Love Exchange

Love Exchange
Episode 68 : Mendaki Gunung


__ADS_3

Keesokan harinya kami berencana untuk melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Vitlessia. Puncaknya yang tinggi membuat waktu pendakian menjadi cukup panjang. Oleh karena itu kami sudah berangkat pagi-pagi buta dari pondok penginapan menuju tempat pendakian di kaki gunung tersebut.


Namun sebelum itu lagi-lagi dua kecoak dan Eledarn masih saja tertidur pulas. Aku bersama Milard membangunkan mereka berdua.


“Bangun…! Oi! Sudah siang, ayo berangkat!” bangunku seraya mendorong-dorong mereka berdua, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi mereka sama sekali. Sampai akhirnya Milard mempunyai sebuah ide.


“Tunggu sebentar,” ucapnya kemudian mengambil selembar kertas lalu menggulungnya menjadi seperti corong. Setelah itu ia menempelkan kedua ujung corong tersebut ke salah satu telingan Hart dan mulutnya.


“Hart, Bangun! Bangun! Banguuuuuuunnn…!” teriaknya tempat di samping telinganya. Aku yang melihatnya membayangkan telinganya yang kesakitan. Namun lagi-lagi usaha tersebut tidak mempan. Hanya ada satu-satunya cara terakhir untuk memangunkan mereka, tetapi aku menghindari cara tersebut. Karena tidak ada cara, akhirnya aku melakukan cara paling ampuh itu.


“Huft… Apa boleh buat,” hembusku pasrah dengan keadaan, kemudian aku mengambil segayung air dari kamar mandi.


“Apa kau yakin, Adelard?”


“Yah… Paling tidak kasur ini harus dijemur nanti,” jawabku. Aku pun lantas menyiram kedua wajah mereka. Seketika mereka terlompat kaget dan langsung bangun dari tidurnya.


“Ha!” hempas Hart kaget. Jiwa yang belum sadar sepenuhnya membuat mereka keliyungan dan sesekali matanya terpejam lagi.


“Ayo bangun! Kau bilang kita ingin pergi ke gunung,” lontarku kepada Hart.


“Wuah… Lima menit lagi,” sahut Eledarn sembari menguap kemudian kembali menidurkan tubuhnya, namun tak lama kemudian ia terbangun kembali lantaran kasurnya yang sudah basah.


“Baiklah…” balas Hart kemudian beranjak dari tidurnya.


Sesudah bersiap-siap kemudian kami semua berangkat menuju tempat pendakian. Suasana sekitar masih sangat sepi karena sang surya baru saja muncul dari permukaan. Dengan barang bawaan yang cukup banyak dan berat, kami menurunkannya dari mobil satu per satu.


“Hah…! Akhirnya selesai,” hembus Freda seraya menepuk-nepuk tangannya yang berdebu. Sontak Hart menyahutinya dan berkata, “Selesai? Justru kita baru saja memulainya.” Kemudian kami melihat tangga yang beralas tanah membumbung tinggi naik ke atas gunung tersebut. Melihatnya saja sudah membuat Cassie dan Emery lemas.


“B—Banyak sekali anak tangganya…” gumam Cassie tercengang.


Sebelum kami beranjak melangkahkan kaki, aku dan temanku yang laki-laki menentukan tas mana yang harus dibawa. Kami menentukannya dengan permainan hompimpa.


“Yahaha! Kau kalah, Adelard!” lontar Hart gembira. Kemudian Eledarn membawakan sebuah tas yang amat besar lalu memberikannya kepadaku.


“Ini yang harus kau bawa,” tutur Eledarn tidak beraturan seraya mengangkat tas itu yang sangat berat. Arkian aku menerimanya dan benar saja, tas itu beratnya bukan main.


“Hart, tolong aku membawanya juga,” pintaku kepadanya.

__ADS_1


“Eh? Aku kan yang menang. Jadi itu sudah tugasmu. Hehe…” jawabnya cengengesan. Seketika aku syok tidak percaya.


“J—Jadi, aku harus membawanya sendirian?” tanyaku kepada mereka.


“Tentu saja,” balas Hart dan Eledarn kompak. Aku yang tampak kasihan berusaha meminta bantuan untuk mengangkat tas ini bersama-sama.


“Milard…?” cakapku pelan.


“Maaf, Adelard. Tanganku sudah penuh barang-barang,” jawabnya.


“Ayolah, kau kan kuat,” cetus Hart menyemangatiku. Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Tepat sebelum kami berjalan, Emery sempat bertanya kepada Hart keheranan.


“Mobilnya kau parkir di sini saja?”


“Iya. Ini tempat parkir khusus para pendaki. Jadi tidak masalah,” jawabnya tenang. Setelah itu kami semua mulai menapakkan kaki ke anak tangga itu satu demi satu.


“Sebisa mungkin kita sudah sampai sebelum hari mulai gelap!” seru Freda kepada kami semua. Lalu diikuti dengan seruan Hart memperingatkan kami semua.


“Hati-hati! Jangan sampai berpisah!” lontarnya yang berada di paling depan.


Selang beberapa jam kemudian kami sudah berada di sepertiga dari seluruh waktu perjalanan. Matahari yang mulai menyengat dan kaki yang sudah berat untuk menaiki tangga langkah demi langkah. Aku yang membawa tas berat ini sudah kebasahan dengan keringatku sendiri. Semua fokusku teralihkan dengan pundakku yang mulai sakit. Untung saja Cassie menenangkanku sembari mengelap keringat yang mengalir deras di wajahku.


“Walah, walah… Sempat-sempatnya di saat seperti ini,” sindirnya. Aku tidak menggubrisnya sama sekali.


“Sshh! Kau malah mengganggu mereka,” sahut Hart. Aku yang sudah tak tahan menanggung berat tas ini lantas meminta waktu untuk beristirahat.


“Ayo kita istirahat dulu sebentar,” cetusku dengan napas berat dan hampir pingsan, tetapi Hart yang berada di paling depan tidak mendengarnya. Dengan sigap kemudian Cassie menyusulnya dan menyampaikan permintaanku.


“Oh iya. Pasti alien itu sudah penat,” balas Hart setelah mendengar perkataan Cassie. “Baiklah. Kita istirahat dulu di sini!” Lalu kami semua berkumpul di bawah pepohonan nan rindang. Akhirnya aku bisa menurunkan beban ini sejenak. Aku yang kepanasan kemudian menyejukkan diri sambil bertelanjang dada.


“Adelard, apa yang kau lakukan?” tandas Emery bertanya sembari menutup-nutupi matanya.


“Menyejukkan diri,” jawabku santai dengan tanganku sedang menjemur bajuku di sebuah ranting pohon.


“Wah, wah. Lagi-lagi alien menunjukkan keseksiannya,” celetuk Hart ke arahku dan membuatku jengkel.


“Jangan berpikir yang tidak-tidak kau!” tegasku. Sementara itu Freda, Emery, dan Cassie menatapku dengan wajahnya yang memerah. Aku pun kebingungan melihat mereka seperti itu.

__ADS_1


“Kalian kenapa?”


“T—Tidak apa-apa,” jawab Cassie gugup. Aku yang tidak mengerti sama sekali kemudian bertanya kepada Milard dengan pelan.


“Mereka baik-baik saja, kan?” tanyaku buncah. Lalu Milard menjawabnya dengan santai. “Yah… Sepertinya mereka terangsang dengan lekuk tubuhmu yang basah dan mengalir keringat.” Sontak aku menjadi malu sekaligus sebal dengan jawabannya barusan.


“Jaga ucapanmu!” lontarku gelagapan.


“Tapi memang begitu faktanya,” sahutnya membela diri. Walaupun demikian aku tetap saja menghiraukan mereka semua. Yang terpenting sekarang adalah aku dapat memulihkan energiku kembali.


Akhirnya kami melanjutkan perjalan setelah setengah jam beristirahat. Aku yang sudah mengisi perut dengan memakan sedikit bekal sehingga aku dapat membawa beban ini kembali di punggungku. Kami mendaki anak tangga tersebut hingga waktu sudah mulai gelap sampai akhirnya kami tiba di tujuan. Untungnya lintasan yang kami lewati sudah tersedia jalan yang cukup lebar dan anak-anak tangga meskipun masih beralas tanah.


“Akhirnya! Kita sampai!” teriak Freda teramat senang. Begitu pula dengan teman-temanku semua.  Tubuhku yang sudah berbau apek akan keringat lekas mengambil beberapa pakaian dan bersiap untuk mandi.


“Hart, di mana kita akan mandi?” tanyaku kepadanya. Hart yang sedang memansang tenda  lalu menjawab pertanyaanku.


“Oh, kau tinggal turun ke bawah sedikit lalu di sana ada sumber mata air,” jawabnya. Di saat itu juga Milard menghampiriku.


“Aku ikut!” ujarnya. Kemudian kami berdua pergi ke sana untuk membersihkan diri.


Sesampainya di sana terdapat sebuah aliran yang tidak terlaru besar terkucur dari atas batu seperti keran. Tempatnya yang cukup terbuka membuatku was-was dan terus waspada. Aku takut jika ada seseorang datang tiba-tiba, terlebih lagi perempuan. Aku tidak mau kejadian waktu lalu terulang kembali untuk ketiga


kalinya.


“Ayo cepat, Milard,” ucapku kepadanya. Kami membersihkan diri bersamaan akan tidak banyak memakan waktu. Sesudah itu kami kembali ke tenda yang sudah dipasang oleh teman-temanku yang lain. Namun Hart dan Eledarn tidak ada di sana.


“Di mana Hart dan Eledarn?” tanyaku kepada Freda.


“Mereka sedang mencari kayu bakar,” jawabnya. Sembari menunggu mereka kembali aku membantu Cassie dan Emery menyiapkan makan malam. Setelah beberapa waktu berselang mereka pun kembali seraya membawa beberapa tumpuk kayu bakar.


Malam yang sejuk dan beratapkan bintang-bintang menjadi kawan kami saat mengobrol asyik melingkari api anggun. Gelak tawa tak lepas dari mulut kami sambil menyantap makan malam. Hari terakhir di tahun yang akan segera berakhir membuat kami menikmati momen yang tak terlupakan ini.


Kami juga bermain beberapa permainan seraya menunggu waktu pergantian tahun. Terlihat kota tersebut dari atas puncak gunung ini. Di sana akan diadakan pelepasan lampion-lampion terbang ke atas langit. Hart dan Freda sudah merencanakannya dari awal supaya kami bisa melihat keindahannya dari tempat ini.


“Aku sudah tidak sabar ingin melihat bintang kuning berterbangan dari sana,” batinku gembira.


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2