
Di tengah malam hari yang masih dipenuhi oleh orang-orang. Aku menunjukkan sebuah tempat yang sempat kulihat sebelumnya. Teman-temanku belum tahu sama sekali kemana aku pergi. Aku masih kebingungan dengan Cassie yang tidak mengetahuinya, padahal pada saat itu aku jelas-jelas terdiam dan memperhatikan rumah hantu tersebut.
“Tempat sebegitu besarnya dia tidak lihat?” tanyaku di dalam kepalaku.
Sampai akhirnya kami berempat tiba di rumah hantu itu. Awal dari respon mereka adalah terkejut dan gelisah. Lalu Adelard memberitahuku bahwa Cassie adalah seorang penakut. Namun aku tidak memikirkannya hal-hal buruk yang akan terjadi, melainkan aku sangat senang karena dapat memanfaatkan ketakutan tersebut untuk mendekatkan hubunganku dengan Cassie.
“Wah, aku sudah tidak sabar menunggu!” gumamku bersemangat dalam hati.
Kami pun mengantre di barisan yang cukup panjang. Selang beberapa waktu kemudian, Adelard dan Rein masuk berdua terlebih dahulu, sedangkan aku dan Cassie harus menunggu lima menit terlebih dahulu. Mereka berdua tampak tenang dan tidak takut sama sekali, berbeda dengan Cassie yang menunduk gelisah dan ketakutan. Lantas aku berusaha untuk menenangkannya.
“Tenang saja, Cassie. Ada aku di sampingmu,” ucapku pelan.
“T—Tapi aku takut dengan suasana seram itu…” balasnya.
“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Ingat saja kalau semua ini adalah rekayasa manusia.”
“Aku tahu… Tapi aku mudah sekali terkejut…” Lalu aku menggenggam tangan Cassie seraya berkata tenang kepadanya.
“Pegang tanganku erat-erat. Kau akan baik-baik saja…”
“B—Baiklah…”
Sembari menunggu, aku mencoba untuk menceritakan bahwa hantu itu tidak ada. Aku juga menjelaskan bahwa hal-hal yang sekilas tampak dan semacamnya hanyalah halusinasi dan khayalan semata. Rasa cemasnya pun berangsur surut meskipun tidak sepenuhnya, namun aku merasa sedikit lega karenanya. Setelah menunggu lima menit, giliran kami pun tiba.
“Silahkan masuk…” ucap penjaga pintu sembari membukakan pintu itu. Kami berdua pun masuk ke dalam perlahan-lahan. Sebelum itu, penjaga pintu mengingatkan kami satu hal.
“Kami akan menghampiri kalian kalau keduanya tidak sadarkan diri. Jadi, berjuanglah!” lontarnya tersenyum. Mendengar perkataan tersebut membuat Cassie menjadi was-was dan bergemetar ketakutan. Aku sempat menelan air liur lalu merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Sepertinya ini bukan rumah hantu biasa…” benakku cemas.
“Ayo kita masuk,” ucapku kepadanya.
Sesampainya di dalam, kami melihat sebuah lorong panjang yang gelap. Pintu pun tertutup dan suaranya sempat mengejutkan kami. Cassie melirik ke kanan dan ke kiri sembari merendahkan kepalanya. Ia langsung menempelkan diri di sampingku dengan tangan yang menggenggam erat. Aku pun mulai berjalan pelan dengan tenang. Sementara itu Cassie menutup-nutupi kedua matanya dengan sebelah tangan.
Sepanjang kami berjalan, terdengar suara-suara menyeramkan dari segala arah. Bahan bangunan yang terbuat dari kayu tersebut menghasilkan suara yang menyeramkan saat kami berjalan. Seringkali Cassie terkejut dengan suara kayu yang berderik. Aku tidak kaget dengan bunyi kayu tersebut, melainkan aku kaget dengan suara Cassie yang cukup kencang.
“Tidak ada apa-apa… Hanya ada kayu, tenang saja…”
“A—Aku ingin cepat-cepat keluar dari sini…”
“Ayo kita sedikit percepat langkah kita.”
Terlihat dari kejauhan ujung lorong yang tengah kami lalui. Cassie masih menunduk melihat lantai dengan penuh ketakutan. Lekas aku memberitahukan kabar baik kepadanya.
__ADS_1
“Ayo, Cassie. Sedikit lagi kita keluar dari lorong ini,” lontarku menengankannya.
“B—Baik!” balasnya kalang kabut. Akhirnya Cassie memberanikan diri untuk melihat ke depan. Namun, tidak lama kami berdua merasa lega, tiba-tiba saja sesuatu muncul tepat di depan wajah kami dari atas. Sontak kami berdua berteriak sekencang-kencangnya.
“Aaaaaaa…!”
Cassie langsung memelukku dengan kencang. Aku yang tidak menduganya, juga dikejutkan dengan benda tersebut. Padahal aku biasa-biasa saja dengan kejutan seram yang menimpaku, tetapi kali ini berbeda. Aku langsung terengah-engah kelelahan. Bajuku kini basah dari air mata Cassie yang mengucur.
“P—Pulang… Ayo pulang…” rintihnya ketakutan setengah mati. Aku pun langsung memeluknya erat sembari mengelus-elus punggungnya.
“Tentu saja… Kita akan segera pulang setelah keluar dari sini…”
Aku kebingungan harus berbuat apa kepadanya. Aku juga tidak tahu harus merasa senang atau tidak. Yang pasti, aku merasa sangat bersalah telah membawanya ke tempat yang mengerikan ini. Semua yang terjadi telah berbeda dengan ekspektasiku.
“Aku benar-benar minta maaf, Cassie… Kau pasti sangat marah padaku…”
“G—Gavin b—bodoh…” lirihnya tersedu-sedu.
“Ya… Aku bodoh… Tapi kuharap kita tidak bermusuhan setelah keluar dari tempat ini…” ucapku halus kepadanya.
“Kau boleh melakukan apa pun kepadaku…” tambahku.
Kemudian kami melanjtukan langkah dan memasuki sebuah ruang makan. Ruangan tersebut sangat gelap dengan perabotan dapur dan peralatan makan. Terdapat sebuah meja lebar di tengah ruangan dan di sertai dengan empat kursi. Tanpa pikir panjang, kami berdua berusaha untuk cepat-cepat keluar dari ruang tersebut. Kami berusaha untuk tidak berjalan di pinggir ruangan, namun aku yang terlalu dekat dengan meja tanpa sengaja menjatuhkan sebuah piring. Sontak Cassie tersentak kaget dan memelukku lagi.
“H—Hanya piring… Maaf…” jawabku.
“Lain kali lihat sekelilingmu!” jeritnya kesal.
“B—Baiklah…” balasku gugup.
Setelah berada di ruang makan, kami memasuki sebuah ruangan lagi. Aku yang melihat sekeliling menyadari bahwa tempat ini tampak seperti ruang pemotongan. Aku yang sudah sering bermain gim horror membuatku tidak merasa takut sama sekali.
“Tempat seperti ini sudah sering aku lihat sebelumnya,” batinku. Lalu aku mengarahkan Cassie sesuai arahanku.
“Ini hanya ruangan biasa. Kau cukup melihat ke bawah dan jangan melihat ke depan,” paparku. “Kantung-kantung ini anggap saja hanya sebagai hiasan.
“O—Oke…” Ia pun melakukan apa yang aku katakan.
Dan betul saja, terdapat sebuah wajah menggantung di depan wajahku. Untung saja Cassie tidak melihatnya, sehingga ia tidak syok sama sekali. Lalu kami berdua melangkah maju ke depan. Tiba-tiba saja kami menginjak sebuah cairan yang terdapat di lantai, tetapi ruangan yang gelap membuatku tidak mengenali cairan tersebut, meskipun aku dapat menebaknya.
“Pasti ini darah. Klasik sekali…” benakku berlagak sombong.
“Tidak perlu khawatir, Cassie. Ayo kita jalan saja ke pintu itu,” lanjut pesanku kepadanya.
__ADS_1
Kami pun berjalan keluar dari ruangan tersebut dan memasuki ruangan lainnya. Terdapat sebuah televisi dan sofa di ruangan yang tengah kami masuki. Cassie yang melihat sekeliling berpikir kalau tempat ini sangat mirip dengan ruang tengah di asrama kami.
“Persis sekali dengan ruang tengah,” gumamku pelan.
“K—Kita bukan lagi di asrama, kan?” tanya Cassie memastikan.
Tiba-tiba saja televisi tersebut menyala dan memutar sebuah tayangan dengan seorang badut seram di layar itu. Aku pun bergegas berjalan keluar dari ruangan, namun Cassie terdiam dan melototi layar dengan wajah yang ketakutan. Tayangan tersebut awalnya tampak biasa-biasa saja, sampai akhirnya sosok tersebut berubah rupa menjadi seram dan berteriak kencang.
“AYO BERMAIN BERSAMAKU!”
Lantas aku menarik Cassie dan berlari menuju ruang berikutnya. Suara televisi masih terdengar jelas dengan cekikikan sosok mengerikan itu. Selanjutnya kami memasuki kamar tidur. Terdapat sebuah meja dan disertai dengan cermin besar. Cassie melihat ruangan tersebut serupa dengan kamar tidurnya di asrama. Sontak terdengar suara bayi yang tertawa keras. Kami menjadi panik ketakutan dan berusaha mencari pintu keluar, tetapi tidak ada.
“M—Mana pintunya?” tanyaku. Sementara itu Cassie menutup telinganya dengan rapat dan menjerit ketakutan.
“Hentikan! Tolong hentikan!” Lalu ia langsung tak sadarkan diri. Dengan cepat aku langsung menangkapnya.
“Cassie! Cassie!” panggilku menyadarkannya, tetapi ia tak kunjung sadar. Suasana menjadi mencekam dan aku semakin kalang kabut dibuatnya. Suara-suara keras yang masuk ke telingaku membuat kepalaku pusing bukan kepalang. Hanya ada sebuah lemari yang berada di sebelah kasur. Lekas aku membukanya lalu terlihat sebuah pintu keluar.
“Tapi sebelum keluar, aku harus membangunkan Cassie terlebih dulu,” gumamku dalam hati. Aku pun mencoba untuk membangunkannya.
“Cassie, sadarlah! Cassie!”
Melihatnya seperti itu membuatku tersadar akan kecantikannya. Matanya yang terpejam dan wajahnya yang polos membuatku terpesona padanya. Sontak terlintas di benakku suatu hal.
“Untuk kali ini saja, tidak apa-apa, kan?” ucapku kepada diriku sendiri. Lalu aku menciumnya tanpa ia sadari. Sesaat setelah itu, ia tersadar dan terbangun. Aku langsung berpura-pura tidak tahu dan polos.
“Di mana aku…?”
“Kita di pintu keluar,” jawabku. Lalu aku menurunkan Cassie dengan tenang. Suara yang masih terdengar kecil membuat Cassie teringat bahwa dirinya masih berada di rumah hantu. Tiba-tiba saja ia menjadi trauma dan tubuhnya melemah. Aku pun merangkulnya dan membawanya keluar dari tempat tersebut.
“Cassie, kau tidak apa-apa, kan?”
“C—Cepat… keluar… dari— sini…” tuturnya lesu.
Setelah keluar dari rumah hantu itu, Adelard dan Rein yang telah menunggu di luar mendadak syok melihat kondisi kami berdua yang kelelahan dan tidak berdaya. Mereka berdua ikut panik dan langsung menghampiri kami. Rein membantuku untuk merangkul Cassie, sedangkan Adelard membantuku berjalan menuju sebuah bangku.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Rein penuh khawatir. Cassie sangat trauma sampai-sampai membuat dirinya mual.
“A…ku… mau… muntah…”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1