
Hari lomba drama tingkat nasional kali ini disambut baik dengan cerahnya mentari pagi. Tahun ini kota kami menjadi tuan rumah perlombaan. Aku, Emery, dan anggota klub drama yang lain sudah berada di dalam ruang persiapan yang telah dipersiapkan oleh panitia. Kami pun bersiap dan berlatih ringan mengulang kembali tiap-tiap adegan.
Sementara itu Milard sedang menunggu Hart dan Freda di stasiun yang tidak jauh dari sekolah. Rencananya mereka bertiga akan datang menuju Teater Kesenian Snitheria. Selang beberapa waktu kemudian akhirnya Hart dan Freda datang menghampiri Milard.
“Kalian lama sekali.” keluh Milard yang telah cukup lama menunggu.
“Maklum…Tante-tante ini ingin tampil cantik hari ini.” sindir Hart kepada Freda.“Berisik!” pungkas Freda kesal.
“Kau bawa tiketnya, kan? tanya Milard kepada Freda. “Tentu, tiga tiket sudah siap!” jawabnya bersemangat sambil menunjukkan tiket itu. “Sebenarnya aku tadi mencari tiket cukup lama. Hehe…” tambahnya menyeringai sembari menggaruk kepalanya.
“Heleh, alasan.” ucap Hart pelan namun terdengar oleh Freda. “Apa?” lontar Freda dengan nada tinggi. Lantas mereka berdua saling bertatap-tatapan dengan penuh risih.
“Sudah-sudah, ayo kita segera berangkat sebelum terlambat.” ajak Milard sekaligus melerai mereka berada di ambang sabarnya. Mereka pun berangkat dari stasiun itu menuju stasiun teater kota, waktu yang ditempuhnya sekitar setengah jam. Selama itulah mereka menghabiskannya dengan mengobrol bersama.
“Kira-kira bagaiamana dengan Adelard, ya?” tanya Freda penasaran.
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti.” jawab Hart.
Sesampainya di stasiun tujuan, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dari kejauhan terlihat jelas gedung teater yang begitu besar seperti stadion sepak bola. Kerumunan dan huru-hara yang padat menjadi perhatian kedua mereka setelah gedung tersebut.
“Patut saja kota ini menjadi tuan rumah.” cetus Hart ternganga.
“Wah, besar sekali.” ucap Freda.
“I—Ini teater atau stadion?” tanya Milard heran dan terdiam.
“Selama ini kita ke mana saja?” cakap Freda.
“Rumah, sekolah?” balas Hart bingung. Sedangkan Milard masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Yah… Benar juga sih.” lanjut Freda.
__ADS_1
“Ayo kita langsung masuk ke dalam!” ajak Milard bersemangat dan sudah tidak sabar untuk menyaksikan pertunjukkan.
Di sisi lain, aku dan lainnya masih bersiap-siap. Tidak lama kemudian acara pembukaan dimulai dan kami menyaksikannya dari layar televisi di dalam ruang ini. Selama pembukaan itu juga urutan pementasan akan diundi. Dengan terkejutnya kami melihat bahwa kami akan tampil pertama. Tak lama kemudian seorang panitia membuka pintu dan memberi tahu kami.
“Kalian bersiap-siap, ya! Kalau sudah segera menuju ke belakang panggung.”
Keadaan menjadi tegang dan kami semua berharap agar pertunjukkan berjalan lancar. Terdengar keramaian para penonton dari balik panggung. Sebelum itu kami berkumpul untuk melakukan yel-yel yang dipimpin oleh Emery.
“Klub Drama SMA Snitheria—”
“Pasti bisa!” lontar kami serentak. Kami pun salaing menyemangati satu sama lain. Tidak lama kemudian properti siap dan tirai mulai membuka perlahan. Kami pun merpentunjukkan drama roman tersebut. Namun sebelum itu pembawa acara menyambut kami dan di saat bersamaan sorak-sorai meriah bergaung keras.
“Mari kita saksikan, pertunjukkan drama berjudul, Pangeran Kesatria dan Pita Merah!”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)