
Langit sore yang disertai dengan hembusan angin lembut yang bertiup melewati jendela. Satu petang yang amat berharga bagi Gavin. Rasa senang yang menggebu-gebu dan beban pikiran yang berangsur mereda. Galeri pustaka nan hening dan sunyi menjadi saksi bisu antara percakapan mereka. Dengan rasa tersipu yang tercampur aduk, mereka berjalan keluar dari perpustakaan. Terdengar suara beberapa orang yang masih berada di gedung sekolah.
Sepanjang jalan menuju kelas mereka saling melangkah bersebelahan. Tidak banyak tingkah yang menjadi perangai mereka. Seakan-akan lisan mereka membeku dan perilakunya terjaga. Pelangi telah hadir di tengah rintik-rintik haru. Bulu sayap saling beterbangan menari di dalam cakrawala kalbu. Sungguh mentari bersinar terang menghapus awan harap nan kelabu. Dua insan yang hanya bisa tertunduk canggung namun berusaha untuk mendekatkan diri.
“Apa yang dilakukan saat seperti ini?” tanya Cassie penasaran.
“Eee… Aku lupa…” balas Gavin gugup.
“Astaga, kenapa pikiranku kosong begini?” lanjut Gavin dalam hati. Kemudian Cassie mencoba untuk memegang tanganku. Hingga akhirnya punggung telapak tangan kami saling bersentuhan lantas saling menghindar. Kami berdua menjadi salah tingkah sendiri. Gavin yang baru teringat akan hal tersebut sontak meraih tangannya lalu menggenggamnya erat-erat.
“Seperti ini?” tanya Gavin teresenyum.
“A—Aku sering lihat seperti ini…” balas Cassie gelagapan. Warna rona merah memenuhi pipinya. Tidak lama kemudian Gavin merasa tidak enak dan terlintas di benaknya untuk tidak terlalu terang-terangan.
“Apa tidak terlalu cepat kita melakukan ini?” tanya Gavin.
“M—Maaf, aku tidak tahu apa-apa…” Mereka pun meleraikan tangan mereka lalu berjalan seperti biasa. Cassie tidak tahu harus berbuat apa dengan situasi yang dialaminya sekarang.
“Bersikaplah seperti yang aku kenal selama ini,” ucap Gavin menyeringai. “Jangan jadikan hal seperti ini menjadi beban pikiranmu.”
“B—Baik…”
Setelah keluar dari gedung sekolah, mereka menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar taman yang berada tak jauh di sana. Terlihat beberapa pasangan lainnya berjalan berduaan. Gavin dan Cassie pergi menghampiri pada sebuah bangku yang berada dekat dengan air mancur. Mereka duduk bersebelahan dan saling bertukar kata.
“Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Gavin.
“Aku tidak mengerti. Ada rasa senang yang berbeda dari sebelum-sebelumnya,” jawab Cassie. “Apa kau juga seperti itu?” imbuhnya. Gavin mengiakan pertanyaannya.
“Bagaimana perasaanmu padaku?” tanya Gavin dan seketika mengejutkan Cassie. Ia menjadi gelapagan dan buncah untuk berkata apa.
“Aku menyukaimu…” Gavin yang mendengarnya sontak merasa sangat bahagia.
“Aku juga menyukai Adelard, Rein, dan yang lainnya,” lanjutnya. Tiba-tiba saja rasa bahagia Gavin menurun drastis menjadi datar. Gavin pun menghelas napas seraya bergumam di benaknya.
“Aku tidak tahu harus senang atau biasa saja…”
“Yah… aku juga begitu, kok,” balas Gavin cengar-cengir.
“Apa kau benar-benar tidak pernah seperti ini sebelumnya?” tanya Cassie penasaraan.
“Iya, aku sama sekali belum melakukannya sama sekali dulu,” jawabnya. Beberapa detik berselang, tiba-tiba perut Cassie berbunyi dan membuat dirinya malu setengah mati.
“Ayo kita cari makan di sekitar sini,” ajak Gavin sembari mengulurkan tangannya. Cassie pun meraihnya dengan wajah yang tersipu.
__ADS_1
“Ayo… S—Sebelumnya aku minta maaf!”
“Tidak masalah. Perutku juga lapar, kok.”
Mereka berjalan di pinggir taman untuk mencari jajanan, namun suasana yang tampak sangat ramai membuat mereka kebingungan untuk menghampiri kios tersebut. Melangkah seraya melihat sekitar, mereka juga mencari meja makan yang masih kosong. Tampak dari kejauhan Cassie melihat sekumpulan orang-orang yang tidak asing baginya.
“Apakah itu Adelard dan yang lain?” tanya Cassie ragu. Lantas Gavin menyipitkan kedua matanya dan menyadari kalau yang dilihatnya adalah aku dan teman-temanku yang sedang berkumpul dan bersenang-senang.
“Iya, itu mereka!” lontar Gavin bersemangat. Akhirnya mereka datang menghampiri kami.
“Halo, semuanya!” seru Gavin gembira.
“Kalian semua sudah ada di sini dari tadi?” tanya Cassie.
“Ya. Entah mengapa akhir-akhir ini kita jadi sering berkumpul di tempat ini,” jawabku yang juga bingung.
“Habisnya, aku baru tahu kalau akan seasyik ini,” sahut Bella ceria.
“Kalian berdua dari mana saja?” tanya Rhean penasaran.
“E—Eh? Eee… Kami ada urusan di ruang guru tadi…” jawab Gavin kelimpungan. Aku dan yang lainnya yang melihat perangainya lantas tak yakin dengan perkataannya barusan.
“Benarkah?” balas Icha.
“B—Benar kata Gavin. Tadi kami disuruh untuk membantu guru memasukkan data nilai ujian ke dalam sistem,” tutur Cassie meyakinkan kami semua.
“Baiklah, kalau Cassie yang mengatakannya aku percaya,” sahut Bella tersenyum. Gavin yang mendengarnya lantas menjadi kesal.
“Aku sudah bilang seperti itu tadi!” Tak lama waktu berselang, Rein berjalan mendatangi kami sembari membawa nampan yang terisi penuh dengan makanan dan minuman.
“Wah, ada Gavin dan Cassie ternyata,” ucap Rein.
“Oh iya, kalau kau ingin memesan tinggal panggil dia saja,” lanjut Icha sembari menunjuk penjual tersebut.
“Oke,” balas Gavin tersenyum.
“Ngomong-ngomong, tadi aku dengar sesuatu yang menarik,” ujar Rein sontak menarik perhatian kami semua.
“Apa itu? Aku jadi penasaran!” lontar Bella yang sudah tak sabar untuk mendengarkannya.
“Kudengar ada seorang laki-laki yang menembak perempuan di dalam perpustakaan,” papar Rein. Gavin dan Cassie yang mendengarnya lantas terkejut dan sedikit bertingkah aneh. Mereka berdua berusaha untuk tetap merasa tenang. Gavin yang baru tersadar sontak hanya bisa menyalahkan dirinya di dalam kepalanya.
“Sial! Aku lupa kalau sekolah ini banyak mata-mata!” Gandra yang melihat sikap Gandra lantas mengetahuinya.
__ADS_1
“Jangan bilang kalau itu kalian, Gavin…” gumam Gandra dalam hati, sementara itu kami masih asyik memperhatikan Rein.
“Serius? Wah, pasti orang itu pandai mencari situasi!” cakap Rhean.
“Lalu bagaimana hasilnya?” lanjutku bertanya.
“Laki-laki itu diterima, dan sekarang mereka sudah berpacaran,” jawab Rein.
“Bagaimana kau tahu kalau mereka berpacaran?” tanya Gandra.
“Kata orang yang melihat, awalanya mereka masuk ke dalam seperti biasa, tapi tidak lama setelah keluar mereka langsung saling bergandengan tangan,” jelas Rein.
“S—Sefrontal itu mereka melakukannya?” lontarku tidak percaya.
“Mungkin…? Aku hanya mendengar kabarnya, bukan melihatnya…” balas Rein.
“Waw, cepat sekali berita itu menyebar,” ucap Gavin. Bella yang mendengarnya lantas tidak berpikir demikian. Sontak ia menanyakannya lagi kepada Rein.
“Tunggu, memangnya kapan hal itu terjadi?”
“Baru-baru ini. Sepertinya belum ada satu jam,” jawab Rein.
“Tapi, siapa pun laki-laki itu. Ia sangat pandai dengan semua itu,” ujar Rhean terkagum-kagum.
“Apa kau tidak seperti itu juga?” tanya Icha kepada Rhean.
“Aku tidak tahu, aku juga belum pernah mencobanya,” jawabnya.
“Menyedihkan…” celetuk Bella. Aku yang melihat tingkah mereka sontak membuatku tergelitik tawa, sedangkan Rhean menjadi sebal.
“Heleh, kalian juga sama, kan?” tandas Rhean kepada Icha dan Bella. Seketika suasana menjadi ribut dengan mereka bertiga yang saling berdebat satu sama lain. Rein yang baru tahu berita tersebut tiba-tiba saja terlintas di kepalanya suatu hal yang membuatnya merasa curiga kepada Gavin dan Cassie.
“Kalian dari mana tadi?” tanya Rein.
“Tadi kami berdua dari ruang guru,” jawab Gavin. Seketika terbesit di benakku sesuatu yang sama seperti Rein pikirkan.
“Kalian yakin kalau bukan dari perpustakaan?” tanyaku curiga. Teman-temanku yang sedang asyik ribut sontak terdiam dan menoleh ke arah Gavin dan Cassie. Lantas wajah mereka penuh dengan keringat dan menjadi panik setengah mati. Gavin tidak tahu harus menjawab apa, berikut Cassie yang belum mengerti apa-apa. Kepala Gavin menjadi pusing dan terus bertanya-tanya.
“B—Bagaimana ini? A—Aku harus menjawab apa…?”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1