Love Exchange

Love Exchange
Episode 150 : Solusi Yang Masih Kelabu


__ADS_3

Pagi hari menjelang siang dengan mentari yang telah bersinar cerah menembus kaca jendela. Beberapa temanku masih berada di dalam kamar seraya membaca buku percintaan itu, sementara itu aku tengah berpura-pura tidur sembari mendengarkan pembicaraan mereka. Aku hanya menggerakkan kakiku sedikit, namun Gandra yang melihatnya sontak berpikir untuk menjahiliku. Ia menggelitik telapak kaki dan membuatku merasa geli.


“Tututu…” gumamnya seraya bersenandung dan dengan diam-diam menggelitikku. Spontan kakiku bergerak dengan sendirinya menghindari tangannya. Hal tersebut membuat Gavin terkejut setelah tanpa sengaja aku menendangnya.


“Aduh!” lontarnya, sedangkan Rhean yang belum menyadarinya lantas kebingungan.


“Kau kenapa, Gavin?” lanjutnya bertanya.


“Sudah bangun. Kau belum sarapan, kan?” ujar Gandra. Pada akhirnya aku terbangun dari tidurku. Tampak wajahku masih pucat dan diriku yang masih lesu.


“Kenapa kalian ada di sini?” tanyaku dengan suara lemas dan terseret-seret.


“Ayo kita cari oksigen,” jawab Gavin tersenyum.


“Hah? Oksigen apa?” balasku yang terheran-heran kemudian menguap kantuk.


“Lebih baik lanjut tidur…” hembusku lantas membaringkan tubuhku kembali. Lalu Gandra lagi-lagi menggelitik kakiku dan membuatku jengkel. Aku hanya menggerak-gerakkan kaki dan berguling ke sana dan kemari, tetapi ia tetap saja melakukannya. Aku pun pasrah dan kembali beranjak dan mendengarkannya.


“Memangnya mau ke mana?” tanyaku.


“Yah… Lihat-lihat luar saja dulu,” jawab Gavin.


“Baiklah, baiklah…” lanjutku. Kami pun berjalan keluar dari kamar dan aku menduduki kursi di meja makan. Terdapat beberapa potong buah yang masih tersisa di atas piring. Kemudian aku menghabiskan buah tersebut dan kami melanjutkan kegiatan dengan berjalan-jalan di taman kompleks sekolah.


“Ke mana Rein dan yang lain?” ucapku kebingungan.


“Mereka sedang sibuk belanja,” jawab Rhean.


Kami berkeliling taman tersebut sembari melihat sekeliling yang ramai dengan murid-murid lainnya. Semua orang terlihat sedang asyik dengan urusan mereka masing-masing. Setelah melewati satu keliling penuh, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan keluar dari kompleks sekolah. Kami melewati beberapa gedung dan pertokoan di tepi jalan. Banyaknya orang yang berlalu-lalang meramaikan suasana di tengah perkotaan. Hingga akhirnya langkah kami terhenti karena terdapat kerumunan di depan kami. Tampak orang-orang itu seperti sedang menyaksikan sesuatu.


“Kenapa semuanya menumpuk di sini?” tanyaku terheran-heran. Terdengar pula suara seseorang yang berbicara sendiri di tengah-tengah mereka. Kami pun berjalan perlahan dan menembus kerumunan untuk melewatinya. Lantas terdengar suara orang tersebut berteriak dengan cukup kencang.


“Ayo ikuti program hidup serumah dengan pasangan! Cocok untuk kalian yang ingin merasakan kehidupan berkeluarga, ataupun untuk kalian yang hubungannya sedang tidak lancar!”


Kami yang mendengarnya lantas berhenti melangkah dan menyimaknya sejenak. Pria tersebut menawarkan beberapa pilihan yang menarik beberapa khalayak. Satu per satu mereka berjalan mendatanginya dan mengambil brosur penawaran tersebut. Melihat antusias tersebut lantas membuat teman-temanku bersemangat dan memintaku untuk mengambil brosur itu juga.


“Ambil sana, Adelard!” lontar Rhean.


“Mungkin itu bisa jadi solusi permasalahan kalian,” sahut Gavin. Aku menjadi jengkel dengan tingkah mereka, tetapi pada saat yang bersamaan aku sangat bimbang dengan hal tersebut. Aku pun menoleh ke Gandra dan ia langsung tersenyum kepadaku.


“Coba saja, tidak ada salahnya juga, kan?” ucapnya. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan mengambil lembaran tersebut. Aku berjalan dengan wajah menunduk dan seketika terbayang-bayang dengan permasalahanku. Melihat diriku yang demikian lantas menarik perhatian pria tersebut.


“Kau berantakan sekali. Kau tidak apa-apa?” celetuknya bertanya.


“Ada banyak hal terjadi…” jawabku dengan sangat pelan.


“Sepertinya kau ada masalah berat dengan pasanganmu, apa aku benar?” Aku hanya tertunduk diam dengan wajah murung. Lantas ia tersenyum sembari menjulurkan tangan dengan selembar brosur yang dipegangnya.

__ADS_1


“Ini, ambillah. Aku juga memberi nomorku padamu.”


“Memangnya yang lain tidak?” tanyaku kebingungan.


“Karena kau spesial. Sepertinya akan menarik kalau kalian mengikutinya,” jawabnya. “Oh iya, kalau kau ada waktu luang, kau dapat langsung pergi ke kantorku yang tertulis di kertas itu,” imbuhnya.


“Baiklah, terima kasih banyak,” balasku.


“Tidak masalah, sampai jumpa lagi!” sahutnya kemudia ia kembali mempromosikan program itu lagi. Aku berjalan mendatangi teman-temanku yang asyik mengobrol.


“Sudah mendapatkannya?” tanya Gavin. Gandra meminjam lembar tersebut dariku lalu melihatnya. Rhean dan Gavin yang juga penarasan lantas ikut melihatnya bersama-sama. Mereka bertiga sibuk melihat lembar tersebut sementara aku sudah tidak tahan dengan kerumunan di sekitarku.


“Ayo lanjut jalan,” ajakku, namun mereka masih membaca brosur tersebut dengan saksama.


“Daripada kita tidak ada tujuan, bagaimana kalau kita pergi ke sini saja?” usul Gandra seraya melihat alamat di kertas itu.


“Wah, ide bagus! Aku juga pensaran dengan ini,” sahut Gavin bersemangat.


“Baiklah, baiklah… Yang penting ayo kita pergi dulu dari sini,” balasku.


Berjalan melalui penjuru kota ditemani dengan ramainya para insan dan kendaraan nan bising. Beberapa persimpangan telah kami lewati dan kami sudah semakin dekat dengan tempat yang dituju. Terlihat beberapa gedung yang berjajar dengan gagah dan megah. Langkah kami terhenti saat kami berada di titik peta dari ponsel pintar. Terdapat seorang penjaga keamanan di depan sebuah gedung. Lantas kami bertanya kepadanya.


“Apakah benar tempat ini ada di sini?” tanya Gandra sembari menunjukkan brosur tersebut.


“Betul, tempatnya ada di lantai tujuh,” jawabnya.


“Baik, terima kasih.”


“Apa kau tidak berpikir kalau ini hanya penipuan?” tanyaku.


“Penipuan maksudmu?” lanjut Gavin kebingungan.


“Karena banyak model penipuan yang aku tahu seperti ini,” jawabku.


“Kita lihat saja nanti,” sahut Gandra tersenyum. Aku yang melihatnya seperti itu menjadi terheran-heran terhadap dirinya.


“Kau tidak curiga sedikit pun?” Ia hanya membalasku dengan menaikkan kedua pundaknya.


Setibanya di kantor tersebut kami dipersilakan duduk di ruang tengah lalu kami di pertemukan dengan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah pria yang kami temui ketika di tengah kota tadi. Kami yang melihatnya langsung terkejut dan tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Pria tersebut menduduki sofa yang berada di hadapan kami.


“Selamat siang,” ucapnya


“B—Bagaimana bisa?” tanyaku. Ia hanya tersenyum ke arah kami, tanpa sadar kami merasa ketakutan dengan sendirinya.


“Namaku Sadath, salam kenal,” balasnya. Aku pun melihat sekeliling kantor dan tidak melihat sedikit pun hal yang mencurigakan.


“Ternyata benar-benar kantor,” gumamku pelan.

__ADS_1


“Kalau boleh tahu, untuk apa program ini dibuat?” tanya Gavin.


“Yah… Ini salah  satu program yang didukung pemerintah, sekaligus untuk penelitian juga,” jawabnya.


“Pemerintah?” tanyaku tak habis pikir.


“Saking majunya hingga mengurus hal seperti ini?” sahut Rhean tak percaya. Sadath hanya tersenyum mendengar dan melihat ekspresi kami semua.


“Lalu, bagaimana cara kerjanya?” tanya Gandra.


“Simpel saja. Nanti akan ditempatkan sebuah pasangan pada sebuah rumah dan mereka harus tinggal bersama dalam beberapa waktu,” paparnya.


“Sudah berapa banyak pasangan yang melakukan program ini?” lanjut Gandra.


“Sudah ratusan. Dan hasilnya sendiri ada yang memuaskan maupun tidak,” jawabnya. Aku yang mendengarnya sedikit terperangah kemudian melihat kembali isi brosur tersebut.


“Kalau boleh tahu, siapa nama kalian?”


“Oh iya, kami lupa memperkenalkan diri,” balas Rhean cengengesan. Kami pun memperkenalkan diri satu per satu.


“Apakah Saudara Adelard sedang ada masalah?” tanya Sadath kepadaku. Kemudian aku menceritkan semua hal yang telah terjadi antara aku dan Rein.


“Wah, cukup rumit, ya,” balasnya. Kemudian kami semua terdiam sejenak hingga akhirnya Sadath beranjak bangun dari duduknya.


“Kalau begitu, maukah kau dan pasanganmu mengikuti program ini?” Aku tertunduk diam dan memikirkan kembali penawarannya itu.


“Tenang saja, program ini gratis, kok,” lanjut Sadath meyakinkanku.


“E—Eh? Gratis?” tanya Gavin terkejut.


“Iya, semua orang yang mengikuti program ini tidak dipungut biaya sepeser pun,” jawabnya.


“Terus, kenapa kau membagikan brosur-brosur itu tadi?” lanjut tanyaku.


“Supaya banyak orang tahu dan tertarik untuk berpartisipasi.”


“Berarti, siapa pun bisa mengikutinya,” tanya Gandra.


“Betul, asalkan memenuhi kriteria kami.” Kemudian kami semua kembali terdiam dan aku masih bimbang untuk memilih.


“Jadi, bagaimana? Aku sangat menginginkan kau mengikutinya,” ujar Sadath. Aku terdiam dan berpikir sejenak untuk membalasnya.


“Terima saja, kali saja berhasil,” sahut Gandra.


“Baiklah…” balasku pelan. Dengan senang hati Sadath mendengarnya lalu kami berdua saling berjabat tangan.


“Terima kasih dan selamat mengikuti program kami…”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2