Love Exchange

Love Exchange
Episode 183 : Persiapan Acara Megah


__ADS_3

Malam hari yang sunyi, kami yang baru saja masuk ke dalam rumah dikejutkan dengan kehadiran Rein yang sedang memandang kami curiga. Aku pun menjawab pertanyaannya dengan mulut gelagapan.


“A—Aku habis berkeliling desa,” jawabku.


“Di tengah  turun salju seperti ini?” lanjutnya tak percaya.


“Sebelumnya kan belum hujan,” balasku.


“Lalu, kenapa kau bersama Cassie?” ujarnya yang merasa jengkel terhadapku.


“Kau cemburu, ya?” celetetukku tiba-tiba. Aku juga terkejut dengan mulutku yang seketika berkata seperti itu. Rein yang mendengarnya sontak kaget lalu menjadi denganku.


“Kau bilang apa?” lontar Rein.


“Kami bertemu di depan tadi,” ucapku mengalihkan padangan darinya. Pada saat yang bersamaan aku merasa kantuk lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.


“Wuah… Aku ingin tidur. Selamat malam,” hembusku seraya menguap. Tanpa sadar aku meninggalkan kantung hadiah di dekat pintu. Rein yang kebingungan lantas mendekat lalu melihatnya.


“Apa ini?” gumamnya. Aku yang mendengar langsung tersentak kaget kemudian berlarian menghampirinya untuk mengambil kantung tersebut. Untung saja Rein belum sempat melihat isi dari kantung itu.


“Huft… Hampir saja…”


“Kau beli apa?” tanya Rein penasaran.


“Rahasia…” balasku lalu meninggalkan mereka.


Setibanya aku di dalam kamar, aku meletakkan kantung tersebut di dekat kasur serta terlihat Gandra dan Hart yang  sudah terlelap di sana. Aku berbaring lega sembari memikirkan cara memberikan hadiah tersebut pada Rein. Seraya menatap langit-langit, aku merasa bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memberikannya hadiah.


“Apa saat acara itu saja, ya?” gumamku. Aku berbaring menghadap samping dengan sebuah bantal guling di pelukanku. Akan tetapi, lagi-lagi air mataku keluar dengan sendirinya. Aku menjadi terheran-heran terhadap diriku sendiri. Beberapa detik kemudian terbesit di kepalaku tentang Cassie saat di toko minuman tadi.


“Kenapa begini lagi?” benakku. Aku menjadi kesal terhadap diriku sendiri. Lagi-lagi aku kesulitan tidur dan membuatku bangun kesiangan.


Keesokan harinya, semua orang terbangun dengan semangat baru di hari baru. Aku yang baru terbangun membuat mereka khawatir terhadapku. Kami bersiap-siap untuk membantu para warga mempersiapkan acara besar nanti malam. Tubuhku terasa lemas dan tak dapat bergerak banyak. Sering kali aku menguap dan mengeluarkan air mata.


“Begadang lagi?” cetus Gandra. Aku tidak menggubrisnya sama sekali. Kami pergi keluar dari rumah menuju kediaman Pak Gled.


“Tunggu, memangnya kalian tahu?” tanya Gavin kebingungan.


“Duh, kau ini pasti gampang tersesat kalau terus begitu,” balas Bella yang kemudian bertanya pada seseorang yang lewat sama seperti kemarin.


Sesampainya di rumah Pak Gled, kami dipersilahkan masuk ke dalam olehnya. Kami mengobrol santai sejenak ditemani dengan segelas teh di hadapan kami masing-masing. Aku tidak berbicara sama sekali dan hanya menyimak pembicaraan mereka semua. Hingga akhirnya Pak Gled tersadar melihat diriku yang hanya terdiam seorang diri.


“Kau tidak kenapa-kenapa, kan?” Aku yang tidak fokus lantas tidak sadar dengan perkataannya padaku.


“Adelard?” ujarnya.


“Ah! I—Iya! A—Aku baik-baik saja!” lontarku terkejut. Ia yang melihatku sontak menjadi khawatir terhadapku.


“Hmm… Kau bukan kena pengaruh semalam, kan?” lanjutnya.

__ADS_1


“B—Bukan! Aku hanya kesulitan tidur…” balasku.


“Loh? Bukannya minuman itu justru membuatmu lebih mudah tidur?” celetuknya dengan santai berucap padaku. Mereka yang mendengarnya sontak tersentak kaget terlebih lagi Rein.


“Kau minum-minum semalam?” cetus Rein.


“T—Tidak! Kami hanya mengalami kecelakaan,” paparku gelagapan. Rein menjadi semakin curiga terhadap perkataanku barusan. Aku baru tersadar kalau aku salah bicara padanya.


“Eh? Apa aku menyebut ‘kami’?” gumamku dalam hati.


“Tunggu, kami? Kami siapa yang kau maksud?” ujar Rein kebingungan.


“Aku dan Pak Glen maksudnya…” jawabku cengar-cengir.


“Minum?”


“A—Aku ditawari minum saat kecelakaan itu,” balasku dan semakin membuat mereka curiga.


“Kau tidak bisa membodoh-bodohi kami, Adelard,” tandas Gandra.


“Sebentar, kalau kau semalam… Berarti…” gumam Rein berpikir. Aku dan Cassie sama-sama terdiam dan berpura-pura tidak tahu. Rein pun bertanya pada Cassie untuk menjawab pertanyaan di benaknya.


“Cassie?”


“Y—Ya…?”


“Kau bersama Adelard, kan?”


“Sudah, sudah… Sepertinya di luar sudah ramai,” sahut Bella menghentikan percikan-percikan yang muncul.


Akhirnya kami membantu persiapan acara nanti malam. Tampak para warga mengerjakan tugas-tugas mereka masing-masing. Jalan, tiang-tiang, dan sudut rumah mulai dihias dengan manik-manik yang berkilau. Suasana terasa hangat akan kebersamaan semua orang. Beberapa pengunjung desa ini yang sama seperti kami juga ikut membantu bersama.


“Perumahan di rumahku tidak seperti ini…” gumam Gavin.


“Yah… Memang sulit kalau dibandingkan dengan kehidupan kota,” balas Rhean.


Cassie dan Rein berada di halaman depan toko roti untuk membuat roti di sana bersama tukang roti yang dijumpai Cassie semalam. Rein dan tukang roti itu terkejut dengan kepandaian Cassie mengadon dan membentuknya. Hingga akhirnya tercipta sebuah roti empuk dan lembut dari jari-jemarinya. Rein tak menyangka kalau roti buatannya akan di luar perkiraannya. Tukang roti itu juga tak percaya dan merasa kalau buatan Cassie lebih enak daripada buatannya sendiri.


Di lain sisi, Freda berada di tepi jalan. Ia sedang memanjat tiang lalu memasang lampu-lampu di sana. Gandra yang melewatinya lantas terkejut namun ia dapat memakluminya di saat yang bersamaan. Lalu ia melanjutkan langkahnya bersama Rhean membawa peralatan acara. Aku yang melihat mereka berdua kemudian menyapa mereka dari teras tempat pemotongan kayu. Gavin dan Pak Gled tengah sibuk memotong gelondong tersebut dengan mesin.


“Semangat, kalian berdua!” seruku.


“Kau juga!” sahut Rhean. Gavin yang mendengarku lantas membalas perkataanku barusan.


“Sepertinya kau sudah jauh lebih semangat,” ujarnya.


“Yah… Sedikit-sedikit aku bisa menahannya,” balasku. Beberapa detik kemudian Pak Gled mematikan mesin sejenak lalu pergi mengambil sebuah gelas yang terisi dengan minuman. Ia memberikan gelas tersebut kepadaku.


“Minuman ini aman, kan?” tanyaku memastikan.

__ADS_1


“Tenang saja, minuman itu aman untuk siapa saja, terlebih kalau kau kurang tenaga,” jawabnya tersenyum.


Aku pun meminumnya hingga habis. Tidak lama berselang, tiba-tiba saja tubuhku terasa panas dan tubuhku bergerak dengan sendirinya. Pak Gled sedikit terkejut melihat efek yang terjadi padaku.


“Sepertinya efeknya sedikit berlebihan, tapi tak masalah,” ucapnya.


“Kau bantu bawakan batang-batang itu pada kami, ya,” lanjut Gavin.


Aku pergi menuju tempat penyimpanan gelondong yang berada di sebelah tempat pemotongan. Aku menangangkat beberapa kayu tersebut lalu memikulnya di atas bahuku. Anehnya aku tidak merasa berat dengan gelondong-gelondong kayu itu. Padahal gelondong tersebut terlihat cukup besar dan tak mungkin bisa diangkat oleh satu orang.


“Apa itu efek dari minuman tadi?” batinku.


Aku kembali menghampiri mereka yang tengah sibuk. Saat aku ingin meletakkannya mereka berdua menolehku  sontak terlompat kaget.


“A—Adelard? Kau bisa mengangkat semua itu?” pungkas Gavin tercengang.


“Iya, ternyata tidak seberat yang kukira,” jawabku polos.


Gavin yang penasaran sekaligus tidak percaya lantas memintaku untuk meletakkan gelondong tersebut. Ia mencoba untuk mengangkatnya sendiri seperti diriku, tetapi kayu yang berat tersebut membuatnya kesulitan untuk memikulnya. Hingga akhirnya ia tidak sanggup lagi dan ingin terjatuh. Aku langsung berlari membantunya dengan cepat.


“Kau tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.


“Pundakku terasa pegal sekali,” jawabnya kesakitan.


“Biar aku saja,” balasku. Pada saat yang bersamaan Bella dan Icha datang membawa kotak berisi roti-roti yang sebelumnya telah dibuat oleh Cassie dan yang lainnya.


“Makan siang datang!” lontar Bella bersemangat. Aku yang masih mengangkat batang panjang tersebut lantas menoleh ke arahnya. Gelondong tersebut berputar mengikutiku dan hampir mengenai mereka semua.


“Bisakah kau letakkan dulu?” ujar Icha jengkel.


“Oh iya… Hehe…” balasku yang baru tersadar. Pada saat yang bersamaan Bella baru sadar bahwa gelondong yang aku angkat sangatlah berat.


“T—Tunggu! Adelard, bagaimana bisa…?”


Kami menghabiskan roti yang tersedia di dalam kotak tersebut. Setelah mengisi perut, kami merasa lega dan mengantuk pada saat yang sama.


“Wuah… Aku ingin istirahat sebentar,” hembus Gavin seraya menguap.


“Jangan sekarang. Kita harus menyelesaikannya tepat waktu,” balas Bella.


“Tapi sebentar saja,” lanjut Gavin.


“Lihatlah Adelard, dia sangat berapi-api,” sahut Icha. Kemudian Pak Gled datang mendatangi Gavin dengan segelas minuman yang sama dengan minumanku sebelumnya.


“Nih, minumlah,” ujarnya. Gavin pun meminumnya dengan satu tegukan. Kami semua akhirnya siap untuk melanjutkan pekerjaan.


“Ayo kita selesaikan sekarang!” lontar Pak Gled.


“Oke!”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2