Love Exchange

Love Exchange
Episode 181 : Panorama Malam Pedesaan


__ADS_3

Malam hari tiba dengan sinar rembulan yang menerangi permukaan. Tampak lampu-lampu di luar menghiasi langit desa. Aku yang melihatnya dari balik jendela lantas terpukau takjub. Lampu yang berkelap-kelip dengan penuh warna berwarna terang menerangi setiap sudut rumah-rumah. Aku berniat untuk pergi keluar menikmati pemandangan malam setelah bersantap nanti. Beberapa detik kemudian terdengar suara Bella yang penuh girang melihat pohon natalnya telah dihias sedemikian rupa.


“Wah! Indah sekali!”


“Huft… Agak melelahkan, ya,” hembus Rhean sembari mengusap wajahnya.


“Akhirnya selesai…” gumam Gavin. Mereka semua mengistirahatkan diri dengan duduk di atas sofa. Aku baru datang dari atas kemudian melihat pohon yang indah tersebut berkelap-kelip dengan lampu yang warna-warni dan hiasan gantung lainnya.


“Waw, bagus!” lontarku tak mengiranya.


“Kau dari mana saja? Kami yang mengerjakan semuanya,” balas Hart.


“Maaf, maaf, aku keasyikan melihat luar tadi,” lanjutku cengengesan. Bella masih terperangah dan terus memandang pohon tersebut.


“Oh iya, nanti kita melihat-lihat ke luar, yuk!” ajakku bersemangat.


“Aku capek,” sahut Rhean.


“Kau bantu mereka masak, ya,” lanjut Gavin.


“Baiklah, baiklah…” balasku.


Aku menghampiri Rain dan kawan-kawan yang sudah berada di dapur untuk menyiapkan santap malam. Setelah itu, kami semua menyantapnya bersama-sama. Icha menyetel lagu santai dengan sebuah pemutar lagu di ruangan itu. Kami mengobrol hangat dengan tunggu perapian yang menyala terang. Saat semua piring habis dan bersih, banyak dari mereka tampak mengantuk terlebih akibat lagu yang menenangkan.


“Kalian tidak ada yang mau keluar?” tanyaku.


“Wuah… Aku mengantuk…” balas Hart seraya menguap, begitu pula dengan yang lainnya menjawab serupa. Aku menghampiri para perempuan untuk dapat berjalan di luar bersamaku.


“Apa kalian ada yang mau ikut bersama keluar?” ajakku.


“Aku tidak dulu… Tanganku terasa pegal semua gara-gara tadi siang,” jawab Freda sembari meregangkan tangannya.


“Aku juga, malam ini aku ingin bersantai di rumah saja,” sahut Icha, sementara itu Bella tidak menghiraukanku dan selalu asyik sendiri dengan pohon itu.


“Serasa dunia sendiri, ya…” gumamku tersenyum. Saat aku melihat sekitar, Rein dan Cassie tidak tampak di pandanganku.


“Di mana Rein dan Cassie?” ujarku kebingungan.


“Mereka sudah naik ke kamar sepertinya,” jawab Freda ragu.


“Sepertinya hanya aku seorang yang keluar,” desisku yang kemudian meninggalkan mereka menuju pintu depan.


Aku mengambil jaket tebal yang menggantung di tiang gantungan. Aku mengenakan semua pakaian tebal karena di luar tampak sangat dingin. Selepas itu, aku membuka pintu lalu melangkah keluar. Aku terkejut dengan hawa yang sangat dingin di luar dugaanku. Aku merasakan hembusan angin yang berbeda dari biasanya.


“Brr… Dingin sekali… Apa akan hujan?” benakku.


Pada saat yang bersamaan tampak indahnya panorama desa dengan lampu-lampu yang mewarnai gelapnya malam. Aku ditakjubkan kembali dengan pemandangan tersebut walaupun aku sudah melihatnya dari dalam rumah. Tidak banyak orang yang kulihat. Situasi di luar tidak seramai tadi siang. Aku melangkah perlahan sembari melihat sekeliling.


“Wah… Inikah desa sinterklas…?” gumamku terperangah. Lampu-lampu kuning dari dalam rumah menambah estetika desa tersebut. Aku merasa seperti benar-benar berada di dalam dunia sinterklas. Aku berlari dengan girang lalu berbaring di atas pasir putih sembari mengepak-ngepak tangan dan kaki.


“Damai sekali di sini…” hembusku bahagia. Tampak dalam pandangan butiran-butiran bintang di atas sana. Tidak lama berselang aku melihat butiran lainnya yang jatuh ke wajahku yang ternyata adalah salju yang turun dari langit.

__ADS_1


“Turun salju…!” ujarku girang.


Aku kembali beranjak lalu berjalan melihat sudut pedesaan yang indah. Tidak lama aku melangkah, terlihat sebuah toko minuman yang terdengar ramai dari dalam sana. Aku yang penasaran lantas datang menghampirinya lalu masuk ke dalam. Betapa terkejutnya aku ketika melihat ramainya pengunjung yang datang ke sini. Terlihat mereka yang sedang berulang dan bersenang-senang bersama. Beberapa detik kemudian seorang pelayan menawarkan minuman yang ada di nampannya.


“Maaf, aku tidak minum. Air putih saja,” balasku.


“Oh, air putih kau bisa mengambilnya di sana,” balasnya. Aku berjalan menuju tempat pramutama yang sedang menunjukkan atraksinya di depan para pengunjung. Aku menyaksikannya sembari duduk di depan meja yang panjang itu. Tanpa sadar ternyata ada pria yang ku jumpai tadi siang.


“Halo! Kau di sini juga rupanya!” lontarnya yang kemudian meneguk minuman hingga habis.


“Iya, aku penasaran dari luar. Tak kusangka ternyata ramai sekali,” balasku tersenyum.


“Tempat ini memang selalu ramai. Apalagi saat musim dingin pastinya tambah ramai,” ujarnya.


“Kau ingin minum?” imbuhnya menawarkanku.


“Aku tidak minum,” jawabku.


“Oh begitu… Sayang sekali…” balasnya.


“Di mana teman-temanmu?” lanjutnya bertanya.


“Di rumah, mereka semua ingin istirahat,” jawabku.


“Yah… memang cukup melelahkan pekerjaan tadi siang,” hembusnya cengengesan.


“Kau tidak berisitirahat?” tanyaku kebingungan.


“Oh iya, namaku Adelard,” ucapku cengar-cengir.


“Wah iya, kita lupa berkenalan! Hahaha!” lontarnya tertawa.


“Aku Gled!” lanjutnya bersemangat.


“Salam kenal, Pak Gled!”


“Hahaha! Aku seperti sudah tua saja. Tapi tidak apa,” balasnya gembira. Kami melanjutkan obrolan dan canda tawa bersama. Hingga akhirnya aku berniat untuk kembali melanjutkan langkahku mengelilingi desa.


“Wah, seru sekali mengobrol denganmu,” ucapku senang.


“Aku juga, kau ternyata nyambung dengan pembahasan orang tua, ya!”


“Aku ingin kembali melihat-lihat luar, sampai jumpa.”


“Dadah!”


Aku melangkahkan kaki di tengah jalan pedesaan yang cukup lebar. Aku merasa berada di duniaku sendiri. Terdapat beberapa toko dari kejauhan. Aku menjadi penasaran dan langsung berlari ke sana. Aku melihat sebuah toko boneka yang menarik perhatianku. Pada saat yang bersamaan aku berniat untuk membelikan Rein hadiah.


“Selamat datang!” sambut pelayan toko.


“Boneka apa yang cocok untuk hadiah?” tanyaku.

__ADS_1


“Hadiah untuk siapa? Pasangan? Teman?” lanjutnya.


“Pasangan,” jawabku.


“Wah, serasi sekali. Kalian tepat berkunjung ke desa ini saat liburan musim dingin,” ujarnya senang. Aku hanya cengar-cengir sembari menahan rasa malu terhadapnya.


“Aku menyarankan ini. Kau tinggal pilih yang menurutmu cocok,” ucapnya seraya mengeluarkan beberapa boneka ke atas meja. Aku menjadi kebingungan karena diberikan sebuah pilihan.


“Hmm… Aku jadi bingung…” gumamku.


“Kalau boleh tahu, seperti apa pasanganmu?”


“Aku tidak tahu menjelaskannya.”


“Sepertinya kau tampak baru berpasangan dengannya, ya?”


“Bagaimana kau tahu?”


“Dari sikapmu dan jawabanmu aku sudah bisa menebaknya.” Aku menjadi bingung terhadap diriku yang mudah dibaca oleh siapa pun.


“Kenapa semua orang bisa menebakku? Apa wajahku beda dari yang lain?” gumamku kebingungan dalam hati.


“Tidak perlu bingung-bingung. Ada beberapa orang yang mirip sepertimu yang pernah ku layani,” ucapnya.


“Apa dia membaca hatiku?” benakku terheran-heran.


“Ini, kuharap kalian bisa semakin dekat dan kenal satu sama lain,” ujarnya tersenyum sembari memberikan sebuah kantung. Aku yang melihatnya lantas terkejut dengan sebuah kotak di dalamnya.


“E—Eh? Kau membuatnya menjadi kado?” tanyaku tak percaya.


“Tentu, namanya saja hadiah!” balasnya tersenyum.


“Terima kasih banyak!” lontarku senang. Aku membayarnya lalu pergi menuju pintu keluar dengan perasaan senang.


“Selamat jalan! Harap berbelanja lagi!” sahutnya.


Aku tersenyum-senyum sendiri di sepanjang jalan. Sesekali aku melihat kotak tersebut dan tak sabar untuk memberikannya pada Rein. Beberapa detik kemudian salju yang turun semakin banyak. Akhirnya aku memutuskan untuk langsung melangkah ke rumah. Pada saat yang bersamaan ada seseorang yang menabrakku dari belakang dan tampak roti-roti yang berhamburan.


“M—Maafkan aku!” lontarnya dengan kepala tertunduk. Aku tidak dapat mengenali wajahnya itu lantas ikut mengambil rotinya. Tiba-tiba saja tangan kami saling berpegangan satu sama lain.


“M—Maaf!” ucapku tak enak hati.


“Apa mau ku ganti dengan yang baru?” tanyaku.


“Ti—Tidak perlu. R—Roti ini tidak kotor, kok.” Aku yang mendengar suaranya sontak menjadi teringat dengan seseorang.


“Suara mirip seseorang…” gumamku. Seketika saja aku teringat sosok dari suara tersebut.


“K—Kau Cassie?”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2