Love Exchange

Love Exchange
Episode 128 : Lembar Mading dan Poster


__ADS_3

Hari kian belalu, tak terasa kami telah memasuki hari terakhir dalam pekan ujian. Kali ini aku mencoba untuk menjadi lebih santai dari hari-hari sebelumnya. Kami memulai pelaksaan sedari pagi hingga akhirnya tiba waktu pulang sekolah. Aku merasa sangat lega dan tidak ada lagi beban berat di kepalaku. Para murid lainnya juga merasakan hal yang sama.


Di bawah teduh langit petang, kami melangkahkan kaki kembali menuju asrama. Sepanjang jalan tampak orang-orang yang melepaskan kesah dengan menikmati berbagai jajanan di pinggir taman bersama-sama. Aku yang melihatnya lantas tertarik dan berniat untuk mengajak teman-temanku, sementara itu beberapa di antara mereka masih asyik membahas soal-soal ujian tadi.


“Bagaimana kalau kita bersantai di sini dulu?” usulku. Mereka yang mendengarnya sontak menyetujuiku tanpa pikir panjang.


“Ayo! Aku sudah haus dari tadi,” balas Rhean. Setibanya kami di tempat tersebut, kami pun memesan minuman dan makanan ringan seperti biasa. Saat pesanan kami datang, lekas segelas minuman kugenggam di tanganku lalu merayakannya bersama-sama.


“Bersulang!” Kemudian teguk demi teguk minuman tersebut langsung kami habiskan.


“Ah… leganya…” hembus Rhean.


“Lagaknya sudah seperti minum berat saja,” sahut Gavin tergelitik tawa.


“Oh iya, kudengar siapa pun yang mendapat nilai fisika tertinggi dalam satu angkatan, maka akan mendapat hadiah dari Pak Edwin,” ujar Bella.


“Dari mana lagi kau dengar kabar itu?” tanya Rein penasaran.


“Kabar badai membahana,” jawab Bella melebih-lebihkan.


“Waw, melebihi kabar angin biasa, ya?” lanjut Gavin. Pada saat yang bersamaan aku mendengar suara-suara pembicaraan orang yang juga membahas hal yang sama seperti kami saat ini.


“Mulut-mulut di sekolah ini memang tiada tandingan,” gumamku dalam hati. Dengan cepat berita tersebut telah tersebar ke seluruh murid.


“Tapi aku tidak yakin dengan diriku, terlebih lagi sangat berat untuk bersaing di sini,” ucap Rein ragu.


“Jangan pesimis dulu, dong!” sahut Icha tersenyum canda.


“Kira-kira hadiahnya apa, ya?” gumam Bella penasaran. Aku hanya menyimak pembicaraan mereka tanpa kata-kata.


“Bagaimana denganmu, Cassie?” tanya Rein.


“Aku juga tidak terlalu yakin. Aku sangat yakin dengan Adelard…” tutur Cassie.


“Aku sudah tidak berharap untuk itu…” balasku pelan dengan kepala yang tertunduk pasrah.


“E—Eh? Ada apa…? Apa sesuatu telah terjadi?” lanjut Cassie tak percaya. Kemudian aku menjelaskan kejadian yang aku alami waktu itu. Rein yang juga mendengarnya lantas berusaha untuk meluruskan pemahaman mereka yang baru mengetahuinya.


“M—Maaf, aku tidak mengetahui kalau terjadi seperti itu…” ucap Cassie dengan rasa bersalah.


“Tidak masalah. Yang berlalu biarlah berlalu,” balasku tersenyum.

__ADS_1


“Aku juga senang bisa bersekolah di sini walau hanya setahun. Aku banyak mendapat pandangan baru,” cakapku senang.


“Aku sangat setuju denganmu. Di sini tidak ada orang bodoh akut seperti Gavin,” sahut Rein tersenyum sindir kepada Gavin.


“Bodoh dengkulmu, kalau benar seperti itu tidak akan mungkin aku berada di sini denganmu!” balas Gavin kesal. Sekilas aku teringat dengan Hart dan Freda serta seisi sekolahku yang kurang waras itu. Cassie yang melihat tingkah Rein dan Gavin lantas membuatnya tertawa kecil.


“Kalian berdua akrab sekali. Cocok,” tuturnya. Mendengar perkataan tersebut sontak membuat Rein beranjak dan mendekatkan dirinya denganku.


“Tentu saja aku lebih cocok dengan Adelard,” ucap Rein tersenyum.


“B—Bukan begitu maksudku! Maaf membuat kalian salah paham…” balas Cassie gelagapan.


“Ekhem. Ngomong-ngomong, kapan hasil ujiannya diumumkan?” tanya Gandra seketika mengubah topik ke awal.


“Hari senin besok kalau tidak tidak salah,” jawab Icha.


Beberapa hari kemudian, tepatnya setelah dua hari akhir pekan, tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para murid. Suasana di koridor telah penuh dengan orang-orang yang penasaran, termasuk kami yang sudah tidak sabar untuk melihat hasilnya. Aku yang baru tiba di sekolah kini terhalang oleh lautan manusia yang menutupi jalanku ke kelas.


“Selagi di sini, ingin melihatnya sekarang?” usul Gavin.


“Sepertinya akan membuang banyak waktu juga, lebih baik kita kembali saat sudah sepi,” balasku.


“Baiklah kalau begitu,” lanjutnya. Kami tertahan dan tak dapat melewatinya. Semua orang tidak menghiraukan siapa pun yang ingin lewat. Kemudian, terlintas sebuah ide di benak Gavin.


“Air panas! Awas! Awas!” seru Gavin dengan cukup keras. Seketika aku teringat dengan Hart yang pernah melakukan hal serupa. Lagi-lagi cara seperti ini berhasil dengan mudah. Akhirnya kami telah melewati kerumunan lalu bergegas menuju kelas. Sesampainya di kelas, aku meletakkan tasku di atas tempat dudukku.


“Ayo kita lihat, siapa tahu sudah mulai sepi,” ajak Rein yang sudah tak sabar untuk melihat hasil nilai ujiannya.


“Secepat itukah mereka melihat kertas-kertas itu?” balasku buncah. Beberapa detik berselang, tiba-tiba saja bel berdentang dan orang-orang mulai berlarian menuju kelas mereka masing-masing. Hingga tiba jam istirahat, kami masih berniat untuk pergi melihatnya, namun perut telah memberi sinyal untuk diisi bahan bakar.


“Ya sudah kalau begitu, kita juga bisa melihatnya kapan saja,” sahut Bella. Selepas menghabiskan santapan, kami harus mengurungkan niat kami kembali karena bel masuk yang telah berbunyi.


“Haduh… Ada-ada saja…” gumam Icha sebal.


Dering bel terakhir menjadi hal yang dinanti-nantikan para murid yang sudah tersuntuk dan tak bisa mengikuti pelajaran lagi. Pikiran-pikiran mereka hanya terisi dengan sebuah harap bahwa jam dapat berputar cepat. Hingga akhirnya saat itu tiba dan orang-orang langsung mengosongkan ruang kelas, begitu pula dengan kami yang bergegas menuruni tangga.


“Hati-hati, nanti kenapa-napa lagi,” ujar Gandra tenang.


Setibanya di tempat mading itu berada, teman-temanku langsung saling berdorongan satu sama lain untuk melihat lembaran kertas pengumuman yang ditempelkan. Aku dan Gandra hanya menyaksikan tingkah mereka yang gaduh seperti anak kecil.


“Jangan dorong-dorong, hey!”

__ADS_1


“Kau juga!”


“Astaga… Masih saja seperti ini…” benakku seraya menghela napas.


Pada saat yang bersamaan, terlihat Cassie yang berada tidak jauh di sebelah tempat kegaduhan itu. Ia tampak sedang memperhatikan sebuah poster yang terpasang. Aku yang juga penasaran lantas datang menghampirinya. Di sisi lain, Gandra tetap berdiri di tempat yang sama dan hanya melihatku yang pergi menjauhinya.


“Lihat apa, Cassie?” tanyaku sembari membaca poster tersebut. Tertulis bahwa akan ada sebuah acara yang akan diadakan di pusat kota.


“Festival Kembang Api,” tuturnya pelan dengan mata yang terfokus ke bacaan itu.


“Wah, sepertinya akan sangat meriah,” balasku tersenyum.


“Tapi kita tidak bisa jalan bersama…” gumamnya. Aku yang mendengarnya sempat sedikit tekerjut.


“M—Maksudmu?” Melihat aku yang terkejut seperti itu lantas membuat Cassie menjadi gelagapan.


“K—Kau pasti akan berjalan dengan Rein. Jadi kita semua tidak bisa berkumpul,” jawabnya tertunduk kusut. Tiba-tiba saja terbesit di benakku tentang misi untuk mendekatkan Cassie dengan Gavin.


“Kau juga akan mengalami hal yang sama, mungkin…” ucapku pelan seraya tersenyum. Cassie yang mendengarnya sontak kebingungan.


“Aku tidak mengerti…”


“Kau akan mengerti.” Singkat waktu setelahnya, datanglah teman-temanku yang sebelumnya telah saling membuat gaduh.


“Loh, sudah selesai ributnya?” sindirku.


“Tentu! Sudah damai,” jawab Rein cengengesan. Bella yang baru mengetahui acara tersebut sontak menjadi bersemangat.


“Wah, sebentar lagi musim gugur!” Kemudian mereka semua melihat poster itu dan kini gilaranku dan Cassie untuk melihat lembar pengumuman nilai.


“Adelard, nilaimu ada yang pas-pasan,” tutur Cassie.


“Iya, aku sudah menduganya,” balasku, kemudian aku melihat nilai fisika Cassie yang berada di urutan paling atas.


“Selamat, Cassie!” ucapku dan Gandra. Lantas Cassie berterima kasih kepada kami berdua.


Saat berjalan kaki menuju asrama, kami membahas festival tersebut. Suatu ketika kami saling menatap satu sama lain dan tersenyum licik. Cassie yang melihat kami semua lantas tak habis pikir dengan apa yang terjadi.


“Kalian sedang apa?”


“O—Oh, tidak. Hanya bermain tatap-tatapan,” jawabku.

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2