Love Exchange

Love Exchange
Episode 42 : Kagum


__ADS_3

Aku yang masih mencari kertas naskah pidatoku panik setengah mati. Cassie yang juga panik ikut membantuku. Aku tidak bergerak lebih karena takut mencuri perhatian orang-orang. Sementara itu Freda dan Hart yang memperhatikanku menjadi cemas dan khawatir.


“Ada apa dengan mereka berdua?” tanya Freda gelisah.


“Aku tidak tahu, seperti sedang mencari sesuatu.” jawabnya bingung sambil memikirkan apa yang terjadi.


“Jangan-jangan…” resah Freda mulai panik.


“Naskah?” jawab Hart ragu dan masih bingung. “Itu dia!” tutur Freda menaikkan nadanya dan membenarkan jawaban Hart. “Tidak mungkin kertasnya terjatuh dari sakunya yang dalam. Pasti seseorang mengambilnya tanpa sadar.” lanjut cakap Freda menyadari hal tersebut. Kemudian Hart teringat sesuatu hal yang baru saja terjadi tadi.


“Pidatonya Eledarn sama persis, kan?” ujar Hart kepada Freda. Semua hadirin masih berfokus pada pidato kandidat nomor urut lima itu. Namun tidak demikian dengan mereka berdua. Lantas Freda tersadar demikian.


“Betul juga.” balas Freda. “Bagaimana ini?” lanjutnya tanya kelabakan bukan main. Hart dengan tenang berkata kepada Freda.


“Tenang saja, dia itu kan alien.”

__ADS_1


Tidak lama kemudian pembacaan pidato berakhir dan tepuk tangan berselang kepada kandidat nomor urut lima. Kemudian pembawa acara membacakan urutan pidato yang akan disampaikan dari kandidat nomor urut terakhir, yaitu aku dan Cassie.


“Selanjutnya yang terakhir, kandidat nomor urut enam, Adelard Lavient dan Cassie Elaina.”


Aku yang kebingungan harus berkata apa seketika teringat dengan perkataan Kak Aydhia waktu itu. “Sepertinya aku menggunakan kata-kata Kak Aydhia saja.” batinku. Kemudian aku memaparkan orasiku di depan orang-orang.


“Saya bisa berdiri di sini mungkin karena kepercayaan kalian semua. Kuharap kepercayaan ini dapat selalu ada untukku. Jika begitu, perkenankanlah saya menjadi ketua OSIS dari suara hati kalian. Saya tidak akan banyak memberi janji. Namun dengan segala progam dan tantangan kedepannya, sebagai wadah aspirasi seluruh warga sekolah, izinkan saya menjadi nakhoda dan sama-sama kita mencapai tujuan bersama.”


Seketika tepuk tangan bergemuruh dalam satu ruangan ini. Kak Aydhia yang memperhatikanku hanya tersenyum dari kejauhan di tempat duduknya. Kemudian Cassie membacakan pidatonya yang singkat namun bermakna dalam. Apresiasi pun tidak lepas diberikan orang-orang kepadanya. Kami juga membacakan visi dan misi kami.


Susunan kegiatan dilanjutkan dengan debat dari masing-masing kandidat yang telah ditentukan lalu diakhiri dengan menjawab pertanyaan terpilih dari beberapa hadirin. Sampai akhirnya kegiatan tersebut selesai dan berlanjut dengan pemungutan suara dari para siswa.


Para kandidat pun dipersilakan kembali menuju ruangan sebelumnya. Kami juga diberikan hak pilih. Kami memberikan hak suara kami dari balik bilik suara. Setelah itu aku, Cassie, Freda, dan Hart berkumpul dan membahas pidato dan debat tadi.


“Pidatomu bagus sekali… Kau dapat itu semua dari mana?” puji Freda sekaligus bertanya penasaran kepadaku. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


“Kami semua kagum padamu, Adelard.” lanjut Freda takjub kepadaku. Cassie dan Hart terseyum pula ke arahku.


“Kau juga Cassie.” cetus Hart lantas membuatnya tersipu malu.


Tak lama kemudian kami diperintahkan segera kembali ke aula untuk pembacaan hasil suara. Seketika aula tersebut terisi penuh kembali. Hasil suara dibacakan langsung oleh kepala sekolah. Urutan pembacaan dimulai dari jabatan bendahara, sekretaris, kemudian yang terakhir wakil ketua dan ketua OSIS.


“Dan yang menjadi ketua dan wakil ketua OSIS periode kali ini adalah…”


“Adelard Lavient dan Cassie Elaina.”


Saat itu juga suara tepuk tangan dan sorak-sorai bergemuruh. Sontak kami berempat senang sekali. Freda yang bersemangat berteriak bahagia.


“Ayo kita rayakan!”


“Ayo!” sambut kami semua kompak.

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2