
Sore hari dengan langit jingga kemerahan dan mentari yang membulat besar. Keramaian ornag-orang yang berlalu-lalang, gedung-gedung yang berdiri kokoh di sepanjang jalan, dan kendaraan yang membisingkan telinga, menjadi pemandangan kami berempat yang sedang berjalan pulang. Aku, Gandra, dan Rhean masih sedikit syok dengan pernyataan Gavin yang menyukai Cassie. Sepanjang kami berjalan, kami juga mengobrol dan membahas tentang pernyataannya tadi.
“Sejak kapan kau menyukainya?” tanyaku penasaran.
“Sejak pandangan pertama…?” jawab Gavin dengan ragu. Pada saat itu juga aku menyadari sesuatu dan teringat dengan peristiwa ketika Cassie kesal terhadapnya akibat saling bersandar di sofa.
“Oh, jadi itu sebabnya ia melakukan seperti itu,” gumamku dalam hati.
“Apa hari ini juga aku harus mengungkapkan perasaanku kepadanya?” tanya Gavin bimbang.
“Jangan langsung begitu! Kau harus mendekatinya pelan-pelan, sampai dia benar-benar mau menerimamu,” lontar Rhean.
“Istilahnya jangan terlalu agresif,” lanjut Gandra dengan tenang.
“Jadi aku harus bagaimana? Aku takut dia akan marah lagi kepadaku,” tanya Gavin murung. “Apa kau tahu, Adelard?” imbuhnya lagi.
“Loh, aku? A—Aku tidak tahu sama sekali. Ini juga pertama kalinya bagiku,” jawabku gelagapan.
“Kalau begitu, bagaimana dengan kalian?” tanya Gavin kepada Gandra dan Rhean.
“Entahlah. Aku juga belum pernah berpacaran,” jawab Rhean sembari berpikir dan menatap ke atas. Lalu Gandra juga menjawab serupa.
“Tapi aku pernah memainkan gim galge, mungkin aku bisa memberi tahumu dari gim tersebut,” papar Gandra kepada Gavin.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kau langsung memainkannya saja?” usulku.
“Wah, benar juga,” balasnya.
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi mampir ke toko permainan gim. Sesampainya kami di toko tersebut, terlihat berbagai kaset gim yang dipanjang di sepanjang etalase. Kami semua berkeliling dan mencari gim yang kami inginkan. Tak lama kemudian Gandra menemukan sebuah permainan yang sekiranya cocok untuk Gavin mainkan.
“Nah, ini dia. Bagaimana kalau ini saja?” ucapnya kepada kami semua.
“Coba aku lihat,” sahut Gavin, kemudian Gandra memberikan kaset tersebut kepada Gavin. Gavin yang tidak terlalu mengerti dengan genre tersebut lantas bertanya kepada Gandra. “Apa yang membedakan gim ini dengan gim yang lain?” Ia juga sembari melihat-lihat kaset gim yang berjenis sama.
“Yah… Aku belum memainkannya, sih… Tapi menurut orang-orang gim itu masuk ke rekomendasi,” jawabnya sedikit ragu.
“Baiklah kalau begitu,” balas Gavin.
Ia juga memilih beberapa kaset gim lainnya untuk di beli. Tidak jauh dari tempat mereka berada, terdapat sebuah etalase yang berisi gim petualangan yang menarik perhatianku. Setelah melihat-lihat, aku pun menemukan gim yang selama ini ingin kubeli, namun aku baru sempat lantaran ada saja kesibukan menyertaiku.
“Gim apa itu, Adelard?” tanya Rhean penasaran.
“Petualangan fantasi. Aku menyukainya.” jawabku tersenyum.
__ADS_1
“Wah, tidak kusangka orang sepertimu menyukai gim,” sahutnya cengengesan. Masing-masing dari kami kemudian membeli gim yang kami inginkan. Selepas keluar dari toko, kami melanjutkan perjalanan menuju asrama. Gavin sudah tidak sabar untuk memainkannya.
“Oh iya, aku akan sering main ke asrama kalian, tidak apa-apa, kan?” pinta Gavin kepada Gandra dan Rhean. “Tidak masalah, kita bisa main bersama-sama,” jawab Rhean tersenyum. Sontak terpikirkan dibenakku tentang sesuatu yang terus terbayang di kepalaku.
“Ngomong-ngomong, konsol itu punya siapa?” tanyaku penasaran.
“Punyaku,” jawba Gandra.
“Kau membawanya dari rumahmu?” lanjutku sedikit terkejut.
“Ya.”
Setibanya di asrama, aku dan Gavin singgah di asrama Gandra dan Rhean. Saat membuka pintu, ternyata tidak ada seorang pun di dalam. Cassie dan kekawanannya belum kembali. Kemudian kami berempat masuk ke dalam dan bermain gim konsol. Gavin mencoba gim galge yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh Gandra.
“Oh, jadi seperti ini gimnya…” lontar Gavin.
“Seperti animasi kartun yang biasa tampil di televisi, ya,” lanjutku.
“Iya. Bahkan ada beberapa gim seperti ini yang diadaptasi dari komik, animasi, atau film. Begitu juga sebaliknya,” jelas Gandra.
“Jadi, apa yang harus ku lakukan sekarang?” tanya Gavin kepada Gandra, lalu Gandra menjelaskannya.
“Kau cukup mengikuti alurnya saja. Nanti akan ada pilihan jawaban yang mempengaruhi alur cerita, dan kau harus memilihnya dengan tepat supaya mendapat good ending. Mungkin jelasnya kau akan mengetahui seiring bermain gim ini.”
Kami bertiga menyaksikan Gavin yang tengah bermain, sesekali kami juga ikut membantu memberi tahu pilihan yang menurut kami tepat. Tak jarang juga kami berempat saling berdebat tentang pilihan tersebut. Waktu berselang, langit telah menghitam gelap dan hari sudah malam. Terdengar suara langkah demi langkah yang berasa dari luar.
“Eh, eh… Mereka sudah datang,” lontar Rhean panik. Kami semua lantas merapihkan gim-gim yang telah kami beli dan Gavin langsung menyimpan permainan dan mematikan konsol tersebut. Suara yang bising dan berisi obrolan-obrolan terdengar dari luar, lalu pintu pun terbuka.
“Kami pulang,” lontar Bella sedikit kelelahan.
“Selamat datang,” sahut Rhean kepada mereka berdua. Icha yang melihat kami berkumpul lantas kebingungan dan bertanya kepada kami.
“Kalian sedang apa?”
“Urusan laki-laki,” jawab Rhean cengar-cengir.
“Wuah… Ya sudah kalau itu mau kalian. Aku ingin cepat-cepat tidur, besok masih sekolah,” ujar Bella sembari menguap kantuk.
“Cassie dan Rein?” tanyaku kepada Icha.
“Mereka sudah pulang,” jawabnya, kemudian ia menutup pintu kamar. Tak lama kemudian pintu depan kembali terbuka dan ternyata orang tersebut adalah Cassie dan Rein yang mencemaskanku dan Gavin.
“Bella, apa di sini ada Adelard dan Gavin?” lontar Cassie seraya membuka pintu.
__ADS_1
“Oh, jadi kalian di sini, toh?” lanjut Rein. Kemudian mereka menyuruh kami berdua untuk segera pulang. Namun sebelum itu, ada sesuatu yang ingin Gavin berikan kepada Cassie. Dengan penuh gugup dan malu ia berjalan ke hadapan Cassie dan menjulurkan boneka tersebut kepadanya.
“Cassie, ini untukmu,” ucap Gavin tersenyum, tetapi Cassie hanya menatap boneka tersebut dengan wajah yang agak sedih.
“Terima kasih… T—Tapi…”
“Terima saja Cassie, dia sudah berusaha untuk mendapatkannya, lho…” cetusku kepadanya.
“B—Baiklah… Terima kasih…” tuturnya gugup. Ia pun mengambil boneka tersebut dari Gavin. Setelah itu ia menatapku yang bertangan kosong dengan sekilas kemudian segera kembali pulang.
“A—Aku akan menjaganya dengan baik. Aku harus tidur, besok bangun pagi. S—Sampai jumpa!” ucap Cassie pringas-pringis dan gelagapan. Ia langusng menutup pintu begitu saja dan kami hanya terdiam melihat dirinya. Tak lama kemudan Bella yang sudah mengenakan baju tidurnya kembali keluar dari kamar dengan wajah yang kebingungan.
“Ada apa tadi?” tanya Bella dengan mata yang tertutup.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Rein.
“Oh,” balas Bella singkat kemudian ia kembali ke kamarnya lagi. Aku dan Gavin pun berpamitan kepada Gandra dan Rhean.
“Kami pulang dulu,” ucapku.
“Baiklah kalau begitu, sampai ketemu lagi besok,” sahut Rhean.
“Sampai jumpa.” Saat berjalan menuju asrama yang berada tepat di sebelah, aku sempat mengobrol dengan Rein.
“Kalian lama sekali di sana, beli apa saja?” tanyaku penasaran.
“Banyak sekali,” jawabnya tersenyum, namun tak lama kemudian ia teringat akan sesuatu.
“Oh iya! Aku lupa membelikanmu sesuatu.”
“Memangnya kau ingin membeli apa untukku?” tanyaku kebingungan.
“Rahasia,” jawabnya tersenyum.
Kami bertiga kembali ke asrama kami, namun ketika aku memasuki kamar, terdapat sebuah kotak yang tergeletak di atas kasur. Sementara itu Gavin masih berada di ruang tengah, jadi hanya ada aku seorang di kamar. Kotak tersebut tertulis bahwa barang ini adalah untukku. Dengan penuh rasa heran aku bertanya-tanya di benakku.
“Ini dari siapa? Tidak mungkin dari Rein, kan? Dia lupa membelikan untukku…”
“Cassie?”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1