
Pagi menjelang siang dengan matahari yang sudah berada di ujung tombak adalah saat kami tiba di taman air. Kami semua sudah kebasahan dengan keringat yang mengucur setelah berjalan cukup jauh dari asrama. Suasana tampak ramai dengan orang-orang yang juga sedang berlibur di akhir pekan. Kami langsung bergegas masuk dan menempati meja paying yang masih tersedia.
“Huft… Akhirnya!” hembus Bella merasa lega.
“Rasanya ingin langsung nyebur ke dalam!” sahut Rhean tak sabar.
“Ganti pakaian dulu,” lanjut Icha. Aku, Gandra, Gavin, dan Rhean melepas kaus kami masing-masing. Lalu kami meletakkannya di atas meja dan pergi meninggalkan mereka.
“Loh? Hanya begitu?” tanya Bella kebingungan.
“Apa lagi? Kan memang begini,” jawab Gavin. Pada saat yang bersamaan aku melihat ruang ganti dari kejauhan.
“Di sana ada ruang ganti. Kami duluan, ya,” ucapku seraya meninggalkan mereka bersama yang lain.
“Huh, kalau kalian seperti itu, aku juga bisa,” sahut Bella sembari menarik baju yang dikenakannya. Kami yang melihatnya sontak terkejut dan berlari menghampirinya. Dengan cepat Rhean memegang tangan Bella dan memberhentikannya.
“Bukan begitu konsepnya, Mbak!” lontar Rhean kesal.
“Habisnya kalian meninggalkan kami!” balas Bella kecewa.
“Baiklah, cepat sana ganti,” sahut Gandra dengan tangan menyilang kemudian duduk di atas bangku, begitu pula dengan kami. Mereka berjalan meninggalkan kami dengan baju renang yang dibawanya. Setelah beberapa saat, mereka belum kunjung terlihat keluar dari ruang ganti.
“Lama sekali mereka…” gumamku.
“Masa iya harus berdandan dulu sebelum berenang?” sahut Gavin sebal. Rhean melihat para pengunjung yang berada di sekitar. Ia melihat banyak wanita yang mengenakan baju renang.
“Kau sedang melihat apa?” tanya Gandra.
“Pemandangan…” jawab Rhean dengan mulut terbuka. Aku yang mendengarnya lantas menepuk jidat dan tak habis pikir dengannya.
“Sempat-sempatnya kau memikirkan hal seperti itu,” ujarku.
“Justru ini sebuah kesempatan yang terbuka lebar!” lontar Rhean. Mendengar perkataannya membuat Gavin seketika tersadar dan langsung menghampiri Rhean. Mereka berdua tampak asyik dengan dunia mereka sendiri.
“Haduh… Terserah kalian saja,” hembusku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tak lama kemudian terlihat Bella dan yang lainnya datang menghampiri kami.
“Kalian lama sekali,” cetus Gandra kepada mereka.
“Di sana ramai, tahu!” balas Bella jengkel. Rhean dan Gavin hanya terdiam dan bersemangat melihat ke arah mereka berempat. Lantas aku menyadarkannya seraya memukul kepalanya.
__ADS_1
“Jangan cari gara-gara,” ucapku.
“Indahnya pemandangan…” racau Gavin.
“Apakah kau masih kurang dengan Cassie?” celetuk Gandra. Cassie yang mendengarnya sontak merasa sangat malu dan langsung menutup-nutupi tubuhnya. Rein dan yang lainnya merasa kesal terhadap Gavin dan Rhean. Rein mengancam mereka sembari memeragakan sesuatu dengan tatapan yang tajam.
“P—Potong timun?” gumam mereka berdua gemetar ketakutan.
“Waktu itu sosis, sekarang timun…” sahutku dalam hati. Pada saat yang bersamaan aku teringat dengan Freda dan kawan-kawan yang lainnya kala itu.
“Ayo kita langsung berenang! Aku sudah tak sabar,” lanjut Icha.
“Oke, oke,” balasku dan kami berjalan menuju kolam renang.
Terlihat berbagai kolam dan wahana yang tersedia, seperti kolam ombak, kolam arus, seluncuran air, kolam pantai, ember tumpah, dan lain-lain. Aku yang melihat kolam dengan ember tumpah langsung mengajak yang lainnya lalu berlari ke sana. Gavin dan Rhean langsung berlari mengikutiku, sementara itu yang lainnya hanya melihat kami.
“Seperti anak kecil saja,” gumam Gandra tersenyum.
“Tapi kolam itu kan cetek,” sahut Bella. Mereka berjalan melihat-lihat tempat lain. Tidak jauh melangkahkan kaki, tampak sebuah kolam yang serupa namun memiliki kedalaman untuk orang dewasa. Lantas mereka kembali menghampiri kami.
“Adelard, Gavin, Rhean! Di sana ada yang lebih besar!” seru Bella dari kejauhan, tetapi kami yang terlalu asyik tidak mendengar apa pun. Gandra pun berjalan mendatangiku.
“Hah? Aku tidak mendengarmu!” lontarku kebingungan. Sontak Gandra mendekatkan mulutnya ke samping telingaku kemudian berteriak sekencang-kencangnya.
“Ada kolam ember yang lebih besar!” Aku yang mendengarnya seketika terdiam dan telingaku berdengung. Lalu ia menarik tanganku dan yang lainnya pula. Akhirnya kami menghampiri mereka semua yang telah menunggu, sementara itu aku berjalan sembari menggoyangkan telinga dengan kepala yang miring.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Rein khawatir. Seperti biasa aku memasang wajah datar lagi di hadapannya. Ia pun hanya terdiam sembari memandangiku.
Setelah beberapa saat, kami menghampiri wahana ember tumpah kemudian kolam-kolam lainnya. Hingga akhirnya kami mendatangi kolam ombak dengan pelampung ban ganda yang kami gunakan. Tidak lama setelah menggunakannya, aku turun dari pelampung tersebut dan berenang di kolam itu.
“Lebih seru seperti ini,” ucapku.
“Wah, benar juga,” balas Gavin yang juga mengikutiku.
Sepuluh menit berlalu, kami lanjut berenang menuju kolam arus yang terhubung dengan kolam ombak. Di sepanjang kolam tersebut terdapat semburan air di dinding kolam. Rhean langsung mendekatkan tubuhnya dengan semburan tersebut. Ia merasakan sensasi tersendiri berdiri di sana.
“Enak sekali…” gumamnya. Kami yang mendengarnya sontak berhenti lalu ikut mencobanya.
“Seperti dipijat dengan air,” ucap Bella. Kemudian saatnya Icha mendapatkan gilirannya. Ia berdiri berhadapan dengan semburan air tersebut, berbeda dengan kami yang memosisikan punggung kami di depan semburan itu.
__ADS_1
“Seru juga ternyata. Tapi kok agak aneh rasanya, ya?” ujarnya. Kami yang melihatnya lantas tak habis pikir dengan tingkahnya.
“Yah… Kau memosisikannya seperti itu…” sahut Gavin. Beberapa waktu berselang kami melanjutkan renang memutari kolam arus, tetapi tiba-tiba saja Gavin terdiam dan bergerak lambat.
“Huft… Hangat…” hembusnya lega.
“Ih… Semuanya menjauh darinya!” lontar Bella.
“Tenang saja, airku sudah mengalir entah ke mana,” balas Gavin bercanda.
“Kalau kau tidak bilang, kami tidak akan yang menyadarinya,” lanjut Gandra.
“Tiba-tiba saja terucap dimulut. Maaf,” ucapnya Gavin cengengesan.
Tak terasa waktu telah memasuki siang hari dan matahari sudah bersinar terik di atas kepala kami. Untung saja musim panas sudah usai sehingga hawa tidak terlalu panas saat ini. Kami kembali menuju meja payung yang telah kami tempati sebelumnya. Sekarang saatnya untuk mengisi perut kami kembali yang sudah kosong. Kami memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan dan minuman. Sembari menunggu, kami mengobrol bersama. Aku harus berwajah dingin karena ada Rein di hadapanku.
“Aku ingin memesan minuman dulu,” ucapku seraya beranjak bangun.
“Loh, kau tidak memesannya tadi?” tanya Bella.
“Aku lupa,” balasku kemudian meninggalkan mereka.
Aku pergi menuju sebuah kios yang menyediakan berbagai minuman yang berada tidak terlalu jauh. Terlihat para pengunjung yang tampak sangat bersenang-senang, sampai-sampai aku tidak terlalu memperhatikan langkahku. Tanpa aku sadari, tiba-tiba saja terdapat seorang perempuan yang berjalan dari balik dinding dengan minuman yang masih terisi penuh di tangannya. Aku menabraknya dan membuat minuman tersebut tumpah ke arahku.
“Maaf, aku tidak memperhatikan jalan. Kau tidak apa-apa, kan?” ucapku.
“Ti—Tidak apa-apa,” jawabnya gugup.
“Aku ingin ke sana. Akan ku belikan kau yang baru,” lanjutku, tetapi ia tampak tidak mendengarkan perkataanku dan hanya terdiam memandangi diriku. Minuman tersebut masih mengalir di tubuhku.
“Apa ada yang aneh denganku?” tanyaku kebingungan.
“Tidak, tidak. Maaf, baru saja pikiranku kosong,” balasnya gelagapan. Kami berdua kemudian berjala menuju kios minuman lalu memesannya. Sembari menunggu nomor pesanan, kami menempati sebuah bangku yang berada tidak jauh dari sana. Tubuhku terasa sangat lengket akibat minuman tersebut.
“Aku bawa lap, izinkan aku mengelapnya,” ucap perempuan tersebut sembari mendekatiku. Aku merasa sangat malu dengan apa yang terjadi sekarang. Aku menahan rasa malu dengan berucap dengan diriku sendiri.
“Kenapa jadi terlalu dekat seperti ini?”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)