Love Exchange

Love Exchange
Episode 184 : Semarak Pesta Malam


__ADS_3

Kala petang hari tiba, semua orang mulai berisitirahat dan pulang menuju rumah masing-masing untuk kegiatan yang sebenarnya saat malam hari nanti. Segala persiapan yang semua orang kerjakan sudah sepenuhnya selesai. Kami tengah bersantai di teras rumah Pak Gled. Aku merasa lega dan kedua mataku termanjakan dengan panorama yang kulihat.


“Huft… Asyik juga bisa melakukannya bersama-sama,” hembusku.


“Tentu, itulah gotong royong,” sahut Pak Gled.


“Apa kita tetap menunggu di sini sampai acara dimulai?” tanya Bella pada kami semua.


“Kalian pulanglah dulu, berapi-rapi dan bersiap-siap,” lanjut Pak Gled.


“Baiklah,” balasku.


Setibanya di rumah, kami bergiliran untuk membersihkan diri. Kami tidak mengisi perut sama sekali karena kami ingin memakan segala makanan pesta nanti sebanyak-banyaknya. Terlihat Cassie yang sedang menggunakan ponselnya. Aku yang penasaran lantas tidak dapat mendatanginya karena tubuhku tidak mengizinkannya. Lagi-lagi aku merasakan hal aneh yang sama seperti biasanya. Akhirnya aku menghampiri Gavin dan kawan-kawan yang sedang memainkan gim ponsel.


“Kalian tidak siap-siap?” tanyaku.


“Tinggal pake jaket, selesai,” balas Rhean sembari matanya yang sangat fokus dengan layar tersebut.


“Dengan baju seperti ini?” lanjutku.


“Ya tinggal diganti saja,” sahut Gavin.


“Kau ini banyak bicara, ya,” ujar Hart.


“Awas saja kalau kalian telat,” ucapku yang jengkel terhadap mereka. Aku meninggalkan mereka lalu pergi menuju ruang tengah untuk bersiap-siap.


Di sisi lain, Rein menghampiri Cassie yang sedang konsentrasi menatap layar ponselnya. Ia pun bertanya pada Cassie.


“Kau sedang melihat apa? Serius sekali…”


“Resep untuk nanti,” jawab Cassie.


Waktu terus berjalan dan hari mulai gelap dan lampu-lampu sudah menyala terang di setiap sudut desa. Aku memandangnya sejenak dari balik jendela. Mentari tenggelam dan langit telah sepenuhnya gelap. Pada akhirnya kami keluar dari rumah lalu berjalan menuju tanah lapang di tengah desa. Dari kejauhan terlihat tumpukan kayu besar yang membentuk api unggun raksasa. Kami semua tercengang melihatnya.


“Besar sekali…” decak Bella ternganga.


“Apa tidak bahaya?” lanjut Rein tak habis pikir. Pada saat yang bersamaan muncul Pak Gled dari belakang kami.


“Tentu tidak, kami sudah memberikan pengaman,” sahut Pak Gled.


Sesampainya di sana, terdapat banyak sekali orang-orang yang berkerumun di segala tempat. Aku yang baru saja memasuki tanah lapang tersebut lantas mencium aroma tipis, tetapi semua orang tampak tak sadar atau tidak menghiraukannya.


“Apa kalian mencium sesuatu?” tanyaku kebingungan.


“Memangnya ada bau apa?” balas Bella.

__ADS_1


“Apa ada yang kentut?” sahut Gavin.


“Bukan itu! Baunya tipis sekali… Kalian tidak sadar?” lanjutku. Pak Gled hanya tersenyum melihatku dan aku tidak mengetahuinya.


Tidak lama kemudian seseorang naik ke atas panggung dengan sorotan lampu yang menarik perhatian khalayak. Orang tersebut adalah seorang kepala desa di desa ini. Kami langsung menempati tempat duduk yang terbuat dari gelondong yang dibaringkan. Ia memberikan sambutan lalu membuka acara ini. Terdapat beberapa orang yang berjalan di setiap tempat duduk untuk memberikan minuman kepada seluruh hadirin.


“Minuman apa ini?” tanyaku penasaran.


“Itu minuman khas dari desa ini,” jawabnya. Aku memeriksanya dan memastikan kalau minuman itu aman untuk diminum siapa pun.


“Tenang saja, minuman itu tidak memabukkan,” ujarnya tersenyum. Kemudian aku kembali menyimak sambutan yang masih diberikan.


“Mari kita mulai acara tahunan ini dengan bersulang lalu meminumnya bersama-sama.” Kepala desa itu mengangkat sebuah botol di tangannya kemudian berseru ke arah kami semua.


“Bersulang!” Sontak seluruh hadirin dengan serentak meramaikan suasana seraya bersorak keras. “Bersulang!”


Pada saat yang bersamaan seluruh lampu warna-warni menyala dan berkelap-kelip. Api unggun raksasa itu dinyalakan dan langsung menghangatkan kami semua walaupun kami berada di jarak yang cukup jauh darinya. Semua orang mulai berhamburan menuju bermacam-macam acara yang tersebar di sekitar sini. Aku melihat orang-orang yang menari dan memutari api unggun itu bersama alunan musik yang dimainkan beramai-ramai.


Cassie, Rein, dan beberapa dari kami langsung bergegas menuju acara masak yang diselenggarakan di sisi barat api unggun. Aku sempat diajak oleh mereka, namun aku ingin melihat-lihat sekeliling lalu menyusul mereka. Aku bersama Gandra dan kawan-kawan berjalan bersama mengelilingi tempat acara. Terlihat dari kejauhan sebuah panggung pentas yang sedang berlangsung pertunjukkan. Kami menyaksikan sebentar di sana. Aku sempat terperangah dengan cerita dan budaya yang dibawakan.


“Wah… Epik sekali…” gumamku kagum.


Setelah berada di sisi selatan, kami berjalan menuju sisi timur dan terlihat tempat makan yang amat besar dengan tempat bermain yang besar pula di sebelahnya. Tempat makan tersebut masih cukup sepi lantaran belum ada hidangan utama yang disajikan. Tentu saja hidangan yang disajikan adalah masakan yang dipentaskan di sisi barat api unggun. Aku menjadi tidak sabar untuk mencoba makanan yang dimasak oleh Cassie dan kawan-kawan.


“Sepertinya di sana ramai,” ucap Gavin sembari menunjuk ke arah tempat bermain itu.


“Sepertinya mereka sedang bermain permainan meja…” gumamku.


Setelah itu kami melanjutkan langkah menuju sisi utara api unggun. Suara yang sangat ramai terdengar dari kejauhan. Ternyata di sana adalah tempat pesta minuman. Tempat tersebut banyak didatangi oleh laki-laki. Gavin, Rhean, dan Hart yang melihatnya sontak membara-bara dan langsung berlarian ke sana. Aku dan Gandra akhirnya mengikuti mereka dari belakang.


“Lihat! Orang itu sedang atraksi!” lontar Rhean.


“Lebih cepat lebih baik, bukan?” sahut Hart bersemangat.


“Aku tidak sabar untuk menghangatkan tubuhku!” lanjut Gavin.


“Huft… Dasar kaum adam…” hembusku. Aku menjadi heran saat melihat Gandra yang bersikap biasa saja tidak seperti mereka bertiga.


“Kau tidak…”


“Santai saja, kau saja santai,” cetusnya.


Saat berada di meja, mereka langsung memesan minuman pada pelayan tersebut. Aku dan Gandra yang baru datang belum memesan apa pun. Ketika kami berdua ditanyakan, aku hanya memesan air minum. Gandra memesan minuman yang belum pernah kudengar sebelumnya. Terlihat ia juga memberikan tanda ke arah pelayan tersebut dengan jarinya.


“Apa yang kau lakukan?” tanyaku terheran-heran.

__ADS_1


“Hanya memberi tanda,” jawabnya menyeringai.


Tidak lama berselang, minuman kami datang di hadapan kami. Aku yang sudah haus dengan cepat langsung menghabiskannya. Gandra yang penasaran lantas bertanya pada sang pelayan.


“Tiga?” Pelayan itu meresponnya dengan wajah kebingungan dan menjawabnya dengan santai.


“Lima puluh.” Gandra yang terkejut mendengarnya sontak menyemburkan minuman di dalam minumnya.


“L—Lima puluh?”


“Iya. Kalau kau tujuh,” jawabnya kemudian melanjutkan menyajikan minuman untuk orang lain. Gandra yang masih tidak percaya kemudian bertanya padaku dengan wajah cemas.


“Kau tidak apa-apa kan, Adelard?”


“Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?” balasku kebingungan.


“Tidak, bukan apa-apa.”


“Hanya saja tubuhku terasa hangat sekarang,” lanjutku.


“Yah… Tempat ini memang cukup hangat…” Gandra berusaha tidak memberi tahuku tentang minuman yang aku minum.


Seusai menghabiskan waktu setengah jam di sini, kami memutuskan untuk mendatangi Cassie dan kawan-kawan yang berada di sisi barat. Sepanjang langkah, Gavin, Rhean, dan Hart selalu meracau tidak jelas dan membicarakan hal yang tidak masuk akal padaku dan Gandra. Ia masih tak percaya dengan apa yang ku alami sekarang.


“Kau minum berapa gelas air tadi?”


“Tiga? Sepertinya empat,” jawabku ragu.


“Waw, banyak juga untuk setingkat air putih.” Sebenarnya Gandra sangat terkejut mendengar jawabanku, tetapi ia tidak dapat menunjukkan responnya kepadaku.


Setibanya di pentas memasak, terlihat Cassie dan Rein yang berpasangan sedang mempersiapkan hidangan mereka, begitu pula dengan Bella dan Icha yang juga berpasangan. Mereka semua saling bersaing untuk membuat hidangan dalam jumlah yang banyak dan tentunya lezat. Kami menghampiri Freda yang bersorak menyemangati mereka.


“Kau tidak ikut?” tanya Gandra.


“Aku tidak terlalu pandai memasak… Hehe…” jawab Freda cengar-cenger.


“Mak Lampir mana bisa masak,” celetuk Hart dan membuat Freda jengkel terhadapnya. Mereka berdua saling beradu mulut. Aku yang mengabaikannya lantas memberikan semangat pada Rein dan Cassie.


“Semangat, Rein, Cassie!”


Di lain sisi, Cassie yang mendengar suaraku lantas beralih fokus dan menoleh ke arahku. Tiba-tiba saja ia bertingkah aneh dan mulai mengerjakan semuanya dengan tidak teratur. Kami menjadi khawatir terhadapnya. Rein berusaha untuk menutupi kesalahan tersebut.


“Cassie, fokus!” lontar Rein. Setelah beberapa waktu, akhirnya Cassie dapat kembali tenang dan mengerjakan segalanya dengan teratur. Aku sempat bertanya-tanya tentangnya di dalam benakku.


“Kenapa tiba-tiba dia jadi begitu?”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2