Love Exchange

Love Exchange
Episode 176 : Lama Tak Berjumpa


__ADS_3

Tengah hari yang sangat bersinar terang membuat segalanya berkilauan. Tampak sinar mentari yang terpantul dari kaca danau. Pengunjung yang datang mulai semakin ramai dan kami memutuskan untuk menepi sejenak sebelum akhirnya bertemu dengan dua orang yang tak sangka. Mereka datang seraya memanggilku dengan sangat ceria. Aku yang masih tak percaya lantas mengucek-ngucek kedua mataku.


“Apa aku mimpi?” tanyaku.


“Kau selalu berlebihan, Alien!” lontar Hart bercanda. Gandra bersama yang lainnya berbalik arah menuju kami.


“Lama tak jumpa!” lanjut Freda menyapaku.


“Bagaimana kabar kalian?” ujarku.


“Kau bisa menjawabnya sendiri melihat kami bisa ada di sini,” jawab Hart. Gandra, Gavin, dan Rhean kebungungan terhadap sosok mereka berdua.


“Kalian temannya Adelard?” tanya Gavin penasaran.


“Iya! Hart, salam kenal,” balas Hart.


“Aku Freda!” sahut Freda bersemangat seperti yang aku kenal. Akan tetapi aku menjadi bertanya-tanya tentang mereka yang bisa berada di sini.


“Kalian sedang liburan?” tandasku terheran-heran.


“Betul sekali! Walaupun agak kejauhan, sih… Hehe…” jawab Freda cengengesan.


Setelah itu mereka berdua saling berkenalan dengan Gandra dam yang lainnnya. Sementara itu, Cassie dan para perempuan lainnya yang berada di tepi danau menjadi kebingungan dengan kami yang saling bersapa di tengah danau. Cassie yang memfokuskan pandangannya lantas merasa tak asing dengan sosok mereka berdua, tetapi penglihatannya yang samar-samar membuatnya tak begitu yakin dengan pikirannya.


“Seperti Hart dan Freda…” gumam Cassie pelan.


“Kau mengenal mereka?” sahut Rein.


“Aku tak yakin…” balasnya.


“Mereka ke sini,” lanjut Bella.


Aku bersama Hart dan Freda pergi menghampiri Cassie dan kawan-kawan yang sudah berada di tepi. Saat kami sudah saling mendekat, tiba-tiba saja Freda menjadi sangat membara dan langsung berseluncur cepat menghampiri Cassie. Kami yang tak menyangkanya sontak menoleh ke arahnya. Tampak mereka berdua sangat senang dan langsung berpelukan.


“Lama tak bertemu!” lontar Freda.


“Aku sangat merindukanmu,” balas Cassie tersenyum.


“Kau kangen dengan kehebohannya, ya?” sindirku bercanda.


“Wah, kau jadi lebih ceria,” sahut Hart ke arahku.


“Apanya yang ceria?” tanyaku datar.


“Oh, tidak… Kau tetap Adelard yang kukenal,” ujarnya cengar-cengir.


“Apa yang kau harapkan setelah enam bulan berpisah?” gumamku tak habis pikir. Pada saat yang bersamaan Hart mendekatkan mulutnya ke telingaku.

__ADS_1


“Apa kau sudah dekat dengannya?”


“Hah? Kau menanyakan apa, sih?” balasku yang menjadi jengkel terhadapnya.


“Dari jawabanmu barusan aku sudah bisa menebaknya,” lanjutnya.


“Sepertinya tidak ada perkembangan, ya?” sahut Freda pada Hart lalu mereka berdua tersenyum aneh ke arahku.


“Jangan bicarakan yang tidak-tidak!” lontarku kesal.


“Nah, ini dia Adelard yang kita kenal,” balas Freda tergelitik tawa. Aku yang sangat merasa jengkel terhadap mereka lantas memalingkan pandangan dan memasang wajah sebal.


“Kau lucu, Adelard!” pungkas Bella yang juga terhibur melihat diriku.


“Sepertinya aku mulai mengenalmu lebih jauh,” sahut Rein menyeringai.


Semua orang yang terbawa suasana sampai-sampai lupa saling memperkenalkan diri. Hart dan Freda akhirnya berkenalan dengan Rein dan kawan-kawan. Selepas itu, kami semua kembali melepas kebahagiaan bersama. Meskipun mereka banyak membicarakanku, tetapi aku bisa memakluminya. Lagi pula mereka semua sudah mengenal diriku.


“Bagaimana Adelard dan Cassie di sekolah?” tanya Hart penasaran.


“Seperti kambing dan kucing,” cetus Gandra tersenyum.


“Apanya yang kambing?” lanjutku yang merasa jengkel.


“Yang satu malu-malu kucing, dan satunya lagi malu-malu kambing,” celetuk Rein senang.


“Hey! Aku bukan orang yang pemalu!” lontarku kesal.


“Aku sudah lapar! Ayo kita makan siang!”


“Hihihi… Kau sangat lucu!” balas Icha.


Kami pun berjalan menuju restoran yang berjejer panjang di sekitar danau. Tanpa pikir panjang Freda langsung tertarik dengan sebuah restoran dan langsung mengajak kami. Setelah santap siang, kami memustuskan untuk menyudahi berseluncur es dan mencari kegiatan lain yang lebih seru. Kami membicarakan di meja makan dengan piring hidangan yang sudah habis. Beberapa dari kami juga menggunakan peta di ponsel pintar untuk mencari tempat wisata.


“Di dekat sini ada desa sinterklas,” ucap Hart seraya melihat layar ponselnya.


“Seperti apa tempat itu?” tanyaku kebingungan. Ia memperlihatkan layarnya kepadaku sembari menjelaskannya.


“Ada banyak rumah yang seperti di film-film! Lampu-lampu di sana juga menambah suasana natal,” balasnya.


“Wah, cantik sekali…” gumamku takjub. Semua orang menjadi penasaran dan sebagian dari mereka melihatnya sendiri di ponsel pintarnya masing-masing.


“Benar juga… Ini harus masuk ke dalam daftar destinasi liburan kita!” lontar Bella bersemangat.


“Tapi, natal masih ada beberapa hari lagi,” sahut Rhean.


“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Icha terheran-heran.

__ADS_1


“Bagaimana kalau pemandian air hangat?” usul Gavin.


“Aku setuju! Tubuhku sudah mulai membeku sejak kemarin,” lanjut Hart berkobar-kobar. Freda yang memperhatikannya sontak merasa curiga.


“Kau pasti memikirkan sesuatu,” ucapnya.


“Tentu tidak… Kita hanya ingin menghangatkan diri saja, betul kan?” lanjut Hart seraya meminta respon dariku dan para lelaki lainnya.


“Betul, betul,” balas Rhean.


“Kalian semua sudah satu frekuensi, ya,” tandas Bella.


“Itulah hebatnya teman,” sahut Gavin tersenyum.


“Ya sudahlah… Ayo kita ke sana,” lanjut Rein menerima usulan Gavin, begitu pula dengan yang lainnya.


Kami pergi menuju tempat pemandian sumber air panas alami yang terletak tidak jauh dari danau. Kami menaiki bus kecil untuk menaiki lereng gunung yang tidak memakan waktu lama. Sesampainya di sana, terlihat sebuah kawah panas dengan uap yang mengebul tebal ke angkasa. Kami menyempatkan untuk berfoto-foto di dekat kawah tersebut. Beberapa saat kemudian Gandra berpisah sejenak lalu kembali dengan sebuah kantung plastik dan telur di tangannya.


“Loh? Dari mana kau mendapatkannya?” tanyaku kebingungan.


“Di sana ada tukang jajanan, aku beli telurnya saja,” jawab Gandra.


“Lalu, kau mau apa?” lanjutku.


“Melakukan eksperimen,” balasnya.


Terdapat banyak sekali kolam kecil yang berisikan air mendidih di sekitar kawah besar itu. Semua pengunjung dilarang untuk mendekat dengan kawah itu. Gandra mendekat pada sebuah kolam kecil itu lalu meletakkan kantung plastik dengan sebuah telur di dalamnya. Sebelumnya ia mengikat ujung plastik tersebut dengan seutas tali yang berasal dari tas kecilnya.


“Sejak kapan kau membawa tali?” tanya Bella.


“Aku selalu membawanya untuk berjaga-jaga,” jawab Gandra.


Setelah menunggu beberapa menit, Gandra mengangkat kantung itu lalu mengupas kulit telur yang sudah dimasak dan ketika dilihat telur tersebut benar-benar matang dengan sempurna.


“Wah, benar-benar bisa,” gumam Gavin kagum.


“Tentu, ku yakin suhu air itu lebih dari seratus derajat,” balas Gandra.


“Lalu, kenapa kau memakai plastik?” tanya Icha terheran-heran.


“Bagaimana caraku mengambilnya lagi, Buk! Aku juga tidak mau bau belerang,” jawab Gandra dengan wajah datar.


“Oh iya, aku lupa… Hehe…” lanjut Icha cengar-cengir.


Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju tempat pemandian tersebut cukup berjalan kaki. Kami akhirnya tiba di sana hanya dalam waktu tiga menit melangkah. Tempat tersebut tak begitu ramai karena masih banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan tempat wisata lain di gunung ini. Kami pun berpisah lalu masuk menuju ruang ganti yang terpisah. Dengan mengenakan handuk aku berjalan menuju kolam tersebut. Akan tetapi, kami sangat terkejut melihat kolam yang sangat besar tanpa pemisah sama sekali.


“I—Ini kolam campuran?”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2