Love Exchange

Love Exchange
Episode 115 : Panik dan Cemburu


__ADS_3

Siang hari menjelang sore dengan lelangitan yang cukup berawan. Suasana tempat festival semakin ramai didatangi oleh para pengunjung yang datang bersesak-sesakan. Kami semua masih berjalan di luar tempat festival mengelilingi kios-kios yang berjajar. Terlihat dari kejauhan sebuah tempat penitipan barang. Kami pun langsung menghampiri tempat tersebut. Sesampainya di sana, kami menitipkan seluruh barang belanjaan kami. Setelah itu kami berjalan lagi melihat-lihat sekitar. Sampai akhirnya kami tiba di pintu masuk festival di sisi barat.


“Bagaimana kalau kita masuk sekarang?” usul Bella kepada kami semua.


“Iya, sudah semakin ramai. Lebih baik sekarang sebelum antreannya semakin panjang,” lanjut Icha menambahkan.


“Baiklah kalau begitu, ayo!” sahutku berjalan ke pintu gerbang masuk sembari mendorong kursi roda Gavin.


“Oke!” balas Bella senang.


Ketika kami berada di pintu gerbang, kami diberikan masing-masing sebuah gelang pengunjung. Kami tidak dimintai biaya masuk festival. Lantas kami segera masuk ke dalam area taman yang di mana telah di transformasi menjadi tempat festival dengan berbagai buku dan peralatan sekolah yang dipamerkan. Terdapat beberapa ruang terbuka yang memuat replika ruang-ruang yang ada di sekolah. Tampak ada banyak sekali pelajar yang tengah berada di ruang replika itu.


“Ramai sekali di sana,” lontar Rein.


“Lihat! Ada yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran!” seru Rhean seraya menunjuk salah satu ruang tersebut. Terlihat para pelajar tersebut memenuhi bangku dengan seorang pelajar lainnya yang sedang memainkan peran seperti layaknya sang guru. Kami pun menyaksikan mereka dari luar ruang terbuka itu.


“Seperti sekolah saja, ya,” cetus Icha.


“Di hari libur seperti ini saja mereka melakukan kegiatan sekolah, apa tidak bosan?” celetuk Gavin kebingungan.


“Itu mah kau saja yang seperti itu,” sahutku bercanda.


“Wah, kalian semua rajin-rajin sekali, ya,” balas Gavin cengar-cengir.


“Tentu saja, kan sudah seharusnya sebagai pelajar seperti itu,” lanjutku.


“Betul, sudah sepatutnya kita fokus belajar dan bukannya melakukan hal yang tidak penting seperti…” tutur Cassie pelan, namun aku dapat mendengarnya dengan cukup jelas.


“Halus sekali sindiranmu,” sahut Rein tersenyum kepada Cassie. Gavin yang mendengarnya lantas tertunduk dan tampak seperti tidak percaya diri lagi untuk berusaha mendekati Cassie.


“Yah… Tapi kita tidak bisa menghabiskan semua waktu hanya untuk belajar, kan?” cetus Rhean. Icha satu pendapat dengan Rhean.


“Tepat sekali! Kita juga perlu menghibur diri. Sebagian orang dengan berpacaran juga termasuk untuk itu,” tambah Bella menyeringai. Cassie merasa seakan-akan pernyataannya tidak diterima oleh kami semua. Dengan penuh rasa malu ia tertunduk sembari menempelkan kedua ujung jari telunjuknya.


“Tapi kan…” Aku paham betul apa yang Cassie pikirkan. Awalnya aku juga memiliki pendapat yang sama dengannya, namun setelah berpacaran dengan Rein, aku dapat mengerti sedikit.


“Coba kau lihat Adelard dan Rein. Meskipun mereka berpacaran tapi keduanya masih dapat belajar dengan baik dan tidak ada yang berubah,” ucap Bella pelan kepada Cassie. Aku yang mendengarnya menjadi salah tingkah.

__ADS_1


“Betul kata Bella. Semua itu kembali lagi kepada masing-masing mereka. Mereka dapat menentukan arahnya untuk ke mana,” balas Rhean menambahkan. Cassie menjadi gugup bukan kepalang. Ia pun bertanya kembali kepada kami semua.


“Y—Yang aku tahu, pacaran itu banyak menghabiskan waktu berduaan dan juga menguras uang…”


“Kebanyakan seperti itu, tapi tidak semua,” sahut Gandra tersenyum kepadanya. Lantas Rein berceletuk canda ke arah Cassie.


“Bagaimana kalau kau mencobanya?” Sontak Cassie menjadi kalang kabut setelah mendengarnya.


“E—Eh? A—Aku tidak mau!” jawabnya gelagapan. “A—Aku tidak ingin bermain-main seperti itu…” imbuhnya pelan dengan menutupi wajahnya dan tersipu.


“Tentu saja kami berdua tidak main-main. Kami sudah ada rencana, kok. Betul, kan?” lanjut Rein bersemangat lalu menepuk bahuku. Kami semua yang mendengarnya lantas terkejut, termasuk diriku yang tersentak kaget.


“N—Ni—Ni—Ni—Nikah?” lontar Cassie gelagapan. Aku menjadi panik setengah mati untuk meluruskan kesalahpaham itu.


“B—Bukan! Aku tidak pernah bilang seperti itu!” balasku yang juga kalang kabut, sementara itu Rein hanya tertawa melihat ekspresi kami semua yang tercengang.


“Tapi tidak masalah, kan? Hanya tinggal menunggu waktu saja,” lanjut Rein. Cassie yang mendengarnya sontak langsung menangkal pernyataan Rein.


“Tidak! Eee… Maksudku… Itu mendadak sekali…”


“Kau cemburu, ya?” sahut Rhean tersenyum sindir.


“Wajar bagi seorang Cassie yang polos bersikap seperti itu. Ayo kita lanjut jalan.” Kami pun berhenti untuk membahas topik tersebut dan memutuskan untuk kembali berjalan melihat-lihat sekitar.


Sepanjang kami berjalan terlihat berbagai pertunjukkan kecil yang dipersembahkan oleh perkumpulan para pelajar dari tiap-tiap sekolah di jalan taman yang kami lalui. Masing-masing dari mereka menampilkan pertunjukkan yang berbeda-beda. Mulai dari bernyanyi, memainkan alat musik tradisional, dan bahkan ada yang memeragakan trik sulap.


Kami sempat berhenti di masing-masing tempat pertunjukkan kecil tersebut untuk menyaksikannya. Saat sedang berada di perkumpulan yang bernyanyi, tentu kami semua ikut bersenandung bersama. Lantaran terlalu asyik bernyanyi, tanpa aku sadari, ternyata aku bernyanyi dengan suara yang cukup kencang hingga menarik perhatian banyak orang. Lantas seorang penyanyi itu memanggilku untuk maju ke depan.


Setelah aku maju ke depan dan menghampiri penyanyi tersebut, aku dimintai untuk menyanyikan sebuah lagu yang ditentukan oleh diriku sendiri. Aku menjadi sedikit malu karena di saksikan banyak orang, terlebih lagi aku harus bernyanyi menggunakan mikrofon, yang pastinya akan di dengar oleh banyak orang yang melintas. Teman-temanku hanya menonton dengan gembira dan tak sabar untuk mendengarkanku bernyanyi.


“Ayo, Adelard! Kau pasti bisa!” teriak Rhean dari tempat penonton.


“Lagu apa yang ingin kau nyanyikan?” tanya penyanyi tersebut. Kemudian aku memberitahukan sebuah judul lagu favoritku.


“Baiklah kalau begitu… Eee…”


“Adelard.”

__ADS_1


“Mari kita simak sebuah lagu yang akan dibawakan oleh Adelard! Musik…!”


Aku pun bernanyi dengan performa terbaikku. Semua orang terlarut dengan suaraku yang indah nan merdu. Tak lama kemudian semua orang ikut bernanyi bersama-sama. Tempat pertunjukkan kecil ini yang semula tidak terlalu ramai sontak menjadi bahan tontonan bagi semua pengunjung yang melintas. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang takjub kepadaku.


Dengan sedikit rasa gugup, aku berusaha untuk tampil percaya diri. Hingga akhirnya aku melantunkan satu baris lirik terakhir, seketika semua orang bertepuk tangan dan bersorak-sorai kepadaku. Aku merasa sangat senang sekali melihat orang-orang yang terhibur dengan suaraku. Aku juga tidak menyangka kalau akan ada banyak penonton yang menyaksikan pertunjukkanku.


“Terima kasih… Terima kasih…” ucapku tersenyum sembari menunduk hormat. Sang penyanyi juga tidak percaya dengan vokalku yang aku latunkan. Lalu ia mendekati diriku dan berbicara pelan kepadaku.


“Wah, suaramu lebih bagus daripada aku! Maukah kau menyanyikan beberapa lagu lagi?” Dengan sopan aku menolak tawarannya itu.


“Maaf, aku masih ingin mengelilingi festival ini. Terima kasih atas tawaranmu,” balasku tersenyum.


“Baiklah kalau begitu, jangan sungkan untuk datang lagi kemari,” lanjut penyanyi tersebut yang juga menyeringai kepadaku. Aku pun permisi dari tempat itu lalu menghampiri teman-temanku. Lantas berbagai pujian terlontarkan oleh mereka kepadaku. Hal tersebut tentu saja membuatku tersipu malu.


“Terima kasih…” ucapku gugup.


“Kau memang yang terbaik!” sahut Rein gembira.


Kami kembali lanjut berjalan untuk melihat-lihat sekeliling. Saat aku melihat Gavin yang terus menatap Cassie tanpat sepengetahuannya, tiba-tiba saja terlintas di benakku untuk melaksanakan misi seperti waktu itu. Akan tetapi, aku sempat kebingungan untuk mengatakannya kepada teman-temanku. Aku tidak ingin membuat Cassie curiga.


Seketika aku teringat sebuah lagu pembukaan kartun anak tentang seorang detektif yang menjalankan misi-misinya. Lantas aku menyanyikan lagu tersebut sebagai kode kepada mereka semua. Untung saja mereka semua yang mendegarnya lantas mengerti apa yang kumaksud, namun tidak dengan Cassie. Kemudian kami semua saling melihat satu sama lain dan saling mengedipkan sebelah mata.


“Cassie, maukah kau mendorong kursi roda ini?” pintaku kepadanya. Dengan senang hati Cassie mengambilalihku. Pada saat yang bersamaan, terlihat sebuah kepadatan di hadapan kami.


“Sepertinya di depan ada yang menarik. Ayo kita ke sana!” lontar Bella membara. Tanpa pikir panjang kami semua langsung menyetujuinya, terkecuali Cassie.


“Tapi itu ramai sekali, bagaimana kalau kita terpisah nanti?” tutur Cassie khawatir.


“Tenang saja, kita tak akan terpisah,” balas Rhean yang juga bersemangat. Cassie pun menerima perkataan tersebut dan mengikuti kami. Setibanya di dalam kerumunan, dengan perlahan kami memisahkan diri dari mereka berdua. Setelah keluar dari kerumunan tersebut, kami merasa sangat senang sekali.


“Semangat, Gavin! Hihihi…” ucap Rein pelan seraya terkikik-kikik.


“Kita jahat sekali…” lanjut Bella yang juga terkikik, begitu pula dengan kami semua yang juga tergelitik tawa. Aku pun bergumam dan mengharapkan yang terbaik kepada Gavin.


“Kami serahkan padamu, Gavin! Kau pasti bisa!”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2