Love Exchange

Love Exchange
Episode 40 : Pembelajaran


__ADS_3

Langit sambekala menenagkan hari yang mulai larut. Sekolah mulai sepi dan aku berjalan meninggalkan ruangan klub matematika sendiri. Ketika sedang menuruni tangga terdengar hentakan langkah yang cukup keras dari lantai bawah. Setelah kulihat ternyata Kak Aydhia sedang membawa tumpukan kertas menaiki tangga.


Tumpukan yang cukup tinggi membuatnya kesulitan melihat anak tangga. Tiba-tiba kakinya tersandung dan hampir terjatuh. Lantas aku langsung menghampirinya.


“Kau tidak apa-apa, Kak?” tanyaku khawatir kepadanya sambil memunguti kertas-kertas yang jatuh. “Aku baik-baik saja.” jawabnya tersenyum. Aku pun berinisiatif untuk membantunya membawakan sebagian kertas tersebut. “Biar kubantu, Kak.”


Kemudian aku pergi mengikutinya dari belakang. Rambut panjangnya berayun-ayun seraya langkah kakinya yang terburu-buru. Akhirnya kami sampai di ruang OSIS. Aku meletakkannya di meja yang tengah ia pakai.


“Terima kasih.” tuturnya kepadaku. Aku membalasnya mengangguk senyum lalu melihat sekeliling ruangan. Terlihat juga banyak kertas bertumpukan di mejanya. Lantas ia bertanya kepadaku. “Bagaimana persiapanmu, Adelard?”


“Kau mengenalku?” tanyaku sedikit terkejut.


“Seisi sekolah ini mengenalmu.” Kemudian aku menjawab pertanyaan awal yang ditanyakannya.


“Sejauh ini baik-baik saja.” lanjut ucapku menjawab pertanyaan sebelumnya. Kemudian ia disibukkan kembali dengan dokumen-dokumen yang sedang diselesaikannya.

__ADS_1


“Sendirian saja, Kak?” tanyaku penasaran. “Iya. Lagi pula sudah tidak banyak lagi, kok.” jawabnya yang tengah konsentrasi. “Kak Adnan?” tanyaku lagi. “Ia sedang di ruang guru.”


“Padahal kau tinggal menyuruh anggotamu saja, kan?” ucapku pelan kepadanya. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil bangku lalu diletakkan di sampingnya. Aku pun dipersilakan duduk.


“Begini… Apa yang kau lakukan ketika kau menjadi ketua lalu diberi pekerjaan yang banyak?” tanya Kak Aydhia serius kepadaku.


“Membagi-bagi tugas lalu menyuruh ke tiap-tiap anggota.” jawabku berpikir keras. Lantas ia tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


“Tapi setidaknya kau bisa lebih santai, kan?” tanyaku lagi.


“Jadi, kau menyarankanku untuk menyuruh anggotaku sedangkan aku bersantai?” ujarnya dengan wajah serius. Aku hanya terdiam dan tidak harus berkata apa. Kak Aydhia pun menarik napas.


“Begitu pula sebaliknya. Kau juga tidak bisa bergerak sendiri tanpa bantuan orang lain. Jika seperti itu, apa gunanya organisasi? Kau tidak perlu berorganisasi jika dapat menyelesaikannya semuanya. Namun kenyataannya tidak seperti itu.” Aku yang mendengarkan menjadi tersadar dan mengerti.


“Dari sinilah kau akan dituntut untuk menjaga kekompakkan satu sama lain, tidak boleh ada yang mendahului di depan, juga tidak boleh ada yang tertinggal di  belakang.” imbuhnya lagi kemudian mengakhiri penjelasannya.

__ADS_1


“Paham?”


“I—Iya, Kak. Terima kasih.” jawabku gugup. Lalu ia membalasnya dengan tersenyum senang.


Aku pun ingin pamit pulang meninggalkan ruangan, namun sebelum itu aku melihat berkas dokumen yang membuatku menjadi bingung sekaligus penasaran.


“Di dokumen ini ketua dan wakil ketua OSIS periode sekarang berbeda?”


“Iya. Mereka berdua sedang mengikuti program pertukaran pelajar. Aku dan Adnan menggantikannya beberapa bulan ini sampai periode berakhir.”


“Apakah ketua dan wakil akan selalu mengikuti program itu?” lanjut tanyaku penasaran. “Tidak juga, hanya saja kali ini merekalah yang terpilih.” jawabnya.


“Baiklah, aku ingin menemui Adnan di ruang guru. Kalau kau ada perlu, jangan sungkan untuk menemuiku.”


“Terima kasih, Kak. Sampai jumpa.”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2