
Suasana yang hangat di tengah cuaca yang dingin membuat kabut mengepul cukup tebal. Sangat sulit untuk melihat ujung dari kolam tersebut dari tepi kolam. Aku masih tak percaya dengan kolam yang besar tanpa penghalang sama sekali. Sementara itu, Hart, Gavin, dan yang lainnya merasa sangat senang dan berencana untuk melakukan sesuatu yang aku tak mengerti.
“Mwehehe… Kita berada di surga para lelaki…” dengus Hart tertawa kecil.
“Kalian ingin melakukan apa?” tanyaku kebingungan.
“Kau ingin bergabung?” lanjut Gavin.
“Bergabung untuk apa?” balasku tak habis pikir.
“Ya sudah, ikut kami saja dulu,” sahut Rhean tersenyum lalu aku mengikuti mereka pergi menuju sisi kolam yang dekat dengan mata air.
“Mengapa kita ada di sini?” tanyaku terheran-heran seraya melihat sekitar.
“Kau ini banyak tanya, ya… Tunggu sebentar lagi,” balas Hart.
Di lain sisi, Freda dan kawan-kawan baru saja selesai dari ruang ganti dan tercengang melihat kolam tersebut. Tampak para pengunjung yang berlawanan jenis berendam di kolam yang sama, namun tidak ada seorang pun yang mempermasalahkannya. Cassie menjadi sangat malu dan berusaha menutupi tubuhnya dengan handuk sembari berjalan pelan di belakang mereka.
“K—Kenapa seperti ini…?” tutur Cassie pelan.
“Terlihat seperti taman air, hanya kurang perosotan saja,” sahut Bella.
“Apa tidak apa-apa kita berendam di kolam ini?” lanjut Icha khawatir.
“Tenang saja, akan kuurus mereka kalau mereka meresahkan,” balas Freda.
Setelah membasahi tubuh dengan memasukkan diri ke dalam kolam, mereka berjalan perlahan di sepanjang pinggiran kolam tersebut. Rein dan Freda menjadi sangat penasaran dengan ujung kolam yang tak terlihat jelas, sedangkan yang lainnya terheran-heran melihat mereka berdua yang sangat bersemangat melangkah.
“Kalian mau ke mana?” tanya Bella penasaran.
“Ke ujung, mungkin saja ada mata air. Kalian ingin ikut?” balas Rein.
“Wah, sepertinya akan lebih baik di sana,” sahut Icha yang sudah tak sabar.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita sama-sama ke sana,” ajak Freda.
Aku bersama Hart dan kawan-kawan telah berada di mata air itu. Aku berdiri di bawah pancuran air hangat yang mengalir. Seluruh tubuhku terasa hangat tanpa harus menenggelamkan diri. Begitu pula yang dilakukan teman-temanku yang juga berdiri di bawah beberapa mata air itu. Terdapat banyak mata air yang mengalir di atas bambu yang berjajar.
“Air pegunungan memang terbaik…” gumam Gavin lega.
“Berbeda dengan pemandian di kota,” sahut Rhean. Tidak lama kemudian terlihat beberapa sosok yang datang ke arah kami namun tak jelas rupanya.
“Ada yang datang,” ucapku memfokuskan pandangan dan kebingungan.
“Nah, sekarang saat yang ditunggu-tunggu!” balas Hart bersemangat.
“E—Eh? Saat apa? Apa yang akan kita lakukan?” lanjutku bertanya-tanya.
__ADS_1
“Kita akan memberikan kejutan,” jawab Gandra.
“Ikuti aba-abaku!” tandas Hart.
Sosok-sosok itu semakin mendekat dengan kami dan mereka mulai jelas terlihat. Pada saat yang bersamaan Hart langsung memberikan tanda dan membuatku terkejut.
“Sekarang!” Semuanya langsung menenggelamkan diri masuk ke dalam air itu. Aku yang kebingungan lantas langsung mengikuti mereka.
“Itu dia mata airnya!” lontar Icha senang. Rein dan yang lainnya dengan penuh semangat mempercepat langkahnya menuju tempat itu. Freda terdiam sejenak dan terlintas sebuah pikiran tentang kami yang belum kunjung terlihat sejak tadi.
“Hmm… Aneh, mereka semua di mana?” gumamnya. Pada saat yang bersamaan ia melihat beberapa benda berada di dalam air.
“Itu bukan batu, kan?” lanjutnya terheran-heran dan curiga.
Rein dan kawan-kawan mendekat sementara itu aku dan yang lainnya berada di bawah air seraya menahan napas dengan waktu cukup lama. Aku merasa cemas karena mereka tidak kunjung naik ke permukaan. Pada saat yang bersamaan aku juga merasa takut untuk muncul seorang diri. Freda yang tidak ambil pusing lantas ikut mendekati kami bersama kawan-kawannya.
“Mau sampai berapa lama…?” gumamku dalam hati. Beberapa detik kemudian terlihat tubuh perempuan dengan jelas di hadapanku. Aku yang melihatnya sontak diam terperangah dan tak menyangkanya. Dengan cepat aku langsung menutup kedua mataku.
“Apa yang aku lihat barusan?” benakku panik.
Hart memberikan tanda berikutnya dengan memegang tangan kami satu sama lain. Hingga akhirnya ia beranjak muncul ke permukaan dan kami mengikutinya. Tampak Cassie berada di hadapanku dan membuat mereka semua terkejut.
“Aaa! Mesum!” lontar Bella terkejut dan langsung menutupi dirinya dengan handuk. Cassie yang tercengang sontak berpaling dan menjauh dari kami.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” gerutu Freda kesal.
“Lalu, untuk apa kalian tenggelam lalu mengejutkan kami?” lanjutnya.
“Yah… Kami hanya ingin memberikan kejutan…” balas Hart tanpa cengar-cengir.
“Aku tahu niat kalian yang sesungguhnya…” ucap Freda geram.
“Kenapa kau mengikutinya?” tanya Rein yang juga jengkel kepadaku.
“A—Aku hanya mengikuti mereka. A—Aku tidak tahu sama sekali tadi!” jawabku gelagapan.
“Siapa suruh tidak pakai handuk,” cetus Hart.
“Kalian harusnya mengikuti Cassie,” lanjut Rhean. Mereka melakukan pembelaan, sedangkan aku hanya bisa menyaksikannya.
“Kalian ini, ya!” gerutu Freda yang sudah berada di ujung tanduk.
Aku, Hart, dan yang lainnya berjalan menuju sisi lain dari kolam tersebut. Mereka mengusap-usap pipi mereka yang terasa sakit. Aku yang masih tak menyangkanya hanya bisa melihat mereka dengan penuh rasa heran. Terlihat wajah mereka tampak tidak senang dan berjalan lesu.
“Kalian tidak apa-apa?” tanyaku cemas.
“Tentu saja tidak! Kau sangat beruntung!” balas Hart yang jengkel terhadapku, berikut yang lainnya yang tidak merasa senang denganku.
__ADS_1
“M—Maaf…” lanjutku pelan.
Rein dan kawan-kawan mengambil alih tempat mata air itu. Mereka sedang membicarakan tingkah kami yang melewati batas. Freda masih merasa sangat kesal terlebih lagi pada Hart. Ia terus bergumam sendiri sembari mengepal tangannya lalu memukul air itu.
“Tenangkan dirimu, Freda,” ucap Bella.
“Apa kalian gila? Mereka sudah melakukan hal seperti itu!” lontar Freda pada mereka.
“Sudahlah… Lagi pula kita sudah memberikan mereka pelajaran,” sahut Icha.
“Sekalinya mereka begitu lagi, tidak akan kuberi ampun!” dengusnya. Cassie hanya terdiam bagai patung dengan penuh rasa malu akibat kejadian tadi.
“Kau tidak melakukannya pada Adelard?” tanya Rein pada Cassie.
“Aku tidak berani…” jawab Cassie gugup.
“Kau selalu seperti itu. Sekali-kali kau harus melawan, jangan diam saja saat diserang,” balas Rein.
“M—Maaf… Aku tidak bisa…” tutur Cassie.
“Lagi pula Adelard itu kan pacarmu, seharusnya kau yang membalasnya,” sahut Bella dan membuat Freda terkejut setengah mati.
“Ada Gavin di depanku, aku juga sangat kesal padanya,” balas Rein.
“Tadi kau bilang Adelard pacarnya Rein?” tanya Freda tak percaya.
“Iya, aku pacarnya,” lanjut Rein. Freda yang mendengarnya sontak tercengang dan tak habis pikir dengan jalan pikiranku. Ia bergumam kesal dengan rasa penuh tak percaya terhadap diriku.
“Kenapa kau malah…”
Setelah menghabiskan waktu di pemandian air hangat itu. Kami pun kembali menuju vila dengan Freda dan Hart yang ikut bersama kami.
“Apa kalian sudah menyewa tempat untuk tinggal?” tanya Rein pada Freda.
“Kami hanya memesan hotel satu malam kemarin. Untuk sekarang kami belum menemukan tempat baru,” jawab Freda.
“Oh, jadi itu sebabnya kalian membawa tas lebih besar dari tadi,” gumam Bella.
“Bagaimana kalau mereka ikut tinggal di vila kita?” usulku tiba-tiba.
“Wah, ide bagus! Di sana masih sangat luas,” Gavin bersemangat. Semua orang pun setuju namun Freda merasa tak enak hati untuk menerimanya.
“Tidak masalah. Inilah gunanya teman!” balas Rhean pada mereka. Freda akhirnya menerima dengan senang hati.
“Terima kasih banyak!”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)