Love Exchange

Love Exchange
Episode 6 : Cengang Pagi Hari


__ADS_3

    Di suatu taman yang indah aku bertemu dengan seorang perempuan berparas cantik yang datang menghampiriku. Aku yang belum mengenal tempat ini sebelumnya masih terheran-heran mengapa aku bisa berada di tempat seperti ini. Aku juga tidak mengenali perempuan tersebut. Dirinya  yang anggun mulai bertutur kepadaku.


    “Adelard…”


    Sontak aku terkejut kepadanya yang tiba-tiba saja memanggil namaku. “Kau mengenaliku?”


    “Tentu saja… Aku dihadirkan di sini untuk bertemu denganmu…”


    Aku hanya bisa termangap tidak percaya. Tidak ada satupun yang aku mengerti dari situasi saat ini. Lantas aku semakin ketakutan seiring dirinya yang semakin mendekat kepadaku.


    “A—Ada apa kau menghampiriku?” tanyaku gugup.


    “Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu…”


    Tutur ucapnya yang lemah lembut dan halus memasuki telinga membuatku merinding setengah mati. “A—A—pa?”


    “Lihatlah sekitarmu… Indah bukan?”


    Saat itu juga aku melihat sekelilingku. Dedaunan yang tersisir oleh desiran angin, bunga-bunga yang bermekaran, serta langit biru cerah membuatku terpesona. Namun itu semua membuatku semakin syok bahwa mengira diriku sudah berada di alam lain.


    “A—Apa yang terjadi padaku? Aku baik-baik saja, kan?” lanjut tanyaku merinding ketakutan seperti mengalami trauma yang amat kelam.


    “Tenang saja… Kau baik-baik saja… Nikmatilah pemandangan ini… Beginilah seharusnya engkau membaca lingkunganmu…”

__ADS_1


    Perkataannya barusan membuatku semakin bingung dan pusing tujuh keliling.


    “Adelard… Kini waktunya kami untuk berpisah… Sekarang saatnya kau bangun…”


    “Bangun…”


    Terdengar suara perempuan yang membisik pelan dan halus di samping telingaku. Namun aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Aku tidak mengerti dengan perkataannya. Aku mengherankan kenapa ia ingin sekali membangunkanku. Kemudian aku langsung lompat terbangun dalam keadaan setengah sadar.


    “Hah! Apa yang barusan terjadi?” gumamku terengah-engah pelan kebingungan.


    “Abang, bangun!” teriak seorang perempuan dengan suara nyaring dan tubuhku seperti ditarik dan didorong.


    “Aaa!” Seketika aku tersadar kaget dan mataku yang lebar menatap kosong. “Huft… Ternyata hanya mimpi.” ucapku pelan sembari menarik napas lega dan mengucekkan mataku.


    “Apa maksudnya tadi?”


    Aku yang tidak mau ambil pusing kemudian beranjak mandi dan sarapan. Sarapan kami selalu dibuatkan oleh Ibu. Walaupun terkadang adikku ikut membantunya bahkan ia yang menyiapkan semuanya jika kedua orang tua kami sedang bepergian di luar kota.


    “Abang. Apakah abang sudah punya pacar?” tanya adikku dengan senyum sindiran sambil memotong roti. Aku yang sedang makan lantas menjadi tersedak. “Apa yang kau tanyakan?” tegasku menaikkan nada. Ayah dan ibuku hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kami berdua.


    “Ayolah. Sekarang abang sudah remaja. Tidak ingin menikmatinya?” tanyanya lagi. “Kau bocah SMP tidak akan mengerti masalah remaja.” balasku kesal kepadanya. “Anak SMP juga sudah remaja, tahu!” cetus adikku dan kami saling memalingkan muka.


    “Ngomong-ngomong aku sudah punya pacar, lho.” ucapnya sebal dengan muka yang masih berpaling dariku.

__ADS_1


    “E—Eeeehhhh?”


    Aku terkejut dan terbangun dari kursi. Seketika satu ruangan dikejutkan dengan pernyataan adikku. Ayah dan ibuku juga tidak menduganya. Namun setelah itu ayahku malah tersenyum.


    “Wah, anak Ayah sudah besar.”


    “Abang masih mau sendirian?” sindir adikku lagi. “Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal yang tidak penting seperti itu. Kita ini anak sekolah, harus belajar.” jelasku kepada adikku.


    “Eh? Tapi Ibu sudah sejak SMA berpacaran dengan ayahmu.” celetuk ibuku sambil tersenyum.


    “Tuh, dengarkan baik-baik, Abang.” sindir adikku lagi. “Ta—Tapi bukannya masa sekolah kita juga harus fokus dengan masa depan terlebih dahulu?” tanyaku penasaran kepada ayahku.


    “Sepertinya sampai sini dulu. Ayah ingin berangkat kerja.” jawab ayahku yang berangkat dari kursinya dan pergi menuju pintu. “Ayah berangkat.” lontar ayahku. “Oh iya. Lagi pula pasangan juga termasuk masa depan.” imbuh ayahku yang berjalan keluar meninggalkan rumah.


    Setelah sarapan aku pergi berangkat sekolah. Begitu juga dengan adikku. Namun kami tidak berangkat bersama karena berbeda arah. Aku masih memikirkan kejadian yang menimpaku saat tidur dan sarapan tadi. Entah kenapa pembahasan kami kali ini cukup dalam. Semuanya terungkap dan baru kuketahui saat sarapan tadi. Sarapan tadi dipenuhi dengan banyak kejutan.


    "Sungguh awal hari yang mengejutkan sekaligus membingungkan." Aku tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pagi ini. Semua itu terkumpul menjadi sebuah pertanyaan yang selalu kupikirkan saat ini.


    “Apakah justru aku yang sebenarnya aneh?”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2