Love Exchange

Love Exchange
Episode 189 : Ikatan Tali


__ADS_3

Pagi hari yang sangat cerah, kami sudah dibuat hangat dengan asap kendaraan yang mengepul di tengah kota. Kami yang sedang terburu-buru lantas menjadi panik dan heboh sendiri. Sesekali kami bernyanyi bersama untuk terakhir kalinya pada momen kal ini. Seketika saja kami menjadi kalang kabut kembali saat melihat jam. Hingga akhirnya kami telah tiba di tujuan dan langsung mengeluarkan barang bawaan Freda dan Hart.


“Huft… Untung saja tidak terlambat,” hembus Freda lega.


“Siapa suruh kalian begadang?” lanjutku sedikit jengkel.


“Loh, hari-hari terakhir di sini harus dimanfaatkan dengan baik,” sahut Hart.


“Iya, sudah-sudah. Kalian hampir terlambat, lho,” ucapku.


Kemudian kami saling berpamitan dengan Freda dan Hart. Aku yang baru saja bersalaman dengan Hart tiba-tiba saja Freda langsung berlari lalu memelukku. Seketika aku terkejut terhadapnya. Rein yang melihat kami berdua sontak merasa sedikit cemburu terhadapku. Freda pun tersenyum dan mengedipkan sebelah mata ke arah Rein.


“Apakah masih lama?” tanyaku yang merasa tak nyaman.


“Oh iya,maaf, maaf…” balas Freda cengar-cengir. Saat ia melepaskan pelukannya, ia berbisik padaku.


“Mulai sekarang segala pilihan kalian berdua akan ditentukan mulai dari sini. Kau harus menghentikan kereta yang sudah berjalan, jangan membuatnya semakin cepat,” paparnya. Teman-temanku yang melihat kami kemudian menjadi terheran-heran.


“Wejanganmu cukup panjang, ya… Dan tumben sekali kau berkata seperti itu,” balasku pelan.


“Aku kan sangat ahli dengan masalah itu!” lontar Freda merasa bangga.


“Kalian membicarakan apa?” tanya Rein penasaran.


“Hanya memberi petuah,” sahut Freda menyeringai.


Setelah itu, kami memutuskan untuk berfoto terlebih dahulu sebelum mereka berdua memasuki pintu keberangkatan. Bella meminta tolong pada seseorang yang melintas di dekat kami. Saat semua usai, akhirnya kami berpisah dengan Freda dan Hart. Mereka membawa koper dan tas pikulnya seraya melambaikan tangan ke arah kami, begitu pula kami yang menyambut keberangkatan mereka.


“Sampai jumpa!” lontarku.


“Dadah!” sahut mereka berdua.


“Kabari kami saat kau sudah sampai!” balasku.


Seketika suasana menjadi haru. Aku merasa cukup senang dapat menjalani liburan musim dingin bersama mereka. Mereka memasuki pintu keberangkatan lalu hilang dari pandangan kami. Pada akhirnya kami kembali menuju asrama. Terdapat banyak sekali taksi yang berjajar panjang di tempat penjemputan. Gavin mengecek dompetnya dan ia terkejut setengah mati saat tahu bahwa ia lupa membawa uang.


“Tunggu, tunggu! Dompetku kosong!” lontarnya panik.


“Eh? Bagaimana bisa kau lupa membawa uang?” tanya Bella kesal.


“Aku juga tidak tahu. Perasaanku sudah ku masukkan ke dompet tadi,” jawab Gavin sembari mengecek dompet di setiap selipnya.


“Ya ampun… Ada-ada saja…” gumam Rein seraya menggeleng-gelengkan kepala. Kami tidak habis pikir terhadap masalah yang menimpa kami sekarang.


“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Icha kebingungan.


“Mau tidak mau kita harus naik kereta bandara,” jawab Gandra.

__ADS_1


Kami berjalan menuju stasiun yang berada tidak jauh dari terminal bandara. Terlihat keramaian yang juga sedang menunggu kedatangan kereta tersebut. Saat kereta tiba, semua orang langsung menempati tempat duduk. Akibatnya kami berada di tempat duduk yang saling terpisah dari beberapa kami. Aku duduk bersama Cassie di sebelahku. Gavin dan Rein duduk berdampingan bersama Gandra yang menyertai mereka.


“Pagi-pagi tapi sudah ramai saja, ya,” gumam Gavin.


“Banyak perjalanan yang berangkat malam dan baru sampai sekarang,” jawab Gandra.


“Oh iya, ya… Kupikir hanya ramai dengan orang yang mengantar saja,” balas Gavin yang baru tersadar.


“Yah… Mungkin itu juga termasuk,” lanjut Gandra. Rein melihat banyak penumpang yang duduk berserta koper dan barang bawaannya di samping mereka.


“Bukankah naik taksi lebih efektif?” tanya Rein kebingungan.


“Mereka tidak mau menghabiskan uang makan seharian hanya untuk naik kendaraan sekali jalan,” sahut Gandra.


“Benar juga…” Kemudian mereka bertiga terdiam sejenak sembari melihat pemandangan pasir putih berkilau dari balik jendela.


“Tak terasa waktu jalan begitu saja, ya…” gumam Rein.


“Perasaanku baru saja kemarin kita berjumpa Hart dan Freda,” sahut Gavin.


“Dan tidak lama lagi kita semua juga akan berpisah,” ujar Gandra.


“Iya, sedih rasanya kalau tali yang sudah terikat lalu kembali terputus seperti semula,” tutur Rein tertunduk murung.


“Tidak akan pernah putus, kecuali kau mengguntingnya,” balas Gandra.


“Kalian membicarakan apa, sih?” sahut Gavin terheran-heran.


“Kita anggap jarak itu sebagai beban bagi si tali,” ucap Gandra yang mulai memaparkan pandangannya.


“Ya…?” balas Rein.


“Semakin kuat hubungan maka tali akan semakin kuat juga, kau setuju dengan itu?”


“Ya.” Sementara itu, Gavin hanya menyimak pembicaraan mereka berdua dengan penuh rasa penasaran dan keheranan.


“Kalau tali itu diberi beban yang kita sebut ‘jarak’ itu, kau tahu kan apa yang terjadi?” ujar Gandra.


“Antara putus atau tidak. Tergantung seberapa kuat tali itu,” jawab Rein.


“Tepat, tapi itu masih satu factor,” balas Gandra. Rein pun memandangnya dengan wajah kebingungan.


“Kau juga bisa mengurangi bebannya,” lanjut Gandra.


“Maksudmu mengurangi jarak? Tapi bagaimana? Bukannya itu cukup sulit?” tutur Rein yang semakin buncah.


“Tidak sulit, kok. Untung saja sekarang sudah bukan zaman batu lagi,” jawab Gandra tersenyum yang kemudian memegang ponsel pintar di tangannya.

__ADS_1


“Oh iya, kenapa aku tidak kepikiran?” gumam Rein.


“Kira-kira seperti itu… Kau mengerti, Gavin?” ujar Gandra lalu mengejutkan Gavin yang baru tersadar setelah beberapa waktu terdiam melamun.


“E—Eh? Apa?” lontar Gavin. Gandra hanya bisa menepuk jidat melihat respon Gavin yang seperti itu. Rein kembali memandang keluar jendela dengan sangat tenang.


“Kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Gandra.


“Tiba-tiba aku membayangkan saat kita berpisah suatu saat nanti…” balas Rein pelan.


“Pasti akan tiba saatnya… Kau takut dengan perpisahan, ya?”


“Yah… Begitulah… Aku bingung bagaimana posisiku dengan Adelard nanti…” Gavin yang mendengarnya sekilas lantas langsung mengikuti arah pembicaraan.


“Apa kau punya persiapan?” tanya Gandra.


“Entahlah… Sepertinya aku belum bisa mengambil kunci darinya,” jawab Rein pegal hati.


“Selama kau bisa menerima kenyataan, itu tidak akan jadi masalah,” balas Gandra.


“Aku belum siap menerimanya…” tutur Rein yang seketika meneteskan air mata. Gandra dan Gavin yang melihatnya sontak terkejut.


“Kau tidak apa-apa?” ucap Gavin khawatir.


“Apa yang harus ku lakukan?” ringis Rein tersedu-sedu. Gandra yang tidak dapat berbuat apa-apa lantas membiarkannya.


“Gandra, lakukan sesuatu,” lontar Gavin.


“Aku juga tidak tahu, hanya dirinya yang mengerti tentang perasaannya sendiri,” balas Gandra. “Tapi, bagaimana denganmu?” imbuhnya.


“Kalau aku, ya…” gumam Gavin berpikir cukup lama.


“Aku tahu untuk mendapatkan permata sangat sulit. Jadi, aku akan sangat bersyukur saat mendapatkannya, kalau tidak ya tidak jadi masalah,” lanjut paparnya.


“Loh, itu kau bisa mengerti bahasa seperti itu. Kenapa kau tidak mengerti saat aku bicara dengan Rein?” tanya Gandra tak habis pikir.


“Analogi kalian tidak ku pahami. Kalau permata menurutku semua orang pasti juga tahu,” jawab Gavin.


“Ngomong-ngomong kau sering bercermin juga, ya,” balas Gandra.


“Maksudmu?”


“Kau tahu diri,” ucap Gandra cengar-cengir. Rein menjadi tersinggung mendengar perkataan Gandra.


“Jadi, menurut kalian aku tidak tahu diri?” tanya Rein yang masih sedih. Mereka berdua seketika kehabisan kata-kata. Kemudian dengan suara pelan ia bertanya pada Gavin dan Gandra.


“Dia masih menerimaku, kan…?”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2