
Suasana menjadi menegangkan dengan diriku dan Cassie yang mengumpat di balik permainan capit boneka itu. Kami menurunkan tubuh kami seraya mengintip ke arah mereka. Tak disangka mereka berjalan mendatangi permainan capit boneka di mana tempat kami berada. Dengan penuh semangat Rein berlari mendekati kami. Lantas kami menahan diri agar tak bersuara dan secara reflek menahan napas.
“Aku mau boneka!” lontarnya.
“Astaga… Andai saja kita bisa menghilang…” gumamku semakin panik.
“Kita tidak bisa pergi dari sini, atau kita akan terlihat oleh temannya Rein,” balas Cassie.
“Berarti satu-satunya cara kita harus memakai momentum,” lanjutku.
“Momentum?” tanya Cassie kebingungan.
“Tunggu sebentar…” ujarku seraya mengintip dengan pandangan yang samar-samar.
Sekarang Rein benar-benar ada dibalik kami. Tidak ada kotak permainan yang cukup dekat dengan tempat kami berada. Mau tidak mau kami harus bersembunyi di sisi yang berbeda. Untung saja ia langsung fokus memainkan permaninan tersebut tanpa melihat bawah dan sekitar. Ketika teman-temannya mulai mendekat, akhirnya aku memberi tanda.
“Sekarang.”
Aku dan Cassie bergeser perlahan menuju sisi yang berlainan dengan mereka semua.
“Huft… Hampir saja…” hembusku lega sembari duduk di lantai.
“S—Sepertinya jangan senang lebih awal…” tutur Cassie dengan pandangan ke arah seseorang petugas pembersih yang sedang berjalan kemari. Saat petugas itu mendekat, terlihat kami yang sedang duduk bersandar kotak permainan.
“Apa yang sedang kalian lak—” tanya si petugas namun aku langsung memotongnya dengan berdesis untuk menyuruhnya diam.
“Sshh!”
Mereka yang melihatnya dari balik kaca lantas merasa kebingungan dengan apa yang terjadi pada petugas itu. Temannya Rein yang amat penasaran kemudian melangkahkan kaki ke arah kami. Petugas itu memandang kami yang dengan rasa penuh panik memeragakan agar ia memberhentikan mereka.
“Apa ada sesuatu?” tanya seorang dari mereka pada sang petugas.
“Jangan ke sini! Aku ingin mengepelnya,” lontarnya.
“Oh maaf, maaf…” balas mereka lalu melanjukan permainan itu.
Aku dan Cassie menarik napas lega meskipun belum sepenuhnya merasa aman. Petugas itu membantu kami dengan berpura-pura mengepel di sekitar kami. Mereka yang terus memainkan permainan itu tak kunjung berhenti lantaran Rein belum mendapatkan boneka.
“Cepatlah dapat… Apa kau tidak punya keberuntungan sama sekali?” gumamku kesal.
“Ah sial! Jatuh lagi!” teriak Rein jengkel.
“Lebih baik kita bermain permainan lain…” balas temannya cengar-cengir.
“Tapi aku sangat menginginkannya,” lanjut Rein.
“Bolehkah kami mencobanya juga?” sahut yang lainnya.
“Oh iya, saking seriusnya aku sampai lupa dengan kalian… Hehe…”
__ADS_1
Kemudian Rein memberikan kesempatan pada teman-temannya untuk memainkannya juga, tetapi dari semua percobaan tak satu pun membuahkan hasil. Aku yang melihat jam tangan sontak terkejut saat mengetahui kalau kami telah bersembunyi selama lebih dari setengah jam lamanya. Sang petugas juga sudah lelah untuk berpura-pura. Terlebih lagi ia takut kalau mereka akan curiga dengannya yang terus mengepel di tempat yang sama.
“Sampai kapan kita akan di sini?” tanya Cassie.
“Mungkin bukan hari kita untuk memainkan permainan bermodal keberuntungan,” cetus salah satu temannya.
“Kalian main permainan yang lain saja sambil aku mendapatkan ini,” balas Rein.
“Tidak seru kalau tidak ada kau, Rein.”
“Apa perlu ku meminta bantuan dengan orang lain?” lanjut temannya yang lain. Aku yang sudah tak tahan lagi lantas berpikir untuk keluar dari sini. Kemudian terlihat sebuah topeng dari rak penukaran hadiah. Aku pun memanggil petugas itu dengan tanganku lalu berbisik padanya.
“Aku butuh bantuanmu.”
“Akhirnya! Apa yang bisa kubantu?”
“Bolehkah aku meminjam topeng itu?” pintaku.
“Apa yang akan kau gunakan dengan itu?”
“Nanti kau akan melihatnya.”
“Baiklah, tunggu sebentar. Semoga saja diperbolehkan.” Petugas itu berjalan menuju tempat penukaran hadiah lalu berbicara dengan karyawan yang lain. Aku merasa sangat senang saat ia kembali dengan topeng tersebut di tangannya. Lalu ia memberikannya padaku.
“Aku akan muncul dari belakangmu,” ucapku.
Aku berdiri dari balik dirinya kemudian berjalan mendekati mereka dengan topeng yang sudah kupakai.
“Wah, tampan sekali!” lontar mereka.
“Apa yang tampan dari topeng?” balas Rein kebingungan.
“Tapi lihatlah pakaian dan tubuhnya, pasti dia adalah model!”
“Terima kasih atas pujian kalian. Apa boleh aku mencobanya?”
“Silakan…” ujar Rein tersenyum.
Aku mencoba memainkan permainan tersebut bersama mereka yang sangat serius memperhatikanku. Aku menggerakkan capitan itu lalu memencet tombol untuk meraihnya. Mereka merasa senang saat capitan itu mendapatkan boneka itu. Lalu dengan wajah penuh serius mereka bersorak pada capitan itu agar jatuh pada tempat yang tepat. Benar saja, aku berhasil mendapatkan sebuah boneka dengan sekali coba.
“Wah! Kau sangat jago sekali memainkannya,” lontar Rein terpukau.
“Aku hanya beruntung,” balasku pringas-pringis.
“Ini untukmu…” imbuhku.
“Eh? Benarkah? Kau yakin?” ucap Rein dengan wajah berseri-seri.
“Tentu,” jawabku.
__ADS_1
“Terima kasih banyak! Aku tidak akan melupakannya!”
“Apa ku boleh tahu namamu?” tanya Rein penasaran.
“Aku harus menjawab apa?” benakku kelimpungan.
“Eee… Kau bisa memanggilku Amard…”
“Amard? Oke! Terima kasih, Amard?” lontarnya kegirangan.
“Entah kenapa tiba-tiba terlintas nama seperti itu di kepalaku…” batinku tak habis pikir.
Pada akhirnya aku merasa sangat lega saat mereka mulai berjalan meninggalkan kami dan mengucapkan kalimat perpisahan denganku. Aku yang baru berbalik badan sontak terhenti kembali saat mereka mendekatiku lagi. Rupanya mereka ingin meminta foto denganku.
“Boleh foto bersama?” pinta Rein.
“Oh tentu saja,” balasku.
“Aku tidak mau lebih lama lagi…” gumamku dalam hati kewalahan.
Beberapa saat kemudian aku berpisah dengan mereka. Tampak rasa senang terpampang pada wajah mereka, terlebih lagi Rein yang baru mendapatkan boneka yang diincar-incarnya. Aku pun kembali kepada Cassie dan petugas itu yang menyaksikanku dari awal. Mereka berdua tergelitik tawa melihatku bersandiwara bersama Rein dan kawan-kawannya.
“Apa yang kalian tertawakan?” tanyaku kebingungan.
“Tidak… Bukan apa-apa…” balas Cassie. Aku mengembalikkan topeng tersebut pada sang petugas kebersihan.
“Terima kasih… Apa perlu kami bantu sesuatu sebagai imbalan?” ucapku.
“Tidak perlu… Pemandangan tadi sudah cukup menghiburku,” jawabnya tersenyum. Lalu kami berpisah dengan sang petugas yang melanjutkan pekerjaannya.
Waktu terus berjalan dan tak terasa hari sudah mulai larut. Kami memutuskan untuk pulang menuju asrama dengan pakaian semula kami di dalam kantung kertas. Cassie memeluk boneka yang kami dapat saat di mal tadi. Ada banyak hal yang terjadi hari ini dan membuat perbincangan kami tak kunjung selesai.
“Tidak kusangka kalau kita juga akan dapat pakaian ini gratis,” ucapku.
“Iya… Walaupun sepertinya aku akan mempertimbangkan lagi sebelum memakainya…” balas Cassie bercanda.
Sesampainya di asrama ternyata semua temanku sudah kembali juga. Aku yang membuka pintu lantas melihat Gavin dan Rein yang sedang asyik membicarakan sesuatu. Kami yang sudah penat lantas meletakkan sepatu di sudut asrama lalu berjalan menuju kamar masing-masing.
“Bagaimana bisa kau menemukan pria bertopeng di dalam mal?” tanya Gavin tak habis pikir seraya melihat foto di layar ponsel pintar milik Rein. Kami yang mendengarnya sontak terkejut setengah mati dan berhenti melangkah. Aku menarik napas dalam-dalam dengan wajah pasrah.
“Dewa… Aku sudah siap dengan semua ini…”
“Astaga! Aku lupa kalau Adelard sempat berfoto dengan Rein dengan pakaian itu!” gumam Cassie dalam hati.
“Tunggu, sepertinya aku juga melihat pakaian ini saat aku makan siang,” lanjut Gavin. Kami berdua perlahan-lahan bergegas menuju kamar.
“Ngomong-ngomong kalian dari mana?” tanya Rein lalu mereka berdua menoleh ke arah kami. Seketika kami terdiam lalu membalik badan menghadap mereka. Mereka berdua tersentak kaget saat melihat kami dengan pakaianku yang sama dengan foto milik Rein.
“Loh? Adelard? Cassie?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)