
Malam hari dengan hawa yang sangat dingin di luar sana. Tidak banyak orang beraktivitas di luar sana, termasuk kami yang sudah bersiap untuk istirahat. Aku bersama Gandra tengah membicarakan kejadian yang aku alami tadi siang dengan Cassie. Hingga pada akhirnya aku terkejut ketika Gavin yang tiba-tiba saja muncul di depan pintu. Aku terperangah sejenak sebelum akhirnya bertanya pada Gandra. Ia menjawab pertanyaanku dengan santai.
“Oh iya… Aku lupa…”
“Kau seperti tidak bersalah sama sekali, ya,” lanjutku sedikit sebal. Aku yang ingin menutup pintu lantas Gavin masuk ke dalam kamar.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku padanya.
“Tidak masalah kita membicarakannya bersama, kan?” balasnya.
“Huft… Tapi cukup kita saja yang tahu, ya?” ucapku pasrah.
“Loh? Kenapa apa tidak boleh yang lainnya ikut membantu?” ujar Gavin.
“Aku ingin melakukannya sendiri.”
“Oke, oke…” sahutnya tak menghiraukannya.
Kami bertiga tengah asyik membahas bagaimana caranya untuk aku bisa berbicara lagi dengan Cassie. Tanpa sadar hari sudah semakin larut dan aku sudah mulai mengantuk. Gavin akhirnya berpisah dengan kami lalu keluar dari kamar karena ia menempati kamar yang berada di sebelah kamarku.
“Wuah… Capek sekali…” hembusku menguap. Aku berbaring bersebelahan dengan Gandra di atas kasur.
“Tidurlah yang nyenyak, besok mungkin akan lebih melelahkan lagi,” sahutnya yang sudah berbaring sejak tadi.
“Memangnya kita akan ke mana besok?” tanyaku penasaran.
“Tempat yang sudah kau lihat…” gumamnya pelan. Aku yang masih ingin berbicara pada Gandra lantas mengurung niatku karena jam telah menunjukkan tengah malam dan kami harus bangun lebih awal pada esok harinya.
Di lain sisi, beberapa saat sebelumnya Cassie dan Rein juga sedang berada di kamar. Cassie hanya tertunduk murung di atas kasur seraya terdiam tak berkutik memikirkan kejadian tadi siang. Sampai akhirnya Rein memulai pembicaraan dengan bertanya penasaran padanya. Kemudian pembahasan yang mereka bicarakan tidak jauh berbeda denganku.
“Kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Rein kebingungan. Cassie terdiam dan tidak mendengar perkatan Rein. Seraya memasang masker wajah di depan cermin ia berbicara sendiri.
“Tak kusangka Adelard bisa langsung pandai bermain ski dengan cepat…” Cassie yang mendengarnya sontak terkejut dengan wajahnya yang mulai memerah.
“Kau mendengarkanku kan, Cassie?” lanjut Rein. Cassie kembali kaget mendengar perkatan Rein barusan.
“I—Iya…” jawab Cassie gugup.
“Kau tidak apa-apa? Kau sangat berbeda dari yang biasanya,” ujar Rein terheran-heran.
“A—Aku tidak apa-apa…”
“Kau memikirkan tentang tadi siang?” Sontak Cassie tersentak kaget dan merasa malu terhadap Rein yang masih memandang dirinya di depan cermin.
“T—Tidak! A—Aku hanya kelelahan…” lontar Cassie gelagapan.
__ADS_1
“Seharusnya kau sudah tidur kalau mengantuk,” balas Rein yang baru saja memasang masker wajahnya.
“A—Aku tidak bisa tidur…”
“Berarti kau sedang memikirkan itu, kan?” tanya Rein tersenyum seraya beranjak dari tempat duduk. Cassie yang masih tertunduk berusaha untuk tidak menjawab yang sebenarnya, namun ia tak tahu harus menjawab apa.
“Eee… Aku…”
“Tidak apa yang perlu disembunyikan,” sahut Rein sembari mendekatkan wajahnya di sebelah Cassie. Cassie yang mendengar suara itu sangat dekat lantas menoleh ke arah Rein lalu terkejut setengah mati.
“Aaa!” Tampak wajah Rein yang berwarna putih karena masker wajah itu.
“Oh, maaf… Aku tak bermaksud mengangetkanmu,” ucap Rein cengar-cengir.
“Tidak apa-apa… Aku hanya tak mengiranya…”
Gavin yang baru saja keluar dari kamarku lantas mendengar suara teriakan Cassie yang berasal dari dalam kamar mereka. Ia sontak terdiam sejenak lalu menoleh ke kamar yang sudah tertutup rapat itu. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dengan penuh rasa penasaran sekaligus kebingungan.
“Apa yang terjadi padanya?”
“Hmm… Kira-kira bagaimana caranya mereka baikan, ya…” gumam Gavin dalam hati.
Masing-masing dari kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat di waktu yang tidak berjauhan. Malam terasa begitu cepat dan terdengar suara alarm yang berada di sebelahku. Aku dan Gandra langsung terbangun pada saat yang bersamaan. Lalu aku terpikirkan dengan Gavin yang sulit sekali untuk bangun tidur. Aku sangat beruntung kali ini aku tidur bersama Gandra.
“Kutebak Rhean sedang kesal dengan Gavin Si Kerbau itu…” gumamku tersenyum sendiri.
“Kalian semua sudah tahu,” balasku. Beberapa detik kemudian terdengar suara teriakan Rhean dari ruang sebelah.
“Gavin bangun…!”
“Panjang umur…” ujar Gandra pelan.
“Ayo kita lihat ke sebelah!” ajakku bersemangat. Aku dan Gandra berjalan menuju kamar Rhean dan terlihat Gavin yang masih terlelap di atas kasur. Kami menyaksikan mereka berdua dari depan pintu. Rhean berseru tepat di samping telinga Gavin agar ia terbangun, namun seperti yang kuduga bahwa usaha itu hanya akan sia-sia.
“Sampai tahun depan sepertinya tidak akan berhasil,” cetusku ke arahnya.
“Adelard? Gandra? Tolong aku!”
“Yah… Kau harus—” balasku namun terpotong akibat Bella yang tiba-tiba saja muncul dari belakang kami.
“Permisi, tukang air mau lewat!” lontar Bella ceria dengan segelas air di tangannya. Aku dan Gandra langsung memberikan jalan padanya lalu melihat tingkahnya terhadap Gavin.
“Tunggu! Jangan buat kasur ini basah,” pinta Rhean pada Bella.
“Hmm… Ya sudah begini saja,” gumam Bella. Ia mengambil sedikit air ke tangannya lalu mencipratkannya ke wajah Gavin.
__ADS_1
“Cepatlah, bangun…” tuturnya yang lama-kelamaan kesal melihat Gavin yang terus terlelap dan hanya berguling ke kanan dan kiri. Melihat jalan yang buntu tersebut seketika saja terlintas di benak Gandra sebuah cara.
“Aku ada ide, tapi sedikit jahat. Apa tak masalah?”
“Kau tidak akan menyiramnya dengan air dingin terus-menerus, kan?” sahutku yang sedikit curiga padanya.
“Tentu tidak, kita hanya cukup memanfaatkan sisi sensitifnya,” balasnya.
“Apa maksudmu?” tanya Bella kebingungan.
“Tunggu sebentar…” lanjutnya sembari berjalan meninggalkan ruangan menuju dapur. Saat ia kembali tampak sebuah spatula di tangannya. Kami yang melihatnya sontak menjadi sangat cemas terhadap keputusan yang akan diperbuatnya.
“G—Gandra… J—Jangan…” tutur Bella gelagapan.
“J—Jangan pakai kekerasan!” lontarku padanya.
“Aku tidak pakai kekerasan. Apa kalian tidak dengar tadi?” balasnya dan membuat kami terdiam kebingungan.
“Aku hanya ingin memberikan sensasi padanya,” imbuhnya.
“Yah, terserah kau saja… Yang penting jangan macam-macam,” lanjut Rhean.
“Baiklah… Aku cukup melakukannya sekali dan kalian bisa melihat betapa manjurnya cara ini,” ucapnya lalu melakukan aksinya.
“Kalian melihat ini?” tanya Gandra sembari menujuk sebuah tonjolan di celana Gavin.
“Ga—Gandra… Jangan bilang…” ucapku cemas.
“Yap! Cukup hanya dengan satu ketukan,” tandasnya lalu memukul bagian itu dengan kekuatan sedang. Kami yang melihatnya sontak terkejut dan merasa seakan-akan dapat merasakan apa yang terjadi pada Gavin. Gavin langsung terbangun dan menutup bagian tersebut.
“K—Kenapa aku merasa aneh begini?” gumam Gavin seraya menahan sensasi aneh itu.
“Lihat, kan?” lontar Gandra tersenyum ke arah kami.
“Kau tidak apa-apa, kan?” tanyaku khawatir.
“A—Aku tidak apa-apa… T—Tapi…”
“A—Aku tidak bisa menahannya!” Kami yang terkejut melihat celana Gavin basah dan Bella langsung berlari keluar. Aku dan Rhean hanya tercengang dan tak menyangka hal seperti ini akan terjadi.
“S—Seperti itukah efeknya…?” gumamku tak percaya, sementara itu Gandra tergelitik tawa melihat Gavin.
“Hihihi! Kau sangat lemah, Gavin!”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)