Love Exchange

Love Exchange
Episode 89 : Mendadak Pacaran


__ADS_3

Malam hari yang sejuk dan terang bersinar bulan purnama, angin laut malam berhembus dan permukaan air sedikit lebih tinggi dari tadi siang. Hawa malam yang seharusnya sedikit membeku, namun berbeda untuk kali ini. Keramaian orang-orang dan api unggun yang menyala besar di atas pasir, membuat kami semua menjadi hangat. Situasi yang berseri-seri membuatku teramat senang akan kebersamaan yang muncul di tengah-tengah kami.


Kami tengah melakukan pesta barbeku di tepi pantai. Aku dan Gandra sedang membolak-balikkan sate daging yang berada di atas panggangan. Cassie dan kekawanannya sedang menyiapkan dan memotong-motong daging serta sayuran, lalu menusukkannya ke tusukan. Sementara itu, Gavin dan Rhean sedang menari bersama di dekat api unggun.


“Piring mana piring?” tanya Gandra sembari mengipas bara api. Kemudian Icha membawakan piring tersebut kepadanya. Setelah itu aku meletakkan sate yang telah matang lalu membawanya kembali ke mereka dan meletakkannya di atas tikar. Lalu aku mengambil satu tusuk dan memakannya.


“Hey! Tunggu semuanya matang dahulu!” lontar Bella sedikit kesal.


“Jatah tukang bakar… Hehe…” balasku.


“Huh… Untuk kali ini saja, ya,” lanjutnya memperingatkanku.


“Baik, Bos!” sahutku, kemudian aku kembali ke tempat pemanggangan.


Waktu terus berputar dan bulan sudah berada di puncak tertingginya. Langit yang berhiaskan bintang-bintang menjadi kawan yang menemani kami saat ini. Cuaca yang cerah dengan sedikit awan medukung kegiatan bersenang-senang kami. Hari yang panjang membuat kami semua menjadi lapar. Untung saja pada saat yang bersamaan semua hidangan telah selesai kami masak.


Kami semua telah duduk rapi di atas tikar yang telah tersedia berbagai makanan lezat. Akan tetapi, Gavin dan Rhean masih asyik berada di api unggun dan belum kunjung kembali. Rasa lapar yang sudah tidak dapat di tahan membuat kami kesal terhadap mereka berdua.


“Lama sekali mereka jogetnya,” lontar Rein kesal. Kemudian aku berniat untuk memanggil mereka.


“Baiklah, akan ku panggil mereka berdua,” ucapku beranjak dari tempat dudukku, pada saat itu juga terlihat mereka yang sudah sampai di tenda.


“Nah, itu dia,” tutur Cassie senang.


“Wah, kita ditungguin,” cakap Gavin gembira. “Iya, nih,” sahut Rhean.


“Huh, tahu begitu langsung kami makan saja tadi,” balas Rein kesal.


“Hehehe… Bercanda, bercanda,” ucap Rhena cengengesan.


Kemudian kami semua menyantap makan malam yang telah dihidangkan. Lautan yang berkilau akibat pantulan sinar rembulan, orang-orang yang menari dan bernyanyi di api unggun, menjadi pemandangan indah yang dapat kami lihat dengan kedua mata kami. Tak luput juga kami warnai malam yang hangat tersebut dengan gelak tawa


bersenang-senang.


“Gavin mulutmu belepotan,” lontar Icha terkikik tawa. Gavin terus melahap semua makanan dengan cepat seperti orang yang rakus. “Abwisnya muakanwan uini uenak bangwet,” cakap Gavin sembari mengunyah. “Nanti bisa tersedak, lho…” lanjut Rhean. Sementara itu aku dan beberapa temanku asyik memberi suapan satu sama lain.


“Ayo buka mulutmu…” ujar Gandra kepada Bella. Lalu Bella mengikuti perintahnya dan membuka mulutnya lebar-lebar. “Anak pintar…” lanjut Gandra sambil menyuapinya. Cassie yang melihat mereka berdua juga ingin melakukan hal yang sama.


“Sekarang giliranku. Adelard… Aaaaa…” tutur Cassie sembari memperagakan mulutnya yang terbuka.


“Hmm… Enak,” sahutku senang. “Tentu saja!” balasnya tersenyum. Aku pun mengambil sesendok makanan lalu melakukan hal serupa kepada Cassie. Saat aku menjulurkan sendok ke mulutnya, tiba-tiba pipinya merona kemerah-merahan. Sembari tersenyum aku memberinya suapan. Seusai itu, ia langsung salah tingkah dan senang sekali.


“Memang kalau suapan dari orang tertentu rasanya akan berbeda, ya!” lontarnya gembira. Kemudian kami melanjutkan hal serupa hingga semua giliran terselesaikan. Beberapa waktu berselang, piring-piring telah kosong dan kami semua telah kenyang.


“Perutku penuh sekali…” cakap Rhean sembari mengelus-elus perutnya.


“Bagaimana dengan Si Rakus itu?” cakap Rein penasaran. Kami semua menoleh ke arah Gavin dan seketika kami terkejut.


“D—Dia sudah tidur pulas?” tanya Gandra tercengang.

__ADS_1


“S—Sangat pulas sepertinya,” jawabku gelagapan.


Tak lama kemudian Rein menemukan sebuah ide untuk mengajak kami dan melanjutkan bersenang-senang.


“Kalian masih semangat, kan?” tanya Rein.


“Tentu saja!” jawab Cassie yang masih berkobar-kobar.


“Ayo kita ke api unggun,” ajal Rein kepada kami semua. Kami pun pergi ke api unggun dan meninggalkan Gavin yang tertidur di tenda.


Setibanya di api unggun, suasana semakin ramai dengan orang-orang yang saling bercerita, menari dan bernyanyi, dan pesta barbeku bersama-sama. Setiap sudut dari sekeliling api unggun memiliki perkumpulannya masing-masing, dan semua perkumpulan itu terdiri dari orang-orang yang tidak saling mengenal. Dengan penuh kehangatan mereka saling berbaur satu sama lain.


“Ayo kita bernyanyi dan menari bersama!” ajak Bella ceria. Kami semua mengikuti ajakannya dan bergabung dengan orang-orang yang telah berada di sana lebih dulu. Terdapat beberapa orang yang memainkan alat musik seperti gendang, marimba, okarina, dan ukulele.


“Semua sudah siap?” tanya seorang pemain musik ke arah kami semua.


“Siap!” balas kami semua serentak.


“Baiklah, mari kita nyanyikan lagu ‘Riang Tepi Pantai’!”


Kemudian mereka mulai memainkan alat musik mereka masing-masing dan kami semua berputar mengelilingi api unggun seraya menari dan bernyanyi bersama-sama. Setiap tangan dan kaki kami gerakkan sesuai music yang beralun. Tangan yang bertepuk-tepuk dan hentakan kaki membuat lagu yang dinyanyikan bersama menjadi lebih hidup.


“Di atas pasir kami menari.”


“Di atas pasir kami bersenang-senang.”


“Dan berteriak…”


“Ha!”


Gemuruh sorak sorai dan tepuk tangan bersenandung membisingkan atmosfer. Gelak tawa dan senyum bahagia terpasang di wajah orang-orang, termasuk kami. Setelah itu aku mengelilingi berbagai perkumpulan yang berada di sekitar api unggun. Terdengar suara keramaian tertawa terbahak-bahak. Saat aku menghampirinya, ternyata perkumpulan itu adalah perkumpulan lawak. Aku yang baru tiba kemudian duduk di atas batang pohon kelapa dan menyaksikannya.


Waktu pun terus berjalan, tak terasa jam telah menunjukkan waktu tepat tengah malam. Semua perkumpulan mulai berangsur-angsur berpisah, tetapi mereka semua berpisah untuk berkumpul di salah satu perkumpulan utama. Kami telah memasuki acara yang telah dinanti-nantikan semua orang. Terdapat seorang pembawa acara yang tengah berbicara di depan.


“Baiklah, seluruh pengunjung yang berbahagia! Sekarang adalah acara yang sama-sama telah kita tunggu-tunggu… Pengakuan Cinta Kelapa!”


Sontak semua orang bersorak sorai dan bertepuk tangan. Ada banyak sekali pasangan berada di sini. Aku dan teman-teman berkumpul dan menyaksikan acara tersebut di bagian tengah dari barisan para penonton. Pembawa acara menceritakan sebuah kisah nyata terkait tentang acara ini. Sepasang kekasih menjadi erat dan tak terpisahkan selamanya setelah mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya dari masing-masing keduanya.


“Tepat saat gendang raksasa di pukul, pastikan sang perempuan mencium pasangannya.” jelas pembawa acara tersebut.


“Eh? Apakah dari kita ada yang sudah berpacaran?” tanya Rhean penasaran, dan kami semua hanya menggeleng-geleng kepala. Kemudian semua orang menjadi tenang dan bersiap-siap.


“Sudah siap semuanya?” teriak pembawa acara dengan penuh semangat.


“Sudah!” jawab orang-orang kompak.


“Baiklah, ayo kita hitung mundur sama-sama dari tiga!”


“Tiga! Dua! Satu!”

__ADS_1


Suara pukulan keras yang menggelegar dan berbunyi sangat lantang setelah di pukul. Pada saat itu juga para perempuan yang sudah memiliki pasangan melakukan hal tersebut sesuai perkataan pembawa acara. Akan tetapi, tiba-tiba saja kejadian yang tidak aku duga terjadi sekilas dan membuatku syok bukan kepalang. Secara mendadak Rein mencium keningku dengan waktu yang cukup lama. Teman-temanku yang melihatnya lantas tersentak kaget dan mereka menjadi marah namun dengan wajah yang merona. Aku hanya terdiam tanpa kata-kata dengan mulut dan mata yang terbuka lebar.


“A—A—A—A—Apa yang kau lakukan!” teriak Bella tidak percaya.


“Apa yang ada dipikiranmu?” lanjut Cassie geram kepada Rein. Mereka yang ribut dan marah terhadap Rein memikat perhatian orang-orang di sekeliling kami, salah satunya pembawa acara yang melihat jelas ke arah kami.


“Wah! Suatu keajaiban telah terjadi!” seru pembawa acara. Kemudian aku dan Rein ditunjuk untuk maju ke depan. Semua orang bertepuk tangan dengan gembira seraya kami berdua berjalan. Saat kami telah berada di depan, pembawa acara bertanya kepada Rein.


“Sudah berapa kalian berpacaran?”


“Baru hari ini,” jawab Rein tersenyum.


“Bagaimana dengan perasaanmu… Eeee… Siapa namamu?”


“A—Adelard,” jawabku gugup.


“Nama yang bagus! Cocok dengan wajahmu yang tampan.” Lalu aku menjawab pertanyaan awal yang diucapkannya.


“Yah… A—A—ku…” Tiba-tiba saja aku tidak bisa berkata apa-apa. Pembawa acara yang memperhatikanku kemudian membaca situasi.


“Pastinya kau sangat terkejut dan senang, kan?” lontarnya tersenyum. Berbagai bisikan dan omongan para penonton menjurus ke arahku.


“Beruntung sekali perempuan itu…”


Sekarang telah masuk pada rangkaian acara yang terakhir. Orang-orang menyaksikan dengan serius ke arah kami. Kami berdua di posisikan saling berhadap-hadapan.


“Sekarang adalah puncak dari segala puncak! Sepasang kekasih yang telah diberi keajaiban harus berciuman untuk memasang tali hubungan abadi.” Sontak aku menjadi syok bagai orang yang tidak sadar. Rein pun tersenyum dan ia memelukku dan mendekatkan dirinya kepadaku. Dengan wajah senang, para menonton menyaksikan detik-detik kami berciuman. Sementara itu, teman-temanku hanya menonton dengan terdiam dan melongo.


“Cium! Cium!” seru para penonton. Kemudian Rein memelukku erat dan menciumku dengan waktu yang cukup lama. Orang-orang yang menyaksikan kami menjadi bahagia dan bertepuk tangan.


“Dengan begini sebuah keajaiban telah terjadi! Semoga kebaikan terus berada bersama kalian berdua!” ucap pembawa acara. Saat melakukan hal tersebut aku merasakan sensasi yang berbeda, tanpa aku sadari aku terhanyut oleh nafsuku dan terus berciuman hingga satu menit lamanya.


“Aku tidak sedang bermimpi kan?” tanya Icha kalang kabut.


“Apa yang salah dengan dunia ini?” lontar Cassie.


“B—Baru pertama kalinya aku melihat kejadian sefrontal ini…” gumam Gandra tak percaya.


Setelah kejadian tersebut, aku dan Rein diasingkan oleh teman-temanku. Setiap kali aku ingin berbicara, mereka selalu memalingkan wajah dengan kesal dan pergi menjauhiku. Saat kami semua menginap di sebuah pondok penginapan dekat pantai, mereka memesan dua kamar untuk dibagi antara para laki-laki dan perempuan, namun aku dan Rein tidak dapat ikut beristirahat dengen mereka.


Hal tersebut membuatku dan Rein patungan untuk memesan satu kamar lagi. Awalnya kami berdua berniat untuk memesan dua kamar terpisah, namun apa boleh buat lantaran uang yang kami miliki tidak banyak. Aku dan Rein pun tidur di kasur yang sama dengan badan menghadap saling berlawanan. Di saat itu aku sangat menyesal atas kejadian yang telah aku alami tadi.


“Adelard bodoh! Bagaimana kau memperbaiki pertemananmu? Semua orang telah salah paham…” batinku marah kepada diriku sendiri. Sembari meneteskan air mata, aku berharap ampunan dengan tulus dan menyesali perbuatanku.


“Dewa… Ampuni aku yang khilaf ini…”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2