Love Exchange

Love Exchange
Episode 141 : Saling Salah Sangka


__ADS_3

Suatu pagi hari yang lebih sejuk dari hari-hari sebelumnya. Suasana asrama masih sangat hening dari kebisingan. Para insan masih berada di tempat peristirahatan mereka dan belum bertebaran keluar. Alarm berbunyi di sebelahku dan membuatku terbangun, sementara itu Cassie masih terbaring pulas dengan bantal guling yang berada dipelukannya.


“Ternyata lucu juga wajahnya seperti itu,” gumamku sembari tersenyum. Kemudian aku beranjak dari kasur dan meregangkan tubuh. Aku berjalan keluar dari kamar menuju ruang tengah. Terlihat kamar Adelard dan Gavin masih tertutup rapat. Aku melihat jam dinding yang menunjukkan sudut seratus delapan puluh derajat. Tampak mentari baru saja terbit dari balik jendela.


“Lebih baik aku mempersiapkan sarapan,” gumamku dalam hati. Aku mulai mengambil beberapa bahan masakan lalu memotongnya dan memasukkannya ke dalam panci. Tidak lama kemudian Cassie memanggilku dengan suara yang masih terseret-seret dari pintu kamar.


“Pagi, Rein…”


“Pagi,” balasku  sembari menoleh ke arahnya lantas terkejut melihat pakaian dan rambutnya yang sangat berantakan.


“Cassie, kau beranta—” ujarku kepadanya namun pada saat yang bersamaan terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Gavin keluar dari kamar dengan setengah sadar dan penampilannya yang juga berantakan seperti Cassie.


“Wuah… Kalian sudah pada bangun?” ucap Gavin seraya menguap. Seketika aku menjadi panik sendiri dengan keadaan mereka yang seperti itu. Tanpa sadar ternyata Cassie sudah berada di sampingku dan tengah membantuku, sementara itu Gavin berjalan menuju ruang tengah lalu duduk di sofa.


“Kalian tidak ingin merapikan pakaian dan rambut kalian dulu?” tanyaku tak habis pikir. Mereka berdua hanya bergumam tanpa kata-kata. Aku yang melihat perangai mereka lantas menghela napas.


“Yah… Suka hati mereka saja…” benakku. “Apa hanya aku yang selalu seperti ini setiap pagi?” imbuhku terheran-heran. Beberapa waktu berselang Adelard muncul keluar dari kamar. Ia tampak sudah rapi tidak seperti mereka berdua. Aku pun langsung menyapanya.


“Pagi, Adelard,” sambutku ke arahnya, tetapi ia tidak menghiraukanku dan terus berjalan menuju kamar mandi.


“Mungkin dia masih tidak ingin diganggu karena baru bangun…” gumamku dalam hati seraya tersenyum.


Tidak lama lagi masakan akan segera siap. Adelard keluar dari kamar mandi dan berjalan menghampiri Gavin di atas sofa. Sementara Cassie memasak, aku mempersiapkan minuman dan mengambil beberapa gelas lalu membawanya ke meja makan. Akan tetapi, tiba-tiba saja aku terpeleset dengan lantai yang licin dan membuatku terjatuh. Gelas yang berisi air penuh di tanganku langsung berhamburan dan menyiram Adelard. Aku tersungkur di atas lantai dan mengejutkan semua orang. Dengan sigap Adelard datang menghampiriku.


“Aku tidak apa-apa,” ucapku pelan.


“Kalau begitu cepat ambil lap,” sahut Adelard dengan wajah datar. Sontak aku tersentak kaget dan ketakutan melihatnya.


“B—Baik!” lontarku gugup. Aku bergegas mencari lap untuk membersihkan air yang tumpah. Aku masih syok dengan Adelard yang berbeda dari biasanya. Selama berjalan aku memikirkannya dan berbicara kepada diriku sendiri.


“Apa dia sedang marah denganku? Tidak mungkin, dia sangat baik dan langsung memaafkan…”


“Apa suasana hatinya sedang buruk? Tapi kenapa?” Saat aku kembali, Adelard langsung menjulurkan tangannya dan meminta lap tersebut dariku. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata melainkan hanya memasang wajahnya yang dingin. Dengan tangan yang bergemetar aku memberikannya kepada Adelard.

__ADS_1


“Ini…” Tanpa menanggapiku dengan cepat ia mengelap lantai yang basah itu. Setelah itu ia berdiri lalu berjalan ke arah dapur seraya berkata kepadaku.


“Lain kali lebih berhati-hati,” lontarnya dengan nada seram sembari melirik tajam ke arahku yang berada di belakangnya. Tanpa pikir panjang aku mencoba untuk mencairkan suasana.


“Maaf, bajumu jadi basah, deh,” celetukku cengar-cengir.


“Merepotkan,” balasnya singkat dan seketika membuatku terdiam syok setelah mendengarnya.


“Mak jleb!” Hatiku terasa sakit dengan penuh rasa bersalah kepadanya. Aku berusaha untuk menahannya dan mengganggap bahwa suasana hati Adelard sedang tidak baik.


Kami semua akhirnya berkumpul di meja makan lalu menyantap sarapan bersama-sama. Sembari makan, aku masih mengkhawatirkan Adelard yang tidak berkata apa-apa dan belum tersenyum sama sekali. Ia tampak benar-benar berbeda dari biasanya. Lantas aku mencoba untuk menghibur dan menenangkannya.


“Apa kau tidak apa-apa?” tanyaku namun Adelard mengabaikanku.


“Kalau ada masalah, aku bersedia menjadi pendengarmu,” lanjutku. Gavin dan Cassie melihat kami berdua dan kebingungan dengan apa yang telah terjadi.


“Kau kenapa?” tanya Gavin, tetapi lagi-lagi Adelard tidak menjawab apa pun. Cassie menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya, dan hasilnya pun sama. Lantas aku beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Adelard. Gavin dan Cassie yang melihatku sontak kebingungan, terkecuali Adelard yang tetap menghabiskan sarapannya. Aku berdiri di tepat di belakangnya.


“Adelard wajahmu—” ucap Gavin namun tiba-tiba saja terdiam. Aku yang melihatnya lantas kebingungan apa yang terjadi pada Gavin. Seketika ia tersenyum tipis ke arah Adelard. Aku yang tidak dapat melihat wajah Adelard sontak membuatku penasaran.


“Ada apa?” tanyaku.


“E—Eh? Bukan apa-apa,” jawab Gavin pringas-pringis.


Aku pun kembali duduk di kursi dan melanjutkan sarapanku. Setelah itu, kami merapihkan piring-piring seperti biasa. Adelard membawa piring lalu berpas-pasan denganku. Ia sempat melirikku sekilas dan langsung memalingkan pandangannya dariku. Beberapa detik kemudian terdengar suara Bella dan yang lainnya memanggil kami dari luar asrama. Aku dan Cassie menghampiri Bella dan Icha. Kami berempat langsung bergegas menuju sekolah dan meninggalkan mereka di belakang.


“Apa yang terjadi pada Adelard? Apa kalian ada yang tahu?” tanyaku.


“Loh? Memangnya kenapa, Rein?” balas Bella kebingungan.


“Tiba-tiba saja dia menjadi pendiam dan tidak seperti biasanya,” ucapku.


“Bukannya dia memang tidak terlalu banyak tingkah?” sahut Icha.

__ADS_1


“Bukan begitu! Saat aku ingin bicara padanya ia tidak menanggapiku…” lontarku kemudian tertunduk murung.


Di lain sisi, Adelard dan yang lainnya masih berada di depan asrama. Mereka baru berjalan menuju sekolah.


“Huft… Hampir saja tadi…” hembus Adelard merasa lega.


“Kau ini kenapa, Adelard?” tanya Gavin tak habis pikir.


“Aku sedang mencoba jadi orang yang ‘dingin’,” jawab Adelard.


“Oh? Kau sudah melakukannya? Apa reaksi Rein?” tanya Gandra penasaran.


“Tiba-tiba saja ia memelukku,” jawab Adelard kemudian tertunduk murung. “Tapi ia terlihat sangat cemas, aku jadi merasa bersalah dengannya.”


“Pantas saja wajahmu memerah tadi. Wajah serammu tiba-tiba jadi lucu,” balas Gavin tergelitik tawa.


“Berisik! Aku sudah berusaha menahannya, tahu!” lontar Adelard kesal. Untung kau tidak mengatakan seperti itu kepada Rein tadi…” imbuhnya gelisah.


“Jangan berhenti tengah jalan, lama-lama ia juga akan terbiasa,” cetus Rhean.


“Selesaikan apa yang sudah kau mulai,” tambah Gandra tersenyum.


“Kapan selesainya?” tanyaku khawatir.


“Entah…” jawab Gandra.


Sementara itu, aku merasa sangat cemas terhadap Adelard. Tanpa sepengetahuanku, Adelard juga memikirkan hal yang sama. Ternyata kami mengucapkan perkataan serupa di dalam hati.


“Apa dia akan membenciku?”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2