Love Exchange

Love Exchange
Episode 129 : Pengungkapan Empat Mata


__ADS_3

Suatu petang yang tampak biasa-biasa saja, kami sedang berada di dalam asrama dan baru saja pulang dari sekolah. Tidak ada suatu hal yang menarik untuk kami lakukan. Saat kami tengah sibuk menyiapkan santap malam, seketika terdengar suara telepon berdering dari kamar Rein. Ia yang sedang memasak lantas memberikan tugasnya kepadaku.


“Tolong aduk dulu sebentar.”


“Baiklah.”


Terdengar suara perkataan Rein dengan jelas. Suara yang dilontarkannya tampak cukup serius. Kemudian terjadi pembiacaraan di antara aku dan Gavin yang berada di sebelahku.


“Apa itu ayahnya?” tanyaku penasaran.


“Sepertinya begitu,” jawabnya.


“Oh iya, kudengar kalian sudah berteman sejak kecil?”


“Ya, ayah kami bekerja di perusahaan yang sama sejak dulu. Jadi kami sering berkumpul dan bertemu.”


Tak lama berselang, Rein kembali dari kamarnya dan mengambil alih kembali pekerjaannya. Gavin yang penasaran lantas bertanya kepadanya.


“Temu kangen lewat telepon?”


“Ayahku akan ada kunjungan kerja ke daratan sini,” jawabnya. Aku dan Gavin yang mendengarnya sontak terkejut.


“Kapan?” lanjut tanyaku.


“Tidak tahu, aku hanya mendengar seperti itu. Katanya sih untuk kejutan.”


“Kejutan macam apa kalau sudah diberi tahu duluan?” balasku.


“Entahlah, aku juga tidak mengerti,” sahutnya. Cassie yang sebelumnya tengah mempersiapkan meja makan kemudian datang menghampiri kami.


“Ada apa?” tanya Cassie.


“Ayahku akan pergi ke daratan ini,” jawab Rein dengan wajah datar. Cassie yang mendengarnya lantas gembira dan berkobar-kobar.


“Wah, ayahnya Rein akan datang!” Lalu aku mengajak Gavin untuk menjauhi mereka sedikit. Aku pun bertanya kembali tentang ayahnya dengan suara yang pelan.


“Apa ayahmu juga akan ikut?”


“Harusnya begitu, karena ayahku dan ayahnya sering mendapatkan kunjungan kerja yang sama.”


Malam hari pun tiba. Selepas menyantap makan malam, kami bersiap untuk tidur di kamar masing-masing. Hingga akhirnya gelap kembali berganti terang. Aku yang memiliki sebuah urusan penting di sekolah membuatku harus berangkat lebih awal, begitu pula dengan Rein yang sudah ada janji dengan kawan-kawannya. Hanya tersisa Gavin dan Cassie yang masih berada di dalam asrama.


“Gavin, cepat sedikit,” ucap Cassie.


“Oke! Tunggu sebentar!” seru Gavin dari dalam kamar. Beberapa saat kemudian akhirnya Gavin berjalan keluar dan pergi menghampiri Cassie. Mereka berjalan bersama menuju gedung sekolah. Sepanjang melangkahkan kaki, mereka meredakan suasana canggung dengan mengobrol.


“Apa kau teman Adelard sejak kecil?” tanya Gavin penasaran.


“Tidak, kami baru berteman sejak kelas sebelas,” tuturnya.


“Wah, kukira kalian sudah mengenal sejak lama,” balas Gavin cengengesan.


“Itu pun karena kami satu kelas,” sahutnya yang juga cengar-cengir. Baru saja mereka melewati taman dan situasi sudah mulai ramai dengan murid lain yang juga pergi menuju sekolah.


“Bagaimana pandanganmu tentang dia?” tanya Gavin tiba-tiba.


“E—Eh? Kenapa mendadak seperti itu?” balas Cassie tersentak kaget.


“Kalau menurutku… Banyak nilai plusnya sih…” gumamnya sembari berpikir dan melihat ke langit. “Kesimpulannya, dia impian para perempuan!” selorohnya bercanda.

__ADS_1


“Tapi banyak juga yang baik seperti dia, kok,” sahut Cassie.


“Kau tidak sempat tertarik dengannya sama sekali?” tanya Gavin kebingungan. Sontak Cassie menjadi kalang kabut dan tidak tahu harus berkata apa.


“Eee… Maksudku…”


“Tidak masalah. Kau juga sering melihatnya jadi bahan rebutan, kan?” ucap Gavin tersenyum dan berusaha untuk menenangkannya.


“Iya…”


“Apa kau tidak berpikir untuk mencoba berpacaran?” lanjut tanya Gavin dan lagi-lagi mengejutkan Cassie.


“M—Maaf kalau aku lancang begini… Hehe…” tambahnya pringas-pringis.


“Ti—Tidak mengapa… Aku juga ingin lebih tahu tentang itu…” tuturnya pelan.


“Baiklah, kita bisa membahasnya lagi sepulang sekolah nanti,” balas Gavin senang. Dengan rasa malu Cassie berucap kepada Gavin dengan pelan.


“Entah mengapa aku lebih nyaman kalau tidak terlalu ramai…” Gavin yang mendengarnya lantas sedikit terkejut. Sontak Cassie menjadi panik kembali dan mencoba meluruskannya.


“Aku tidak bermaksud aneh-aneh!” lontarnya. “Tidak apa-apa kalau hanya kita berdua, kan?” imbuhnya.


“Tentu, aku juga tidak keberatan dengan itu.”


Jam terus berus berputar, kami mengikuti kegiatan pembelajaran seperti biasa. Setiap jam pelajaran berlangsung, kami menggunakan waktu tersebut untuk membahas soal ujian kemarin. Lembar ujian juga dibagikan pada saat itu. Hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Tanpa membuang waktu, Gavin dan Cassie langsung meninggalkan ruang kelas. Gavin mengikuti Cassie yang berada di sebelahnya.


“Kita akan ke mana?” tanya Gavin kebingungan.


“Perpustakaan…”


Beberapa saat sebelumnya, Icha yang juga sekelas dengan mereka, melihat mereka berdua keluar dari ruang kelas. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan mereka. Kemudian ia bersama Rhean pergi menuju koridor dan berkumpul dengan yang lainnya. Aku yang tidak melihat Gavin dan Cassie sontak membuatku heran. Karena biasanya kami semua berkumpul di sini sebelum beranjak pulang bersama-sama.


“Di mana mereka?” tanyaku.


“Wah, wah, Gavin sudah banyak berkembang ternyata,” celetuk Rhean.


Sesampainya di perpustakaan, Cassie membawa Gavin menuju sebuah ruang yang sangat sepi tanpa orang-orang. Ternyata mereka pergi menuju ruang membaca, sama seperti ketika aku belajar bersama Cassie. Mereka pun menempati tempat duduk yang saling berhadap-hadapan.


“Kau menyukai tempat ini?” tanya Gavin penasaran.


“Iya, aku sering menenangkan diri di sini…” tuturnya. Gavin melihat sekitar dan hanya ada rak-rak buku yang tinggi.


“Gavin…” panggil Cassie.


“Iya…?” sahut Gavin.


“Apa tanda kalau seorang laki-laki suka kepada perempuan?” tanya Cassie penasaran. Gavin yang mendengarnya sontak terkejut dan kebingungan harus menjawab apa.


“Aduh, baru pertanyaan pertama sudah seperti ini…” benak Gavin. Ia sempat terdiam dan membuat Cassie buncah terhadapnya.


“Gavin?”


“E—Eh? Maaf, maaf,” balas Gavin cengar-cengir. Kemudian ia mencoba menjelaskan sehati-hati mungkin dan berusaha untuk tidak mendeskripsikan dirinya sekarang.


“Dia akan selalu menatapmu, sering sekali akrab denganmu, dan suka mengamati hal kecil di sekitarmu.” Cassie yang mendengarnya lantas masih belum begitu mengerti.


“Bukannya itu wajar? Kau pun juga seperti itu kan?” Sontak Gavin tersentak kaget dan merasa panik sendiri.


“A—Aku? O—Oh, aku seperti itu juga, ya?” lanjut Gavin gelagapan.

__ADS_1


“Aku merasa seperti itu,” balasnya. Gavin pun berusaha untuk tetap tenang tanpa menimbulkan tingkah yang mudah ditebak.


“Apa kau tidak nyaman dengan itu?”


“Sedikit, sih. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya, sesekali aku juga seperti itu soalnya… Hehe…” jawabnya pringas-pringis. Gavin yang mendengarnya lantas ikut tertawa kecil untuk mencairkan suasana.


“Ngomong-ngomong, apa kau pernah ditembak?” tanya Gavin penasaran.


“Tembak? Maksudmu?”


“Semacam mengungkapkan perasaan dan mengajak untuk berpacaran,” papar Gavin.


“Contohnya seperti apa?” lanjut tanya Cassie yang polos dan membuat Gavin terkejut lagi mendengarnya.


“K—Kau ingin aku beri contoh?”


“Ya, aku penasaran dengan hal itu.” Gavin tidak habis pikir dengan apa yang terjadi dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia pun mencoba untuk mengalihkannya terlebih dahulu.


“Sebelum itu, apa kau ingin berpacaran? Seperti Adelard?”


“Eee… Boleh saja, sih. Tapi aku tidak terlalu kenal dengan semua laki-laki.”


“Jadi kau lebih menerima orang yang sudah kau kenal sebelumnya, ya?”


“Kira-kira begitu. Aku juga belum pernah mengalami hal seperti itu…”


“Yah… Orang-orang merasa tidak enak karena kau selalu menyendiri, sih,” gumam Gavin dalam hati.


“Tapi, bagaimana kalau ada yang menembakmu tiba-tiba?”


“Mungkin kalau kenal aku akan menerimanya…” Dengan hati penuh senang Gavin pun mengangguk tersenyum ke arahnya.


“Oh iya, kau  masih ingin tahu contohnya?” tanya Gavin.


“Tentu,” jawab Cassie tersenyum. Kemudian Gavin melakukannya.


“Cassie…”


“Iya…?”


“Kita sudah saling mengenal dan akrab meskipun belum terlalu lama… Sejak pertama kita bertemu, aku merasakan sesuatu yang mengganjal dadaku…”


“Aku menyukaimu…”


“E—Eh? K—Kenapa mendadak jadi seperti ini?” lontar Cassie gagap.


“Maukah kau menjadi pacarku?” ucap Gavin seraya tersenyum kepadanya. Cassie pun mengerti contoh tersebut dari apa yang dimaksud sebelumnya.


“Oh jadi seperti itu… Aku mengerti sekarang,” tuturnya, namun berbeda dengan Gavin yang terbawa suasana.


“Aku serius.” Mendengar perkataan tersebut sontak membuat Cassie syok dan tidak tahu harus membalas apa.


“E—Eh? K—K—Kau yakin?”


“Iya… Kau ingin merasakan seperti Rein, kan?” Cassie pun tertunduk dan termenung sejenak. Kepalanya menjadi merah dalam sekejap mata.


“B—Baiklah…” Gavin yang mendengarnya seketika menjadi sangat senang.


“Terima kasih sudah menerimaku!”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2