
Pagi hari yang teduh dan sejuk menyambut awal aktivitas kami pada hari pertama pelaksanaan ujian akhir semester ini. Kami semua bangun tidur lebih awal dan bersiap-siap dengan segera, sebelum akhirnya kami berangkat menuju gedung sekolah bersama-sama. Tampak para murid yang juga berbondong-bondong berjalan menuju sekolah. Beberapa dari mereka ada yang melangkah sembari membuka buku dan membacanya. Aku yang sedang melihat sekitar tiba-tiba saja terdapat seorang perempuan yang menabrakku secara tidak sengaja.
“Maaf… Aku tidak memperhatikan jalan,” tuturnya.
“Iya, aku juga minta maaf…” balasku yang menoleh ke arahnya. Betapa terkejutnya aku setelah menyadari bahwa aku mengingat sosok wajah yang pernah bertemu sebelumnya, tetapi aku tidak mengingat namanya. Aku berusaha mengingat namanya dan semua teman-temanku terdiam menyaksikan kami berdua. Vira melihat Rein yang tampak curiga lantas segera berpisah denganku.
“Maaf, aku sedang terburu-buru,” ucapnya seraya berjalan meninggalkanku.
“Oh, baiklah,” sahutku.
“Siapa dia?” tanya Rein kepadaku.
“Entahlah… Wajahnya seperti tidak asing,” jawabku yang juga kebingungan.
“Iya… Aku juga merasa pernah melihatnya…” gumam Rein. Gandra yang masih betul-betul mengingatnya lantas berceletuk tanpa merasa bersalah kepada kami semua.
“Dia kan yang bersamu saat di taman air waktu itu.” Seketika saja kami teringat dan tersadar bahwa perempuan tersebut adalah Vira.
“Oh iya, aku baru ingat,” tandasku pelan.
“Loh? Dia sekolah di sini juga?” ujar Rein tak percaya.
“Tidak mungkin kalian akan mengungkitnya lagi, kan?” ucap Bella.
“Tentu, dekat dengan lawan jenis belum tentu selingkuh, kan?” lanjut Rhean cengengesan sembari menepuk bahuku.
“Yah… Selama hati masih setia dengannya, dengan siapa pun kita bersama, tetap saja hati yang meneguhkan kita,” balasku tersenyum.
“Wah, kau bijak sekali,” sahut Icha menyeringai.
“Tapi tidak salah juga untuk merasa cemburu,” cetus Gandra.
“Betul. Selama tidak melewati batas, itu artinya orang itu sedang mengkhawatirkanmu,” tutur Rein.
“Kesimpulannya, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,” pungkas Gavin sambil berlagak seperti sedang memberi nasehat kepada kami semua.
“Aku tidak menyangka kalau kita akan mendiskusikan hal ini,” ucapku.
“Betul juga, semua berawal dari perempuan itu,” sahut Rein.
__ADS_1
“Cukup melenceng dari yang seharusnya membahas materi, ya,” lanjut Bella bercanda dan kami pun tergelitik tawa bersama-sama.
“Semua perkataan kalian menambah wawasanku. Banyak hal yang baru ku ketahui sekarang,” tutur Cassie tersenyum.
“Sepertinya kau masih harus banyak belajar,” balas Gavin.
Kami pun melanjutkan langkah kami menuju gedung sekolah. Dengan seragam musim dingin nan tebal membuat kami mudah lelah saat menaiki tangga. Beban yang kami rasakan juga semakin berat akibat seragam itu. Untung saja buku yang kami bawa tidak terlalu banyak karena hanya terdapat tiga mata pelajaran di setiap harinya selama ujian ini. Kami memasuki ruangan yang sudah ditentukan oleh panitia. Semua tempat duduk para murid di acak termasuk diriku yang berpisah dengan teman-temanku, kecuali Cassie yang menempati satu ruangan denganku.
“Kau di sini juga?” tanyaku tak percaya.
“Iya,” jawabnya sembari menunjukkan kartu ujian yang tampak jelas di layar ponselnya. Kami pun melihat nomor tempat duduk satu sama lain, dan ternyata kami terpisahkan oleh jarak yang cukup jauh. Aku berada di ujung sisi kanan kelas sedangkan Cassie duduk di tempat sebaliknya. Sebelum bel masuk berbunyi, aku mendatangi bangku Cassie lalu kami mengulang materi bersama-sama.
“Kau ingat semua rumusnya?” tanya Cassie penasaran.
“Semoga saja, ada banyak rumus di materi semester ini,” jawabku.
“Apa kau ada cara sendiri untuk mudah mengingatnya?” lanjut Cassie.
“Kau cukup kesulitan mengingat cara menghitung kuartil, ya?” balasku.
“Kurang lebih begitu… Aku takut tertukar.”
“Hmm… Sepertinya caraku juga tidak jauh berbeda dengan apa yang di buku.”
“Jadi caraku seperti ini...” ucapku sembari menulis rumus yang aku gunakan.
“Kau bisa melihat tulisan terbalik, kan?” imbuhku. Ia mendekatkan wajahnya ke arah buku tersebut.
“Bisa,” jawabnya. Aku pun melanjutkan penjelasanku kepadanya. Tiba-tiba saja seseorang dengan tubuh besar menyenggolku dan membuatku kehilangan keseimbangan. Wajahku tersungkur ke atas meja dan menyundul kepada Cassie tanpa sengaja. Dengan kepala yang terasa cukup sakit aku berseru kepada orang tersebut.
“Kalau jalan bilang permisi!”
“Maaf! Aku lupa!” sahutnya dari belakang kelas. Sementara itu, Cassie mengusap-usap kepalanya yang baru saja terbentur denganku.
“Apa perlu kita ke ruang kesehatan?” tanyaku cemas.
“T—Tidak perlu… Sebentar lagi rasa sakitnya akan hilang,” jawabnya. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar kalau terdapat benjolan di kepalaku, begitu pula dengan Cassie.
“Aw!” rintihnya yang tidak sengaja menekan tempat luka tersebut.
__ADS_1
“Lebih baik kita ke sana, mumpung bel belum berbunyi,” ujarku panik.
Kami bergegas menuju ruang kesehatan yang berada cukup jauh dari ruang ujian kami. Sesampainya di sana, terdapat seorang guru pembina klub kesehatan yang sedang merapikan rak obat-obatan. Kami langsung datang menghampirinya. Aku menceritakan apa yang terjadi lalu dengan sigap guru tersebut mengambil kompres dingin. Ia memberikan masing-masing kepada kami berdua.
“Kalau tidak keburu, kalian bisa membawanya ke ruang ujian.”
“Baik, Bu,” balasku. Guru tersebut kemudian berjalan menuju pintu keluar. Sebelum meninggalkan kami, ia menyampaikan sesuatu kepada kami.
“Kalau kalian ingin membawanya, hati-hati dengan tutupnya, ya. Jangan sampai tumpah dan mengenai komputer.” Kami pun menyahutinya kemudian ia menutup pintu tersebut.
Tidak lama lagi bel masuk akan berbunyi, sementara itu kami masih berada di luar ruang ujian. Rasa sakit yang kami rasakan telah mulai perlahan hilang meskipun belum seluruhnya. Hingga pada saat waktu masuk tinggal tersisa dua menit lagi, aku memutuskan untuk kembali ke ruang ujian. Aku pun mengajak Cassie untuk segera kembali ke kelas.
“Ayo kita bawa saja kompres ini,” ucapku.
“Aku tidak ingin mengambil resiko,” tuturnya seraya meletakkan kompres tersebut kembali ke tempatnya.
“Apa kau yakin? Kepalaku saja masih terasa sakit, lho,” lanjutku.
“Tidak apa-apa. Aku sudah merasa lebih baik,” jawabnya. Aku yang juga tidak ingin merasa terganggu oleh benda itu lantas ikut meletakkannya juga.
“Baiklah kalau begitu, ayo kembali,” ajakku.
“Oke,” balasnya.
Saat kami masuk ke dalam kelas, terdengar suara bel berbunyi nyaring pada saat yang bersamaan. Semua murid langsung menempati tempat duduknya masing-masing dan guru pengawas telah memasuki ruang ujian. Beberapa waktu berselang, kami semua memulai mengerjakan ujian secara serentak bersamaan. Aku langsung mengerjakan soal dan menghitung-hitung dengan kertas coretan yang telah disediakan.
“Aduh, kok tiba-tiba aku jadi lupa?” gumamku tak habis pikir. Beberapa detik kemudian kepalaku terasa pusing dan sulit untuk berpikir.
“Apa ini efek dari luka tadi?” benakku.
Di lain sisi, Cassie hanya bisa memengang kepalanya dengan mata memandang coretan yang belum tuntas ia hitung. Kepalanya terasa pening dan melupakan rumus dan cara yang telah aku beri tahu sebelumnya. Ia mencoba untuk menggeleng-gelengkan kepala namun cara tersebut tidak merubah apa-apa. Rasa pusing tersebut juga membuat dirinya merasa kantuk yang seketika saja muncul.
“Kenapa harus di saat-saat seperti ini?” batin Cassie.
Tanpa sadar kami saling memandang satu sama lain dari kejauhan. Tampak wajah Cassie yang lesu dan hal serupa juga dilihat oleh Cassie terhadapku. Aku hanya bisa bergumam panik yang ternyata Cassie juga berucap di dalam hatinya.
“Bagaimana aku menyelesaikan semua soal ini?”
“Berakhir sudah nilai yang sudah ku targetkan…”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)