
Malam hari yang semakin dingin menerpa kulit dan membuat para insan menggigil, kami pergi menuju vila bersama Hart dan Freda. Sesampainya di sana, kami menyiapkan makan malam bersama, Freda terkejut dengan kepandaian Cassie dalam memasak. Freda membantu dengan menyiapkan bahan-bahan dan mengikuti arahan dari Rein. Ia juga mewarnai suasana dengan bercanda tawa.
“Aku tidak percaya orang seperti kau bisa pandai memasak,” celetuk Freda.
“Kau berlebihan…” balas Cassie tersipu.
“Bercanda… Hehe… Suatu saat aku ingin diajari olehmu,” lanjutnya cengengesan. Sementara itu, aku dan para lelaku menyiapkan meja makan dan peralatan makan di ruang tengah.
“Berapa lama kau akan berlibur di sini?” tanya Rhean penasaran pada Hart.
“Entahlah… Mungkin tahun baru…?” jawab Hart ragu-ragu.
“Wah, cukup lama… Baguslah…” gumamku senang. Tidak lama kemudian Cassie mencoba makanan yang dibuatnya dan merasa senang akan itu. Freda yang penasaran lantas ikut mencobanya lalu terkejut dengan rasanya.
“Mm! Enak sekali! Seperti masakan koki!” lontar Freda tak percaya. Gavin yang mendengarnya sontak datang menghampiri mereka kemudian mencobanya juga.
“Kau ini penasaran sekali,” cetus Bella.
“Aku harus mencoba masakan pacarku,” balas Gavin. Hart dan Freda seketika tersentak kaget mendengarnya.
“Kau pacarnya Gavin?” tanya Freda pelan pada Cassie dengan wajah tercengang. Cassie menjawabnya dengan wajah tertunduk malu.
“I—Iya…”
Hart yang masih tidak percaya dengan perkataan Gavin barusan lantas membuatnya terdiam dan memandang mereka berdua yang akrab. Gandra menjadi kebingungan melihat Hart yang diam itu dengan sebuah kain lap di tangannya.
“Kau tidak apa-apa, Hart?” Aku yang mendengarnya kemudian menoleh ke arah Hart dan tampak wajahnya yang terperangah. Beberapa detik kemudian ia pun tersadar lalu melanjutkan perkerjaannya.
“Kau kenapa?” tanyaku padanya.
“Bukan apa-apa,” balas Hart dengan wajah sedikit sebal namun entah pada apa ia merasa seperti itu.
“Kabar yang mengejutkan setelah panjangnya prosesnya, ya…” dengus Hart pelan. Aku tidak mengerti sama sekali terhadap apa yang ia katakan. Aku yang ingin bertanya sontak terurung karena ia yang langsung pergi menghampiri Freda di dapur. Gandra berpikir bawah ada sesuatu yang tidak diketahuinya.
“Apa ada hubungan antara Hart dan Cassie?” bisik Gandra padaku dan membuat terkejut.
“Hah? Apa yang kau pikirkan?” balasku jengkel.
“Entahlah… Tapi ada sesuatu yang janggal,” lanjutnya.
“Aku juga tidak tahu. Tapi, setahuku dia tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku juga akrab dengan siapa pun, sih,” paparku.
__ADS_1
“Berarti tidak seperti itu, ya…”
“Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku tidak melihat ada keanehan di sini.” Aku menjadi pusing terhadap semua yang terjadi saat ini.
“Tidak, bukan apa-apa,” jawab Gandra yang kemudian melanjutkan tugasnya. Aku yang juga mempersiapkan meja makan lalu terlintas di benakku dengan hal-hal yang membingungkan.
“Apa yang sedang terjadi? Aku tidak mengerti dengan mereka…”
Saat semuanya hampir siap, Cassie dan yang lainnya membawa piring-piring yang penuh dengan hidangan menuju meja makan. Aku membantu meletakkannya dengan di atas meja itu. Kemudian aku berniat untuk pergi ke dapur untuk meletakkan kain lap dan mencuci tangan, tetapi aku yang tidak fokus dengan langkahku tiba-tiba saja menabrak Cassie yang baru saja meletakkan piring.
“Maaf!” lontar kami serentak. Kami saling memandang satu sama lain namun selang beberapa detik kami langsung berpaling.
“A—Aku ingin ke dapur…” ucapku gelagapan.
“A—Aku juga…” tuturnya. Kami berjalan bersama menuju dapur dengan suasana penuh canggung. Teman-temanku yang melihat kami hanya tersenyum terkecuali Freda dan Hart. Mereka berdua kebingungan dengan apa yang terjadi.
“Kenapa kalian tersenyum?” tanya Freda.
“Kau pasti bisa, Adelard…” gumam Gavin. Hart yang mendengar lantas menjadi sangat kebingungan dan kepalanya terasa berputar-putar dengan pemikirannya yang saling bertabrakan.
“Jadi Cassie itu sama siapa, sih?” benaknya.
Aku dan Cassie sama-sama tengah mencuci tangan di wastafel dapur. Kami yang sangat berdekatan membuat suasana menjadi semakin canggung dan jantungku rasanya ingin copot. Aku yang melirik Cassie lantas terlihat wajahnya yang memerah dan sangat tersipu. Pada saat yang bersamaan terbesit di kepalaku untuk meminta maaf padanya tentang kejadian waktu itu.
“M—Maaf tentang waktu itu…” ucapku pelan.
“Tubuhku terasa ingin meledak!” batinku bersamaan. Cassie yang mendengarnya seketika tersentak kaget dan terdiam sejenak. Tangannya terlihat gemetaran.
“A—Aku juga… minta maaf…” tuturnya sangat pelan. Kemudian kami berdua terdiam tanpa kata-kata selama beberapa saat.
“S—Sepertinya sudah pada menunggu…” ujarku pelan.
Kami pun berjalan bersama menuju ruang tengah dan mereka semua sudah menunggu kami. Setelah itu kami bersantap malam bersama-sama. Kami semua hanya membahas tentang keseruan kami saat di danau dan sedikit menyinggung saat kami berada di pemandian umum. Lagi-lagi kami para lelaki diberi pelajaran oleh Rein dan kawan-kawan.
“Iya, iya… Kalian sudah mengatakannya tadi sore,” balas Rhean. Seketika saja terjadi percikan antara para laki-laki dengan perempuan. Di lain sisi, tidak ada satu pun dari mereka yang membicarakan tentang diriku dan Cassie mengenai insiden kala itu. Selama santap banyak aku dan Cassie hanya menyimak keributan mereka
semua.
Setelah perut terisi penuh, kami membereskan semua yang berada di meja makan. Saat semuanya beres, kami melanjutkan aktivitas masing-masing. Sebelumnya kami membicarakan Freda dan Hart yang belum mendapatkan kamar. Pada akhirnya Hart ditempatkan di kamarku dan Gandra, sedangkan Freda bersama Rein dan Cassie.
Hari sudah larut dan kami bertiga bersiap untuk tidur. Sebelum memejamkan mata, Hart memiliki beberapa pertanyaan padaku.
__ADS_1
“Cassie itu pacarnya Gavin? Sejak kapan?” tanya Hart tak habis pikir.
“Iya… Hmm… Sudah cukup lama sepertinya,” sahut Gandra.
“E—Eh? Kenapa kau yang jawab?” lanjutku.
“Membantumu,” tandas Gandra.
“Jalur berubah,” ujar Hart sebal.
“Jalur? Maksudmu?” tanyaku kebingungan.
“Jadi seharusnya dia dengan dia? Tapi malah dia dengan yang satunya, begitu?” cetus Gandra pada Hart.
“Iya,” jawab Hart. Aku yang mendengar tidak mengerti apa-apa dan bertanya-tanya.
“Hah? Apa yang kalian bicarakan?” pungkasku tak habis pikir.
“Dia juga sudah pacaran dengan dia sebelumnya,” lanjut Gandra.
“Tunggu, tunggu… Adelard sudah punya pacar?” lontar Hart tak percaya. Aku dengan wajah polos dan kebingungan lantas mengangguk pelan. Ia pun membanting bantalnya dengan wajah kesal.
“Sia-sia semua usahaku,” ucapnya.
“Apa maksudnya?” balasku terheran-heran.
“Sudahlah, lebih baik aku tidur,” balas Hart kemudian berbaring dan berpaling dariku.
“Apa yang terjadi, Gandra?” tanyaku padanya namun ternyata ia sudah tertidur saat aku melihatnya.
Aku pun berbaring seraya memeluk bantal guling lalu memejamkan kedua mata. Setelah beberapa menit aku tak kunjung terlelap dan terus memikirkan Cassie tanpa sebab. Aku beranjak sejenak lalu menggeleng-gelengkan kepalaku, tetapi cara tersebut tak juga berhasil. Tanpa sadar bantalku terasa sangat basah. Saat melihatnya aku terkejut kebingungan.
“E—Eh? Kenapa bantalku bisa basah?” gumamku lalu mengusap wajahku.
“Sejak kapan aku menangis?” lanjutku.
Pada akhirnya aku memaksa diriku untuk tertidur. Aku memejam mata sembari berhitung di dalam kepala, namun benakku terus terbayang-bayang Cassie. Dadaku terasa sesak dan sulit untuk bernapas normal. Bantalku semakin basah akibat air mataku. Aku sudah berusaha untuk tenang namun tubuhku berkata lain.
“Padahal aku meminta maaf padanya… Tapi kenapa…?”
“Apa yang terjadi padaku?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)