
Hari sudah mulai menggelap dan matahari sudah tak nampak dari cakrawala. Kilauan cahaya lampu terlihat menghiasi kota sepanjang mata kami memandang. Tidak lama lagi kami sampai di stastiun di mana Aku dan Eledarn akan berpisah dan aku harus melanjutkan langkahku sendirian. Sebelum itu, rasa penasaran masih tertanam di benakku yang sedang kelimpungan.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“T—Tidak. Bukan apa-apa.” jawabnya cengar-cengir. Aku hanya bisa menatapnya bingung.
“Huft… Dari tadi ucapannya setengah-setengah…” celetukku sedikit jengkel.
“Yah… tidak kusangka kau menjadi ketua OSIS.” cetusnya. “Iya. Aku juga. Tidak pernah terlintas di kepalaku akan menjadi seperti ini.” balasku tersenyum malu kepadanya.
“Tapi waktu itu aku sedikit terkejut karena isi pidatomu hampir mirip dengan naskahku.” gumamku pelan namun sepertinya ia mendengarnya. “Naskah?” tanya Eledarn lantas buncah. “Eh… Bukan, bukan…” kelitku sambil mengibas-ngibaskan tangan.
“Aduh keceplosan… Apa yang harus ku katakan sekarang?” batinku berpikir mencari jawaban yang tepat.
“M—Maksudku isi pidatomu sama seperti yang ingin ku sampaikan juga.” jelasku kembali.
“Loh? Bukannya waktu itu isi pidatomu beda denganku?” tukasnya kebingungan. “I—Iya. Untung saja saat itu aku terpikirkan dengan kata-kata itu sesaat sebelum aku mulai berpidato.” timpalku meluruskan penyataan sebelumnya. Eledarn pun menghela napas lega mendengarnya.
“Tapi anehnya saat itu kertas pidatoku hilang. Padahal sudah ku letakkan dalam-dalam di saku seragamku.” tuturku sambil memikirkan kejadian itu yang sampai sekarang belum kutemukan jawabannya. Sontak Eledarn menjadi gelagapan.
__ADS_1
“W—Waduh… B—B—Bagaimana bisa?”
“Aku juga tidak tahu.” jawabku kebingungan.
“T—Tapi dengan pidatomu yang berasal dari kepalamu sontak menarik banyak simpatisan. Pemilihan kata yang kau gunakan sangat bagus.” puji Eledarn yang masih bergamam. Aku yang mendengarnya lantas terjenggah malu.
“Terima kasih.” tuturku pelan.
“Sebenarnya aku juga banyak belajar dari Kak Aydhia.” imbuhku.
“Si wakil ketua OSIS itu, kan?” lanjut tanya Eledarn kebingungan.
“Iya.”
“Pantas saja…” hembusnya.
“Hah?” sahutku tidak mendengarnya dengan jelas. Telihat dirinya yang kalang kabut dan membuatku heran dengan perangainya.
“Wah semesta mendukungmu.” celetuknya mendadak mengejutkanku.
__ADS_1
“Kenapa tiba-tiba jadi puitis begini?” cetusku heran.
“Bukan apa-apa.” jawabnya tenang dan tersenyum.
Kami sudah tidak jauh lagi di depan stasiun. Namun sebelum itu aku ingin bertanya kepada Eledarn karena penasaran.
“Eledarn bolehkah aku bertanya sesuatu.” pintaku pelan kepadanya.
“Silahkan saja. Langsung saja bertanya kepadaku. Ucapanmu barusan membuatku canggung.” ucapnya sedikit terkejut.
“Tadi kan aku sudah menceritakan bagaimana aku berpidato dengan isi seperti itu. Lalu, bagaimana denganmu?” Rasa penasaran yang sudah tidak terbendung lagi membuatku menjadi lantang seperti itu walaupun sebenarnya aku juga tak enak hati pada dirinya. “Aku penasaran dengan persiapanmu waktu itu.” imbuhku.
“Eee… Yah… Gimana ya…” ucapnya panik sembari menggaruk-garuk kepalanya. Wajahku yang seperti anak kecil yang sangat penasaran sepertinya membuat Eledarn ketakutan. Sontak ia mengalihkan perhatian.
“Hari sudah larut, Adelard. Aku duluan ya. Sampai ketemu besok!” kekehnya lantas pergi berlari masuk ke dalam stasiun.
“S—Sampai jumpa…” balasku kebingungan. Saat berjalan pulang tiba-tiba ada pertanyaan yang terlintas di benakku.
“Kenapa tiba-tiba dia begitu? Apakah aku terlalu lantang?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)