Love Exchange

Love Exchange
Episode 156 : Alasan Untuk Dicintai


__ADS_3

Mentari telah terbaring di peristirahatannya, langit mulai menggelap dan hawa di sekitar sudah mulai dingin. Aku dan Rein mengenakan pakaian yang lebih tebal walaupun tidak setebal malam sebelumnya. Untung saja di dalam ruangan tidak sedingin di luar. Kami berdua sedang berada di ruang tengah untuk menyantap makan malam bersama. Kebanyakan hidangan yang dibuat Rein berupa sup hangat.


“Tubuhku jadi hangat dengan ini,” gumamku.


“Habiskan saja, tidak enak jika disimpan untuk besok,” balas Rein tersenyum.


“Oke,” lanjutku senang.


Setelah menghabiskan makan malam, aku tidak memiliki kegiatan apa pun selain berdiam bosan di atas sofa, sementara itu Rein sedang terfokus menatap layar ponsel pintarnya. Aku bersandar sembari mengganti-ganti saluran televisi dan tidak menemukan tayangan yang seru untuk ditonton. Ketika aku menyalakan ponselku, tidak ada hal menarik yang dapat menghilangi rasa bosanku sekarang. Aku yang terbesit untuk segera tidur, seketika lenyap karena aku tidak merasa kantuk sama sekali.


“Huft… Bosan sekali…” hembusku sembari memain-mainkan remote televisi.


“Kau tidak ingin melihat keluar?” usul Rein dengan tatapan ke arah layar ponselnya. Aku pun menoleh dan melihat luar jendela. Kondisi luar tampak tidak sebagus kemarin. Terdapat kabut yang menghalangi pemandangan dan bintang-bintang.


“Di luar tidak menarik,” jawabku. Tidak lama kemudian Rein beranjak dan pergi menuju kamar.


“Brrr… Cukup dingin di sini. Aku ingin ke kamar,” ujarnya. Aku yang melihatnya berjalan lantas tidak tahu ingin berbuat apa.


“Bagaimana kalau kau coba pemandian air hangat?” lanjutnya seraya melangkah meninggalkanku. Aku yang mendengarnya sontak tertarik lalu beranjak dan bergegas mengganti pakaian.


Sesampainya di pemandian, terdapat kabut yang sangat tebal hingga membuatku kesulitan melihat. Kabut tersebut berasal dari air hangat yang bertemu dengan udara dingin. Aku yang hampir membeku kemudian dengan cepat aku langsung merendamkan diri di dalam kolam tersebut. Aku duduk dan bersandar di dinding kolam dengan kepalaku yang berbantalkan handuk.


“Pemandian air hangat memang terbaik,” gumamku.


Aku menghabiskan banyak waktuku untuk menikmati air hangat yang membuat tubuhku rileks. Tanpa sadar aku sudah di pemandian tersebut selama satu jam lebih. Suasana semakin larut dan terdengar dengan jelas suara hewan malam dari balik dinding bambu. Aku pun memutuskan untuk berhenti berendam diri dan beranjak untuk tidur. Akan tetapi, aku yang baru saja berdiri di atas kolam tiba-tiba saja hawa dingin yang membeku langsung menyayat seluruh tubuhku. Dengan cepat aku langsung menceburkan kembali tubuhku agar terasa hangat.


“Aduh, bagaimana aku keluar dari sini?” ucapku kebingungan.


Aku hanya berdiam diri di dalam kolam sembari memikirkan cara untuk aku bisa kembali ke dalam vila. Pada akhirnya aku tidak menemukan jalan keluar sama sekali. Kabut semakin tebal sampai-sampai aku tidak dapat melihat tanganku yang berada di hadapanku.


“Mau tidak mau harus cepat kembali,” benakku pasrah.


Aku berdiri di atas kolam dan langsung berjalan menuju tepi. Aku yang tidak dapat melihat apa pun lantas hanya bisa mengandalkan cahaya yang bersinar di pintu keluar tempat pemandian. Saat aku keluar dari pemandian sontak aku berlari menuju cahaya terang yang berasal dari vila. Pintu masuk yang terbuat dari kaca membuatku kesulitan mencarinya lantaran dinding vila yang juga berbahankan kaca. Aku hanya bisa meraba-raba di sepanjang dinding hingga akhirnya menemukan kenop pintu.


“A—Akhirnya…” ungkapku menggigil kedinginan.


Setibanya di dalam vila aku langsung berlari menuju kamar yang berada di lantai atas dan langsung membuka pintu dengan kencang lalu mendekatkan diri dengan lampu pemanas ruangan yang berada di atap. Rein yang sedang asyik dengan ponselnya seketika tersentak kaget dan menoleh ke arah pintu. Aku berdiri di atas kasur dan mendekatkan telapak tanganku dengan lampu tersebut.


“Astaga naga! Kau kenapa?” lontar Rein cemas.


“D—D—Dingin sekali…” jawabku sembari mengelap tubuhku dengan handuk.


“Lagi pula sudah tahu malam dingin begini, malah ke pemandian air hangat,” balasnya.

__ADS_1


“Kau sendiri yang mengusulkanku untuk ke sana!” sahutku kesal.


“Aku hanya memberi usul. Kukira kau tahu kalau akan berakibat seperti ini.”


“Aku baru sadar saat selesai. Habisnya aku sangat bosan…” tandasku pelan.


“Baiklah, baiklah… Cepat handukannya. Punyamu yang tegak begitu membuatku risih sekali,” lanjut Rein yang kemudian sibuk kembali dengan ponselnya.


“Bisakah kau mengambil pakaianku?” ucapku meminta tolong padanya. Ia pun beranjak dari kasur dan mengambil pakaianku di lemari. Setelah itu ia meletakkan pakaianku di atas kasur.


“Ini. Apa perlu ku pakaikan padamu juga?” tuturnya sedikit sebal.


“Tidak! Aku sudah besar, tahu!”  balasku yang juga kesal terhadapnya.


“Loh? Malah dia yang marah-marah,” gumam Rein.


“Maaf… Terima kasih sebelumnya,” lanjutku. Ia pun kembali berbaring di atas kasur. Sembari menatap layar, ia berceletuk.


“Iya kau sudah besar, besar sekali…”


“Jangan bicara yang aneh-aneh!” lontarku jengkel.


Selepas itu, aku juga ikut berbaring di sebelahnya. Tiba-tiba saja muncul rasa kantuk yang dengan cepat memberatkan kedua mataku. Sementara itu, Rein masih saja asyik dengan ponsel pintarnya itu. Aku pun memejamkan mataku, tetapi aku malah kesulitan untuk terlelap. Hari yang sudah sangat larut membuat Rein menyudahi keasyikannya dengan layar tersebut. Ia bersiap-siap untuk tidur kemudian berbaring di sebelahku seraya melihat lampu di atas.


“Aku masih kedinginan,” jawabku.


“Oh, kukira kau…” gumamnya pelan.


“Aku tidak pernah berpikir untuk seperti itu,’ balasku sedikit jengkel padanya.


“E—Eh? Memangnya kau tahu apa yang ingin ku katakan?” lanjut Rein terheran-heran.


“Ti—Tidak juga,” ujarku malu.


“Wah, jangan-jangan…” cetusnya menyindirku.


“Kau menjebakku!” lontarku. Ia pun tertawa melihat diriku yang tampak seperti anak kecil. Beberapa detik berselang kami berdua saling terdiam sejenak.


“Kau sedang ada ditahap masa muda, lho… Apa tidak pernah terbesit di benakmu?” tanya Rein penasaran.


“Kau sendiri bagaimana?” lanjut tanyaku.


“Aku tidak munafik, pastinya aku pernah berpikir begitu,” jawabnya.

__ADS_1


“Yah… Aku juga sama sepertimu,” sahutku. Kemudian kami saling bercakap dan bersahut-sahutan.


“Jadi, sekarang kau sedang memikirkannya?”


“Kau ingin menjebakku lagi?”


“Tidak, aku hanya bertanya.”


“Kalau aku memikirkannya, apa yang akan kau lakukan?”


“Aku sendiri tidak masalah dengan itu,” jawabnya yang tiba-tiba saja menggodaku. Seketika aku terkejut setengah mati.


“E—Eh? A—Apa yang kau lakukan?” tanyaku gelagapan.


“Tidak mungkin kau tidak tertarik dengan lawan jenis, kan?” rayunya di hadapanku.


“T—Tapi aku tidak ingin…” racauku pelan.


“Tapi tubuhmu berkata lain, lho…” Sontak aku langsung berpaling darinya dan langsung menutupi diriku dengan selimut. Rein yang melihatku seperti itu lantas tertawa kecil.


“Wah, aku gagal menggodamu,” celetuknya. Aku tidak menanggapinya dan pikiranku yang sekarang menjadi berantakan.


“Baguslah… Ternyata kau orang yang dewasa…” lanjutnya senang. Aku yang mendengarnya lantas menjadi kebingungan.


“M—Maksudmu?”


“Tadi aku hanya mengujimu… Hehe…” jawabnya cengengesan. Aku menjadi malu setengah mati terhadapnya.


“Jangan melakukan seperti itu lagi padaku!” lontarku.


“Iya, iya… Aku juga tidak berniat macam-macam, kok,” balasnya.


“Bagaimana kalau aku merespon berbeda?” tanyaku penasaran sembari menghadapnya yang berpaling dariku.


“Tidak mungkin. Adelard yang kukenal adalah orang yang baik,” jawabnya yang kemudian menoleh dan tersenyum ke arahku. Kami berdua saling tersenyum satu sama lain.


“Cerdas, pintar, baik hati, tidak sombong…. Masih banyak yang tidak bisa aku sebutkan… Kau memiliki segalanya…”


“Kau berlebihan…”


“Itu yang membuat aku menyukai dirimu…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2