
Sesampainya di rumah Kyra kami dikejutkan dengan seorang perempuan yang berjalan searah dengan kami yang ternyata ia adalah kakaknya Kyra. Aku dan Eledarn sontak terkejut dengan panggilan Kyra barusan. Kyra pun berlari mengampiri kami.
“Kau kakaknya?” tanya Eledarn tidak percaya.
“Iya,” jawabnya dengan emosi yang tidak berubah. Aku sebelumnya juga berpikir sama seperti Eledarn. Melihat kami berdua lantas Kyra menyapa kami berdua.
“Wah, ada Kak Eledarn dan Kak Adelard. Halo!” sapa Kyra bersemangat.
“Oh, jadi kalian orang yang diceritakan Kyra kemarin,” lontar kakaknya pelan dan jengkel.
“I—Iya,” jawabku gugup. “Ayolah, Kak. Jangan marah terus,” cetus Kyra merengek. “Iya iya,” balas kakaknya. Aku dan Eledarn hanya terdiam menyaksikan mereka berdua. Semenjak tadi aku belum mengetahui namanya.
“Boleh kutahu namamu?” tanyaku sopan kepadanya.
“Ih! Dasar sok akrab,” tuturnya dengan ekspresi seperti menjauhiku.
“Kakak!” teriak Kyra tepat di sampingnya. Lantas ia pun menarik napas dan memberi tahu namanya.
“Rhislynne,” jawabnya singkat. “Wah nama yang cantik!” puiji Eledarn kepadanya. “Sayangnya kau menakutkan,” lanjut celetuknya pelan. Aku yang mendengarnya langsung menginjak kakinya agar tak bertingkah yang tidak-tidak. “Sshh! Jangan cari gara-gara kau!” bisikku menegaskannya.
“Eh, tadi namanya siapa? Tiba-tiba pikiranku kosong,” desisnya bertanya kepadaku. Seketika saja aku juga tidak ingat akan namanya.
“Loh, aku juga ikutan lupa.”
__ADS_1
“Namanya ribet sekali.” Sementara itu kakaknya sudah berjalan masuk terlebih dahulu. “Iya…” sahutku. Berhubung perempuan temperamen itu sudah pergi, akhirnya dengan lega aku menanyakan kembali namanya kepada Kyra.
“Aku lupa, siapa nama kakakmu?”
“Rhislynne,” jawab Kyra tersenyum. Eledarn berusaha untuk mengeja namanya perlahan, namun tampaknya sulit dilakukan. “Ri…Ris… Hah?” Kyra tertawa melihat wajahnya yang kesulitan.
“Rin atau Rinne, panggil saja begitu,” ucapnya. Lalu terdengai suara kebisingan dari dalam.
“Sepertinya di dalam sudah ramai,” ucapku tersenyum kepada Kyra.
“Iya. Ayo masuk!” ajak Kyra penuh bersemangat.
Kemudian kami masuk ke dalam rumahnya. Suara meriah teman-teman Kyra yang penuh dengan keceriaan terdengar ketika aku memasuki ruang tamu. Semua tamu undangan merupakan teman yang seusia dengan Kyra, sehingga kami berdua yang umurnya cukup jauh menjadi malu berada di antara mereka semua. Di sini juga terdapat kedua orang tuanya yang membuka acara perayaan ulang tahunnya.
“Perkenalkan namaku Eledarn dan ini temanku, Adelard.”
Kemudian ibunya Kyra menjelaskan kejadian kemarin dan anak-anak yang hadir menjadi kagum dengan kami. Dengan senang hati mereka mengajak kami berkenalan. Lalu acara perayaan pun dimulai.
Setelah acara dibuka kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Semua orang dipersilahkan mengambil makanana yang telah disajikan dan menduduki tempat di mana pun di ruang tamu ini. Aku yang sedang menikmati jamuan bersama dengan Eledarn melihat Rinne yang asik sendirian duduk di sofa. Tak lama kemudian ibunya menghampiriku.
“Mengobrollah dengannya,” tuturnya.
“T—Tapi aku tidak enak dengannya,” jawabku gugup. “Dibawa santai saja. Kurasa kalian seumuran,” ucapnya tersenyum sambil memegang pundakku.
__ADS_1
“Seumuran?” tanyaku kaget.
“Mungkin. Ia masih kelas sepuluh,” jawabnya. Lantas aku mengoreksi sedikit jawabannya. “Beda setahun… Kami kelas sebelas.”
“Tidak masalah… Ajaklah ia berbicara dengan kalian berdua. Mungkin saja kalian bisa akrab,” pintanya. Kemudian ia menjelaskan keadaan Rinne di sekolah. “Kurasa ia tidak memiliki banyak teman di sekolah,” tuturnya pelan. Eledarn yang mendengarnya sontak bertanya. “Eh? Kenapa?”
Tiba-tiba Rinne menghampiri kami dan berkata, “Ibu akrab sekali dengan mereka.”
“Ibu hanya ingin kau berteman dengannya,” balas ibunya tersenyum kepadanya. “Aku tidak membutuhkan teman yang menjijikan seperti mereka!” lontarnya kemudian ia langsung pergi masuk ke dalam kamarnya. Sontak kami berdua menyadarinya.
“Sepertinya aku langsung tahu jawabannya,” cetus Eledarn terperangah.
“Maaf yah… Kumohon jangan diambil hati,” tutur ibunya gugup.
“Iya. Tidak apa-apa,” jawabku tersenyum. Kemudian ibunya dengan murah hati tersenyum dan berkemam.
“Aku harap kalian bisa menjadi temannya.” Tak lama kemudian Rinne keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapih nan anggun. Pada saat itulah terlihat jelas di mataku seorang gadis rupawan bagai intan permata.
“Ca—Cantik sekali…” gumam Eledarn tercengang. Aku yang menapatapnya tidak bisa berkata apa-apa. Ibunya yang mendengar ucapan Eledarn lalu tersenyum dan menyahutinya.
“Sayang… Sifatnya tidak menggambarkan parasnya…”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)