
Suatu hari yang cerah mengawali pagi kami untuk bersenang-senang. Kami mengawali aktivitas dengan menyantap sarapan dan membersihkan diri. Aku dan Rein telah bersiap untuk membantu Gavin menjalankan misi. Aku tidak memiliki tempat khusus untuk dikunjungi. Sepertinya kami akan menentukannya saat di perjalanan nanti.
Setelah keluar dari asrama, kami berempat berjalan kaki menuju pusat kota. Keramaian orang-orang yang semrawut menjadi pemandangan yang umum bagi kami, terlebih hari ini adalah akhir pekan. Aku dan Rein melangkahkan kaki berduaan di belakang Gavin dan Cassie. Kami berdua menyaksikannya dari belakang.
“Kita akan ke mana?” tanyaku penasaran kepada Rein.
“Entahlah… Kita ikuti saja mereka,” jawab Rein.
Tak lama kemudian langkah kami terhenti. Kami belum menentukan tempat yang ingin dikunjungi. Lantas Cassie bertanya kepada kami semua.
“Ke mana kita akan pergi?” Kami semua sempat terdiam sejenak untuk memikirkan tempat yang sekiranya cocok untuk didatangi. Lalu terpikir olehku sebuah tempat lantaran kami telah mengarah ke pusat kota.
“Bagaimana kalau ke taman kota?” usulku kepada mereka.
“Ide yang bagus!” sahut Gavin bersemangat.
Kami pun memutuskan untuk pergi ke taman kota. Waktu yang diperlukan untuk tiba ditujuan sekitar dua puluh menit. Terdapat beberapa pasangan yang juga sedang berjalan-jalan seperti kami. Selama perjalanan kami menyelinginya dengan mengobrol dan bercanda tawa. Sampai akhirnya kami tiba di taman kota. Terlihat sebuah air mancur di tengah taman dan aliran sungai yang membelah taman tersebut menjadi dua bagian.
“Wah, indah sekali…” lontar Cassie senang.
“Cukup besar untuk sebuah taman di tengah kota padat,” lanjut Rein.
“Ayo kita berkeliling!” ajak Gavin bersemangat.
Langkah demi langkah kami berjalan di atas jalan setapak dengan lapangan hijau dan pepohonan rindang yang berada di kanan dan kiri kami. Tampak beberapa orang yang berkumpul dan berpiknik serta anak-anak yang berlarian dan bermain bola. Angin yang berhembus mengademkan suasana di bawah terik mentari. Kemudian kami memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon dan beralaskan rumput. Aku melihat sebuah toko kecil yang menjual es krim.
“Saatnya melakukan percobaan pertama,” gumamku tersenyum. Kemudian aku beranjak dari dudukku dan mengajak Rein untuk pergi bersamaku.
“Rein, kau mau es krim?” tanyaku.
“Tentu saja.”
“Kau mau juga, Gavin, Cassie?” lanjut tanyaku kepada mereka berdua, namun Cassie rupanya ingin ikut dengan kami.
“Aku mau ikut juga,” balasnya. Sontak aku dan Rein menjadi sedikit gelisah lantaran respon Cassie yang berbenturan dengan rencana kami.
“Kau di sini saja bersama Gavin, biar aku dan Adelard yang membelikannya,” ucap Rein sekaligus meminta Cassie untuk duduk kembali.
“Kalau begitu, aku ingin rasa coklat,” sahut Gavin. Cassie yang wajahnya tampak sedikit murung kemudian kembali duduk dan menitip es krim rasa stroberi.
__ADS_1
“Baiklah, kami pergi ke sana dulu,” ucapku lalu aku dan Rein pergi meninggalkan mereka berdua. Aku sempat menoleh ke arah Gavin dan tersenyum. Dari kejauhan Gavin
tampak senang sekali.
“Semoga kau berhasil,” harapku dalam hati.
Kami berdua sampai di toko tersebut dan tiidak terdapat antrean. Lalu aku menyebutkan semua pesanan yang kami inginkan dan juga pesanan yang mereka berdua titipkan. “Pesan dua rasa coklat, satu rasa stroberi, dan satu rasa vanilla, ya,” lontarku kepada penjual es krim tersebut. Sembari menunggu, aku dan Rein mengobrol tentang mereka berdua.
“Kira-kira, mereka akan baik-baik saja, kan?” tanya Rein sedikit khawatir.
“Semoga semuanya berjalan lancar,” balasku.
“Sepertinya kita harus meminta Gavin untuk menceritakannya nanti.”
“Iya, aku juga tidak sabar untuk melihat hasilnya.” Kemudian kami tertawa bersama. Tak lama kemudian es krim yang kami pesan telah selesai dibuat. Aku pun membuka dompetku dan membayarnya. Rein yang melihatku lantas terkejut dengan isi dompet yang cukup tebal.
“Banyak sekali duitmu.”
“Ini hasil tabunganku,” jawabku. “Ini duitnya, Kak.” Lalu aku mengambil es krim tersebut dan memberikan kepada Rein.
“Ini punyaku dan punyamu. Aku akan membawakan punya mereka,” ucapku.
“Iya… Eh, Rein! Tunggu aku!” Aku pun berlari menghampirinya. Terlihat dari kejuahan mereka berdua sedang asyik mengobrol bersama.
“Wah, sepertinya mereka sudah akrab,” lontar Rein senang.
Setibanya kami menghampiri mereka, aku memberi es krim yang ada di kedua tanganku kepada Gavin dan Cassie.
“Maaf membuat kalian menunggu,” ucapku kepada mereka.
“Tidak apa-apa,” balas Cassie. Kami pun menikmati es krim tersebut.
Di bawah pancaran matahari nan terik memang akan sangat nikmat apabila menyejukkan lidah dengan es krim. Tak jarang kami bercanda tawa bersama, sampai-sampai aku lupa bahwa ada es krim ditanganku. Dengan cepat aku mengambil tisu dan mengelap es krim yang telah mencair ke tanganku. Namun Cassie yang terlalu terbawa suasana membuatnya tak sadar akan hal tersebut. Es krim yang ada di tangannya telah mencair dan menetes ke bajunya.
“Yah… Bajuku…” hembusnya. Sontak Gavin meraih tisu dan memberikannya kepada Cassie.
“Lap tanganmu,” balas Gavin seraya mengelap baju Cassie yang ternodai. Aku dan Rein hanya menyaksikan mereka berdua. Mereka berdua tampak panik sendiri dengan noda di baju Cassie yang tak kunjung hilang.
“Serasi sekali mereka,” gumam Rein kepadaku.
__ADS_1
“Serasi sekali…” sahutku pelan.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua akhirnya pasrah dengan noda tersebut. Lantas Rein membuka tasnya dan mengambil sesuatu.
“Coba kau gunakan ini,” cakap Rein sembari memberikan semprotan pembersih noda kepada Gavin. Lalu Cassie menarik bagian baju yang kotor itu dari dua sisi, sedangkan Gavin menyemprotkan cairan tersebut dan mengelapnya. Tak lama kemudian, noda yang menempel di bajunya akhirnya bersih kembali.
“Syukurlah…” lontarku lega.
“Terima kasih, Gavin,” tutur Cassie tersenyum. “Kau juga, Rein,” imbuhnya.
Angin berhembus cukup kencang mengayunkan ranting-ranting pepohonan. Cuaca yang cerah seketika menjadi berawan, walaupun tak sampai mendung. Setelah menghabiskan es krim, kami pun melanjutkan langkah mengelilingi taman. Rein mengajak kami ke sebuah tempat di area taman. Sesampainya di sana terdapat sebuah patung permohonan yang sedang dikerubungi oleh keramaian.
“Itu dia patungnya,” ucap Rein sembari menunjuk ke arah patung tersebut.
“Ramai sekali,” sahutku.
“Katanya, banyak pasangan yang meminta permohonan di sana, dan orang-orang bilang kalau permohonanmu akan terkabulkan,” jelas Rein kepada kami. Gavin yang mendengarkannya lantas menjadi bersemangat dan mengajak kami semua ke patung tersebut. Gavin yang membara kemudian berjalan cepat dengan tangannya yang menggenggam tangan Cassie.
“Pelan-pelan, Gavin,” lontar Cassie.
“Anak itu semangatnya bukan main,” batinku.
Sesampainya di patung tersebut, kami pun meminta permohonan. Seiring berjalannya waktu, orang-orang semakin memadati tempat ini. Seketika angin berhembus kencang dan langit mulai menggelap. Kami yang telah melakukan permohonan menjadi kesulitan untuk keluar dari kerumunan orang-orang. Tak lama kemudian hujan turun dengan sangat deras dan membuat orang kalang kabut. Aku dan Rein dengan segera berlari mencari tempat untuk berteduh. Ketika kami berdua menemukan atap berteduh, kami dikejutkan dengan Cassie dan Gavin yang hilang entah ke mana.
“Bagaimana ini? Aku tidak melihatnya sama sekali,” lontarku panik.
“Bukannya lebih baik begini?” balas Rein tersenyum kepadaku.
“Betul juga,” jawabku yang baru tersadar akan situasi sekarang. Aku masih tidak percaya dengan situasi yang tidak sesuai dengan rencana, namun sepertinya memperbaik rencana kami.
“Mengapa tiba-tiba cuaca berubah drastic? Padahal kabarnya hari ini akan cerah-cerah saja… Apa ini salah satu permohonan dari Gavin?” benakku bertanya-tanya. Rein sangat senang dengan hujan yang turun deras sekarang. Ia berpikir bahwa cuaca seperti ini akan mendekatkan hubungan orang-orang.
“Percobaan kedua dimulai…” Aku yang penuh gairah berharap supaya Gavin dapat memanfaatkan kondisi saat ini untuk mempererat antara dirinya dan Cassie.
“Ayo, Gavin! Tunjukkan dirimu yang terbaik!”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1