
Pagi hari yang cerah menandakan hari terakhir untuk bersantai di akhir pekan ini. Matahari telah muncul dari cakrawala dan sinarnya kini masuk menembus jendela. Angin yang berhembus pelan meniup hawa malam nan sejuk pergi dari permukaan. Cuaca yang begitu terik membuat keadaan ruangan menjadi hangat, sementara itu kami semua masih terbaring lelap di atas karpet dan terselimuti kain selimut yang tebal.
Aku terbangun dari tidurku lantaran tubuhku yang kegerahan akibat terik matahari yang menembus kaca jendela dan selimut yang membalutiku. Namun aku tidak dapat bergerak sama sekali. Rein dan Cassie masih memelukku dengan erat. Hal tersebut pula yang membuat badanku semakin panas. Tak lama kemudian Rein membuka matanya dengan kondisi yang masih setengah sadar. Tetap di depan wajahku, ia menyapa ke arahku.
“Selamat pagi, Adelard,” lontarnya sembari menguap.
“P—Pagi…” balasku gugup.
“Wajahnya terlalu dekat,” gumamku panik dalam hati.
Pada saat yang bersamaan Rein dibuat heran dengan sebuah benda yang mengganjal perutnya, namun kami tidak dapat melihatnya karena tertutup oleh selimut. Lantas Rein kebingungan dan bertanya kepadaku.
“Sejak kapan ada botol di dalam selimut?”
“Botol? Aku tidak membawa apa pun,” jawabku yang juga keheranan. Rein pun berusaha meraba dan mengambil benda tersebut yang membuat perutnya kesakitan akibat tertekan.
“Se-bentar, aku ambil dulu,” ucapnya. Beberapa detik kemudian, tiba-tiba saja aku menjadi merinding ketika Rein menggenggam benda tersebut.
“Loh, tidak bisa di ambil? Tersangkut?” cetusnya kebingungan, sedangkan aku hanya terdiam dan berkeringat dingin. Rein terus menarik-narik benda tersebut dengan kencang. Sontak aku beranjak bangun dan berlari menuju kamarku.
“A—A—Aku kelupaan sesuatu!” lontarku gelagapan. Rein tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadaku. Selimut pun terbuka dan Rein tidak melihat benda tersebut.
“Hilang? Apa itu tadi?” gumamnya lalu menguap kantuk. “Wuah… Daripada pusing, lebih baik aku tidur lagi saja,” ucapnya terseret-seret dan berjalan menuju kamarnya sembari membawa bantal yang ada di tangannya. Sementara itu, aku masih tidak menyangka bahwa sesuatu telah terjadi kepadaku.
“Astaga! Apa yang barusan terjadi?” benakku gelisah. “Dia tidak mengetahuinya, kan?” lanjutku bertanya-tanya kepada diri sendiri.
Aku pun melanjutkan tidurku di atas kasur nan empuk di dalam kamarku. Di sisi lain, Cassie dan Gavin masih terbaring di ruang tengah. Akhirnya aku bisa terbaring membentang dengan nyaman. Aku benar-benar menikmati tidurku kali ini tanpa gangguan dari Gavin sama sekali. Diriku yang terlelap membuatku tidak merasakan apa pun yang terjadi di sekitarku.
Tak lama setelah mata terpejam, tiba-tiba aku terbangun di sebuah tempat yang tidak aku kenali sebelumnya, tetapi aku merasa pernah melihat tempat yang sama sebelumnya. Aku sedang menempati sebuah gerbong kereta tambang seorang diri di tengah ladang hijau yang terhampar luas. Gerbong tersebut terus bergerak mengikuti rel yang hanya lurus seperti garis. Aku tidak dapat menghentikannya.
“Di mana lagi aku?” lontarku bertanya-tanya. Aku menjadi semakin panik karena gerbong tersebut melaju cukup kencang tanpa tujuan. Kemudian terdengar suara seorang gadis yang serupa dengan kejadian waktu itu, tetapi aku tidak dapat melihat sosoknya.
“Lama tidak berjumpa…”
Dengan rasa penuh heran sekaligus ketakutan di saat yang bersamaan, aku melihat ke sekelilingku.
“Kau tidak dapat melihatku… Kau telah membuatku marah…”
Lantas aku menjadi tambah bingung akibat pernyataannya tersebut tidak sama tutur katanya yang lembut. “Marah? Tapi kau tampak baik-baik saja.”
“Sepertinya aku harus memberimu peringatan lagi…”
Pernyataannya barusan membuatku bergemetar takut. “Apa salahku?” tanyaku gelisah.
“Lihatlah di depanmu… Selama ini kau telah berada di jalur yang benar… Dan kau sudah dekat dengan tujuanmu…”
__ADS_1
Lalu terlihat sebuah cabang rel dari kejauhan.
“Tapi semuanya tiba-tiba berubah… Dan kau memilih jalur yang salah…”
Gerbong yang membawaku itu lantas berbelok menuju cabang rel yang mengarah ke sebuah gua nan gelap. “K—Ke mana gerbong ini berjalan?” tanyaku panik.
“Kau telah membuatku kecewa…”
“Sadarlah, Adelard…”
“Adelard…”
Tiba-tiba saja pandanganku menjadi putih dan telingaku berdengung cukup keras. Kemudian mataku terbuka kembali dan aku telah berada di kamar.
“Syukurlah, hanya mimpi…” gumamku lega. Aku masih tidak paham dan bertanya-tanya dengan mimpi yang baru saja terjadi kepadaku.
“Apa maksudnya jalur yang salah? Aku melakukan kesalahan?” benakku kebingungan sekaligus cemas. Lalu terdengar suara Gavin memanggilku dari luar.
“Adelard! Kau ingin ikut ke asrama sebelah, tidak?”
“Ya! Aku segera ke sana!” sahutku.
Aku keluar dari kamar dan melewati ruang tengah. Cassie sudah tidak lagi berada di ruang tengah. Kamar mereka yang tertutup rapat membuatku berpikir kalau mereka berdua sedang mengistirahatkan diri. Bergadang selama semalaman membuat membuat kami semua kelelahan, ditambah lagi dengan kejutan seram yang menguras energi kami habis-habisan.
Sesampainya di sana, aku dan Gavin melihat Gandra dan semua teman satu asramanya berkumpul di ruang tengah sembari memainkan gim konsol. Mereka sedang memainkan gim pertarungan yang mempermainkan empat pemain sekaligus. Kami berdua pun menghampiri mereka dan menyaksikan permainan mereka.
“Siang,” balasku tersenyum.
“Wah, sepertinya seru. Aku ingin ikutan juga, dong,” pinta Gavin kepada mereka, namun mereka semua sedang fokus untuk saling mengalahkan satu sama lain.
“Oh iya, bagaimana dengan misi kemarin? Lancar?” tanya Gandra penasaran.
“Semua berjalain lancar. Mungkin hubungan kami semakin dekat dengan cepat,” jawab Gavin tersenyum senang.
“Hahaha! Kalian memang yang terbaik!” sahut Rhean terhibur.
“Syukurlah kalau begitu,” balas Gandra. Permainan tersebut dimenangkan oleh Gandra.
“Yah… Aku kalah lagi…” hembus Icha kecewa.
“Sulit sekali mengalahkannya…” lanjut Bella, sementara itu Gandra hanya cengar-cengir menahan rasa tidak enaknya.
“Hanya kebetulan, kok. Hehe…” Lantas Gavin yang sedang berkobar-kobar langsung menduduk karpet di antara mereka semua.
“Ini, jika kalian ingin bermain,” ucap Bella sembari memberikan kontroler yang ada ditangannya kepadaku, begitu pula dengan Icha yang memberikannya kepada Gavin. Namun Rhean mengusulkan sebuah ide selagi kami berdua masih berada di sini.
__ADS_1
“Eittss… Selagi ada kau, bagaimana kalau kita menlanjutkan pembelajaran waktu itu?” cetus Rhean sembari mengganti gim yang akan dimainkan. Ia memutar permainan gim galge. Bella dan Icha belum mengetahui jenis permainan tersebut.
“Tapi ini hanya untuk satu pemain saja, kita tidak bisa main bersama-sama,” pungkas Gavin.
“Tidak masalah, kita tetap bisa memainkannya,” sahut Gandra.
“Iya, kita akan membantumu memilih jawaban dan tindakan,” lanjut Rhean.
“Betul. Mungkin para perempuan di sini juga bisa memberimu pelajaran,” tambahku tersenyum.
“Baiklah kalau begitu, ayo mulai permainannya!” seru Bella bersemangat.
Kami pun memainkan gim simulasi kencan bersama-sama, meskipun Gavin yang memegang kehendak karena ia yang menggenggam kontroler tersebut. Cerita yang dibawakan semakin menarik dan serupa dengan kondisi kami sekarang. Sering kali kami berdebat untuk memilih respon yang tepat dengan skenario tersebut, ditambah lagi dengan Bella dan Icha yang merasa paling benar lantaran ia dapat mengerti perasaan perempuan yang berada di permainan itu.
“Kau jangan langsung mengajak pulang bersama! Itu sangat mudah terbaca olehnya,” lontar Icha.
“Tapi menurutku, tidak masalah kalau kau mengajaknya pulang. Itu juga biasa dilakukan oleh seorang teman, kan?” sahut Bella.
“Bagaimana kalau pulang bersama teman laki-laki saja? Supaya ia menganggapmu sama seperti laki-laki lainnya,” tandas Rhean.
“Kalau jalan sampai gerbang tidak apa-apa, kan? Lagi pula rumahnya tidak searah,” ujarku. Gandra hanya menyaksikan kami semua yang saling beradu mulut seperti anak kecil.
“Aduh… Aku pusing…!” teriak Gavin.
“Pilih sesuai pilihan hatimu saja…” cakap Gandra kepada Gavin.
Setelah itu kami melanjutkan permainan hingga lupa waktu. Kami semua semakin terlarut dengan cerita yang dibawakan. Waktu terus berjalan dan hari telah petang. Sinar jingga mentari yang menembus jendela membuat kami tersadar bahwa hari sudah mau malam. Kami pun memutuskan untuk menyimpan permainan dan menyudahinya.
“Huft… Lelah juga bermain gim ini…” hembus Gavin.
Kami bersantai di atas sofa, sedangkan Bella dan Icha mempersiapkan makan malam. Beberapa waktu kemudian, makan malam telah siap di atas meja makan. Kami semua menduduki kursi di meja makan tersebut dan bersiap untuk menyantap makanan bersama-sama.
“Selamat makan!” lontar kami semua serentak. Gavin yang sudah lapar dengan cepat langsung mengambil makanan dan melahapnya.
“Kau lahap sekali, ya…” tutur Bella.
“Sepertinya kau bahagia sekali. Aku jadi penasaran dengan cerita kalian kemarin,” ucap Gandra tersenyum.
“Apa kau ingin menceritakannya pada kami?” pinta Icha penasaran.
“Tentu saja, aku akan menceritakannya,” balas Gavin ceria.
“Baiklah, kita akan mendengarkanmu,” sahut Rhean. Kemudian Gavin pun menceritakan peristiwa yang ia alami selama kemarin.
“Oke. Jadi, seperti ini ceritanya… Dengarkan baik-baik, ya…”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)