
Pagi hari menjelang siang dengan mentari terik menembus jendela sekolah. Keramaian orang berlalu-lalang ke sana dan kemari. Aku yang tidak membawa bekal membuatku berniat untuk pergi ke kantin bersama Rein. Namun kami berhenti di sebuah lorong oleh sekumpulan orang yang memperkenalkan diri bahwa mereka dalah penggemar kami berdua. Aku masih terkejut dengan perkataan mereka.
“Penggemar apa yang kau maksud?” tanya Rein kebingungan.
Kemudian salah seorang dari mereka menjelaskan peraturan dan segala hal yang dilakukan oleh perkumpulan mereka.
“Satu, menjaga paduka raja dan ratu dari gangguan. Dua, tidak boleh ada perempuan yang menembak paduka. Tiga, tidak boleh ada laki-laki yang menembak tuan ratu. Empat, menuruti segala perintah paduka raja dan ratu. Lima, memberi jalan kepada paduka raja dan ratu… E—Enam… Eeeee… Untuk sementara itu dulu, Paduka.”
Aku yang mendengar dengan saksama menjadi sedikit jengkel dengan peraturan kelima yang tidak sesuai dengan perlakuan mereka sekarang.
“Loh, tapi sekarang kalian menghalangi jalanku,” gumamku dalam hati.
Aku ingin mereka untuk tidak melakukan hal seperti ini. Tapi mereka bersikeras untuk tetap mengadakan klub ini. Aku pun pasrah dengan keadaan dan membiarkannya. Selama tidak menggangguku, aku tidak mempermasalahkannya. Setelah itu mereka semua menepi dan memberi kami berdua jalan. Kemudian aku dan Rein bisa melanjutkan langkah kami menuju kantin.
“Tapi tidak ada salahnya juga ada orang seperti mereka. Semoga mereka tidak mengganggu seperti dua kecoak itu,” benakku.
Sesampainya di kantin, terdapat banyak orang-orang yang memadati tempat tersebut. Mau tidak mau kami berdua harus melewati lautan manusia itu dengan penuh sesak. Aku memberi roti isi telur dan nasi beserta lauk pauk. Di kantin tersebut terdapat beberapa karyawan yang kewalahan melayani kami semua. Setelah membayar, makanan telah berada di nampanku, namun aku kebingungan cara melewati mereka. Saat aku ingin pergi, terdapat karyawan kantin yang memanggilku.
“Hey! Bayar dulu!” teriaknya. Lantas aku kebingungan lantaran aku telah membayar ke orang yang berbeda.
“Aku telah membayarnya tadi,” balasku kepadanya. Akan tetapi orang tersebut tidak memercayaiku dan terus memaksaku untuk membayar. Sementara itu Rein telah pergi terlebih dahulu meninggalkanku. Aku dan orang tersebut sempat adu cekcok hingga akhirnya ada seseorang yang melerai kami berdua.
“Adelard sudah bayar, aku melihatnya,” lontar seseorang, dan ternyata orang tersebut adalah Gandra. Ia juga tengah membeli makan bersama Rhean. Tak lama kemudian seseorang karyawan yang lainnya menghampiri kami. Karyawan tersebut menjelaskan bahwa aku telah membayar kepada dirinya.
“Oh begitu, maaf ya, Dik, maklum sudah tua,” ujar ibu-ibu itu cengengesan. Kemudian aku bersama Gavin dan Rhean berjalan menuju meja kantin.
“K—Kenapa kalian membantuku? Padahal aku telah membuat kalian marah,” tanyaku gugup kepada mereka berdua.
“Tidak baik marah lama-lama. Lagi pula kami hanya terkejut, kok. Iya kan, Rhean,” jawab Gandra tersenyum.
“Betul sekali,” sahut Rhean. Sekali lagi aku meminta maaf kepada mereka. Dengan santai mereka memaafkanku dan akhirnya kami telah berbaikan kembali. Rein yang telah duduk menungguku, ia melihatku berjalan bersama Gavin dan Rhean.
“Wah, kalian sudah baikan?” tanya Rein. Aku membalasnya dengan mengangguk ke arahnya.
“Oh iya, aku juga minta maaf telah mengejutkan kalian malam itu,” lanjut Rein. “Tidak masalah… Itu semua atas kemauan kalian sendiri, kan?” sahut Rhean cengar-cengir. Aku ingin membalasnya, namun aku merasa tidak enak untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
“Ayo cepat duduk, makananku sudah mulai dingin nih,” ucap Rein. Lalu kami berempat menyantap makanan bersama-sama sembari mengobrol santai. Rhean dan Icha menempati kelas yang sama dengan Gavin dan Cassie. Lekas Rein bertanya kepada Rhean.
__ADS_1
“Oh iya, ke mana Gavin?”
“Tadi kulihat mereka juga ke kantin, tapi… entahlah…” jawabnya yang juga kebingungan. “Sepertinya mereka makin akrab, ya,” balas Rein tersenyum.
Setelah menghabiskan makanan, kami semua kembali menuju kelas masing-masing. Bel telah berdering dan kami melanjutkan pelajaran hingga waktu pulang tiba. Sepulang sekolah kami semua sempat berkumpul di depan pintu gedung. Aku bersama Rein menghampiri mereka yang sudah berkumpul di sana.
“Ada apa kita berkumpul di sini?” tanyaku penasaran.
“Aku ingin mengajak untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Ada banyak produk baru, lho,’ jawab Bella sekaligus mengajak kami semua, tetapi kami para laki-laki tentu saja tidak ingin pergi ke sana.
“Itu kan urusan perempuan, kenapa kita harus ikut?” lontar Gavin.
“Bagaimana kalau kita ke pusat permainan?” ajak Rhean kepada kami semua, namun para perempuan itu menolaknya.
“Tapi aku ingin membeli barang itu,” tutur Cassie bersemangat. Terjadi adu mulut di antara kami para laki-laki dan para perempuan. Kemudian aku mengusulkan sebuah jalan tengah.
“Ya sudah, kita berpisah saja. Kita akan pergi ke pusat permainan, kalian pergi ke pusat perbelanjaan, bagaimana?”
“Baiklah kalau mau kalian begitu,” balas Icha sedikit kesal. Kemudian kami berpisah dengan mereka, dan kami berjalan menuju pusat permainan.
“Yey, aku menang!”
“Wah, kau jago sekali…” puji Rhean kepadanya. Kemudian kami mengobrol dengan topik yang tidak kuduga.
“Bagaimana bisa kau menerima Rein pada malam itu? Kalian sudah punya hubungankah sebelumnya?” tanya Rhean penasaran.
“Entahlah… kejadian itu lewat begitu saja. Aku juga baru mengenalinya sesampainya di sini,” jawabku sembari berpikir dan mengingat kejadian waktu itu.
“Hah?” jadi kau tidak menyukainya?” lanjut Rhean tercengang. Aku juga terkejut dengan responnya yang tersentak kaget.
“E—Eh? B—Bukan begitu,” jawabku gelagapan. Lantas Gandra memiliki sebuah ide lalu berkata kepadaku. “Kalau begitu aku akan memberimu pertanyaan cepat.”
“Maksudnya?” tanyaku keheranan.
“Jadi aku akan memberikan dua pilihan dari teman-temanmu. Kau harus menjawab tanpa pikir panjang dan pilih sesuai dengan apa yang terlintas pikiranmu,” papar Gandra menjelaskan.
“Baiklah, kalau seperti itu,” balasku.
__ADS_1
“Oke, kita mulai, ya.”
“Pilih aku atau Rhean?”
“Kau.”
“Rhean atau Gavin?”
“Rhean.”
“Cassie atau Rein?”
“Ca— tunggu, kenapa tiba-tiba kau menanyakan mereka?” lontarku kebingungan. Gandra dan Rhean tersenyum setelah mendengarkanku.
“Jadi selama ini kau suka Ca—” ucap Rhean namun Gandra langsung menutup mulutnya. Aku tidak mengerti dengan tingkah mereka berdua. “Apa yang kalian lakukan?” tanyaku.
“Tidak, bukan apa-apa… Hehehe…” sahut Gandra cengengesan. Tak lama kemudian Gavin datang menghampiri kami dengan sebuah boneka yang cukup besar dipelukannya.
“Dari mana saja kau?” tanyaku sedikit kesal. Kemudian ia menunjukkan boneka tersebut kepada kami.
“Untuk apa boneka itu?” cakap Rhean penasaran.
“Untuk Cassie. Dia suka boneka, kan?” balas Gavin.
“Sepertinya begitu. Aku hanya tahu kalau dia suka warna merah muda,” jawabku padanya. “Cocok sekali, boneka ini warnanya pink,” sahut Gavin senang.
“Hari ini dia ulang tahun, ya?” tanya Gandra. Lalu Gavin menjawab kalau ia hanya ingin memberinya hadiah.
“Aku harap kalian ingin membantuku,” pinta Gavin kepada kami. Kami bertiga yang mendengar perkataannya barusan menjadi kebingungan.
“Bantuan apa? Apa kau ada salah dengannya?” tanyaku. Lantas Gavin pun mengakui sesuatu kepada kami bertiga. Kami mendengarkannya dengan tatapan yang serius ke arahnya.
“Sebenarnya… Aku menyukai Cassie…”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1