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2