
Hari gulita kami masih duduk berdua di dekat api unggun. Suasana sekitar tampak sepi dari orang-orang. Cassie yang tidak menyangka akan perkataanku lantas hanya tertunduk diam, sementara aku menjadi panik sendiri dengan pikiranku yang campur aduk. Jantungku berdetak sangat cepat serta diriku menjadi penuh dengan keringat dingin.
“Astaga! Aku berpikir kalau aku sedang bicara dengan Freda,” gumamku kesal pada diri sendiri.
“Apa yang harus ku lakukan sekarang? Apa masih bisa ditarik kembali?”
“Tapi bukannya bagus kalau sesama kita sudah saling mengetahui?”
“Aaahh!! Andai saja waktu bisa diputar lagi. Sekarang bukan waktu yang tepat!” Hingga akhirnya terlintas di benakku untuk mengucapkan sebuah alasan.
“M—Maaf! Aku tadi keceplosan!” lontarku gugup. Cassie yang mendengarnya terkejut lalu menoleh ke arahku seraya mengelap wajahnya. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Aku tidak bisa membaca wajahnya yang tampak sedih di pandanganku.
“Aku harus mengatakan apa lagi?” batinku panik sendiri.
“A—Aku tidak bermaksud untuk…” ucapku namun terpotong oleh rintihan Cassie yang membuatku merasa iba.
“J—Jadi… itu… tidak benar…?” tuturnya tersedu-sedu. Aku menjadi semakin bingung untuk menjawab apa. Aku benar-benar merasa kesal terhadap diriku sendiri.
“E—Eh? Eee… Itu…” balasku gelagapan. Ia terus memandangiku dan membuatku semakin tersudutkan untuk berkata-kata.
“I—Itu benar…” ujarku pelan sembari menahan rasa malu.
“Pengungkapan rasa macam apa ini?” teriakku dalam hati. Cassie yang mendengarnya sontak merasa lega dan terpasang senyuman di bibirnya. Baru pertama kali aku mengalami hal seperti ini. Aku tidak tahu harus bereaksi apa saat ini. Seakan-akan rasa senang, kesal, kecewa, dan sedih bercampur menjadi satu. Beberapa detik kemudian akhirnya Cassie mengeluarkan kata-katanya.
“Kau tahu… Aku sudah lama mempunyai rasa…” tuturnya pelan dengan kepala yang tertunduk ke bawah. “Bagaimana denganmu?” imbuhnya penasaran.
“Kalau aku… Entahlah… Mungkin aku yang tidak menyadarinya…”
“Kau benar-benar tidak peka, ya…”
“Aku tidak menyangka kalau kau mengerti tentang hal percintaan,” ucapku cengar-cengir.
“Aku banyak tahu dari film, novel… Freda juga…”
“Dia banyak mengajarkanmu banyak hal sepertinya.”
“Yah… Meskipun dia banyak sekali bicara…”
“Tapi sungguh, aku tidak menyangka kalau sifat aslimu benar-benar seperti ini,” lanjutku tak percaya.
“Mungkin kebanyakan dari orang tertutup juga seperti ini…”
Tanpa sadar kami sudah menghabiskan banyak waktu di sini. Aku baru teringat saat ada orang lain yang berjalan melewati kami menuju sisi timur api unggun. Ternyata Cassie juga sama sepertiku. Akhirnya kami beranjak lalu bergegas menuju tempat makan yang sudah dipenuhi orang-orang. Setibanya di sana, kami kesulitan mencari teman-teman kami. Tiba-tiba saja muncul Pak Gled dari belakang dan membuat kami terkejut.
“Kalian sudah mencoba semua hidangan di sini?” ujarnya bersemangat.
“Belum, kami baru saja sampai,” jawabku.
__ADS_1
“Oh, kalian belum memakan satu pun makanan di sini?” Kami berdua membalasnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
“Kalian hampir saja melewatkan kesempatan besar setahun sekali ini. Untung saja hidangannya sangat banyak. Cepat, jangan sampai kehabisan!”
“Kami sedang mencari teman-teman,” balas Cassie.
“Ah! Tadi aku melihat salah satu teman kalian pergi ke arah sana,” lanjut Pak Gled dengan wajah gembira.
“Baiklah, terima kasih,” ucapku menyeringai.
“Sama-sama. Aku ingin lanjut ke hidangan lainnya,” balasnya.
Akhirnya kami berdua berpisah dengan Pak Gled. Ia pergi menuju meja hidangan yang belum didatanginya. Saat kami sudah berada cukup jauh darinya, sontak ia meneriaki kami.
“Jangan lupa mencoba semuanya juga, ya!”
“Oke!” sahutku.
Kami berjalan melitasi banyak meja makan yang penuh dengan orang-orang. Mereka tampak sangat bergembira dan sangat berapi-api untuk menghabiskan makanan yang ada di hadapan mereka. Beberapa dari mereka melakukan beberapa atraksi saat menyantapnya. Ada pula yang melakukan tantangan dengan sebuah permainan untuk menentukannya. Aku merasa sangat senang dan hal tersebut merupakan pengalaman yang takkan pernah kulupa.
“Seru sekali di sini…” gumamku tersenyum lebar.
“Aku belum pernah melihat pesta sehangat ini sebelumnya…” tutur Cassie senang.
Terlihat teman-temanku yang sedang bersenang-senang dari kejauhan. Kami yang sudah tak sabar lantas berlarian mendantangi mereka. Aku yang tidak fokus dengan sekitar seketika saja terdapat seseorang dengan nampan muncul di hadapan kami. Aku yang terkejut langsung menarik Cassie yang tidak menyadarinya. Hampir sama kami menabraknya.
“Santai saja, Bung!” lontar pria tersebut.
Saat kami menghampiri mereka, tampak hidangan yang sudah tersisa sedikit di atas meja. Freda yang pertama kali melihat kami kemudian menyapa kami, lalu yang lainnya ikut menoleh ke arah kami.
“Kalian dari mana saja?” tanya Freda kebingungan.
“Tadi kami rehat sebentar di dekat api unggun,” jawabku. Seketika semua orang tampak sedikit terkejut lalu menatap kami dengan rasa curiga.
“Apa yang kalian lakukan di sana?” tanya Rein.
“Kami hanya duduk sambil ngobrol-ngobrol…” balas Cassie gugup. Aku yang melihat Cassie lantas merasa buncah.
“Loh? Dia kembali seperti biasa lagi?” gumamku dalam hati.
“Baiklah,” sahut Gavin. “Ayo kita ambil makanan lagi! Mumpung sudah ada Adelard dan Cassie,” imbuhnya mengajak kami semua.
“Kalian yang ambil saja, kami menunggu di sini,” balas Icha.
“Kalian hanya ingin enaknya saja, ya,” cetus Rhean.
“Eh? Siapa bilang? Kami sudah memasak, tahu!” lontar Bella kesal.
__ADS_1
“Baiklah, baiklah…” lanjut Gandra dengan wajah tidak peduli pada Bella. Bella menjadi sebal terhadap kami.
Kami para laki-laki memiliki tugas untuk mengambil hidangan lalu membawanya kembali ke meja ini. Mereka semua dengan cepat langsung bergegas dan berpencar. Terlihat wajah mereka yang sangat bersemangat untuk mencoba segala hidangan.
“Kau tunggu di sini saja…” ucapku pelan.
“Baiklah…” balasnya yang juga pelan. Mereka yang melihat kami lantas menjadi kebingungan dan penuh rasa penasaran. Aku yang merasakan perasaan tak enak lantas langsung berjalan meninggalkan mereka dan melakukan tugasku. Aku yang sudah berada cukup jauh dari meja sontak menarik napas lega.
“Huft… Hampir saja… Maafkan aku, Cassie…”
Di lain sisi, Cassie di hadapkan oleh Rein dan kawan-kawan. Cassie menjadi ketakutan terhadap mereka. Mereka menatapnya dengan tatapan tajam. Kini Cassie seolah-olah sedang diinterogasi oleh mereka. Bella dan Icha mengetepikan piring-piring lalu mereka memulainya.
“Cassie, apa kau mau menceritakannya?” tanya Rein penasaran.
“C—Cerita apa…?” balas Cassie gemetaran.
“Tadi kau bersama Adelard, kan? Apa kalian membicarakan sesuatu?” sahut Bella yang juga penasaran.
“K—Kami hanya membicarakan tentang sekolah kami,” jawab Cassie.
“Hmm… Benarkah? Tidak ada pembicaraan lain?” ujar Freda.
“T—Tidak! K—Kalian tidak percaya padaku” ucap Cassie merasa tidak nyaman.
“B—Bukan begitu! Aku hanya ingin tahu tentang Adelard. Mungkin saja kau ingin menceritakannya,” balas Rein yang merasa panik dan bersalah terhadapnya.
“Kalian sudah kenal dengannya, kan?” tutur Cassie.
“Yah… Memang alien itu tidak jelas, sih,” celetuk Freda.
“Alien?” tanya Rein kebingungan.
“Agak panjang untuk dijelaskan, tapi mungkin kalian sudah melihatnya sendiri kalau dia bisa melakukan apa saja,” papar Freda.
“Oke, itu sudah sangat menjelaskan,” sahut Icha.
Waktu terus berputar dan para lelaki itu belum kunjung kembali. Mereka yang kebingungan lantas hanya bisa menunggu seraya memainkan ponsel mereka.
“Aku ingin ke toilet dulu. Kau ingin ikut, Cassie?” ucap Freda.
“Iya…” balas Cassie. Kemudian mereka berdua meninggalkan meja dan pergi menuju kamar kecil yang berada di tepi tempat makan yang luas ini. Sesampainya di sana, Freda melanjutkan pertanyaan yang penuh dengan rasa penasaran.
“Aku tahu kalau kau dan Adelard bukan membicarakan itu. Apa aku boleh mengetahuinya?” desis Freda. Cassie terdiam sejenak lalu ia mengatakan yang sebenarnya dengan suara sangat pelan.
“Kami saling mengungkapkan…” Freda langsung tercengang setengah mati mendengarnya. Dengan spotan ia berteriak kaget sekaligus tak percaya.
“Hah?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)