Love Exchange

Love Exchange
Episode 104 : Usai Bercerita


__ADS_3

Malam hari yang sejuk dengan angin yang berhembus melewati lubang ventilasi. Cuaca di depan cukup berawan dan beberapa guntur menyertainya. Kami berenam telah saja menghabiskan makan malam. Bersama piring yang telah kosong lepas bersantap, kami mendengarkan cerita Gavin dengan serius. Ia menceritakan segala kejadian yang dialaminya saat itu.


“Begitulah ceritaku…” ucap Gavin mengakhiri kisahnya. “Bagaimana? Aku melakukannya dengan baik, kan?” imbuhnya kembali bertanya. Kami yang mendengar cerita tersebut menjadi senang dan bangga kepadanya.


“Wah, romantis sekali…” lontar Icha.


“Sebagai awalan, itu sudah sangat baik!” lanjut Bella senang.


“Kau pandai sekali memanfaatkan kesempatan saat di rumah hantu itu, ya…?” sindir Rhean bercanda kepadanya.


“Aku sangat bersyukur waktu itu,” balas Gavin cengar-cengir.


“Tapi dia benar-benar tidak mengetahuinya, kan?” tanyaku memastikan.


“Sepertinya begitu, karena saat dia bangun, dia tidak bereaksi apa-apa,” jawab Gavin sedikit ragu.


“Oh iya, kumohon jangan sebarkan ke Cassie, ya,” tambahnya kepada kami semua.


“Tenang saja, ktia kan sudah membantumu, mana mungkin ktia membocorkannya,” balas Bella tersenyum.


“Kasihan sekali Rein tidak ada di sini,” cetus Gandra pelan.


Setelah itu, kami merapihkan piring-piring yang bergeletakan di atas meja. Bella dan Icha bertugas mencuci piring, sisanya membawa piring-piring tersebut kepada mereka. Sembari melakukan kegiatan tersebut, kami semua mengobrol ceria. Tak jarang juga obrolan yang spontan membuat kami semua tergelitik tawa. Tentu saja kami masih membahas cerita Gavin yang diceritakannya tadi.


“Tapi aku baru tahu kalau dia ternyata sangat jago bermain tembak hadiah,” lontarku terheran-heran.


“Mungkin lain waktu kita bisa pergi bersama-sama dan melihat aksinya,” balas Gavin tersenyum. Kemudian Bella bertanya kepada Gavin.


“Lalu, langkah apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”


“Entahlah… Aku juga masih kebingungan. Aku tidak punya pengalaman hal seperti ini,” jawabnya.


“Kalau begitu, bagimana kalau kita main gim itu lagi?” usul Rhean kepada kami. Bella dan Icha telah selesai mencuci piring dan pergi menuju kamar mereka. Lantas Rhean memasukkan kaset gim itu ke dalam konsol. Kami pun  memainkan gim simulasi kencan dan melanjutkan cerita yang sebelumnya telah dimainkan. Permainan tersebut memiliki alur di mana tokoh utama bersama pasangannya pergi ke sebuah festival pada malam hari.


“Loh, ini mah seperti yang aku alami kemarin,” lontar Gavin.


“Kalau begitu, seharusnya kau bisa memainkannya dengan mudah,” balasku tersenyum.


“Baiklah, akan kucoba seperti yang ku alami,” sahut Gavin bersemangat. “Apakah alur yang kupilih benar-benar berakhir baik?” imbuhnya.


Gavin pun memainkan permainan tersebut dan memilih alur yang mirip seperti pengalamannya di pasar malam kala itu. Sementara itu, aku bersama Gandra dan Rhean menyaksikannya bermain dan sesekali memberikan saran kepadanya. Tak lama kemudian Bella dan Icha keluar dari kamar sembari membawa tas jinjing di tangannya.


“Kalian mau pergi kemana?” tanyaku kebingungan.


“Ke asrama kalian, Cassie menelpon kami untuk menemaninya tidur,” jawab Bella kepadaku dan Gavin.

__ADS_1


“Apa yang kalian bawa?” lanjut tanya Rhean penasaran.


“Kami membawa seragam untuk besok, jadi kami bisa langsung mandi di sana,” jawab Icha.


“Kenapa tidak sekalian dengan tas sekolah kalian saja?” tanya Gandra. Sontak mereka berdua tersadar lalu berjalan ke arah kamar kembali.


“Oh iya, betul juga.” Tak lama berselang, mereka kembali keluar dan melangkahkan kakinya menuju pintu depan.


“Kalian tidur di sini saja, untuk semalam kita bertukaran tempat dulu, ya,” ucap Icha menyeringai lebar.


“Baiklah kalau begitu,” balasku kepada mereka.


“Jangan pernah masuk ke kamar kami, ya!” seru Bella kemudian menutup pintu. “Siap!” sahutku.


Kami bertiga baru saja berbicara dengan Bella dan Icha, sedangkan Gavin masih terus memainkan gim tersebut. Tanpa kami sadari, tokoh utama itu telah berada di restoran bersama dengan pasangannya. Dari yang ditampilkan dari layar, mereka berdua sedang asik bersantap malam sembari mengobrol bersama. Lalu tibalah skenario yang sangat mirip dengan cerita Gavin.


“Dia tersedak!” lontar Rhean terkejut.


“Mirip sekali dengan ceritamu, Gavin,” lanjutku. Kemudian gelas yang diminum tokoh utama itu telah habis, lalu ia diberikan segelas minuman milik pasangannya.


“E—Eh? Ciuman tidak langsung?” cetus Rhean tidak percaya.


“Maksudmu?” tanyaku kebingungan. Gavin mengerti akan hal tersebut, tapi ia masih ragu dengan pemikirannya.


“Memangnya ada hal seperti itu? Bukannya biasa-biasa saja? Teman-temanku juga sering meminta minuman dariku, kok,” balasku bertanya-tanya, namun tampaknya Gavin dan Rhean terkejut setelah mendengar pernyataan terakhirku.


“Tentu saja kau memberikannya kepada lak-laki, kan?” celetuk Gavin memastikan sambil cengengesan. Dengan polos aku menjawab pertanyaannya.


“Tidak juga, justru lebih sering perempuan.” Sontak mereka berdua tercengang bukan kepalang, namun Gandra yang sedikit terkejut berusaha untuk tetap tenang.


“T—Tidak mungkin,” lontar Rhean terperangah.


“Jadi, bibirmu itu sudah banyak menempel dengan bibir lainnya…?” lanjut Gavin dengan mulut terbuka lebar.


“Hah? Apa yang kalian bicarakan? Itu hanya sebuah sedotan. Sedotan!” balasku yang agak jengkel kepada mereka. Lantas Gandra tersenyum dan dengan tenang berkata kepadaku.


“Kau ini polos sekali, ya.”


“Beruntung sekali dirimu. Aku yakin mereka melakukan seperti itu bukan karena kehabisan air, tapi untuk hal lain,” lanjut Rhean yang cemburu kepadaku.


“Hal lain? Apa pula itu?” tanyaku kembali.


“Haduh… Kau ini…” hembus Rhean pasrah kepadaku. Gavin yang masih memegang kontroler lantas meminta kami untuk berhenti membahas hal tersebut.


“Lebih baik kita lanjutkan ini saja.” Gandra beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya. Kemudian ia keluar dari kamar tersebut sembari membawa gulungan karpet. Dengan sigap aku langsung membantunya.

__ADS_1


“Kau ambil saja bantal-bantal yang ada di kamar,” ujar Gandra.


“Oke,” balasku. Gavin dan Rhean tengah asyik-asyiknya bermain gim tersebut tanpa menghiraukan kami berdua. Lalu Gandra menendang-nendang pelan mereka yang sedang duduk.


“Minggir dulu sebentar.”


“Aduh, kau ini. Sedang asyik-asyiknya, nih,” balas Rhean. Gandra pun membentangkan karpet itu, tetapi ukurannya yang lebar membuatnya tidak dapat melakukannya seorang diri. Ia menunggu Gavin dan Rhean untuk membantunya, namun mereka tetap fokus melihat layar. Sontak Gandra menjadi jengkel dan mematikan televisi itu dengan remot yang ada di tangannya.


“Apa yang kau lakukan?” seru Gavin kesal.


“Bantu aku dulu!” balas Gandra yang juga marah kepadanya. Aku yang mendengarnya dari dalam kamar membuatku menarik napas pasrah.


“Ada-ada saja mereka berdua…” hembusku.


Kemudian aku menghampiri mereka dengan bantal-bantal di pelukanku. Akhirnya karpet berhasil di gelar dan kami merebahkan diri kami sembari menghadap ke arah televisi. Gavin dan Rhean masih asyik bermain dengan gim tersebut, sedangkan aku dan Gandra yang bersebelahan berusaha untuk memejamkan mata, namun suara yang berisik membuat kami kesulitan untuk tidur. Sesekali kami terpancing untuk melihat layar karena penasaran.


“Oi, besok sekolah, lho…” ucapku kepada mereka berdua.


“Sebentar lagi,” balas Gavin yang tengah serius.


Mereka pun melanjutkan permainan dengan sangat berisik. Aku melakukan berbagai cara seperti menutup telinga, memeluk bantal guling dengan erat, dan sebagainya, namun semua cara tersebut gagal. Sementara itu, Gandra dengan tenang telah memejamkan matanya.


“Gandra, kau sudah tidur?” tanyaku bernada pelan.


“Belum,” jawabnya singkat.


“Haduh… Mau sampai kapan kalian bermain terus?” gumamku kesal dalam hati.


Jam terus berjalan dan tanpa sadar waktu telah menunjukkan tengah malam. Aku pun tertidur dengan sendirinya lantaran sudah terlalu mengantuk. Keesokan harinya, aku membuka mataku dengan tubuh yang masih terbaring. Tampak mereka semua masih tertidur pulas. Aku berangsur duduk lalu meregangkan tanganku. Dengan perasaan kantuk yang belum hilang aku melihat jam, tetapi pandanganku masih tampak buram.


“Wuah… Jam berapa sekarang?” gumamku seraya menguap. Setelah mengucek kedua mataku, akhirnya jam tersebut telihat jelas. Dan pada saat itulah aku tersentak kaget.


“Astaga naga! Kita terlambat satu jam lebih!” lontarku. Sontak mereka semua terbangun. Dengan jiwa yang masih setengah, mereka kebingungan dengan diriku yang panik.


“Ada apa, Adelard?” tanya Gandra.


“K—Kita kesiangan!” jawabku.


Lekas kami semua menjadi kalang kabut dan berlarian ke sana dan kemari. Dengan cepat kami semua pergi mandi secara bergiliran, sedangkan aku dan Gavin menggunakan kamar mandi yang ada di asrama kami. Setelah persiapan yang sangat cepat bagai kilat, kami berempat berlari menuju gedung sekolah. Aku merasa geram dengan Gavin dan Rhean yang keasyikan bermain gim hingga larut malam.


“Ini semua karena kalian berdua!”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2